LOVE AND BUSINESS EMPIRE

LOVE AND BUSINESS EMPIRE
EPISODE 134 : Mengambil Tindakan Penting


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Mr Erlangga Steven Lee beberapa waktu yang lalu, Seven berjalan seorang diri tepi jalan raya kota Paris, wajah pria tampan itu begitu murung, dia lebih memilih berjalan kaki daripada memesan taxi, dia telah melangkahkan kakinya dengan jarak tempuh 7 kilometer.


"Ketika tiba di sebuah persimpangan dan harus memilih jalan yang dilalui. Terkadang, rasanya seperti berjalan di atas treadmill, berlarian di tempat yang sama," gumamnya.


Dia lalu menghela nafas panjang lalu mengambil nafas pendek."Aku mencoba untuk meluapkan amarahku. Tapi, jika hanya ada aku di sini, apa gunanya.! Ketika pagi tiba, aku takut untuk membuka mataku. Bahkan, aku sangat takut hanya untuk sekadar bernafas," gumamnya.


Dia lalu duduk di tepi jalan lalu mengambil sebungkus rokok dan pemantik dari saku celananya sambil berfikir.


"Apa yang aku cari selama ini, apa yang aku perjuangkan saat ini sungguh membuatku tak berdaya," dia kembali menghela nafas panjang setelah itu, dia menghisap sebatang rokok yang telah ia bakar ujungnya lalu menghempaskan asapnya ke udara dengan begitu terburu-buru.


"Uhuk... ! Uhuk.... !!"


Dia mengambil nafas pendek, dia membuang sebatang rokok yang berada di tanganya, dia mengusap wajahnya dengan tangan kananya."Nggak ada yang lebih menyedihkan daripada memiliki segalanya tapi merasa seperti seorang diri. Sial.... ! Aku ingin menjerit, ingin berteriak. Tapi, yang bisa aku lakukan hanyalah berbisik pada diriku sendiri," gumamnya.


Dia berdiri, dia melangkahkan kakinya, dia menendang sebuah kaleng minuman yang berada di tepi jalan itu.


"Mengapa dunia ini begitu kejam kepadaku,!!!" teriak Seven.

__ADS_1


Dia menghela nafas panjang sesaat, dia kembali mengambil sebatang rakok dan pemantik dari saku celananya.


"Aku adalah aku, aku tak ingin menjadi siapapun, hidupku adalah milik aku dan aku akan berjalan di atas jalanku, aku akan melewati ini, teman-temanku membutuhkan aku saat ini walaupun sebagian besar tak membutuhkanku, aku nggak peduli untuk saat ini dengan urusan pribadiku saat ini," gumamnya dengan maksud menyemangati dirinya sendiri.


Beberapa waktu kemudian, pemuda tampan itu mengontrol dirinya kembali seperti sedia kala. Pada saat dia berjalan, Farhan Crow Seven lalu mengambil Hp dari saku celananya sambil menghisap rokok dengan tangan kirinya selanjutnya menghubungi Mr Erlangga Steven Lee.


"Baiklah, aku memutuskan untuk menjaga rahasia ini hingga waktunya tiba,!" ucap Seven.


"Kamu harus kuat cucuku, aku tau jika karaktermu itu sangat kuat sejak kita bertemu."


"Sampai ketemu lagi di lain waktu kakek."


Setelah panggilan telephone berakhir, Seven lalu menunggu taxi di tepi jalan itu. Tidak butuh waktu yang lama, dia lalu meninggalkan tempatnya dengan taxi yang di tumpanginya dengan niat menuju ke penginapan.


Tidak butuh waktu yang lama, Seven telah tiba di penginapan, dia lalu menuju ke dalam kamar yang telah ia pesan sebelumnya bersama dengan Albert, Irma dan Resky.


"Aku rasa mereka telah menemukan Indra dan Raisa, sebaiknya aku mandi dulu," gumamnya.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, Seven lalu keluar dari kamar mandi, dia memakai pakaian yang sebelumnya ia kenakan.


"Aku harus ke toko pakain terdekat, sudah dua hari aku memakai baju dan celana ini."


Pemuda tampan itu lalu meninggalkan penginapan itu sambil bermain Hp dengan maksud mencari nomor kontak Albert.


"Kring... ! Kring... ! Kring.... !!" Bunyi Hp Albert.


"Farhan," gumamnya, dia lalu menjauh dari teman-temanya. dia mengangkat dan menempelkan Hpnya di telinganya.


"Kamu di mana,?" kata Seven.


"Aku bersama dengan Raisa dan yang lainya di depan mansion Mr Erlita, aku melihat Rian yang baru saja tiba bersama wanita yang kita jumpai di taman, kamu di mana dan apa rencanamu,!?"


"Aku sedang mengganti pakaianku di toko terdekat, aku akan menculik Raisa malam ini."


"Apaaa.... !!"

__ADS_1


Panggilan telephone terputus."Saatnya beraksi" ucap Seven.


__ADS_2