LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Pulang


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dinanti-nantikan oleh Gibran, Setelah dinyatakan sehat dan hasilnya baik Gibran diperbolehkan pulang.


" Sayang kenapa wajahmu murung begitu bukankah hari ini kita akan pulang seharusnya kau senang kan?" Tanya ayuna sesaat setelah dia selesai mengemasi barang milik Gibran.


Gibran menoleh sebentar ke arah ayuna lalu berkata,


" Aku senang akhirnya aku sembuh dan bisa pulang, tapi aku juga sedih karena aku harus berpisah dengan Bayu."


Ayuna mendekati Gibran, dia tahu kesedihan yang dirasakan Gibran saat akan berpisah dengan temannya. Seperti perasaan yang ayuna rasakan saat dia akan berpisah dengan Sisil.


" Dengar kalian berpisah bukan untuk tidak bertemu lagi. Tapi, perpisahan kalian agar kalian dapat bertemu kembali di suatu hari nanti. Dan karena perpisahan mengajakan kita arti sebuah kerinduan, agar kita bersemangat jika kita akan berjumpa kembali dengan seseorang yang kita rindukan."


Gibran menatap ibunya.


" Apa kita akan ke negara ini suatu hari nanti?, apakah aku bisa bertemu dengan Bayu lagi apa?"


" Tentu sayang, kita pasti akan ke sini lagi untuk mengunjungi Bayu. Papi sudah mendapatkan alamat rumah Bayu. jadi kita dapat mengunjunginya jika bayu sudah sembuh."


" Bolehkah aku menemui Bayu sekarang, sebelum kita pulang."


" Tentu saja kau ingin mami temani atau kau akan berangkat sendiri?"


" Bolehkah aku berangkat sendiri?"


" Tentu, jangan lama-lama."


" Siap.."


Cup


Setelah mencium pipi ayuna, Gibran dengan semangat berjalan menuju ruangan Bayu.


" Lo, gibran mau kemana?" Tanya bagas yang baru saja masuk ke ruangan gibran.


" Gibran mau mengucapkan selamat tinggal sekali lagi kepada bayu."


" Kau mau papi antar?"


" Tidak, aku akan pergi sendiri."


" Baiklah, hati hati."


" Bye papi..."


" Bye.."


Bagas memandang kepergian Gibran dengan perasaan senang, Dia sangat bersyukur penyakit Gibran bisa disembuhkan.


Bagas berjalan menuju ayuna dan memeluknya dari belakang.


" Bagas kau mengagetkan ku." Ucap ayuna, yang terkejut karena sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutnya.


" Aku mencintaimu." Bisik bagas.


Ayuna berbalik, dan mengalungkan tangannya ke leher Bagas.


" Kau tahu, aku rasa aku juga mulai mencintaimu."


" Benarkah?" Tanya bagas dengan mata berbinar-binar.


" Mungkin, aku mulai terbiasa denganmu, dengan pelukanmu dan suaramu. Aku tidak bisa jika tidak mendengar suaramu, atau melihat wajahmu."


Hati Bagas berbunga-bunga mendengar apa yang diucapkan ayuna.


" Kalau begitu, apakah kau siap menjadi milikku seutuhnya?, Apa kau siap menjadi nyonya Bagas?"


" Ya, aku siap." Ucap ayuna.


" Setelah kita pulang nanti, kita akan melanjutkan rencana pernikahan kita yang tertunda."


Ayuna mengangguk, Bagas mendekatkan wajahnya ke wajah ayuna.


Semakin dekat, semakin dekat, hingga bibir mereka hampir bersentuhan.

__ADS_1


" Ehemm.."


" Haaahh...."


Bagas mendengus kesal lalu menoleh ke arah sumber suara.


" Kau ini, mengganggu momen romantis ku saja. Tak bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk?" Ketus bagas.


" Hei aku sudah mengantuk nya bro, tapi sepertinya momen itu membuatmu tuli." Ucap anjas.


Ayuna tersenyum melihat ekspresi Bagas yang kesal karena moment mereka terganggu.


" Jadi pulang hari ini?" Tanya anjas.


" Ya, Gibran sudah sangat bersemangat untuk pulang." Ucap ayuna.


" Kau atau Gibran yang bersemangat untuk pulang." Goda bagas.


Blush...


Wajah ayuna memerah.


" Apaan sih?"


" Haha.."


Bagas tertawa renyah melihat perubahan ekspresi wajah ayuna yang terlihat merah karena malu, Bagas lalu mencuil pipi ayuna.


Tidak bisa dipungkiri, pemandangan itu membuat hati Anjaa sedikit kesal. Dia cemburu melihat gadis yang dicintainya kini tertawa bersama wanita lain.


" Ke mana Gibran?, Kenapa aku tidak melihatnya?" Ucap anjas mengalihkan rasa cemburunya.


" Gibran sedang ada di ruangan bayu, dia bilang dia ingin bertemu terakhir kalinya sebelum pulang." Ucap ayuna.


" Bagaimana kalau sebelum kalian pulang kalian mampir ke villa ku, aku punya janji pada ayuna karena kue yang kau habiskan itu." Ucap anjas menatap bagas.


" Ya itu bukan salahku dong kita aku yang menghabiskannya." Bela Bagas.


" Lalu salah siapa?" Tanya anjas.


" Kenapa bisa menjadi kesalahanku, Padahal aku hanya membawakan ayuna kue."


" Ya, itu kesalahanmu, karena kau membawa kue hanya untuk ayuna. Sedangkan di ruangan ini ada orang selain ayuna yaitu aku." Ucap bagas.


" Hais, kau kan bisa beli sendiri. Kue itu sengaja aku beli khusus untuk ayuna, dan kau malah menghabiskannya."


" Aku tidak menghabiskan nya aku hanya mencoba apakah kue itu memang benar-benar kue atau ada sesuatu di dalamnya."


" Sesuatu seperti apa maksudmu?" Anjas mengkerutkan dahi nya.


" Ya, mungkin saja sebuah bom waktu atau mungkin racun."


" Kau sudah gila?, mana mungkin aku akan membunuh ibu dari anak kandung ku sendiri."


" Ya, siapa tau, tidak terima akan kekalahan mu, karena Ayuna lebih memilih ku jadi kau ingin mencelakai nya."


" Kau sudah sinting aku tidak mungkin melakukan itu. Dan dengar, Aku tidK kalah Aku mengalah demi dirimu." Ucap anjas.


" Hah, mengaku saja, jika kau sebenarnya tidak bisa bersaing dengan ku. Kau tau bahwa aku lebih baik, dan lebih pantas mendampingi ayuna."


" Hei, Jangan sombong dirimu. Kau hanya tidak melihat sisiku yang sebenarnya. dan aku sengaja tidak mengeluarkan sisi baikku yang sebenarnya, karena jika aku mengeluarkannya aku takut kamu menjadi drop." Ucap anjas menutupi kebenaran yang dikatakan oleh Bagas.


" Alah, tinggal mengakuinya saja susah sekali." Ucap bagas.


" Hei apa maksud mu?"


" Maksud ku sudah jelas."


" Apa?"


Ayuna kesal melihat mereka yang kembali berdebat.


" Argh...." Ayuna berteriak.

__ADS_1


Anjas dan Bagas menghentikan perdebatannya dan menatap Ayuna.


" Ayuna, kau baik baik saja?" Tanya kedua nya.


" Ya!!" Jawab ayuna dengan Ketus.


" Lalu kenapa kau berteriak?" Tanya bagas.


" karena kalian."


" Kami?, Kenapa dengan kami?"


Bagas dan Anjas saling menunjuk dirinya sendiri.


" Kalian itu ya, masih saja berdebat. seperti kucing dan anjing, tidak bisakah kalian akur?"


Bagas dan anjas terdiam. Lalu anjas menyenggol bagas.


" ini gara-gara kau." Ucap anjas.


" kok aku gara-gara kau lah, tuh kan yang memulai.." Bela bagas.


" gara-gara kamu." Ucap anjas.


" hei berani kau menuduhku?"


Brak !!!


Ayuna menggebrak meja, lalu meninggalkan mereka berdua.


Bagas dan anjas saling memandang, lalu perhatian mereka teralihkan dan melihat ayeuna yang keluar dengan membanting pintu.


Brak !!!


" Kau sih." Ucap bagas.


" Loh, kok aku lagi."


" Iya, kau kan yang mulai membahas kue." Ucap bagas.


" Kau dulu yang memulai dan mengklaim dirimu lebih baik daripada aku." Kesal anjas.


" Lo, aku bicara fakta kan. Fakta, bahwa aku lebih baik dari pada dirimu." Kata bagas.


" Hah, membual saja kerja mu." Kata anjas.


" Aku tidak membuat aku bicara fakta."


" Ya ya, sudah lah terserah kau saja." Ucap anjas kemudian berlalu meninggalkan Bagas.


" Hei hei, kau mau ke mana?. Katakan dulu bawa aku lebih baik darimu."


Anjas hanya melambaikan tangannya tetapi tidak menoleh kepada Bagas. Dan terus berjalan keluar ruangan.


" Hei.., yah dia keluar?" Kesal Bagas.


" Hei pembaca, aku lebih baik dari anjas kan?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...

__ADS_1


...hadiah...


__ADS_2