
Aku masuk ke kantor menuju lantai atas, di sana sudah terlihat Sinta yang juga mau menuju ruangannya. Aku lihat dia begitu tergesa menuju ruangannya, apa sebaiknya aku mencari tahu tapi kalau aku mencari tahu pasti akan terlibat lagi.
"Sebaiknya aku ke ruangan ku saja," ku batalkan niatku untuk mencari tahu tentang Sinta.
Aku tidak ingin berurusan lagi dengan mereka, aku tidak ingin terlibat lagi seperti dulu jika semua itu akan mencelakakan putriku.
Aku masuk ke ruangan ku lalu melihat beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh pak Anggara. Ada juga beberapa berkas menumpuk karena dua hari aku tidak masuk.
"Pak, ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani," aku memberikan berkas pada pak Anggara, ia menyuruh ku untuk meletakkannya begitu saja.
"Ratih, saya ingin kamu melihat proyek kita yang ada di Jakarta Selatan yang sedang di bangun. Sepertinya ada oknum yang tidak bertanggung jawab dalam pekerjaannya," kata pak Anggara.
"Tapi pak , saya...,"
"Keputusan saya sudah bulat, besok kamu sudah boleh berangkat ke sana," kata pak Anggara, aku tidak bisa menolak. Besok aku harus ke sana untuk mencari tahu siapa oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Baik, pak. kalau begitu saya permisi dulu." aku keluar kembali ke ruangan ku. besok aku akan ke sana, untuk sementara aku harus tetap bekerja di kantor sampai mas Rahman meminta ku untuk bekerja.
Drrrt... Drrrt...
__ADS_1
Deru suara ponsel Anggara berbunyi, Anggara langsung mengangkatnya.
"Apa sudah ada petunjuk," tanya Anggara pada seseorang yang sedang berbicara padanya.
"Bawa dia ke basecamp, interogasi dia sampai dia mengaku siapa yang menyuruh dia untuk menjebak saya," kata Anggara lalu mematikan ponsel. Air berjalan mengambil kunci mobil lalu pergi menemui perempuan yang ada di dalam foto tersebut, ia harus mencari tahu siapa yang sudah menjebaknya dan membuat mamanya sampai masuk ke rumah sakit.
Dua jam perjalanan, Anggara sampai di basecamp milik anak buahnya. ia masuk dan terlihat seorang perempuan sedang menunduk di dalam ruangan.
"Dimana dia?" tanya Anggara.
Anggara melihat ke seluruh penjuru ruangan, lalu melihat perempuan yang sedang menunduk di sudut ruangan. Anggara berjalan ke arah perempuan tersebut lalu mensejajarkan tubuhnya dengan wanita itu.
Diam, tidak ada jawaban yang membuat Anggara semakin marah dan kalap.
"Katakan siapa orang yang menyuruh mu, Hah," tanya Anggara murka, matanya memerah menahan amarah karena wanita itu hanya diam dan terus diam.
"Joni, bawa orang tuanya ke sini jika dia tidak juga mau untuk membuka mulut," kata Anggara melepas cengkraman pada gadis muda tersebut. Anggara duduk di atas kursi yang sudah di sediakan.
"Jangan sakiti ibu saya, Pak?"
__ADS_1
"Jika tidak mau ibumu di sakiti, jelaskan foto itu pada ku." Anggara melempar lembaran foto dirinya bersama wanita yang di Sandra di kamar hotel.
"A...ku tidak tahu apa-apa, Pak. Saya hanya di suruh untuk pura-pura tidur dengan bapak," kata wanita tersebut terbata-bata.
"Siapa nama kamu...!"
"Stefani...!"
"Siapa yang menyuruh kamu, katakan?" pinta Anggara.
Hening, Stefani hanya diam. Dia tidak menyangka jika urusan ini berkepanjangan.
Dulu ia mau menerima tawaran seseorang karena ia sangat butuh biaya untuk ibunya dan kini ia harus terperangkap dengan masalah ini.
"Katakan siapa yang menyuruh mu atau aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum ,"
"Jangan pak, aku mohon padamu.
"Lalu katakan siapa?"
__ADS_1
"Pak... Riko...!"