
"Apa kamu mencurigai ibu?"
"Aku kenal banget sama mas Rahman, dia tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari ibu," tanya Silvi.
Aku yang baru saja meneruni tangga hanya berdiri mendengar pembicaraan mereka, aku ingin mendengar apa yang ingin ibu katakan.
"Tempo hari ibu memang bertemu dengan Mas mu di jalan tapi saat ibu ajak pulang dia tidak mau, dia hanya memberi alamat pada ibu jika ibu ingin bertemu dengannya." Kata ibu.
Mulutku menganga mendengar pernyataan dari ibu, kenapa ibu tidak memberitahu aku kalau mas Rahman bertemu dengan ibu.
"Dimana alamatnya, Bu. Kenapa ibu sembunyikan semuanya padaku,"
Aku berdiri di hadapan mereka, ibu dan Silvi menoleh ke arahku. Mungkin ibu kaget melihat aku sudah berada di hadapan mereka.
"Ratih, kamu sudah..."
"Iya, aku sudah tahu bahkan ibu tega menyembunyikan mas Rahman dariku. Apa salahku Bu?" Kata ku dengan embun yang mulai menumpuk di pelupuk.
"Ibu tidak menyembunyikan sesuatu dari kamu, tempo hari ibu bertemu dengannya karena ibu tak sengaja menabraknya," kata ibu mertuaku.
"Lalu dimana alamat mas Rahman Bu," tanyaku.
"Sebentar ibu ambil kertas dulu?" Kata ibu mengambil buku kecil lalu menulis alamat mas Rahman, aku mengambilnya lalu berjalan ke kamar.
Bukan aku tidak menghargai ibu tapi aku kesal karena ibu kembali menyembunyikan mas Rahman dariku.
Sesampai di kamar, aku melihat alamat yang di berikan ibu dan semoga ibu tidak berbohong padaku.
Kini aku merebahkan tubuh ini di samping Rania, besok aku akan mencari alamat ini dan menemukan mas Rahman, jika dia tidak mau pulang akan aku buat dia kembali dengan sendirinya.
******
Mentari sudah terbit, cahayanya menembus jendela kaca sehingga membuat mataku silau, aku turun ke bawah setelah mencuci muka. Aku melihat ibu sudah ada di meja makan bersama Silvi.
"Ratih, Ayo sarapan dulu?" kata ibu.
Aku hanya mengangguk lalu duduk di depan ibu, kami sarapan pagi dalam diam. Selesai sarapan, ibu dan Silvi menarikku ke kamar mereka lalu mengambil baju untuk aku pakai.
__ADS_1
"Coba yang ini cocok tidak untuk mbak Mu?" tanya ibu pada Silvi sembari memperagakan baju dan rok di depanku.
"Nah, itu bagus Bu?" Kata Silvi menunjukkan baju blus dengan paduan rok plisket berwarna putih.
"Ratih, kamu cepat ganti baju ini sekarang?" Kata ibu memberikan baju tadi padaku.
"Tapi untuk apa, Bu. Bajuku masih banyak di lemari," kataku.
Memang benar bajuku masih banyak di lemari walaupun bukan baju baru tapi masih layak di pakai.
"Sudah, kamu pakai saja nanti kamu juga akan tahu!" Kata ibu mendorong aku ke dalam kamar mandi di kamarnya.
Aku mengantikan baju lalu memakai baju yang tadi, aku terlihat lebih muda seperti 25 tahun. Aku tersenyum sendiri melihat penampilan ku yang berbeda, biasanya aku memakai gamis tapi kali sungguh penampilan ku berbeda.
Aku keluar dari kamar mandi lalu menemui ibu yang sedang duduk dengan Silvi di atas tempat tidur.
"Bu..!" Panggilku.
Mereka berdua melihat ke arah ku, menatap tanpa berkedip membuat aku tersipu.
"Mantul, kakak cantik sekali pasti mas Rahman tidak akan mengenali kak Ratih Bu!" Kata Silvi tersenyum.
"Maksud ibu, kamu akan menemui Rahman sebagai perawat bukan sebagai istri jadi namamu disana akan menjadi Rara," kata ibu.
"Kok Rara, Bu?" tanya ku makin bingung.
"Rara artinya Rahman dan Ratih," suara tertawa terbahak bahak terdengar nyaring, aku hanya bisa melongo melihat mereka yang berbahagia.
"Sekarang, ayo bersiap-siap. Disana kamu sudah ditunggu sama Bik Nuri yang selama ini menjaga Rahman dan tugasnya akan kamu gantikan nantinya." Kata ibu cukup membuat aku terkejut, ternyata ibu sudah menyiapkan semuanya sebelum aku bertemu dengan mas Rahman.
"Terimakasih Bu sudah mau membantuku," kata ku memeluknya.
"Sudah, tidak usah berterimakasih karena waktu mu terlalu panjang untuk berterima kasih." Kata ibu.
Ibu melepaskan pelukannya, aku tersenyum lalu ikut memeluk Silvi. Aku berangkat ke alamat mas Rahman tinggal, ternyata dia tinggal di desa xx di Jakarta timur. Aku memesan taxi sebelum berangkat.
Setelah penangkapan itu, Riko di hukum dengan 5 tahun penjara atas kasus penculikan begitu juga dengan pak Yanto,. Aku berharap selama mereka berada disana, mereka akan sadar dengan perbuatan mereka.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat alamat yang tertera di kertas, jarak yang aku tempuh untuk bisa bertemu dengan mas Rahman hanya memerlukan waktu satu jam lebih.
Kenapa dia harus kabur ke Jakarta timur, bukankah Jakarta Selatan dan Jakarta timur tidak jauh, pikiran ku terus berkelana.
Setiba disana, aku turun lalu menemui Bik Nuri seperti yang ibu katakan. Disana aku akan menggantikannya karena dia harus pulang kampung karena orang tuanya sakit, dengan begitu aku bisa merawat mas Rahman.
"Non Ratih ya?" seseorang ibu paruh baya menegur ku, pasti dia adalah Bik Nuri.
"Iya, Bu Nuri ya?" tebak ku.
"iya, kebetulan mbak sudah datang jadi ibu bisa langsung mengantarkan mbak pada majikan ibu karena ibu harus pulang karena orang tua mbok sakit," kata Bik Nuri.
"Baiklah, rumahnya dimana Bik?" tanyaku.
Bik Nuri mengajak aku masuk ke dalam gang kecil, rumah minimalis sangat terlihat indah dan Bik Nuri mengajak ku ke sana.
"Assalamualaikum, Tuan?" Bik Nuri memberi salam lalu masuk ke dalam rumah minimalis tapi rumahnya tertata rapi, terlihat seorang laki-laki duduk di sofa dengan syal berada di lehernya.
"Wa'alaikumsalam, kok telat datangnya Bik?" tanya lelaki yang menghilang dariku, kini ia berada tepat di depan ku. Aku menatap ke arah mas Rahman dengan penuh rindu tapi aku tidak bisa mengatakan kalau aku adalah Ratih.
"Maaf Tuan, sebenarnya Bibi mau pulang kampung karena itu Bibi menyuruh keponakan bibi untuk bekerja disini untuk sementara waktu," kata Bik Nuri.
Aku hanya diam melihat reaksi mas Rahman, ia menatap ke arah ku dari ujung bawah sampai rambut.
"Dia siapa, Bik?" tanya Rahman.
"Dia Rara dan Rara yang akan merawat tuan selama bibi pergi, kalau begitu sayang pulang dulu," kata Bik Nuri pamit.
Aku hanya diam, wajah yang aku rindukan kini nampak pucat. Apa selama ini mas Rahman sakit.
"Selama Bik Nur pergi, kamu boleh tinggal disini di kamar belakang," kata Mas Rahman.
Aku hanya mengangguk lalu pergi ke belakang meletakkan tas di kamar belakang, walaupun kamarnya kecil tapi tidak apa-apa yang terpenting saat ini aku bisa merawatnya. Setelah meletakkan tas, aku kembali ke depan untuk menanyakan menu makan siang walaupun aku tahu kesukaannya.
"Tuan mau di masakin apa?" tanya ku.
"Apa saja boleh, lihat saja apa yang ada di dalam kulkas?" kata Mas Rahman dingin.
__ADS_1
Kenapa mas Rahman kembali dingin, apa dia terlalu sakit hati sehingga bersikap dingin dengan perempuan.
Begitu terluka kah hatimu Mas!!