
Rian mengarahkan pandangan ke arah Irina yang sedang bertanya.
"Saranku ! Sebaiknya Nona berbicara baik-baik dengan ibu anda, aku yakin jika Ayah Nona juga terlibat dalam pertunangan rahasia itu.!"
"Aku malas bertemu dengan ibuku... ! Aku juga berpikir sama sepertimu. Soalnya kata ibuku di dalam video CCTV yang aku lihat, Ayah pemuda yang di jodohkan denganku adalah sahabat dan tangan kanan Ayahku. Dan ingat !Jangan memanggilku dengan ucapan formal ! Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika kamu menganggapku sebagai temanmu... ?"
"Okey... ! Okey Irina... ! Kamu sebaiknya mendiskusikan kepada kedua orang tuamu, melarikan diri bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan problem.!"
"Tapi, bagaimana jika tidak ada jalan untuk membatalkan pernikahan itu, bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang yang nggak aku kenali sama sekali... ! Bagaimana bisa aku menikahdengan pria yang nggak aku cintai... !"
"Di balik permasalah, pastinya mempunyai jalan keluar.!"
"Terus, apa jalan keluarnya... ?"
"Menikah.!"
"Ya ampun... ! Kamu sama saja dengan ibuku... ! Arg... !!"
"Sebaiknya kamu segera pulang, ini sudah malam, aku yakin orang tuamu mencemaskanmu.!"
"Kamu mengusirku... ! Arg... Nggak ada yang memahami perasaanku. Brengsek... !"
"Bukan begitu maksud aku, ! jangan di salah artikan. Kalau begitu, aku yang akan mengantarmu pulang, sebelum orang-orang suruhan ayahmu dan ibumu sampai ketempat ini.
"Krink... ! Krink... ! Krink... !" Dering Hp Rian.
Pemuda tampan itu lalu mengambil Hp miliknya dan menganggkatnya.
"Halo... !"
__ADS_1
"Apa kamu melihat Irina... ?"
"Nona Irina berada di tempatku saat ini. Ngomong-ngomong, dengan siapa aku berbicara... ?"
"Aku, Kepala pasukan khusus keluarga Mr Arhashavin dan kita perna bertemu sebelumnya.!"
Rian kemudian berpikir, kemudian dia mengingat kejadian tempo hari pada saat ia menyusup ke dalam mansion Mr Arashavin.
"Aku ingat sekarang siapa anda, aku sendiri yang akan mengantar Nona Irina. Tuan.!"
"Baiklah kalau begitu ! Kebetulan Mr Arashavin mencarimu dan ingin berbicara empat mata.!"
"Baiklah Tuan ! Aku berangkat sekarang.!"
Irina yang sedari tadi hanya menyimak percakapan itu kemudian bereaksi.
"Aku nggak mau pulang... ! TITIK.!"
Rian kemudian berdiri dari tempatnya kemudian berjalan menuju pintu keluar kontrakanya.
"Ceklek.!" Bunyi pintu terbuka.
"Tunggu, aku ikut... !" Dia kemudian berdiri dan berjalan cepat menyusul Rian yang sedang berada di mulut pintu yang terbuka lebar.
Rian tersenyum penuh kemenangan melihat gadis cantik itu berjalan cepat ke arahnya.
__ADS_1
"Ceklek.!" Bunyi pintu tertutup.
Mereka berdua lalu bergegas menuju ke mobil Lamborghini Aventador SVJ berwarna hijau muda.
"Ini kuncinya... !" Irian melempar kunci mobilnya ke arah Rian.
Rian hanya tersenyum sambil menangkal kunci mobil itu.
Tidak butuh waktu lama, mobil lamborghini Aventador itu meninggalkan area tempat tinggal Rian.
"Brumm... ! Bruuummmm... !" Suara laju mobil itu melesat cepat dalam kesunyian malam.
Di dalam kendaraan yang sedang melaju cepat dengan tujuan ke kediaman Mr Arashavin, mereka sedang berdialog.
"Besok temani aku... ?" Tanya Irina yang memalingkan sejenak pandanganya ke arah Rian
"Aku bukan supir kamu lagi... !" Rian berpaling sejenak
"Pokonya, kamu harus menemani aku besok... !" dia kemudian melipat kedua tanganya di dekat perutnya, wajahnya mengkerut menandakan bahwa ia sedang kesal.
"Kamu itu sangat keras kepala amat sih... !" Rian berpaling sejenak ke arah Irina.
"Biarin.!"
Beberapa waktu kemudian, Mobil lamborghini Aventador itu memasuki area mansion keluarga Irina. Rian kemudian memarkir mobil di dalam garasi. Mereka berdua lalu membuka pintu dan bergegas menuju ke dalam mansion.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua kini berada di dalam mansion megah itu.