
Arya, Irma, Marcela dan Violet sedang memperhatikan sikap Albert dan Resky yang begitu aneh dan mencurigakan.
"Kalian berdua sepertinya menyembuyikan sesuatu dari kami," kata Irma.
"Sepertinya, kak Albert mengetahui di mana Seven berada," kata Violet.
"Kami nggak menyembuyikan sesuatu, aku dan Resky hanya membicarakan tentang Raisa yang menghilang, itu ajah kok," kata Albert kemudian melepas tanganya dari mulut Resky sambil tersenyum dengan sangat terpaksa ke arah Violet dan Irma secara bergantian.
"Kamu harus mengatakan kepadaku jika kamu mengetahui sesuatu tentang Raisa," kata Arya sambil memandang wajah Resky.
"Aku nggak mengetahui apa pun tentang kak Raisa, sumpah,!!" kata Resky sambil memandang wajah Arya dan sambil tersenyum dengan cara yang sangat di paksakan.
Di saat itu, Marcela yang sedari awal menyimak percakapan itu kemudian teringat sesuatu, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Irma dan berkata.
"Kamu nginap di sini bareng aku yah, tante Erlita kesepian."
"Okey.! Lagian, aku sudah menganggap tante Erlita seperti Ibuku sendiri," Kata Irma yang juga memalingkan wajahnya ke arah Marcela.
"Sebaiknya kamu nginap di sini juga yah,?" kata Marcela sambil memalingkan wajahnya ke arah Violet yang sedang memperhatikan wajah Albert.
Violet kemudian memalingkan wajahnya ke arah sumber suara lalu berkata.
"Okey.!"
"Bagiamana dengan kalian,? apa kalian ingin nginap di mansion ini,!? kata Marcela sambil menatap Albert dan Resky secara bergantian kemudian memalingkan wajahnya ke arah Arya selanjutnya kembali melanjutkan perkataanya yang terhenti sejenak.
"Kita perna berjumpa sebelumnya, aku sepupu Raisa dan namaku adalah Marcela," ucapnya sambil tersenyum manis dengan niat tersembunyi kemudian mengulurkan tangannya ke arah Arya.
"Aku, Arya Ramadhan, kakak Resky," kata Arya sambil tersenyum serta menyambut uluran tangan Marcela.
"Dari sinilah awal permainan akan dimulai, Arya,! aku akan membuatmu sensara serta merasakan sakit hati seperti apa yang di rasakan oleh sepupuku Raisa," kata Marcela dalam hati sambil menatap wajah tampan Arya, dia lalu berkata.
"Apakah kamu akan nginap di mansion ini, kak Arya.?"
"Aku akan berada di mansion ini bersama Ayah dan Ibuku hanya untuk malam ini sebab besok aku akan kembali ke indonesia," kata Arya lalu melepas tanganya dari tangan Marcela.
"Maaf Kak, aku lupa melepas tanganku, jadi seperti itu, mengapa terburu-buru ke indonesia,? sebaiknya nikmati dulu suasana kota Paris sehari lagi," kata Marcela sambil tersenyum dengan niat tertentu.
__ADS_1
"Aku nggak bisa, besok aku memiliki urusan bisnis bersama dengan seseorang," kata Arya.
Di saat itu, Irma menatap wajah Marcela dan Arya sambil menyimak dialog mereka berdua.
"Jangan-jangan, Marcela telah berencana untuk menjalankan misinya dengan mendekati kak Arya," kata Irma dalam hati.
Dan di saat itu juga, Resky yang juga ikut menyimak percakapan antara Arya dan Marcela kemudian berkata.
"Aku akan kembali ke London malam ini juga kak, besok aku harus ke kampus," ucapnya sambil memandang wajah Arya.
Arya kemudian memalingkan wajahnya ke arah adiknya itu, dia berkata.
"Sebaiknya temui Ayah dan Ibu jika kamu ingin berangkat malam ini."
"Rencanaku seperti itu juga, Kak."
"Apa kamu berangkat seorang diri,?" kata Irma yang masuk kedalam celah-celah percakapan.
Resky kemudian memalingkan wajahnya ke arah Irma, dia berkata.
"Aku akan bersama dengan kak Albert," kata Resky kemudian memalingkan sejenak wajahnya ke arah Albert yang tepat berada di sampingnya sambil memberi isyarat.
"Aku mempunyai urusan bisnis yang terkait urusan perusahaanku," kata Albert sambil menatap wajah adiknya itu.
"Kalian kompak amat sih," kata Irma sambil menatap Albert dan Resky secara bergantian.
"Cuman kebetulan ajah," kata Albert.
"Dari pada jalan sendiri-sendiri, mending aku bersama Kak Albert," kata Resky sambil tersenyum ke arah Irma.
"Yah sudah kalau begitu, temui Ayah dan Ibu sekarang juga, ini sudah larut malam," kata Arya sambil menatap wajah adiknya.
Resky kemudian memalingkan wajahnya ke arah kakaknya itu, dia berkata.
"Baiklah, Kak.! Lagian, aku ingin membicarkan sesuatu yang sangat penting kepada Ibu," kata Resky.
"Apaan,!?" kata Arya.
__ADS_1
"Ada deh,!" kata Resky
Gadis cantik yang berusia 18 tahun itu kemudian memalingkan wajahnya ke arah Albert.
"Tunggu aku yah, Kak,! aku nggak lama kok."
"Okey,!" kata Albert.
Resky selanjutnya memisahkan diri dari kumpulan kecil itu dengan maksud menemui Ayah dan Ibunya yang saat ini sedang bersama dengan Mrs Erlita.
"Kalau begitu, kita ke kamar Raisa," kata Marcela sambil menatap Irma dan Violet secara bergantian.
"Okey,! kebutalan tubuhku sudah sangat letih," kata Irma, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Albert selanjutnya berkata.
"Berapa lama kamu di London.!?"
"Cuman sehari, setelah itu aku akan ke indonesia, kita akan bertemu di indonesia, aku ingin berbicara mengenai kita," kata Albert sambil menatap wajah cantik Irma.
"Baiklah," kata Irma lalu memalingkan wajahnya ke arah Arya dan kembali berkata.
"Aku ke kamar Raisa dulu yah, Kak.! Aku yakin Raisa baik-baik saja, sebaiknya kakak beristirahat dulu."
"Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar, aku juga berniat untuk beristirahat," kata Arya sambil memandang wajah Irma.
"Kabari aku yah kak,! jika kamu sudah berada di London," kata Violet.
"Okey," kata Albert sambil tersenyum kecil kepada adiknya itu.
Tak butuh waktu yang lama, Marcela, Irma dan Violet melanglahkan kakinya menuju ke kamar Raisa dan meninggalkan Arya dan Albert di tempat itu.
"Aku ingin membicarkan sesuatu denganmu, sebaiknya kita duduk di kursi sofa, apa lagi kamu juga sedang menunggu Resky yang berniat akan berangkat denganmu," kata Arya sambil menatap Wajah Albert.
"Baiklah," kata Albert.
Mereka berdua kemudian melangkahkan kakinya ke arah kursi sofa di mana sebelumnya Mr David dan Indra duduk di kursi itu.
Di saat Marcela sedang berjalan bersama Irma dan Violet menuju anak tangga mansion, dia memalingkan sejenak wajahnya ke arah Arya.
__ADS_1
"Aku harus mengambil kesempatan malam ini, setelah aku mengantar Irma dan Violet ke dalam kamar agar aku bisa leluasa berbincang-bincang dengan Arya, tentunya aku akan mengodanya," kata Marcela dalam hati sambil tersenyum licik.