
Arya sedang melangkahkan kakinya menuju adiknya yang sedang bersama denga seorang pria tampan berambut emas. dia terkejut saat mengetahui jika pria yang ada di hadapanya adalah teman mereka yaitu Farhan Crow Seven.
"Aku nggak menyankah jika pria ini adalah teman mereka, dia sangat berbeda sewaktu aku bertemu denganya pada saat Irma di rampok,!" ucap Arya dalam hati, dia menatap pria itu sambil tersenyum."Sudah lama kita nggak bertemu,!" kata Arya.
"Sudah cukup lama, Tuan Arya,!" kata Seven.
"Nggak usah manggil Tuan,!! panggil Arya, okey.!!"
"Okey.!"
Resky terkejut mengetahui jika kakaknya mengenal Seven, dia menatap pria berambut emas itu."Kenapa kakak nggak bilang jika mengenal kak Arya,!?" kata Resky.
"Kamu nggak perna menanyakan itu,!" jawab Seven.
Marcela hanya menyimak percakapan mereka. Irma dan Albert kemudian menghampirinya.
"Hay, Marcela,!! tak di sangkah kita bertemu secepat ini.
"Aku juga nggak menyangka.!"
Albert kemudian memeluk Farhan." kamu sangat berbeda bro,!!" kata Albert.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara serius denganmu setelah kita meninggalkan rumah sakit,!" bisik Seven ke telinga Albert.
"Okey bro,!" jawab Albert spontan.
Irma yang berada di samping Marcela kemudian membisik telinga gadis itu."Arya saat ini berada di dekatmu, bukankah kamu ingin membuat Arya jatuh cinta padamu untuk membalaskankan sakit hati Raisa,!" bisik Irma.
Marcela kemudian memalingkan wajahnya ke arah telinga Irma :"Aku juga memikirkan itu, tapi pangeranku ada di sini, aku nggak bisa berbuat apapun.!"
Irma kemudian membalas bisikan Marcela :"Aku nggak menyangka jika pangeranmu adalah Farhan teman kami. Jujur, aku terkejut.!" Dia kemudian memalingkan pandanganya ke arah Farhan."Hay, Farhan.!! kamu tetap tampan walaupun rambutmu aneh begitu,!! dia tersenyum manis."Auwww... sakit,!" dia menatap Marcela."Ngapain kamu nyubit aku sih,!!" dia memandang Marcela.
Marcela membalas perkataan Irma dengan senyum kecut.
"Kenapa kamu nggak bilang-bilang sih sama kita jika kamu kuliah di london, emang kita nggak penting lagi bagimu, apa kamu sudah nggak peduli lagi dengan kita, apa kamu menggangap kita teman,!?" kata Rasaisa lalu tersenyum kecil dengan maksud tertentu, dia kembali berkata.
"Kamu sangat berbeda."
Albert, Irma, Marcela dan Resky lalu memandang Raisa yang berjalan mendekat, begitu pun dengan Arya.
"Aku lupa memberitahu kalian, aku pikir kalian sibuk dengan urusan masing-masing," kata Seven.
__ADS_1
"Okey guys, aku rasa lain kali kita membahas ini, kita lagi sedang berduka,!" kata Albert yang masuk ke selah-selah percakapan Raisa dengan Seven.
Mrs Erika hanya menyimak para kumpulam anak muda bersama dengan Ernest. Beberapa waktu kemudian, Mr Ramadhan bersama dengam Mrs Erlita lalu menghampiri Ibu dari Arya dan juga Resky.
"Kita akan berada di London sampai hasil otopsi telah di keluarkan, Sudirman akan di makamkan di perancis berdekatan dengan Ayah dan Ibunya, kita akan berada cukup lama di dua negara, Ma,!" kata Mrs Sudirman yang menatap istrinya.
"Maafkan aku karena sudah merepotkan keluarga kalian,!" kata Mrs Erlita yang memandang Mrs Erika.
"Nggak merepotkan kok, suamiku adalah sahabat baik suami Nyonya Erlita, kami sudah seperti keluarga anda sendiri, jadi nggak usah mikirin itu, Bu.... !" Mrs Erika tersenyum manis lalu memeluk Mrs Erlita."Anda harus kuat, Bu,!" kata Mrs Erika.
"Aku Rasa sebaiknya kita Istirihat sejenak, ini sudah Pagi,!!" kata Mr Ramadhan, dia lalu memalingkan pandanganya ke arah pasukan elite khusus yang bernama shadow lalu memberi tanda isyarat berupa perintah.
"Sebaiknya kita istirahat sejenak, Bu.... !" dia melepas pelukanya dari Mrs Erlita.
"Aku rasa yang Nyonya Ramadhan katakan itu benar, mari kita istirhat.!"
"Bagaimana dengan anak-anak, Pa.... !?" kata Mrs Erika yang memandang wajah suaminya.
"Biarkan saja mereka bersama dengan teman-temanya, kita sebaiknya mencari hotel untuk saat ini,!"
Mrs Erlita lalu memerintahkan Ernest membawa mereka ke hotel terdekat dari rumah sakit, ia juga tidak lupa memerintahkan beberapa pengawal untuk berpatroli di area rumah sakit.
__ADS_1