
Gadis berusia 18 tahun sedang berjalan cepat menulusuri lorong-lorong kampusnya, dia berniat untuk ke kantin kampusnya.
"Mengapa wanita hamil di foto ini sangat mirip dengan Ibuku, aku harus mencari tahu dengan pasti sebelum membuat kesimpulan." Begitulah pikiran dan isi hati gadis itu yang terus melangkah maju kedepan tanpa mengucapkan sepata katapun dari mulutnya.
Dia kemudian berhenti secara tiba-tiba sambil berpikir dan berbicara dengan dirinya sendiri.
"Apa perlu aku minta bantuan kak Farhan.. ! Atau, aku sendiri yang mencari tau kebenaranya..! Apa yang harus aku lakukan. Arg... !!"
Dia lalu mengigit kuku jari telunjuknya dari tangan kananya dengan raut wajah mengkerut seperti sedang berpikir sangat keras.
"Sudah aku putuskan, aku akan meminta bantuan kak Farhan... ! Aku tidak mampu menyelesaikan masalah ini seorang diri dan hanya kak Farhan yang aku kenal dengan sangat baik di kota ini. Aku rasa dia akan membantuku... !"
Resky lalu membalikkan tubuhnya ke belakang sambil berjalan normal, dia kemudian mencari nomor kontak Seven.
"Krink... ! Krink... ! Krink... !!"
Seven kemudian berjalan menuju kursi sofa tempat sebelumnya ia mendengarkan percakapan teman-temanya dengan dokter Yunus dan tentunya di tempat itu pula ia berdialog dengan Albert melalui telpon pada saat Raisa telah di selamatkan.
Dia lalu memperhatikan layar Hp miliknya.
"siapa sih yang menelpon.. !" Dia lalu mengangkatnya.
"Halo... ! Dengan siapa dan ada apa... ?"
"Ini aku kak... ! Resky... !"
"Oooh... ! Ada apa Resky ? Dapat dari mana nomorku dek..? Perasaan kita nggak perna tukaran nomor ?"
"Aku ambil nomor kakak ditempat kerjaku.. ! Ngomong-ngomong kak, aku mau minta tolong nih, boleh nggak... ?"
"Katakan saja... !"
__ADS_1
"Sebaiknya kita ketemu dulu kak, nanti aku ceritakan detailnya dan ini sangat penting kak.!"
"Kamu di mana sekarang.?"
"Aku di kampus kak.!"
"Jangan kemana-mana, aku akan ke situ dan kamu bersabar sedikit soalnya tempatku dan tempatmu jaraknya cukup jauh. Okey... !"
"Okey kak Farhan... !"
Seven kemudian mengambil kuci motornya kemudian meninggalkan apartemenya.
"Brummmm.... ! Brummmmmm.... !" Bunyi motor pemuda itu yang melesat dengan sangat kencang menuju ke kampus Resky.
Beberapa waktu kemudian Seven telah tiba di kampus Resky dan dia mengentikan motornya sambil mengambil Hp dengan niat menghubingi gadis itu.
"Kamu di mana... ?"
"Tunggu aku di situ, Okey... !"
"Okey kak... !"
"Tut... ! Tut... ! Tut... !" Bunyi Hp Resky menandakan bahwa panggilan berakhir.
Seven kemudian kembali melajukan motornya menuju ke basement tempat parkir. Dia kemudian menurunkan kecepatan matornya lalu menghentinkanya pada saat Resky berada di depanya.
"Kamu naik, kita pergi dari sini untuk mencari tempat yang nyaman untuk berbicara sebab aku rasa apa yang ingin kamu ceritakan.. ! Sangatlah penting.!"
"Iya kak.!"
Resky kemudian naik ke atas motor Seven.
__ADS_1
"Berpeganlah yang kuat.!"
"Aku sudah berpengan kuat kak.!"
"Bukan seperti itu..! Tapi seperti ini yang namanya berpengang kuat.!"
Seven kemudian mengambil tangan kanan Resky lalu menghubungkanya dengan tangan kirinya sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa gadis cantik itu memeluk Seven dengan erat.
"Dag... ! Dig... ! Dug... !" Detak jantung Resky.
"Ada apa dengan jantungku sih... !" Ucapnya dalam hati.
"Brummm... ! Brummmmm.... !!" Motor Vyrus Alyen 889 bermesin Ducati itu melaju dengan kencang.
Resky kemudian mengencangkan pelukanya.
"Aduuuh... uh... ! Kenapa perasaanku tidak karuan begini sih... !" Gumamnya.
"Kamu kenapa... ?" Seven memalingkan wajahnya sejenak lalu melihat kedepan lagi.
"Apa yang kakak katakan... ? Aku nggak dengar..!"
"Apa yang kamu katakan... !!?" Tanya Seven dengan nada sedikit keras. Dia kembali memalingkan wajahnya sejenak
Resky kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Seven yang menoleh.
"Aku nggak mengatakan apapun kak... !!!" Jawab Resky dengan nada sedikit keras.
Seven kemudian memalingkan wajahnya kedepan dan menambah kecepatan laju motornya.
__ADS_1