
Di sebuah mansion keluarga besar Ramdhan, Arya sedang berdiskusi dengan Ayahnya sedangkan ibunya sedang membuat kopi di dapur.
"Bagaimana perkembangan proyekmu, Nak.?"
"Untuk saat ini sudah memasuki tahap kedua, Ayah.! Tapi, akhir-akhir ini aku mulai khawatir, sepertinya seseorang ingin menghancurkanku. Beberapa hari yang lalu, aku memergoki beberapa orang pria yang nggak perna aku jumpai. Yang anehnya, orang-orang itu nggak muncul lagi beberapa hari ini."
"Kenapa baru saat ini kamu katakan, Nak.! Jika kamu menghadapi masalah seperti itu seharusnya kamu berdiskusi denganku.!" Ramdahan Pratama lalu memandang putranya.
"Awalnya aku berpikir jika ini masalah sepeleh, Ayah.! Tapi, dugaanku teryata salah. Ngomong-ngomong, apakah Ayah masih terlibat dengan urusan bisnis ? Apaka Ayah menginggat wanita yang ikut berinvestasi dalam proyek yang aku kerjakan.?"
Ramadhan Pratama terdiam sesaat sambil memikirkan pertanyaan putranya.
"Dari penjelasanmu, sepertinya masalah ini terlihat sederhana.Tapi, sebenarnya ini akan berdampak besar. Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa orang itu ingin menghancurkan keluarga kita dan bisa jadi dia menargetkan aku dan Sudirman Sinaga. Aku menginggat wanita yang kamu maksud, ada apa dengan dia.?"
"Mengapa Ayah dan Om Sudirman menjadi target ? Aku nggak mengerti sama sekali. Nona Renata mengatakan hal serupa seperti yang Ayah katakan. Dia juga mengatkan bahwa Indra Permana Nasution adalah putra dari rival Ayah di masa lalu, dia putra David.!"
Ibu Erika yang sedang membawa nampan dengan dua gelas kopi dan kue diatasnya dengan niat menuju ke arah suami dan putranya tiba-tiba terkejut hebat mendengarkan obrolan mereka.
__ADS_1
"Praaangggg... !!!!"
Gelagar suara gelas pecah, menghantam lantai keramik mansion itu. Kedua pria yang sedang duduk di kursi sofa kemudian memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.
"Kamu kenapa Ma... ! Kamu nggak terluka kan.. !" Kata Mr Ramdhan yang bergegas melangkahkan kakinya ke arah istrinya.
"Apa ibu baik-baik saja... ! Kata Arya yang sedang berjalan cepat menghampiri Ibunya sambil menatapnya.
"Aku.. Aku...! Nggak apa-apa,!" jawab Mrs Erika yang tergagap-gagap, denyut jantungnya berpacu dengan cepat sambil memungut serpihan kaca itu tanpa memandang putranya dan suaminya, dia bermaksud menyembunyikan kecemasan dan ketakutan di wajahnya.
"Kemana para pembantu di rumah ini sih ? Di saat seperti ini mereka malah nggak muncul.!" Kata Arya yang tadinya merasa cemas kini berubah warna menjadi kesal.
"Aku meliburkan mereka hari ini, Nak.!" Dia mejawab tanpa mamandang putranya untuk menyembuyikan wajahnyanya yang pucat pasi.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Ma.? Sepertinya kamu banyak pikiran hari ini,!"kata Mr Ramadhan yang berada tepat di samping Istrinya itu serta ikut membantu Istrinya yang sedang mengumpulkan serpihan gelas pecah.
"Aku hanya sedikit lelah, Pa,!" kata Mrs Erika, dia menjawab dengan santai setelah berhasil menetralkan perasaanya.
Mrs Erika kemudia beranjak dari tempanya sambil membawa puing-puing pecahan kaca yang ia kumpulkan.
"Biarkan aku yang membuangnya Ibu... !"
"Biarkan putra kita yang membuangnya Ma... ! Kamu beristirahat saja, wajahmu sangat pucat dan tubuhmu bergetar.!"
Dia lalu menyerahkan serpihan kaca itu kepada putranya.
"Astaga... ! Tangan ibu berdarah,!" kata Arya yang begitu panik setelah melihat jari tangan dan telapak tangan Ibunya yang berlumuran darah.
"Ya ampung sayang... ! Kita sebaiknya ke kamar,!" Kata Mr Ramadhan yang juga begitu panik.
__ADS_1
Di saat itu, Mr Ramadhan lalu mengengam dengan lembut pergelangan tangan istrinya sambil melihat telapak tangan istrinya yang berdarah, Sedangkan Arya bergegas membuang serpihan kaca itu di tempat sampah.