
Berita yang dibawa oleh Mesya, benar-benar membuat seluruh penghuni mansion tidak terkecuali semua pelayan dan juga penjaga merasa senang. Ya sejak masuknya Ayuna ke dalam keluarga itu, mansion terasa lebih berwarna dan juga lebih hidup. Dan berita tentang kehadiran anggota baru itu benar-benar adalah berita yang menggembirakan.
Mama dan Papa langsung mengetuk kamar tidur Ayuna dan menanyakan kebenaran dari berita yang dibawa oleh Mesya.
" Astaga, Jadi benar kamu hamil?. Oh sayang terima kasih karena sekali lagi kau telah membawa kebahagiaan dalam keluarga besar kita." Ucap Mama yang langsung memeluk Ayuna.
" Papa tidak menyangka jika senjatamu top juga." Ucap papa.
Bagas hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk lehernya.
" Jadi kapan kalian akan memeriksakan kehamilan kalian?" Tanya Mama.
" Entahlah, Ayuna masih belum siap. Dia takut dokter akan mengatakan bahwa Ayuna harus berarti memberikan ASI kepada si kembar." Terang Bagas.
" Oh sayang itu tidak akan terjadi. Selama kau tidak mengalami gejala yang serius maka kau tetap diperbolehkan memberi ASI untuk kedua bayimu." Ucap Mama.
" Benarkah?"
" Ya, mama punya kenalan seorang dokter obgyn. Kalian bisa berkonsultasi di sana jika kau mau. Selama asupan nutrisi terpenuhi dan tidak ada gejala yang serius maka kau tetap diperbolehkan menyusui kedua bayi kembar."
Mendengar itu Ayuna merasa sedikit lega, setidaknya masih ada sedikit harapan untuk tetap bisa menyusui Kembar.
" Jadi, apakah kau ingin memeriksakan kandungan mu?" Tanya Bagas setelah melihat raut wajah Ayuna yang lebih ceria dari sebelumnya.
" Tentu."
" Bagus." Ucap Bagas sambil bernafas lega.
Akhirnya Ayuna mau memeriksakan kandungannya. Karena sejujurnya Bagas juga mengkhawatirkan kondisi dari Ayuna dan juga janin yang ada di dalamnya. Bagaimana pun juga Ayuna masih setahun pasca operasi sesar ya sekarang sudah hamil lagi. Bagas tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Ayuna.
" Kalau begitu kalian bisa pergi besok Mama akan membuatkan temujanji kalian dengan dokter obgyn."
" Terima kasih Ma." Ucap Ayuna.
" Sama sama sayang, jadi untuk sementara waktu Mama ingin kalian tetap tinggal di sini. Jadi mama bisa membantu kalian mengurusi kembar."
" Tidak ma, Ayuna lebih suka tinggal di rumah kami. Lagipula rumah itu akan kosong jika kami akan tinggal di sini."
Bagas mengerti apa yang dirasakan oleh Ayuna, dari dulu Ayuna sudah mengatakan jika tidak suka rumah yang besar dia lebih suka rumah yang sunyi yang hanya dihuni oleh suami dan anak-anaknya.
" Kami akan tetap tinggal di rumah kami ma. Tapi Bagas akan segera mencarikan becak untuk membantu Ayuna merawat si kembar. Atau Mama juga bisa datang setiap hari mengunjungi kami, lagi pula jarak rumah kami dan mansion tidaklah jauh kan?" Ucap Bagas.
Ayuna merasa senang karena Bagas sudah mengetahui apa yang ada dalam hatinya, tanpa harus mereka berbicara lagi dan membahasan ini.
" Baiklah kalau begitu, Mama tidak akan memaksa kalian untuk tetap tinggal di sini. Hanya saja Mama minta kepada Ayuna untuk tidak sungkan jika memerlukan bantuan." Ucap Mama sambil menatap Ayuna.
" Tentu ma, tentu. Terima kasih karena selama ini Mama dan Papa selalu menghargai keputusan kami berdua."
" Ah sayang, tidak perlu berterima kasih karena itu sudah tugas kami sebagai orang tua. Kami bahagia jika kalian juga bahagia."
Sekali lagi, Mama meluk Ayuna. Mama sangat menyayangi Ayuna seperti mama menyayangi semua anak-anaknya.
__ADS_1
Sementara itu, jika keluarga besar Bagas sedang berbahagia karena kehadiran calon anggota baru. Lain halnya dengan yang dirasakan oleh Tara.
Doni segera membekap mulut Tara, dalam melakukan hal yang sebelumnya dilakukan di kantor Doni.
Tara hanya bisa menangis karena dia tidak bisa melakukan apapun karena tangan dan kakinya sudah terikat di kursi.
Tara hanya bisa berdoa dan berharap Yudi akan segera menemukannya dan menolongnya sekarang.
" Kau masih saja tetap membuatku bergairah, tangisanmu justru membuatku semakin ingin terus mengulanginya." Ucap Doni saat dia telah selesai melakukan nya kepada para.
Doni lalu terlihat menelpon seseorang yang menyuruhnya untuk keluar dan segera mengosongkan studio foto, karena sesi foto ditunda hingga minggu depan.
" Jangan lagi pernah berpikir untuk lari dariku karena sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu." Bisik Doni.
Tara hanya bisa menangisi nasib yang baru saja menimpanya. Obsesi nya telah membuatnya masuk ke dalam lembah yang mengerikan.
Doni melepaskan ikatan Tara, dan memberikan kemejanya ada dipakai oleh Tara.
" Maaf Karena aku telah merusak bajumu yang indah. Ini pakailah ini lalu kita akan ke mal. Aku akan membelikanmu baju apapun yang kau inginkan." Ucap Doni.
Tara menatap tajam Doni.
" Ck, ayolah kau tidak akan memberikan tatapan itu lagi kepadaku. Bersikaplah manis dan baik kepadaku maka aku juga akan bersikap manis kepadamu. Ambil ini dah lekaslah pakai lalu kita keluar dari tempat ini." Ucap Doni.
Tara mencoba mencari tasnya.
" Mencari ini?" Ucap Doni sambil menenteng tas milik Tara.
" Ups."
Tara berdiri dan berusaha meraih tas itu yang ada di tangan Doni. Namun dengan cepat Doni menyembunyikannya dan kembali menatap tubuh Tara yang tanpa sehelai benang pun. Tara yang sadar akan tatapan Doni langsung mengambil kemeja Doni dan memakainya.
" Pria brengsek. Akan kupastikan kau berakhir di penjara."
" Ckckck, jangan terlalu banyak bermimpi jika kau saja sekarang sudah ada dalam penjara."
Doni lalu segera memborgol tangan para dengan tangannya.
" Apa ini perlu?" Ucap Tara.
" Ya, Aku tidak ingin kau pergi lagi dariku. Kau harus menjadi milikku seutuhnya."
" Jika kau sangat menginginkanku kenapa tidak menikahiku saja. Jadi kau bisa puas melampiaskan nafsu mu kepada ku."
" Pffff, menikahimu?. Tidak Aku tidak suka terikat dalam hubungan pernikahan. Aku lebih suka seperti ini jadi aku bisa berganti pasangan kapanpun aku mau. Dan sekarang Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mu. Tapi Jangan khawatir aku akan melepaskan mu begitu aku sudah bosan denganmu."
" Pria luknut."
Plak !!
" Sudah kubilang bersikaplah manis padaku maka aku akan bersikap manis juga kepadamu. Ups maaf apa aku melukaimu." Ucap Doni sambil mengusap ujung bibir Tara yang berdarah akibat dari tamparannya. Pipi Tara juga merah karena tamparan keras Doni.
__ADS_1
Doni segera menyeret paksa Tara dan masuk ke dalam mobil. Disana, Doni melepas borgol yang ada di tangan nya dan memasangnya pada Tara. Lalu Doni segera melajukan mobilnya dan pergi ke mall seperti janji Doni untuk mengganti pakaian Tara yang sudah dia robek.
Di Mall, setelah turun dari mobil Doni kembali membuka satu borgol di tangan Tara dan memasangkannya ditangannya. Dengan begitu Tara dan Doni tetap berjalan beriringan.
Sampai lah mereka di sebuah toko baju. Doni segera mengambil beberapa pasang baju dan menyuruh Tara untuk memakainya.
" Apa?" Ucap Doni saat Tara yang melihat ke arahnya ketika dia hendak masuk ke ruang ganti.
" Bagaimana aku bisa berganti pakaian jika tanganku masih tetap terborgol." Ketus Tara.
" Baiklah, tapi nggak jangan coba-coba untuk kabur." Ucap Doni yang mulai membuka borgol di tangan Tara.
Setelah borgol dibuka, Tara segera menutup pintu dan mulai mengganti pakaian yang pas dengan nya. Doni tentu saja menunggu di depan pintu.
" Aku harus bisa keluar dari sini, baru bisa keluar dari Doni ini adalah kesempatan untuk lari darinya."
Tara mengintip dari cela lubang dan melihat apakah Doni masih ada di sana ataupun tidak. Tapi sayangnya Doni tetap berdiri di depan pintu itu membuat Tara kesulitan untuk melarikan diri.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Tara mendengar bahwa ponselnya berdering.
" Itu pasti Kak Yudi." Lirih Tara.
Tara kembali mengintip ke arah lubang. Doni terlihat mematikan ponsel Tara, Namun bukan Yudi namanya jika berhenti saat panggilan pertama. Terbukti Yudi tetap menelpon berulang kali membuat Doni geram.
" Permisi, tolong jaga pintu ini sebentar karena aku takut wanitaku yang ada di dalam butuh bantuan." Ucap Doni mencari-cari alasan karena sesungguhnya dia tidak ingin takabur dan dia akan keluar sebentar untuk membuang ponsel Tara.
" Tentu tuan." Ucap pelayan yang langsung berjalan dan berdiri di depan pintu dimana Tara berada.
" Ingat, Jangan biarkan dia keluar sebelum aku kembali." Ucap Doni.
" Tentu tuan."
Tara yang mendengar bahwa Doni akan pergi menjadi merasa sangat senang, mungkin ini adalah kesempatan yang baik untuk dirinya kabur. Lalu Tara segera memakai kembali ke meja Doni. Dan berpura-pura membutuhkan setelan baju dengan size lebih besar.
Pelayan itu mengerti dan langsung mengambil pakaian yang diberikan oleh Tara untuk mencari ukuran yang besar seperti yang diminta oleh Tara.
Setelah pelayan itu pergi Tara tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera keluar dari ruang ganti itu. Dan di saat bersamaan seorang wanita lain masuk ke dalam ruang ganti.
" Bagus, Jadi Doni tidak akan curiga jika aku sudah keluar dari sana."
Tara sejarah berjalan dengan santai keluar dari toko, dan saat dia berpapasan dengan Doni, Tara segera menunduk dan bersembunyi di balik tatanan baju.
Semoga dia tidak melihat ku. Batin Tara.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1