
Rusia-Moskow.
Rian baru saja terbangung dari tidurnya, ia berbaring di dalam kamar kontrakan menatap langit-langit kamarnya sambil menggunakan kedua telapak tanganya sebagai bantal. Di saat itu, dia sepertinya memikirkan sesuatu.
"Sudah seminggu aku menyusup ke dalam mansion itu tapi belum menemukan apapun, sungguh sial... !" Gumamnya
Dia kemudian membalikkan tubuhnya ke samping kanan dan merubah posisi tanganya dengan menopang kepalanya menggunakan punggung jari tangan kananya sambil berpikir.
"Aku harus cepat berindak, apa lagi Mr Arashavin sekarang sudah berada di negara ini.!" Gumamnya.
Di kota yang sama dengan Rian, Seorang gadis cantik sedang mondar-mandir di dalam kamarnya.
"Mengapa aku memecat supir brengsek itu sih ! Siapa yang akan mengantarku kesana kemari ! Apa dia baik-baik saja, mengapa juga aku harus peduli dengan dirinya... !"
Dia kemudian merebahkan punggung tubuhnya di tempat tidur miliknya.
"Aku harus ke kontrakanya.!"
Irina kemudian duduk di tempat tidurnya sambil duduk bersila dan berpikir
"Tapi, aku nggak tau di mana kontrakanya, Arg... Sial..!"
Dia kemudian berbaring lalu kembali duduk sejenak sambil memperhatikan Hpnya yang berada di tempat tidur.
"Arg... ! jika aku menelponya, apa yang harus aku katakan ! Bagaimana jika dia mengatakan "kita sudah tidak ada hubungan kerjasama lagi" Arg...!!" Gumamnya
Dia kemudian berdiri sambil berjalan bolak-balik menandakan bahwa gsdis itu sangat gelisa.
"Arg... ! Bodoh amat ! Aku telpon ajah, dari pada pusing sendiri kayak gasing.!"
__ADS_1
Gadis cantik itu lalu mengambil Hp miliknya dengan maksud untuk menghubungi Rian.
"Krink... ! Krink... ! Krink... !" Bunyi Hp milik Rian.
Pemuda tampan itu lalu meninggalkan tempat tidurnya, ia berjalan ke arah meja makan untuk mengambil Hp miliknya yang berdering.
"Ada apa Nona Irina Arashavin ? Bukankah kita nggak punya hubungan kerja sama lagi.!"
"Sudah kuduga dia akan mengatakan itu..!" Kata hati dan pikiran Irina.
"Aku masih punya punya urusan denganmu... !"
"Urusan apa itu.?"
"Kamu nggak perlu tau... ! Aku minta alamatmu sekarang...!? Cepat, nggak pakai lama... !? TITIK.!"
"Iya... Iya... Iya.. ! Tunggu, aku kirimkan..!"
"Awas jika kamu nggak ngirim alamatmu..!"
Pemuda tampan itu hanya bisa geleng-geleng kepala lalu mengirim alamatnya.
"Sebaiknya aku ganti pakain dulu kemudian ke mini market."
Setelah Rian telah selesai mengganti pakaianya, dia lalu berjalan keluar dari kontrakanya.
"Ceklek.!" Bunyi pintu terbuka.
"Ceklek.!" Bunyi pintu tertutup.
Rian kemudian menuju ke sepedanya yang tempo hari ia beli.
"Clint.!" Bunyi Hp milik Irina menandakan sebuah pesan masuk.
Gadis cantik itu tersenyum manis melihat isi pesan Wa tersebut. Dia lalu mengambil tasnya kemudian berjalan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Ceklek!" Bunyi pintu terbuka.
"Bruk.!" Bunyi pintu yang tertutup di sebabkan irina menutupnya dengan keras.
Dia kemudian menuju ke ruang tamu untuk mengambil kunci mobil Lamborghini Aventador SVJ Green yang jarang ia gunakan.
"Kamu mau kemana,Nak.?" Tanya Mr Arashavin yang sedang duduk sambil membaca koran di kursi sofa ruang tamu.
"Aku mau kesuatu tempat Ayah... !" Jawab Irina sambil mengambil kunci mobilnya
"Jangat ngebut, okey... !"
"Okey Dad... !"
"Kamu jangan keluyuran, okey..?"
"Iya... ! Iya... Iya... ! Ayah kok cerewet amat sih kayak Ibu... !"
Gadis cantik itu lalu menuju ke garasi mobilnya.
"Brummm... ! Brummmm.... !!" Irina melesatkan mobilnya menuju ke tempat tinggal Rian.
Rian baru saja selesai membeli beberapa makanan yang ia inginkan dan telah selesai melakukan transaksi pembayaran, selanjutnya ia keluar dari mini market tersebut menuju ke sepedanya.
Tidak butuh waktu lama, Irina telah tiba di pekarangan kontrakan milik Rian. Baru saja ia ingin menelponya, tiba-tiba ia melihat Rian dari kaca spion mobilnya.
"Itu dia.!" Gumamnya.
"Aku rasa, itu mobil milik Nona Irina.!" Gumamnya.
__ADS_1