LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Mencari Bayu


__ADS_3

" Anjas, kau sudah pulang?" Tanya rini saat melihat anjas datang. Dan menemui nya di kamar.


" Ma..."


Anjas mendekati rini, dan berlutut dihadapan nya.


" Ada apa nak?" Tanya Anjas melihat tingkah laku putranya itu yang tidak biasa.


" Dimana Selin, Apa dia sudah pulang?. Kau tidak menjemputnya?."


" Memangnya Selin bilang akan pergi kemana kepada Mama?"


" Dia bilang jika akan menginap di rumah mama dan papanya."


" Ma, dengarkan apa yang akan anjas katakan. Mungkin ini akan menyakitkan, tapi Anjas harus memberitahu Mama sekarang."


" Ada apa? apa ada hubungannya dengan selin?"


Anjas mengangguk.


" Apa kalian bertengkar?" Tanya rini lagi.


" Kami bukan hanya bertengkar ma, tapi kami akan bercerai."


" Ap...apa., ta.. tapi Kenapa? selin sedang hamil lo. Jangan macam-macam kamu."


" Ma, Selin memang sedang hamil, tapi dia bukan hamil anak Anjas."


" Jangan ngaco kamu." Ucap rini.


" Anjas mengatakan yang sebenarnya ma. Selin hamil anak dion."


Mata rini membulat sempurna.


" Di..dion?"


" Ya, dion dan Selin adalah pasangan kekasih. Karena orang tua selin menerima laki-laki yang tidak sederajat dengan keluarga mereka. Maka harus berakhir. Dan sejak selin menikah denganku, selin kembali menjalin hubungan dengan dion hingga membuat selin hamil."


" Tapi..., tapi selin hamil setelah tidur denganmu kan?"


" Tidak ma, sebelum Selin tidur denganku dia Sudah hamil 3 bulan. Dan sebenarnya Selin tidak hamil anak kembar. Itu hanya rekayasa mereka agar kita tidak curiga Karena perut selin yang besarnya tidak sesuai dengan usia dari kandungan."


" Darimana kamu tau nak?"


" Anjas sudah menyelidikinya ma, dan Anjas baru saja mendatangi hotel di mana Dion dan Selin sedang melakukan penyatuan. Mereka menghianati ku ma, terutama dion. aku sangat kecewa saat mengetahui ternyata Dion yang menjadi pasangan gelap selin, hingga membuat selin hamil."


Anjas menundukkan kepalanya pada kaki rini, rini mengelus lembut kepala Anjas.


" Maafkan mama dan papa karena dulu memaksamu untuk menikahi selin."


" Tidak apa apa ma. Mungkin ini karma bagi Anjas, karena dulu anjas tidak mempertahankan wanita sebaik ayuna. Anjas terlalu lemah akan ancaman dari keluarga selin."


" Memang nya apa yang Keluarga selin katakan?"


" Papa selin mengatakan, tidak akan segan-segan untuk menghabisi ayuna jika anjas masih bersikukuh mempertahankan hubungan pernikahan anjas dengan ayuna, dan jika Anjas menolak pernikahan anjas dengan selin. Mereka juga akan membuat papa meninggal dengan cepat."


Rini terkejut mendengar penuturan dari putra nya, ternyata selama ini besan yang dia kenal baik san dan ramah sebenarnya sangat jahat dan licik.


" Sekali lagi maafkan mama."


" Sudah ma, tidak ada guna nya. Semua sudah terjadi, dan maaf mama juga tidak akan bisa mengembalikan ayuna kepada anjas lagi."


" Kenapa sayang?. Mama akan merestui kalian."


" Ayuna sudah bahagia dengan Bagas ma."


Rini menangis, menyesali perbuatannya. Kini dia harus melihat putranya menderita.


" Kenapa ini terjadi kepadamu nak, mama tidak tega jika harus melihat mu menderita." Ucap anjas.


" Selama mama masih ada bersama anjas, anjas tidak akan menderita."

__ADS_1


Rini menatap wajah anaknya itu, dia tau anjas berbohong jika mengatakan dia tidak menderita.


" Lalu, ada dimana sekarang ayuna nak?. Mama ingin bertemu dengannya dan meminta maaf, Mama juga ingin menemui cucu mama."


" Mereka semua ada di rumah sakit Singapura ma."


" Apa?, Kenapa sangat jauh sekali sampai ke Singapura memangnya siapa yang sakit?."


" Gibran."


" Gibran?, sakit apa dia?"


" Gibran menderita kanker Rhabdomyosarcoma. Kanker yang pernah diderita oleh papa."


Rini menutup mulut dengan kedua tangan.


" Ti..tidak mungkin."


" Benar ma, sebelumnya Gibran sudah pernah melakukan operasi. Namun karena kanker itu terlalu ganas sehingga kanker itu kembali lagi menyerang Gibran. Dan sekarang dia sedang berjuang melawan kanker yang terbilang ganas itu."


" Mama ingin bertemu dengan nya nak, bolehkah?"


" Tentu ma, kita akan pergi ke Singapura dan menetap di sana setelah perceraian ku dan selin selesai. Kita akan meninggalkan ibukota untuk selamanya. Sudah terlalu banyak hal menyakitkan yang terjadi di sini. Pertama kehilangan papa, kedua kehilangan ayuna, dan sekarang sahabatku sendiri, yang sudah aku anggap sebagai saudara berselingkuh dengan istri ku."


Rini memeluk anjas,


" Tenangkan dirimu nak, mama akan selalu ada di belakang mu. Dan mama tidak akan lagi menuntut mu dalam hal apapun."


" Terima kasih ma."


....


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun kesehatan gibran belum menunjukkan angka stabil. Rambut gibran mulai rontok. Karena itu, Bagas memutuskan untuk mengukur habis rambut gibran, dan gibran juga terlihat lebih kurus. Kanker itu ternyata lebih ganas menggerogotinya.


" Huek..huek.."


Dan Gibran masih saja muntah setiap kali tubuhnya disuntikkan obat untuk melawan kanker dari dalam.


" Bagas, apa yang harus kita lakukan?" Tanya ayuna yang mulai khawatir.


" Hiks..hiks.. Kenapa bukan aku saja yang ada diposisi gibran? aku siap menukarkan nyawa ku demi kesembuhan gibran." Ayuna menangis di pelukan Bagas, dia sungguh tidak tega melihat gibran seperti ini.


" Sttt, jangan berkata seperti itu, kita harus yakin bahwa Gibran akan sembuh."


Malam harinya,


Bagas memandang wajah polos gibran yang tertidur dalam pelukan ayuna.


Cup


" Papi akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan kesembuhan gibran. Agar mami bisa terus tersenyum." Lirih bagas.


Bagas menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Gibran dan ayuna. Lalu dia berjalan dan memutuskan untuk tidur di sofa.


Pagi harinya, setelah ayuna selesai menyuapi Gibran.


" Mami..."


" Ya Sayang."


" Kenapa gibran tidak bertemu bayu? apakah bayu sudah sembuh?"


" Mami tidak tahu sayang, nanti mami akan menanyakan kepada dokter, apakah bayu masih ada di sini atau sudah pulang."


Tak lama kemudian bagas kembali setelah dia menebus obat untuk gibran.


" Hai boy."


Cup


Bagas mencium gibran.

__ADS_1


" Papi, gibran ingin bertemu dengan bayu."


" Hmm, kenapa tidak keruangan nya saja."


" Apa Bayu masih ada disini?" Tanya ayuna.


" Entahlah, kita harus melihat nya untuk mencari tahu bukan?" Ucap bagas yang mengambil kursi roda, dan langsung mendudukkan gibran disana.


" Mami tunggu disini saja, biar papi dan Gibran yang mencari Bayu."


" Tapi..."


" Sayang, kau sedang hamil, jadi banyak banyak lah beristirahat, oke."


" Baiklah."


Ayuna mengalah, dan akhirnya membiarkan Bagas membawa Gibran.


Bagas berjalan menelusuri koridor menuju ruangan yang dulu pernah ditempati Bayu.


Tok


Tok


Tok


Ceklek,


Seseorang membuka kan pintu.


" Permisi, apa Bayu masih ada di ruangan ini?" tanya bagas.


" Bayu siapa ya?"


" Bayu, penderita kelainan jantung yang sedang menunggu donor jantung?"


" Maaf, saya tidak tau. Saya baru menempati ruangan ini." Ucap wanita paruh baya.


" Ah, baiklah kalau begitu. Maaf kami menganggu waktu anda."


" Tidak masalah."


Orang itu tersenyum sebelum akhirnya kembali ke dalam dan menutup pintu.


Gibran menatap Bagas.


" Jangan khawatir kita akan menanyakannya kepada resepsionis. Disana kita kan tahu apakah bayu sudah keluar atau masih ada di rumah sakit ini."


" Bagaimana jika ternyata bayu sudah tidak ada di sini?"


" Kita mendatangi rumah Bayu, bukankah Papi sudah mempunyai alamat rumahnya?"


Gibran tersenyum dan mengangguk.


" Ayo sekarang kita ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan Bayu."


" Lets go..." Ucap gibran bersemangat.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...jangan lupa ...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...Hadiah...


__ADS_2