LOVE AND BUSINESS EMPIRE

LOVE AND BUSINESS EMPIRE
EPIDODE 45 : Keputasan Final


__ADS_3

Di sebuah mansion megah, Arya sedang tertidur sangat pulas di dalam kamarnya dan di ruangan keluarga besar pemuda itu, sepasang suami istri sedang berdialong.


"Sejak kepergian putri kita, entah mengapa rumah ini begitu sepi di tamba lagi dengan Arya yang akhir-akhir ini pulangnya larut malam,!" kata Mrs Erika sambil memandang suaminya.


"Aku sependapat denganmu darling ! Ngomong-ngomong, kok Arya belum nongol sih ? Biasanya dia sudah berangkat ke kantor jam segini,!" kata Mr Ramdhan


"Betul juga katamu, Pa ! Sebaiknya aku ke kamarnya dulu untuk memastikan keadaanya."


"Aku ikut denganmu ma ! Ayuk kita ke atas,!" kata Mr Ramadhan.


Kedua pasangan suami dan istri itu lalu berdiri dari kursi sofa kemudian mereka melangkahkan kakinya mrnuju ke kamar Arya. Tidak lama kemudian, langkah kaki mereka terhenti tepat di depan pintu kamar Arya Ramadhan.


"Tok... ! Fok... ! Tok.... !" Bunyi ketukan pintu.


"Ceklek.!" Suara gagang pintu menandakan bahwa pintu kamar itu telah terbuka.


Mereka berdua kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk menyapa putra mereka yang masih berada di dalam selimut.


"Arya bangun nak ini sudah siang.!! Jangan-jangan kamu sakit,?" Kata Mr Erika sambil menghampiri putranya.


"Kamu ngak ke kantor,?" kata Mr Ramadhan Pratama yang juga sedang menghampiri tempat tidur Arya.


Pemuda itu kemudian menampakkan wajahnya dari balik selimut.



"Aku masih sangat ngantuk mom...! Pungunggu terasa mau copot dan tubuhku terasa remuk akibat kelelahan di sebabkan semalam aku begadang full mengawasj proyek. Beri aku waktu sebentar saja sampai kondisiku stabil ayah !" Jawab Arya.


"Jika kamu masih terasa lelah sebaiknya kamu mandi agar rasa lelah di tubuhmu itu hilang !" Ucap Mrs Erika.



"Apa yang di katakan ibumu itu betul Arya ! Ingat kamu itu seoarang pemimpin perusahaan besar di negara ini, kehadiranmu sangat di butuhkan oleh para karyawan dan karyawati agar mereka bersemangat untuk bekerja," ucap Mr Ramadhan.



"Jangan memaksa ibu untuk menyiram kamu, Arya,!" kata Mrs Erika.


"Dan jangan membangunkan singa yang tertidur Arya,!" ucap Mr Ramadhan.


"Iya... ! Iya.. ! Iya.. ! Aku bangun deh.!"


Pemuda tampan itu lalu bangun dari pembaringanya kemudian mengambil jubah mandinya dan di saat itu juga Kedua pasangan suami istri tersebut selanjutnya memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar putra mereka.


"Ceklek.!" Bunyi gagang pintu menandakan bahwa pintu telah tertutup.


Arya sedang berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah pemuda itu telah menyelesaikan urusannya, dia kemudian menuju ke lemarinya untuk mengambil dan memakai seragam kebesaranya sebagai seorang CEO. Setelah pemuda itu berpenampilan lengkap kemudian dia mengambil Hp miliknya.


"Aku akan menelpon Raisa setelah ini,!" gumamnya sambil mengenakan pakain lengkap dengan jas tutup berwarna hitam.

__ADS_1


Arya mengambil Hpnya lalu menghubungi Raisa.


"Semoga saja emosinya sudah redah," gumamnya.


"Krink... ! Krink.. ! Krink.. !!" Bunyi Hp milik Raisa.


"Tut... ! Tut... ! Tut... !!" Bunyi Hp milik Arya.


"Krink... ! Krink... ! Krink... !" Bunyi Hp milik Raisa


"Tut... ! Tut... ! Tut... !" Bunyi Hp milik Arya.


"Krink... ! Krink... ! Krink... !" Bunyi Hp milik Raisa.


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.!" Suara operator seluler



"Kamu harus lebih sabar Arya Ramadhan ! Rupanya dia masih sangat marah kepadaku, mungkin beberapa hari lagi emosinya akan meredah, aku harus mendapatkan Raisa kembali bagaimanapun caranya,!" gumamnya.


Arya kemudian memutuskan untuk melangkahkan kakinya dengan maksud meninggalkan kamarnya dan berniat menuju ke meja makan keluarga besarnya.


"Jika aku ingat-ingat kembali sepertinya bukan hanya aku yang mengawasi proyek itu, apa mungkin itu orang-orang Renata ! Tapi sepertinya bukan, soalnya aku ingat bahwa Renata telah berpesan untuk fokus terhadap proyek itu atau sebaiknya nanti akan aku pastikan dengan bertanya langsung kepada dia, aku tidak tahu apa yang di lakukan Renata di jepang saat ini " Ucap Arya dalam hati


...****************...


"Siapa yang menelpon kamu,?" Tanya Irma



"Orang ngak penting,!" Jawab Raisa.


"Mungkin mantang kekasihnya ! Soalnya pada saat Raisa melihat Hp miliknya wajahnya berkeruk dan urat lehernya terlihat jelas seperti sedang marah besar,!" Ucap Marcela


"Rupanya kak Arya !" Ucap Irma


"Irma.............! Jangan sekali-kali kamu menyebut nama itu, aku sangat membenci pria brengsek itu," Jawab Raisa begitu kesal



"Jadi yang nelpon barusan itu benar-benar Arya, di lihat dari sikap Raisa," Ucap Marcela.



"Kata orang ! Benci dan cinta itu beda-beda tipis,!" Ucap Irma.


"Memang kenapa kalau pria brengsek itu menelpon aku ! lagian aku ngak peduli dan aku benar-benar membencinya Titik," Jawab Raisa.


"Tiga hari yang lalu pada saat kita berada di club malam, seorang gadis cantik yang lagi mabuk mngatakan seperti ini " Aku membencimu tapi aku masih mencintaimu brengsek ! Kamu inggat ngak marcela,?" Tanya Irma menyindir Raisa.

__ADS_1


"Aku ingat itu dengan sangat baik dan jelas, itukan Raisa yang ngomong,!" Jawab Marcela spontan


Wajah Raisa kemudian memerah seperti kepiting rebus menahan malu.


"Aku ngak ingat kalau perna mengatakan itu dan itu pasti hasil karangan kalian semua,!" Jawab Raisa


"Kalau nggak percaya aku hubungi Albert nih, kamu ngomong sama dia,!" Ucap Irma


"Nggak usah kamu telpon Albert ! Bikin malu ajah,!" Jawab Raisa.


"Soalnya kamu menganggap Albert sebagai Arya,!" Ucap Marcela.


Sontak Raisa semakin merasa malu, wajahnya kembali berubah warna seperti tomat.


"Baiknya seperti ini deh ! Tapi sebelum aku menjelaskan apa yang ada di pikiranku sebaiknya kamu menjawab dengan serius Raisa, apa kamu mengerti,!?" Tanya Marcela


Irma yang sedang menyimak perkataan Marcela kemudian faham akan maksud dan tujuan dari sepupu Raisa itu.


"Aku mengerti ! Katakan saja, nggak usah bertele-tele,!" Jawab Raisa.


"Apa kamu masih ingin bersama dengan Arya,!?" Tanya Marcela.


Raisa kemudian terdiam membisu tanpa sedikitpun berkata-kata dia terlihat kebingungan kemudian menghayal.


"Ada apa ? kok kamu melamun sih ! Kamu di tanya tuh sama Marcela," kata Irma sambil menatap sahabatnya itu


"Dari diam kamu aku bisa menebak bahwa perasaan cintamu ke pada pemuda itu sangat besar dan aku tidak tahu seberapa luas rasa itu.!" Ucap Marcela.


"Kalau kamu nggak mau menjawab ! sebaiknya kamu memaafkan dia dan kembali ke padanya," Ucap Irma.


"Aku tidak akan kembali padanya meski aku sangat mencintainya.!" Jawab Raisa yang terbata-bata.


Dalam diam gadis cantik itu meneteskan air mata


"Terkadang orang yang membuatmu jatuh cinta belum siap untuk mempertahankanmu. Akhirnya mereka menyakitimu." Ucap Marcela


"Akan ada saatnya kamu membiarkan seseorang pergi dari hidupmu, meski kamu tahu kehilangan dirinya bukanlah perihal mudah untuk dilalui, Aku sangat faham apa yang kamu rasakan walaupun aku belum perna menjaling hubungan langsung dengan seorang pria.!" Ucap Irma.


"Dalam proses melepaskan, kamu mungkin akan kehilangan banyak hal dari masa lalu, tetapi kamu akan menemukan dirimu sendiri." Ucap Marcela


"Sebelum menjadi pengkhianat dulu dia bernama kekasih. Kemudian dia hancurkan perlahan semua kepercayaanmu." Ucap Irma


"Hidup bukanlah tentang menunggu badai berlalu, ini tentang belajar menari di tengah hujan.!" Ucap Marcela.


"Aku tahu caranya bagaimana harus berlari sejauh mungkin, tapi yang tersulit adalah berpikir untuk meninggalkan dia. Dibutuhkan satu menit untuk menyukainya, satu jam untuk mencintainya, tetapi untuk melupakan dia membutuhkan waktu seumur hidupku. Tapi aku akan berjuang melupakan dia. Membelakanginya mungkin lebih baik daripada melihatnya selingkuh di depan mata sendiri. Mungkin aku akan turut bahagia jika penggantiku bisa mencintainya seperti aku atau bahkan lebih dari aku dan ini adalah keputusa final,!!!" Kata Raisa dengan mengungkapkan seluruh perasaan yang ia rasakan saat ini.



Di saat itu, Irma dan Marcela saling memandang sejenak kemudian memutuskan untuk menghampiri Raisa dengan maksud memeluknya erat-erat.

__ADS_1


__ADS_2