Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 126


__ADS_3

"Tapi Mas, bagaimana jika kamu tidak di bolehkan tinggal bersama kami. Secara mereka sudah menolong mas dan memberikan kehidupan yang baru untuk Mas," kata ku khawatir jika hal itu terjadi akan membuat hati ini hancur. Apalagi mas Rahman sudah berubah wajah menjadi Afnan tentu semua orang akan memanggil namanya dengan Afnan.


Pertanyaan aku cukup membuat mas Rahman membeku, ia meminum teh yang sudah berada di tangannya dan meminumnya.


"Mereka tidak bisa memaksa aku untuk tinggal terus disana kecuali kamu juga akan ikut tinggal di sana, aku tidak ingin kita terpisahkan lagi,"


Mas Rahman menggenggam tanganku, membawa aku ke dalam pelukannya. Deru nafas terdengar memburu, dinginnya hujan masuk ke dalam tubuh ku membuat pelukan mas Rahman terasa hangat di tubuhku.


Mas Rahman mencium pipiku, pelukannya begitu erat membuat nafasku tersengal.


Drrtt.... Drrttt....


Getaran ponsel membuat mas Rahman melepaskan pelukannya lalu menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Hallo, ada apa Ma?" tanya Mas Rahman melalui ponselnya.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang," kata Mas Rahman mematikan ponselnya.


"Ada apa, Mas?" tanya ku.

__ADS_1


"Mas harus pulang sayang, Mama Lidya menelepon dan menyuruh Mas pulang," kata Mas Rahman, rasanya aku begitu berat untuk melepaskan Mas Rahman pergi lagi tapi aku tidak bisa menahannya untuk bermalam disini.


"Ya sudah, tapi sebelumnya mas makan dulu bersama kami," kata ku mengajaknya makan bersama karena ibu sudah memasak makanan kesukaannya.


"Baiklah, ayo kita turun," kata mas Rahman menggenggam tanganku, kami menuruni tangga bersama-sama. Terlihat ibu sudah siap di meja makan bersama Silvi dan juga putri kecil kami.


Mas Rahman melihat Rania yang atas kursi khusus untuk anak-anak, ia langsung berjalan lalu mengambil Rania. Awalnya Rania menolak untuk dipangku oleh Mas Rahman tapi akhirnya dia nurut juga.


"Putri Papa, sudah besar ya?" mas Rahman mencium pipi gembul milik Rania, kami semua tersenyum melihat seorang ayah merindukan putrinya.


"Ayo Mas, makan dulu?" kata ku.


Ya Tuhan, jangan biarkan waktu seperti ini hanya sesaat tapi biarkan waktu seperti ini selamanya. Kembalikan suamiku pada kami selamanya.


Selesai makan, Mas Rahman sudah siap berangkat untuk pulang ke kediaman pak Brata padahal ibu masih ingin bercerita dengannya tapi mau bagaimana lagi. Mas Rahman sudah menjadi orang lain, sekalipun tubuhnya milikku tapi wajahnya milik orang lain.


"Mas harus pulang, kamu jaga diri baik-baik! kalau ada apa-apa, hubungi Mas," kata Mas Rahman memeluk untuk terakhir kalinya, Aku mengantar mas Rahman sampai ke depan pagar lalu ia menaiki mobil miliknya.


*** ****

__ADS_1


"Afnan dari mana kamu?" tanya Bu Lidya saat Afnan sampai di rumah beberapa menit yang lalu, ia berbalik arah melihat ke arah Bu Lidya.


"Dari rumah istriku, Ma? kenapa?" Afnan balik bertanya, ia tidak ingin terus menyembunyikan identitasnya pada istri dan ibu kandungnya.


"Apa, istri! apa kamu sudah bertemu dengan mereka," kata Bu Lydia terkejut mendengar penuturan Afnan, ia tidak menyangka jika Afnan menemui mereka.


"Sudah, memangnya Kenapa?" kata Afnan lagi.


"Biarkan Afnan kembali bersama istrinya, Ma! biarkan dia bahagia," kata pak Brata turun menuruni tangga satu persatu, Bu Lidya terlihat marah saat pak Brata membela Afnan.


"Tapi Pa, dia putra kita! kita yang memberikan kehidupan yang baru untuknya," kata Bu Lydia tidak mau kalah, Afnan menghembuskan nafas dengan lemah lalu menatap pak Brata.


"Duduk, biar kita bicarakan semua ini secara baik-baik," kata pak Brata menyuruh Afnan duduk.


"Bagaimana, apa kamu sudah bertemu dengan keluarga mu," tanya pak Brata, ia sangat yakin jika hal ini akan terjadi suatu saat.


"Sudah,Pa. Awalnya ibu tidak percaya jika aku adalah Rahman tapi karena Ratih ibu percaya, Pa," kata Afnan menatap putranya.


"Bagus kalau begitu, apa kamu ingin kembali pada keluarga mu," tanya Pak Brata.

__ADS_1


"Tidak....!!"


__ADS_2