
"Mbak, di luar ada?"
"Siapa?" tanyaku pada Siti.
"Saya tidak tahu juga, katanya teman pak Rahman," ujar Siti.
Aku menatap ke arah mas Rahman yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi, aku berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang, karena kami baru saja ada disini jadi tidak mungkin kalau ada tamu yang datang.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya ku pada seseorang yang berdiri di depan rumah ku.
Lelaki tersebut membalikkan badan dan tersenyum ke arah ku, aku terkejut melihat dia ada disini. Untuk apa dia kesini, apa dia mematai keluarga ku untuk tinggal disini.
"Siapa, kok tidak gak di suruh masuk," kata mas Rahman sudah berada di belakang aku.
Aduh, bagaimana ini. Kenapa mas Rahman harus kemari sih, jangan sampai Mas Rahman tahu kalau aku kenal dia. Sebaiknya aku harus melarang mas Rahman untuk berteman dengannya.
"Riko, kok kamu ada disini? Jangan-jangan kamu mematai keluarga kami ya," kata Mas Rahman tersenyum, aku tahu mas Rahman tidak tahu kalau aku kenal dengan Riko.
Riko terlonjak kaget mendengar perkataan mas Rahman, wajahnya menjadi pucat pasi.
"Tidaklah, untuk apa aku mematai kalian kalau kalian berada di depan mataku. Jadi, aku tidak perlu repot-repot untuk melihat kalian."
"Maksud kamu apa, Rik," tanya Mas Rahman.
__ADS_1
"Ah, bukan apa-apa. Lupakan saja, saya datang kemari cuma ingin melihat tetangga baru kebetulan rumah kita berhadapan." Kata Riko menunjuki rumah minimalis mimiknya.
Aku menatap nyalang ke arah mas Rahman lalu pergi meninggalkannya, aku kesal karena mas Rahman membeli di depan rumah Riko, intinya setiap hari aku harus berhadapan dengan Riko.
Aku menghentakkan kaki lalu pergi ke kamar meninggalkan mas Rahman yang masih berdiri di depan pintu. Biar saja ia yang meladeninya.
"Sayang, kamu kok gitu? Ada tamu main-main pergi saja," Ternyata mas Rahman sudah berada di kamar.
Kapan mas Rahman datang, kok aku tidak tahu.
Aku hanya diam malas untuk berbicara, kenapa harus berurusan lagi dengan Riko.
"Aku tidak suka dengan dia, Mas tahu dialah yang menculik anak kita tempo hari," kataku.
"Apa...!"
"Maksud Riko culik anak kita untuk apa?"
Aku diam menghembuskan nafas, aku duduk menatap mas Rahman. Aku harap dia bisa mengendalikan amarahnya.
"Riko itu saudara tirinya pak Anggara, jadi karena aku tahu rahasia dan tidak ingin terbongkar, ia menculik Rania untuk membuat aku bungkam tapi untungnya saat itu ada pak Anggara yang menolong," kataku.
Mas Rahman hanya diam, mungkin dia tidak percaya dengan ucapan ku.
__ADS_1
"Kurang ajar, mas akan beri dia pelajaran," kata mas Rahman.
"Tidak usah, mas. Aku hanya ingin mas tidak usah bertemu lagi dengannya, ia lelaki berbahaya dan aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mas Rahman," kata ku menggenggam tangannya.
"Iya, mas akan tidak akan bertemu dengannya lagi," kata mas Rahman.
Mas Rahman merebahkan tubuhnya atas tempat tidur, setelah pulang dari rumah sakit ia belum sama sekali istirahat. Kini matanya telah terpejam bersama deru nafas yang teratur, aku ikut tidur bersamanya karena lelah.
🍇🍇🍇
Malam telah berganti, mas Rahman masih tidur karena sengaja tidak aku bangunkan agar dia bisa istirahat lebih agar tubuhnya kembali fit. Wajahnya yang pucat masih terlihat, aku mengelus pipinya membuat mas Rahman terbangun.
"Sayang, sudah jam berapa kok gelap," mas Rahman terbangun lalu mengucek matanya.
"Sudah jam 7 malam, memangnya kenapa?"
"Kok kamu gak bangunin, Mas,"
"Mas kan butuh istirahat yang cukup makanya aku tidak bangunin mas," kataku tersenyum.
Mas Rahman hanya diam lalu turun dari ranjang berjalan ke kamar mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mas Rahman mandi. Aku berjalan ke balkon kamar, pandangan ku tertuju pada rumah tepat di depanku. Rumah yang memiliki lantai dua yang lebih besar dari rumah ku.
Pandangan ku beralih pada dua orang yang sangat ku kenal, mereka baru saja turun dari mobil. Dia Sinta dan pak Sanjaya, ada hubungan apa Sinta, pak Sanjaya dan Riko.
__ADS_1
Tapi semua itu bukan urusanku, aku bersembunyi agar mereka berdua tidak melihat aku. Kalau mereka tahu, bisa-bisa aku kembali menjadi korbannya.
Rahasia apa lagi yang di sembunyikan oleh keluarga pak Sanjaya dan Anggara hanya diam tanpa tahu apa-apa.