
Di kediaman keluarga Ramadhan lebih tepatnya di dalam kamar pasangan suami istri. Ramadhan sedang mendudukkan istrinya di sudut tempat tidur mereka.
Dia lalu bergegas mencari sesuatu untuk membalut luka tangan istrinya di dalam lemari mereka. Pak Ramadhan kemudian mengambil gaun putih tipis milik istrinya kemudian merobeknya sebab dia tidak menemukan apa yang ia cari.
Pak Ramadhan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah istrinya, dia lalu membalut tangan istrinya yang terluka. Setelah dia selesai membalut tangan istrinya, Pak Ramadhan lalu berkata
"Kamu istrahat dulu, aku akan menemui Arya. Okey.?"
"Aku baik-baik saja, Pa.! Nggak usah terlalu kawatir, ini hanya luka kecil.!"
"Istirahatlah dan jangan protes.Okey.!" Dia sambil berjalan keluar dari kamarnya menuju ke putranya.
Ibu Erika lalu berbaring sesuai titah suaminya.
Baru saja Pak Ramadhan ingin keluar dari kamarnya, tiba-tiba Arya dan seorang dokter muncul.
"Tolong obati luka ibuku... ! Cepat... !" Kata Arya.
"Baik Tuan Muda.!" Jawab Dokter itu.
Setelah dokter itu menyelesaikan tugasnya, dia kemudian memohon ijin untuk kembali ke rumah sakit. Pak Ramdhan dan putranya mengikuti Dokter itu sampai di pintu keluar kamar.
__ADS_1
Pak Ramadhan memperhatikan dengan seksama dokter itu yang sudah berjalan keluar dari mansion miliknya.
"Sepertinya aku kenal dengan dokter itu.!"
"Dia Dokter Yunus, Ayah.. !"
"Dokter Yunus... !!" Dia berpikir. "Aku ingat sekarang, dan aku mengenalnya. Apa dia bekerja di Rs Thunder.?"
"Dia bertugas di Rs Thunder, Ayah.! Memang kenapa, Ayah.?"
"Lain kali kita membahasnya, kita ke ibumu dulu, Nak.!"
Mereka kemudian menuju ke tempat tidur di mana Ibu Erlita sedang berbaring tetapi tidak tertidur, dia sedang melamun menandakan bahwa ia memikirkan sesuatu.
"Aku tidak menyangkah jika putraku Indra berada di negara ini. Apa yang di inginkan anak itu !! Apa yang ia rencakan... !! Jangan-jangan dia... !"
"Apa sudah merasa baikan.? Apa yang ibu pikirkan.?"
"Aku sudah baikan, Nak.! Aku sedang memikirkan adikmu, aku rindu dengan putriku.!"
Kedua pria itu terdiam, Arya lalu mengambil Hp miliknya dari saku celananya untuk menghubungi Resky.
"Krink... ! Krink... ! Krink... !!" Bunyi Hp milik Resky, dia lalu mengambil Hp miliknya dari tas kecil miliknya.
"Ada apa kak ? aku lagi punya urusan penting saat ini.!"
"Kamu di mana saat ini ?"
"Aku baru tiba di tempat parkir, kak.!"
__ADS_1
"Kamu sama siapa ?"
"Aku bersama dengan Kak Seven teman kak Rasia.!"
"Perasaan nggak ada teman Raisa bernama Seven.!"
"Maksudku kak Farhan, dia teman kampus kak Raisa.!"
"Farhan... ! Farhan... ! Farhan... ! Aku ingat sekarang, aku mengenalnya.!
"Ibu mencarimu, dia merindukanmu. ibu terluka serpihan kaca."
Resky terkejut. dia gelisah di tempatnya, dia mondar-mandir di tempat parkir.
"Apa ibu baik-baik saja, kak... !?"
"Ibu baik-baik saja.!"
"Aku mau ngomong dengan ibu, kak.!"
Arya lalu menyerahkan Hp miliknya kepada ibunya yang sedang berbaring.
"Bagaimana kabarmu di london, Nak.?"
"Aku baik-baik saja, Mom.! Apa luka ibu nggak Fatal... ?"
"Nggak, Nak.! Cuman luka biasa, bagaimana kuliahmu ?"
"Kuliahku berjalan baik, Mom.! Ngomong-ngomong, apa ibu kenal dengan David ? Dia dosen pembimbingku.!
__ADS_1
Bagai di sambar petir, seperti di hantam ombak dan karang begitulah gambaran perasaan ibu Erika yang merasa tersudutkan dengan sejumlah kejutan yang ia dapatkan dalam sehari.