
Setelah Resky tiba di tempat di mana Arya, Albert dan Marcela, berada, dia selanjutnya memberi isyarat kepada Albert dengan maksud bergegas meninggalkan mansion dan meninggalkan kota Paris.
"Kak, aku berangkat dulu yah,!" kata Resky sambil mengarahkan pandangannya ke arah Arya.
Arya dan Marcela kemudian berdiri dari kursi lalu mereka memalingkan wajahnya ke arah Resky.
"Baiklah, jaga diri kamu baik-baik," kata Arya lalu memalingkan pandanganya ke arah Albert selanjutnya berkata.
"Aku titip Resky kepadamu."
"Okey,!" kata Albert yang sedang berjalan menuju ke arah Resky.
"Cepat atau lambat kita akan bertemu kembali," kata Marcela sambil menatap Albert dan Resky secara bergantian.
"Aku menunggu waktu itu tiba," kata Resky.
"Aku juga," kata Albert.
Di saat itu, Resky menghampiri Arya lalu memeluknya secara tiba-tiba.
"Aku harap kakak tetap kuat dan bersabar menghadapi semua yang telah terjadi, aku akan selalu ada untuk kakak."
"Kamu nggak usah memikirkan hal itu, aku akan berjuang dengan caraku sendiri, aku bersyukur mempunyai adik sepertimu, berhati-hatilah di kota London," kata Arya sambil mengusap punggung adiknya itu.
Marcela dan Alber hanya menyimak adegan kakak beradik itu sambil tersenyum.
"Ini yang kedua kalinya aku melihat adegan kakak beradik ini, apa langkah yang aku putuskan sudah benar,!? bagaimana jika keputusanku salah,! Jika di pikir-pikir kembali, Arya bukanlah tipe pria brengsek. Arg... Ngapain juga aku mikirin itu, nggak penting, aku akan tetap melanjutkan keinginanku," kata Marcela dalam hati
Setelah Arya dan Resky melepas pelukan mereka secara bersamaan. tak lama kemudian, Resky bergegas meninggalkan mansion itu bersama dengan Albert.
__ADS_1
Di saat itu juga, Arya dan Marcela memandang punggung mereka yang kini menjauh dan begitu juga dengan Mrs Erika yang diam-diam mengamati mereka dari kejauhan lalu memutuskan untuk menyusul suaminya.
Setelah Resky dan Albert telah meninggalkan mansion, Di saat itu juga Marcela memperhatikan Arya yang kini berada di sampingnya dengan niat tertentu.
"Waktu yang tepat untuk membuatmu menderita," kata Marcela dalam hati.
Arya secara tak sengaja memalingkan wajahnya ke arah Marcela sehingga mata mereka bertemu secara langsung.
"Mengapa kamu melihatku seperti itu, Nona.!? Apa ada yang salah denganku.!?"
"Maaf, aku khilaf, aku merasa seperti sedang tersihir oleh kakak," kata Marcela sambil tersenyum dengan maksud tertentu.
"Sebaiknya kamu beristirahat, ini sudah malam."
"Bagaimana dengan kakak sendiri,!?" kata Marcela sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Arya.
"Aku hanya bermaksud merapikan jas dan dasi kakak,!" kata Marcela yang kini mengusap jas Arya yang tepat berada di area dada.
"Hentikan," kata Arya lalu menghindari tatapan mata Marcela yang begitu tajam kemudian memalingkan tubuhnya dan selanjutnya melangkahkan kakinya menuju ke arah kursi sofa.
"Pria ini," kata Marcela dalam hati lalu mengikuti langkah kaki Arya.
Setelah Arya tiba kursi sofa yang berukuran persegi panjang, pemuda tampan itu membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sambil memikirkan sesuatu.
"Jika Indra mengambil alih perusahaanku, dan juga berhasil mengambil alih perusahaan Nona Renata maka habislah semua impianku," gumamnya.
Pada saat itu juga, Marcela yang sedang menghampiri Arya begitu memperhatikan pemuda tampan itu dengan seksama.
"Pria ini sangat terpukul berat, apa mungkin di sebabkan oleh faktor hilangnya Raisa atau hal lain, wajahnya begitu suram," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Mengapa juga aku memikirkan hal itu, mengapa juga aku harus kasihan padanya," gumamnya.
Gadis cantik itu lalu memilih duduk di kursi sofa yang berbeda dengan Arya sambil menatap Arya yang kini mengusap kepalanya dan tetap memejamkan matanya.
"Katakan sesuatu, mungkin saja aku bisa membantu meringankan beban kak Arya."
"Kamu sebaiknya beristirahat, udah malam."
Di saat itu, Arya teringat sesuatu dan dia memutuskan untung membangunkan tubuhnya. Setelah dia duduk sambil menatap Marcela, Arya lalu melanjutkan perkataannya yang terhenti.
"Aku tau jika kamu sepupu dari Raisa, apa mungkin kamu berasal dari keluarga Brodryck,!?" kata Arya dengan serius.
"Itu betul, pamanku adalah Mr David Nasution Brodryck dan Indra Permana Nasution adalah kakak sepupuku," kata Marcela yang juga menatap Arya dengan sangat serius.
"Rupanya begitu, ini belum usai dan aku belum kalah," kata Arya
Mereka saling menatap dengan serius tanpa berkedip sedikitpun.
"Jika Indra berhasil memporak-porandakan aku, maka aku akan menghancurkan adik sepupunya yang kini berada di depanku, aku akan melakukan pembalasan yang sangat menyakitkan," kata Arya dalam hati yang kini raut wajahnya berubah.
"Mengapa kak Arya berkata begitu, apa maksudnya," kata Marcela dalam hati.
Marcela begitu bingung dengan maksud dari perkataan Arya, dia mencoba mencari jawaban dari pikiranya.
"Wajahnya kini berubah seperti sedang menahan amarah yang begitu besar, apa setelah aku mengatakan bahwa pamanku adalah Mr David dan Indra adalah sepupuku, aku rasa hal itu adalah pemicunya, apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin di sebabkan oleh Raisa yang memilih Indra sebagai kekasihnya, aku rasa itu adalah jawaban yang paling mendekati kebenaran dan sudah jelas di sebabkan oleh faktor cemburu," kata Marcela dalam hati.
"Aku akan memamfaatkan gadis itu untuk mendapatkan kembali perusahaanku," kata Arya dalam hati.
Di saat itu, Marcela memalingkan pandangan ke arah lain dengan maksud menghindari tatapan mata Arya yang terlihat begitu nyata seperti ingin menghancurkan sesuatu.
__ADS_1