
Di mansion megah milik Mrs Erlita, Arya sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengontrol the shadow yang terdiri dari 17 orang, dia memerintahkan dua orang yang ahli dalam hal system teknologi dan informasi untuk mencari sumber utama penyebab terbakarnya 450 buah mansion yang menghabiskan anggaran sebesar 63 kuadrilliun sehingga membuat perusahaan besar miliknya porak-poranda di tambah lagi dengan tuntutan para pemegang saham yang menyuruhnya mundur dari jabatan CEO bahkan mereka meminta ganti rugi kepada Arya akibat kegagalanya sebagai pemimpin.
Pemuda tampan itu kemudian berdiri dari tempat duduknya sambil berjalan mondar-mandir dan berpikir keras.
"Sial.... !!! Aku seperti di serang oleh ribuan pasukan, tidak henti-hentinya bencana menghampiriku, asetku anjlok drastis, Indra akan mengambil alih posisiku, hanya dia yang memiliki aset yang utuh," gumamnya.
Dia kemudian memalingkan pandangan ke arah kedua orang suruhannya.
"Apa kita mempunyai bukti,?"
"Untuk saat ini kami sedang berusaha Tuan muda.!"
"Lanjutkan pekerjaan kalian, aku ingin menemui Ayahku."
"Di mengerti Tuan muda."
Arya kemudian berjalan keluar dari pintu kamar untuk mencari Ayahnya. Pada saat pemuda tampan itu berniat menghampiri Mr Ramadhan, Hpnya berdering, dia lalu mengambil Hp miliknya dari saku celananya selanjutnya menempelkannya di telinganya.
__ADS_1
"Anda kemana saja, Nona Renata,!? kita menghadapi krisis ekonomi yang begitu besar,!" ucapnya sambil menghentikan langkahnya
"Aku berada di Paris, aku tau jika kita menghadapi krisis besar."
"Kamu siapa,!? ini bukan suara Renata,! jangan menipu aku,!! sudah cukup apa yang aku alami saat ini."
"Maaf sebelumnya Tuan Arya, aku pengganti Nona Renata, namaku Princes Blade."
"Hentikan omong kosong ini,!!!!! di mana Renata, cepat jawab.!!!!???"
"Haloo... Haloo... Halooooo.... !!! Arg.... Sial.... !!"
Arya kemudian melanjutkan langkahnya dengan wajah mengkerut menandakan bahwa dia sangat kesal menuju ke tempat di mana Ayahnya berada.
"Ada masalah apa lagi,!?" kata Mr Ramadhan Pratama sambil memandang wajah putranya.
"Nona Renata menghilang tanpa jejak, Ayah.!"
__ADS_1
"Kok bisa,!?" dia menatap putranya dengan sangat serius.
"Aku nggak tau apa penyebabnya, Ayah."
"Kamu istirahat dulu, wajah kamu pucat, pelipis mata kamu berwarna hitam."
"Aku ingin melanjutkankan percakapan kita yang terputus sewaktu kita berada di indonesia pada saat ibu terluka, jelaskan kepadaku semua apa yang Ayah ketahui agar aku bisa melewati problem ini, aku seperti berada di jalan buntuh tanpa jejak yang pasti, aku butuh informasi."
"Sebelum itu, bagaimana dengan teman kamu yang bernama Akira, apa kamu sudah menghubunginya.!?"
"Sudah. Tapi, nomornya nggak aktif, kita harus menyelesaikan permasalahan ini tanpa bantuan dia, ini sudah sangat darurat, kita bangkrut."
"Dengarkan baik-baik, Nak.! Kamu sudah tau sebagian besar apa yang aku sudah katakan sebelumnya, fokuslah pada David dan putranya terlebih dahulu agar beban kamu tidak terlalu menumpuk, aku janji akan memberi tahu kamu jika waktunya telah tepat, apa kamu mengerti,!? masalah finansial, serahkan padaku, aku akan meminta suntikan dana pada Mrs Erlita, aku yakin dia akan membantu kita, jangan memikirkan hal itu lagi, Okey,!! beristirahatlah sejenak sebentar lagi para tamu besar akan berkumpul."
"Baiklah, Ayah.!"
Arya kemudian berbalik arah dengan maksud kembali ke dalam kamar sebelumnya.
__ADS_1