Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 101


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Tania ada disini?" kata Silvi.


"Apa,Tania ada disana? tunggu aku ke sana sekarang," ujar Fadli cemas jika Tania akan berbuat yang tidak-tidak pada Silvi.


"Tidak usah, aku baik-baik saja kok! lagian dia kesini untuk makan," kata Silvi tersenyum.


"Tidak-tidak, aku tetap ke sana sekarang?" kata Fadli mematikan ponselnya, ia langsung mengambil tas untuk pulang karena siang ini tidak ada jadwal pasien saraf.


Fadli berlari kecil agar cepat ke sampai di parkirannya, ia sangat tahu sifat Tania. Apapun bisa dia lakukan untuk menjatuhkan diri seseorang, sampai di depan parkir Fadli langsung masuk ke mobil dan menghidupkan mesin lalu mulai mengendarainya.


"Mas Fadli ada-ada saja, masak ia kesini?" gumam Silvi sendiri tersenyum mendengar Fadli begitu mengkhawatirkan dirinya.


Di meja nomor 10, Tania sangat kesal pada Silvi dan berniat untuk menghancurkan hubungan keduanya, ia tidak terima jika Fadli bersama wanita lain. Dialah wanita yang selama ini yang menanti Fadli kembali ke pangkuannya.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua," gumam Tania sendiri dengan kilat amarah.


*** ***

__ADS_1


Setelah menyelesaikan semua surat-surat, akhirnya Honda Brio berhasil kami bawa pulang. Awalnya aku ingin mengajukan kreditan tapi Mas Rahman melarangnya jadi kami harus menguras tabungan 200 juta lebih untuk sebuah Honda Brio, setengah memakai tabungan aku dan setengah lagi memakai tabungan yang selama ini di simpan sama mas Rahman.


"Bagaimana kamu sudah senang sayang?" tanya Mas Rahman padaku. Aku mengangguk tersenyum karena bahagia bisa membeli mobil hasil dari jeri payah selama ini.


"kita pulang yok! biar nanti mobilnya di antar ke rumah." kata mas Rahman, aku hanya mengangguk mengikuti semua yang mas Rahman katakan.


"Mas sebelum pulang, kita mampir di resto sebentar," kata ku pada Mas Rahman, hari ini rasanya aku malas masak lagian sudah lama aku tidak ke resto karena semuanya aku percayakan pada Silvi.


"Oke, pegang yang kuat," kata mas Rahman, aku hanya tertawa di belakang melihat mas Rahman membawa motor yang begitu kencang.


Tak lama kemudian, kami berdua sampai di restoran yang sudah di rintis oleh mas Rahman sejak ia masih muda. Terlihat mobil dokter Fadli juga ada disini.


"Kenapa sayang?" tanya Mas Rahman.


"Kayaknya begitu, ayo kita masuk," kata Mas Rahman menggenggam tangan ku, pelanggan cukup ramai mata ku teralihkan pada sosok perempuan yang sedang beradu mulut dengan dokter Fadli dan Silvi juga ada disana.


Aku mencolek mas Rahman lalu mengarahkan pandangan pada mereka, aku tidak bisa melihat saja seperti ini. Aku berjalan ke arah mereka bersama mas Rahman.


"Ada apa ini, kok ribut-ribut?" tanyaku.

__ADS_1


"Dia menumpahkan minuman ke baju gue, jadi pelayan saja belagu," kata Tania Marah karena bajunya terkena minuman padahal dia sendiri yang menumpahkan minuman di saat baru sampai disana.


"Apa benar, Silvi?" tanya ku pada Silvi, dia tidak mungkin melakukan itu semua pada pelanggan.


"Aku tidak melakukannya, Mbak! aku saja tidak tahu kapan aku menumpahkan minuman di bajunya. Mungkin alasannya saja Mbak," kata Silvi. Sementara Fadli hanya diam menatap ke arah Tania.


"Fadli, kok kamu dia saja! seharusnya kamu belain aku dong, aku ini calon istrimu," kata Tania memancing kemarahan Silvi membuat wajah mereka semua menjadi pias.


"Tania, jangan keterlaluan kamu! diantara kita tidak ada hubungan apa-apa?" kata Fadli marah.


Sebenarnya siapa wanita yang ada di hadapan kami ini, baru kali ini aku melihatnya datang kesini. Apa dia wanita di masa lalu Fadli.


"Ratih, apa disini ada Cctv biar kita lihat siapa yang sebenarnya bersalah," kata Fadli,


"Apa, Cctv? tidak usah lagian aku juga mau pergi kok dari sini," kata Tania ketus lalu mengambil tasnya.


"Aku tidak akan menyerah, akan aku buat dia meninggalkan mu," Bisik Tania di telinga Fadli melihat Silvi cemburu, ia langsung berjalan ke belakang tak ingin lagi melihat semua itu.


Aku sangat mengerti dengan perasaan Silvi, mungkin saja benar kalau wanita ini perempuan di masa lalu Fadli.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini juga?" Usir Fadli.


Tania pergi sambil menenteng tas miliknya, rencana demi rencana telah dia susun untuk membuat Fadli jatuh ke pangkuannya. Lalu dia akan menyebar ke media.


__ADS_2