
Malam semakin larut, aku juga belum bisa tidur. Entah kenapa, kedatangan Bu Sekar membuat aku tidak bisa tidur. Ku lirik jam di dinding ternyata sudah pukul 11 malam, aku berjalan ke kamar mandi lalu membasuh muka.
Mas Rahman dan Rania tidur dengan lelap, aku turun ke bawah untuk membuat mie. Ternyata tidak bisa tidur membuat rasa lapar mendera.
Aku berjalan ke dapur dalam keadaan remang-remang, hanya ada pencahayaan dari lampu luar. Aku berjalan ke dinding untuk menekan saklar lampu, lalu kembali berjalan ke arah kulkas mengambil mie dan merebusnya.
"Mbak Ratih, belum tidur juga?"
Aku menoleh ke asal suara ternyata Silvi.
"Belum, kamu sendiri kok belum tidur, kenapa?" tanya ku setelah memasukkan mie ke dalam air.
"Lapar Mbak, buatin Silvi satu ya?" senyum Silvi.
Aku hanya mengangguk lalu mengangkat mie tadi lalu kembali memasukkan mie untuk Silvi. Setelah selesai, kami duduk di meja makan berdua dan memakannya dengan lahap.
"Wah, mie buatan mbak enak banget," kata Silvi di sela-sela makan. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Sil, kamu kenal dengan perempuan yang kemaren?" tanya ku membuka obrolan dengan Silvi.
"Si Tania itu mbak, aku gak kenal sih tapi yang aku tahu dia perempuan di masa lalu Fadli dan mbak tahu, dia selalu mencari simpati pada Fadli seperti kemarin," kata Silvi serius.
Aku hanya jadi pendengar di malam yang gelap , selesai berbincang kami kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Kini aku mulai menguap tanda aku sudah ngantuk.
*** ****
Hari sudah berganti begitu juga dengan bulan, hari ini adalah hari yang bahagia bagi Silvi. ia akan bertunangan dengan kekasih di masa kecil di sebuah hotel yang sudah di booking oleh Fadli, kini Silvi sangat cantik mempesona.
"Mbak, kok aku deg-degan ya?" kata Silvi tersenyum.
"Santai aja, sebentar lagi mempelai pengantinnya sudah datang," kata ku, kemari berada di lantai atas di kamar hotel, Silvi sudah di dandan secantik mungkin di hari bahagianya.
Seminggu yang lalu, dua keluarga juga telah bertemu. Alhamdulillah, Silvi di terima dengan baik di keluarga Bu Tuti.
Drrtt... Drrtt..
Suara ponsel sudah menyala, pasti telepon dari mas Rahman. Aku pun berjalan menjauh untuk berbicara dengan mas Rahman.
"Ada apa,Mas?" tanya ku.
__ADS_1
"Segera bawa turun Silvi ke bawah, pihak laki-laki sudah datang," kata Mas Rahman.
"Baik, kami akan segera turun," kata ku.
Aku mematikan ponsel, lalu mengajak Silvi turun dan beberapa orang lainnya yang menjadi Bridesmaids Silvi di acara pertunangannya. Semua orang sangat ramai, semua pihak keluarga dan tetangga di undang.
Semua pandangan menatap ke arah kami tapi mataku tertuju pada seseorang perempuan yang sedang berjalan kepada seorang pelayan laki-laki, siapa lagi kalau bukan Tania.
Siapa yang mengundangnya kesini, bukankah dia tidak di undang atau dia pergi bersama pihak laki-laki. Aku berjalan ke samping mengikuti langkah kaki Tania walaupun agak susah mengejarnya.
Langkah demi langkah terus aku ikuti, takut Ida akan membuat ulah mengacaukan hari bahagia Silvi dan Fadli.
"Masukkan obat tidur ini dalam minuman calon yang memakai baju berwarna silver itu?" Tania menunjukkan tangannya ke arah laki-laki yang sedang tersenyum bersama keluarganya, siapa lagi kalau bukan Fadli.
Untuk apa dia memasukkan obat tidur dalam minuman Fadli, apa yang sebenarnya ingin dia lakukan.
"Ta...Pi mbak, saya tidak berani?" ujar pelayang lelaki tersebut.
"Saya akan membayar kamu dua kali lipat jika kamu berhasil, kamu hanya memasukkan minuman ini lalu berikan pada lelaki tersebut," kata Tania melirik kiri dan kanan agar tidak ada yang tahu kejahatannya.
"Baiklah, mbak?" kata lelaki tersebut menerima obat tidur yang akan di gunakan untuk menjebak Fadli.
Aku hanya diam, bersembunyi di balik tembok agar tak terlihat oleh Tania. Setelah Tania pergi, aku berjalan ke arah lelaki tersebut yang hendak memasukkan sesuatu dalam minuman.
Pelayan tadi pucat pasi, ia mungkin tidak menyangka jika aku bisa mengetahuinya.
"Tidak, saya tidak melakukan apa-apa?" kata pelayang tersebut.
"Apa kau ingin berbohong padaku, apa kamu pikir saya tidak tahu atau kamu saya laporkan ke polisi," kataku sedikit mengancam.
"Jangan, Mbak. Saya hanya disuruh sama seseorang," katanya lagi.
"Baiklah, jangan lakukan apapun jika kamu ingin selamat. Sekarang berikan minuman ini pada pria itu" kataku meletakkan minuman lain di atas nampan, aku menatapnya dengan tajam lalu aku aku membuat obat tadi ke dalam tong sampah.
Aku kembali berjalan depan, aku tidak mungkin ada disana. Bisa-bisa Tania curiga, aku mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Fadli untuk berhati-hati dengan Tania.
"Wah, dokter Fadli cantik ya?" kataku menggoda dokter Fadli.
Silvi melirik ke arah Fadli yang berdiri tidak jauh darinya, suara getaran ponsel berbunyi. Aku harap itu ponsel dokter Fadli, ternyata benar itu ponsel dokter Fadli.
__ADS_1
Setelah membaca pesan, dokter Fadli melihat ke arah ku lalu melihat ke arah Tania yang berada di sampingnya. Entah kenapa, aku merasa tidak suka.
"Minumannya, Pak?" kata lelaki tersebut.
"Tidak, sepertinya saya tidak memesan minuman," kata Fadli menolak.
"Kamu gak boleh begitu dong, minumlah nanti biar kamu gak gugup," kata Tania mengambil minuman tersebut lalu memberikan pada Fadli,
Fadli langsung meneguk minumannya lalu kembali memberikan pada Tania.
"Byurr...
Minuman tadi tumpah di baju Fadli pasti Tania sengaja agar Fadli bisa mengulur waktu acara pertunangannya, dia benar-benar nekat untuk membuat Fadli malu. Sepertinya aku harus mencari cara agar Tania tidak curiga kalau Fadli tidak meminum obat itu tapi bagaimana.
"Mas, mau kemana?" tanya Silvi melihat Fadli berjalan.
"Mas mau ke kamar mandi sebentar, baju mas tumpah minuman loe," kata Fadli memperlihatkan baju yang sedikit kotor.
Aku berjalan ke belakang mencari orang yang mengenakan baju yang sama dengan Fadli, hanya keluarganya yang sama. Terlihat lelaki tidak jauh beda dengan Fadli memakai baju yang sama.
"Maaf, bolehkah aku pinjam jas kamu?" kata Ku.
"Untuk apa?" tanya lelaki berumur 28 tahun tersebut.
"Baju mempelainya kotor, bolehkan kalian bergantian memakai jas," tanya ku, terlihat Fadli berjalan lorong menuju kamar mandi.
Sebelum mengatakan ia, aku langsung menarik lelaki tersebut lalu menghentikan Fadli yang hampir sampai ke kamar mandi.
"Fadli, tunggu?" kata ku.
"Ada apa, mbak?" tanya Fadli.
"Kamu ganti jas sama dia saja, sebentar lagi acara kalian tidak mungkin pihak kerabat menunggu terlalu lama," kata ku.
Fadli menatap ke arahku, dia juga belum paham maksud aku. Tapi biarkan semua aku jelaskan nanti saja.
"Baiklah, berikan baju ku untuk mu," kata Fadli.
"Baiklah, tapi ingat jangan sakiti Silvi," kata lelaki yang aku minta tolong.
__ADS_1
Sebenarnya siapa lelaki ini, kok mereka saling kenal. Selesai berganti jas, aku dan Fadli kembali ke tempat acara sedangkan dia berjalan ke kamar mandi.
Kamu akan kalah Tania!