
Anjas mulai mencari keberadaan sang Mama.
" Itu dia?"
Anjas lalu menghampiri mamanya yang terlihat sedang bercanda tawa bersama gengnya.
" Psttt Mama..." Panggil Anjas dari kejauhan dengan suara berbisik.
Namun, karena Rini tengah asyik bercanda tawa bersama gengnya. Dia tidak mendengar suara panggilan dari Anjas.
" Psssttt Mama, woy Mama."
Rini menoleh, Anjas mengisyaratkan agar Mama nya mendekat ke arah nya.
" Sebentar ya Jeng, aku ke anak ku dulu." Ucap Rini sambil menunjuk ke arah Anjas.
" Hai Anjas...." Ucap Semua sambil melambaikan tangan ke arah Anjas.
Anjas langsung tersipu. Membalas lambaian tangan dari para geng sang Mama, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kenapa juga Mama harus memberi tahu kepada para gengnya jika ingin bertemu dengan ku. Batin Anjas.
" Ada apa sih?, kamu menganggu kesenangan Mama saja." Ketus Rini.
" Ini nih, kalau aku ganggu Mama, Mama marah. Kalau Mama ganggu Anjas, Mama juga yang marah. Mau Mama apa coba?"
" Haduh, ya sudah ya sudah. Ada apa kamu manggil Mama?"
" Temen Mama ada yang namanya Bela?"
" Bella?"
" Bukan teman Mama, maksud nya anak teman Mama ada yang namanya Bella gak?"
" Ada, tuh orangnya." Ucap Rini sambil menunjuk ke arah wanita gendut yang sedang asyik makan.
" Haaa..." Anjas terkejut.
" Bukan dia. Orangnya cantik, rambut pirang panjang. Dan yang paling penting adalah senyum nya yang mampu mengalihkan duniaku. Dia bekerja sebagai sekretaris Anjas dikantor." Ucap Anjas dengan mata berbinar-binar membayangkan senyuman Bella yang sering dia lihat.
" Aduh... Apa anakku ini sedang jatuh cinta?" Goda sang Mama.
" Apa?, eng..gak kok."
" Bohong Tante, Anjas sedang jatuh cinta." Ucap Danu yang entah datang dari mana.
" Diam kau, jangan sibuk." Ketus memandang tajam ke arah Danu. Danu justru menjulurkan lidahnya ke arah Anjas.
" Berani kau memperolok ku?" Ucap Anjas yang siap untuk meninju Danu.
" Wuis, santai bro ini malam Natal harusnya kau bisa mengendalikan emosi mu. Bayangkan bagaimana jadinya jika wanita yang kau cinta itu melihat dirimu yang ternyata tidak dapat mengontrol emosi mu sendiri."
Yaap, perkataan Danu sukses membuat Anjas mengurungkan niatnya untuk meninju wajah Danu.
" Baiklah, karena ini adalah malam Natal jadi aku akan memaafkanmu. Tapi ingat, Aku akan membalasmu lain kali."
" Fyuhhh..." Danu bernafas lega.
" Lo, Anjas kamu mau kemana lagi?" Tanya Mama.
" Mencari pasangan untuk Anjas lah, memangnya Anjas mau kemana lagi."
" Sudah kamu disini saja. Sebentar lagi Jeng Yuni dan anaknya akan segera datang."
" Lalu hubungannya dengan Anjas apa?"
" Haduh, kamu itu lupa ya?, kan mama sudah berjanji akan mempertemukan kamu dengan anak Jeng Yuni."
" Ah, Anjas males. Anjas mau mencari wanita yang bernama Bella."
" Tidak bisa. Malam ini, kamu harus tetap berada di samping Mama sampai jam Yuni dan anaknya datang." Ucap Rini yang langsung menarik tangan Anjas dan mengajaknya untuk bergabung bersama gengnya. Sedangkan Danu sudah hilang entah kemana.
" Et et et, Mama yang benar aja deh kalau mau mengajak Anjas ke sana." Ucap Anjas sambil menunjuk para kerumunan emak-emak yang sedang heboh bercerita.
" Lo, memangnya kenapa?"
__ADS_1
" Mama, Anjas sini laki-laki masa iya laki-laki gabung sama emak-emak."
" Ah iya. Kamu benar juga tumben banget otak kamu pintar."
Anjas memutar bola matanya malas. Lalu Rini mengajak Anjas untuk duduk di meja yang tidak jauh dari gerombolan geng itu.
Sambil kedatangan jeng Yuni, Rini memilih menghabiskan makanan yang baru saja diantar oleh pelayan, sedangkan Anjas terlihat sibuk dengan gawai nya.
Bella sebenarnya kamu ada dimana?, apa bener kamu ada di sini?, tapi kenapa Aku tidak melihatmu lagi. Batin Anjas.
Tap
Tap
Tap
" Maaf ya Jeng aku baru datang menemuimu, Karena tadi aku masih sempat berkeliling dengan Kristi. Ternyata kamu ini luas juga ya Jeng."
" Tentu saja. tapi ini bukan villa yang aku tempati, ini memang khusus villa untuk acara besar ya seperti malam natal. Ohya, dimana Kristi?" Tanya Rini.
" Tadi sih dia bilang mau ke toilet semoga saja dia tidak kesasar."
" Oh.."
Yuni melirik ke arah Rini, seakan bertanya kenapa muka aja seperti sedang kesal.
" Biasa sepertinya dia jatuh cinta." Bisik Mama.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Ma, Anjas Arum mengangkat telepon dulu."
" Angkat disini."
" Tapi ma.."
" Mama bikin kamu akan kembali ke sini lagi setelah kamu meninggalkan meja ini."
" Anjas hanya akan mengangkat telepon ini sebentar setelah itu Anjas akan kembali lagi."
" Anjas berjanji akan kembali lagi Ma."
" Baiklah, ingat segera kembali setelah kau selesai menelepon."
" Iya iya.."
Anjas menjauh, lalu segera mengangkat panggilan dari rekan bisnisnya itu. Saat Anjas hendak kembali ke meja dimana mamanya berada dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita.
Brug!!
" Maaf." Ucap Anjas.
" Saya yang harusnya minta maaf karena saya berjalan terburu-buru sehingga tidak melihat anda." Ucap wanita tadi.
Anjas langsung mendongak begitu dia menyadari suara itu mirip suara Bella.
" Bella?"
" Kajas?"
" Anjas!!."
" Ah iya, Anjas. Kau juga disini?" Tanya Bella.
" Ya, karena ini adalah pesta keluargaku."
" Oh."
" Bella?"
" Ya???"
Haruskah aku mengatakan perasaanku pada Bella sekarang?. Tidak tidak, dia pasti akan mengira aku gila. Lalu Aku harus bagaimana?, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan pasangan sebelum akhirnya aku benar-benar dijodohkan oleh anak dari teman Mama. Batin Anjas.
" Hei, halo.." Bella lambaikan tangan tepat di depan wajah Anjas.
__ADS_1
" Ah iya "
" Kok bengong sih."
" Iya maaf, oh ya kamu sedang apa di sini?" Tanya Anjas.
Kamu sedang apa di sini?. Oh Anjas Kenapa kamu melontarkan pertanyaan yang sangat bodoh. Batin Anjas lagi.
" Emm, ya. Mama ku sedang diundang oleh temannya. Dan mamaku juga bilang bahwa Mama aku akan memperkenalkan pria baik kepadaku."
" Pria baik?, em maksud mu kau akan dijodohkan?"
" Bukan dijodohkan sih, mama bilang ini hanya pertemuan, dan tidak harus menjadi pasangan kekasih. Kalau tidak suka ya kita bisa ketemuan. Karena Mama bilang itu adalah anak dari sahabat dekatnya."
" Oh, dan kau menyetujuinya?"
" Tentu saja kenapa aku harus menolak bukankah ini hanyalah sebuah pertemuan dan perkenalan biasa?" Ucap Bella.
" Iya, kau benar."
" Ya sudah ya, aku harus menemui mamaku sekarang karena aku sudah sangat terlambat."
" Baiklah."
Bella tersenyum sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Anjas. Anjas menatap kepergian Bella dengan mimik wajah sedih.
" Bella..." Lirih Anjas.
" Ehem, jadi benar dugaanku kamu jatuh cinta pada Bella."
Anjas menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat Danu ada tepat di belakangnya.
" Danu, kau mengagetkan ku saja. Dan jangan sembarangan kalau berbicara, memang siapa juga yang mencintai Bella."
" Yakin nih?, masih bertahan dengan gengsinya?"
Anjas terdiam, dia benar selama ini dia selalu kalah dengan gengsi. Dan sekarang jika dia tidak mengakuinya pada Danu. Danu mungkin akan mendahuluinya dan menyatakan cintanya pada Bella. Ditambah lagi Bella yang dijodohkan oleh orang tuanya, itu akan menambah saingan aja semakin banyak saja.
" Ngaku gak ?" Ucap Danu.
" Iya iya, aku ngaku kalau aku menyukai Bella puas kamu." Ucap Anjas kemudian segera berlalu meninggalkan Danu.
Sedangkan Danu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Anjas.
" Dasar duda."
Sementara itu, Anjas lebih dulu tiba di meja tempat mamanya duduk.
" Sudah selesai?" Tanya Mama.
Anjas hanya menjawab pertanyaan dari mamanya itu dengan anggukan.
" Maaf Ma, Tante Kristi terlambat. Tadi sempat nyasar, hehe."
Anjas mendongak memberanikan diri menatap wanita yang baru saja bergabung di meja mereka. Karena Anjas merasa suaranya sama persis seperti Bella.
" Bella?" Ucap Anjas terkejut.
" Lo, Anjas."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa ...
...like ...
...komen...
...vote...
...hadiah ...
__ADS_1