
" kenapa Tidak bermalam di sini saja tanya?." Mama Bagas.
" iya pasti akan seru kita berempat akan bertukar cerita sepanjang malam." Ucap nisya dan nasya.
" mungkin lain kali mah besok aku harus ke toko Karena tadi aku hanya buka selama setengah hari."
" Kau sangat bekerja keras sayang mama bangga memiliki menanti sepertimu. lain kali menginaplah di sini bersama Gibran."
Mama memeluk ayuna.
" Terima kasih mah ayuna juga sangat beruntung memiliki keluarga yang mau menerima ayuna apa adanya."
" sama-sama sayang."
" Ya udah yuk kita pulang Gibran sudah ngantuk tuh." ucap Bagas.
" Gibran ngantuk sayang?." tanya ayuna.
" ya mami Gibran terlalu banyak makan jadi sekarang Gibran mengantuk hoam."
Gibran menguap. Bagas langsung menggendong tubuh Gibran dan mengantarkannya pulang.
Di rumah, setelah meletakkan Gibran ke dalam kamar Bagas meminta ayuna untuk beristirahat karena besok pagi Bagas akan menjemputnya lagi.
Ayuna mengantar kepergian Bagas, ayeuna memandang hingga mobil bagus tidak lagi terlihat. saat ayunan hendak masuk ke dalam rumah seseorang mencengkeram lengannya.
" Anjas??"
Ayuna terkejut melihat siapa yang ada di depannya sekarang.
" Bagaimana kau bisa tahu rumahku?" Tanya ayuna.
Bukannya menjawab Anjas langsung menarik ayuna, masuk ke dalam rumah.
Ayuna memberontak namun Anjas tetap menariknya masuk ke dalam. Sampai di dalam Anjas menutup pintu rapat-rapat.
" lepaskan aku aja lepas."
Ayuna menginjak kaki Anjas.
" Argh."
Anjas langsung melepaskan ayuna.
" keluar dari rumahku sekarang juga." ucap ayuna.
" Ayuna. beri aku waktu untuk bicara."
" Mau bicara apa lagi kamu aja tidak bisakah kamu berhenti untuk tidak menggangguku dan Gibran. pergi dan urus aja istri dan keluargamu itu jangan lagi ganggu hidupku dan Gibran, aku mohon pergilah sekarang juga Anjas."
" Ayuna, Aku tidak bisa pergi. Aku sangat mencintaimu Aku benar-benar mencintaimu, kau tahu aku tidak pernah mencintai istriku. Aku menikah dengannya karena permintaan almarhum papaku."
" itu bukan urusanku aja kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi."
" Jangan katakan itu aku mohon kita adalah orang tua Gibran bukan?" Ucap anjas memelas.
" Baiklah jika itu maumu hubungan kita hanya sebatas orangtua Gibran tidak lebih jadi sekarang aku mohon pergilah dari rumahku."
Ayuna membuka pintu berharap Anjas akan keluar dari rumahnya. Namun Anjas justru memeluk ayuna.
" Ayuna aku mohon berilah aku kesempatan. berilah aku kesempatan untuk memperjuangkan cinta kita lagi Aku ingin kita kembali hidup bersama kau tahu selama 5 tahun belakangan ini aku tersiksa. Aku sangat mencintaimu ayuna."
Ayuna terdiam. jujur jauh didalam lubuk hatinya ayeuna juga masih mencintai Anjas. Cinta mereka harus harus berakhir karena derajat.
__ADS_1
Ayuna menyesalkan Kenapa Anjas baru datang dan berkata akan memperjuangkan dirinya lagi setelah ayuna membuka hati untuk pria lain.
" sudah malam pergilah anjas. Aku ingin istirahat"
" katakan dulu jika kau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa cintaku hanyalah untukmu."
" aku tidak bisa maaf."
" Tqpi kenapa aku tahu kau masih mencintaiku Ayuna."
" Aku sudah tidak mencintaimu anjas. jadi pergilah dari hidupku."
Anjas memegang pipi ayuna, dan berkata..
" Tatap mataku dan katakan bahwa kau sudah tidak lagi mencintaiku."
Ayun tidak berani melihat tatapan, membuang pandangan ke arah lain. Anjas tersenyum dan memeluk ayuna lagi
" Sudah kuduga kau masih mencintaiku. berilah aku kesempatan aku janji akan membuat kita bersatu lagi."
" Aku tidak bisa anjas. Maafkan Aku."
" Tapi kenapa bukannya kau masih mencintaiku kita sama-sama saling mencintai bukan?"
" kau datang diwaktu yang salah Anjas. sudah terlambat."
" Apa maksudmu terlambat?. jika itu karena istriku aku bisa menceraikannya untukmu. Aku janji."
Ayuna menggeleng.
" Bukan itu"
" lalu apa?"
Ayuna mengangkat tangan dan menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
Ayuna mengangguk.
" Dan kau menerima lamarannya?" tanya Anjas
Ayuna kembali mengangguk.
Anjas sedikit menjauh dari ayuna.
" Tidak mungkin... tidak mungkin... Arghh..."
Brug !!
Anjas memukul tembok dengan tangannya dan membenturkan kepalanya. lalu dia kembali menatap ayuna.
" Jangan menikah dengannya aku mohon. beri aku waktu 1 bulan untuk memastikan bahwa Selin tidak hamil anakku. Setelah itu aku akan menikahimu. kita akan bersama-sama seperti dulu lagi."
" Tidak bisa Anjas waktu 1 bulan itu adalah waktu pernikahan kami, pernikahanku dan Bagas."
Anjas berlutut di hadapan ayuna
" Anjas Apa yang kau lakukan bangun!!!"
Anjas meraih tangan ayuna.
" Ayuna, aku mohon batalkan pernikahanmu dan Bagas kembalilah denganku, kita berdua bersama-sama merawat gibra. Buah hati kita. Gibran pasti akan senang jika mengetahui bahwa ibu dan ayahnya kembali bersama."
" Aku tidak bisa Anjas Bagas selalu banyak menolong kami bahkan dia selalu ada saat aku dan Gibran membutuhkan bantuan. berbeda denganmu Kau selalu datang terlambat, Bagas selalu satu langkah di depanmu."
__ADS_1
" Aakah mencintai Bagas?"
Anjas berdiri dan menatap mata ayuna, dia mencoba mencari kebenaran lewat mata ayuna.
" Aku... aku..."
" Sudah kuduga kau tidak mencintainya. kau menerima lamarannya hanya karena dia terlalu banyak menolongmu Jadi kau merasa berhutang budi padanya, hutang budi yang besar hingga kau menerima pinangannya aku benar bukan?"
" itu tidak benar."
" lalu apa?"
" Pergilah anjas. dan aku mohon jangan ganggu hidupku lagi."
" ayuna kembalilah padaku aku mencintaimu dan aku tahu hanya aku yang kau cintai."
Ayuna menangis. Bagaimana bisa dia terjebak dalam situasi ini.
Anjas mencoba meraih ayuna, tapi ayuna mundur.
" Pergilah anjas."
" Ayuna..."
" PERGI..."
Ayuna mendorong tumpukan jas keluar dan langsung menutup pintu dan menguncinya.
Tok
Tok
Tok
" Ayuna buka pintu..."
Tok
Tok
Tok
" Ayuna.."
" Pergilah anjas." Teriak ayuna.
" Dengar ayuna. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Bagas kau hanya milikku. hanya milikku seorang. Aku pastikan kau akan kembali ke dalam pelukanku."
Tak lama kemudian ayuna mendengar suara mesin mobil. Ayuna melihat keluar melalui jendela dan memastikan bahwa mobil itu adalah milik Anjas.
Ayuna masuk ke dalam kamar Gibran, lalu tidur sambil memeluknya dan menangis.
Apa yang harus ibu lakukan Gibran. Kenapa ayah mu datang disaat yang tidak tepat. Ibu tidak bisa menyakiti hati bagas dan juga keluarganya mereka terlalu baik kepada kita. Aku juga sangat bahagia jika bersama keluarga mereka. Aku seperti memiliki keluarga yang tidak pernah Aku miliki. Apa yang harus ibu lakukan Gibran. Batin ayuna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa like...
...komen...
__ADS_1
...vote...
...hadiah...