
Albert, Irma, Violet dan Fany sedang melangkahkan kakinya di tepi jalan kota Paris.
"Kita mau kemana nih,!?" ucap Violet
"Aku juga nggak tau,!" Jawab Fany
"Kita makan dulu, lapar,! seharian nggak makan apapun,!" Kata Albert
"Okey, aku setuju,!" jawab Irma.
Mereka kemudian mencari restoran di sekitar mereka.
"Aku mau ninggalin mereka tapi nggak baik juga, bagaimana ini,!! Aku nggak tau apa yang di pikirkan Indra,!" ucap Albert dalam hati.
"Kamu mikirin apa sih,!?" kata Irma yang sedari tadi memperhatikan tingkah Albert yang begitu aneh.
"Aku lagi mikirin makanan apa yang kita makan,!" jawab Albert.
"Sepertinya kalian sangat akrab,!" ucap Fany.
"Hmmmm.... !! Aku rasa mereka saling menyukai,!" ucap Violet.
"Memang apa yang salah jika kami akrab, kita sudah cukup lama saling mengenal,!" jawab Irma sambil memandang wajah Violet.
"Jika aku menyukainya, emang apa yang salah,?" kata Albert.
__ADS_1
Irma terkejut mendengarkan perkataan Albert."Jangan-jangan dia benar-benar menyukaiku,!" ucapnya dalam hati.
"Kamu serius kak Albert,!?" kata Violet yang sedang memandang wajah tampan kakaknya itu.
"Aku serius, ngapain juga aku mau bohong.!"
Irma kemudian memandang wajah Albert dengan serius."Hentikan omong kosongmu,! nggak lucu.!"
"Terserah kamu ajah, yang jelas begitulah kenyataanya,!" jawab Albert sambil memandang wajah Irma sejenak.
Fani kemudian masuk ke dalam celah-celah percakapan mereka berdua.
"Di sana ada restoran tuh,!?" dia menunjuk sebuah tempat di sebelah jalan raya.
Mereka berempat kemudian menyeberan jalan dengan maksud menuju ke sebuah restoran yang di maksud oleh Fany.
Pada saat mereka berjalan, Irma memikirkan perkataan Albert, kemudian berhenti sejenak. Albert kemudian memalingkan wajahnya ke pada Irma."Kamu nggak usah mikir terlalu keras,!"dia lalu mengenggam telapak tangan tangan gadis itu."Ayo cepat jalanya,!" dia menarik tangan gadis itu, mau tidak mau dia kembali melangkah sambil memandang punggung pemuda tampan itu.
"Albert orangnya baik, cakep, selama ini dia selalu berada di dekatku, mengapa aku nggak menyadari jika ternyata dia menyukai aku,!" ucapnya dalam hati sambil memandang wajah Albert.
Mereka kemudian berjalan masuk kedalam restoran, keempat anak manusia itu lalu mencari tempat duduk. Stelah mereka duduk, seorang pelayan kemudian membawa menu yang tersedia di restoran tersebut.
__ADS_1
Di tempat lain, Indra sedang berduaan bersama dengan Raisa suatu taman, mereka berpengangan tangan menandakan bahwa mereka seperti saling menyukai satu sama lain.
Indra kemudian memandang wajah Raisa."Gadis ini sangat cantik, sungguh malang nasibmu Arya,!" ucapnya dalam hati sambil tersenyum licik.
Raisa kemudian memalingkan pandanganya ke arah pemuda itu.
"Apa yang kakak lihat sehingga kakak senyum-senyum sendiri.!"
"Ternyata bidadari itu nyata, aku baru menyadarinya pada saat aku melihatnya,!" kata Indra.
"Mana bidadarinya kak,!!" dia memalingkan wajahnya kekiri, kekanan, ke atas dan kembali melihat wajah tampan Indra."Aku nggak melihatnya, kak,!!" kata gadis itu yang melanjutkan ucapanya.
"Bidadarin ada di depanku saat ini, sambil mengenggam tanganku,!" ucap Indra sambil tersenyum licik.
Raisa tersipu malu, dia tidak berkata-kata sedikitpun, dia hanya terdiam sambil tersenyum manis, wajahnya merona indah sehingga membuatnya semakin cantik.
"Sudah saaatnya, waktu yang tepat,!" ucapnya dalam hati sambil tersenyum dengzn maksud tertentu."Apa kamu mau menjadi kekasihku Raisa Wulandari,!?" ucapnya.
Raisa terdiam sejenak, dia lalu berkata."Aku tidak perna berpikir akan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, aku tidak mampu untuk mendustai diriku. Tapi, aku rasa ini terlalu cepat, kak,!"
"Tak ada kata terlambat dalam cinta, aku nggak tau kapan aku wafat dan aku nggak takut akan hal itu. Tapi yang yang sangat aku takutkan adalah kamu tidak ada disisiku pada saat ajal menjemputuku, bisa jadi hari ini aku wafat maka dari itu aku nggak akan melewatkan perasaanku ini, biarlah yang lalu menjadi masa lalumu. Namun, untuk masa kini, maukah kamu menjadi masa depanku,!" dia kemudian mendekati Raisa lalu menciumnya dengan sangat mendadak.
Raisa tak mampu menolak ciuman itu, sebab ia benar-benar nenyukai Indra.
__ADS_1