Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 71


__ADS_3

"Ada apa?" tanya ku.


"Ternyata Riko ada dibandung, kemungkinan Riko adalah dalang dari semua ini dan aku juga sudah menghubungi anak buah ku untuk menemukan Riko," kata Anggara kembali memasukkan gawai ke dalam saku celananya.


"Tapi bagaimana kalau dia tidak mau mengakuinya," tanya aku khawatir.


"Kita akan membuat ia mengakuinya bagaimanapun caranya," kata Anggara.


Aku hanya mengangguk, terpaksa aku batalkan kembali ke Jakarta sampai aku bisa menemukan mereka yang sudah memisahkan aku dengan mas Rahman.


Aku menghembuskan nafas dengan gusar, begitu banyak masalah yang kembali datang dalam rumah tanggaku. Belum lagi mas Rahman tiba-tiba menghilang tanpa mau menunggu penjelasan ku.


Setega itu mas Rahman padaku, meninggalkan aku di saat seperti ini.


Aku kembali membawa baju ke kamar, Silvi juga ikut membawa ke kamar ku agar kejadian tadi pagi tidak terulang lagi.


"Semoga saja pelakunya cepat tertangkap kak jadi kita bisa pulang ke Jakarta," kata Silvi, aku hanya mengangguk.


Separuh jiwa ku telah pergi meninggalkan aku sendirian, hanya bayang-bayang mas Rahman yang masih menari di pelupuk mata ini bahkan enggan pergi walaupun sesaat.


Aku merebahkan tubuh yang tidak berdaya ini, seakan duniaku hancur tak bersisa bahkan tak mampu untuk bertahan walaupun sesaat.


"Pulanglah, Mas. Aku rindu?" Kata ku lirih.

__ADS_1


Embun di mata ini jatuh perlahan tanpa terasa, rasanya sakit sekali di saat suami sendiri lebih percaya orang lain tanpa menunggu.


🍁🍁🍁


Hari berganti hari, kami juga belum menemukan keberadaan Riko begitu juga dengan Stefani yang ikut menghilang bersama. Setiap kami menghubunginya nomornya tidak aktif.


"Ratih, Silvi, kalian duduk di mobil saja. aku mau beli minuman sebentar di supermarket," kata Anggara berjalan keluar menuruni mobil juga tak lupa memakai kaca mata hitam.


Tak lam kemudian, dia keluar dengan dua beberapa makanan snack dan botol minuman. Hari ini kami mencari keberadaan Stefani, tak sengaja aku melihat Riko berada di depan mobil Anggara dengan sepeda motor.


"Bukannya itu Riko, sebaiknya kita ikuti saja dia," kata ku.


"Tapi kita mau mencari Stefani bukan Riko," kata Anggara.


Mobil Anggara sudah berjalan, kami terus mengikuti sepeda motor Riko dengan jarak dua meter agar kami tidak ketahuan. Setelah sekian lama mengikutinya, akhirnya ia masuk ke dalam sebuah gang kecil yang hanya di lewati sepeda motor dan pejalan kaki.


Kami berdua turun dari mobil sedangkan Silvi tetap di dalam mobil untuk menjaga Rania, mobil di kunci dari luar agar tidak ada orang yang akan berbuat jahat padanya.


Kami terus berjalan mengikuti derap langkah sehingga Riko berhenti di sebuah rumah tapi ia berjalan ke samping, kenapa dia berjalan ke samping bukankah pintu rumah ada di depan.


Sejenak kami berhenti agar bisa berjalan ke belakang, kami bersembunyi di balik tembok dan menunggu Riko keluar dari samping rumahnya.


Tak lama kemudian, Riko keluar dengan wajah tersenyum lalu melihat ke segala arah agar dia tidak ketahuan. Saat ia sudah mulai pergi jauh, kami berdua berjalan ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada apa-apa disini?" kataku setelah memeriksa di belakang rumah yang di tempati Riko, hanya gudang kecil yang sudah tak terpakai disana.


Brukk...


Sesuatu jatuh di dalam gudang tersebut, langkah kaki kami terhenti disaat ingin kembali ke depan.


"Sepertinya ada sesuatu yang jatuh?" kataku.


"Mungkin hanya tikus itukan gudang," kata Anggara. Namun kakiku terasa berat untuk melangkah, mata ku terus tertuju pada pada pintu gudang tersebut.


Kalau memang itu gudang, kenapa Riko menenteng nasi bungkus lalu meninggalkannya di gudang atau jangan-jangan ada orang di dalam sana.


Aku berjalan ke arah gudang berdiri tepat di depan pintu, aku melihat ke dalam melalu celah anak kunci dan membuat aku syok ternyata di dalam adalah Stefani.


"Anggara, di dalam ada Stefani," kataku.


"Apa, masak sih!" kata Anggara mencoba melihat melalui celah kunci, bola matanya membulat saat melihat Stefani.


Aku mencari alat untuk bisa membuat pintu agar kami bisa mengeluarkan Stefani dari sana.


Aku melihat linggis lalu memberikan pada Anggara.


"Coba dengan yang ini?" kataku.

__ADS_1


Anggara mengambilnya lalu mencoba membuka pintu dengan linggis, 30 menit membuka pintu akhirnya kami bisa membukanya saat keadaan Stefani sudah pingsan.


__ADS_2