
Setelah melewati jalanan kota yang sangat ramai malam itu, mobil Anjas kini tiba di depan apartemen Dion.
Sementara Anjas langsung berlari menaiki lift dan menekan tombol di mana lantai kamar Dion berada.
Selin dan dion tengah memadu kasih.
" Sayang, kau tau. kehamilanmu ini membuatku semakin bergairah." Ucap dion.
" Benarkah?"
" Ya."
" Aku ingin semalaman melakukannya dengan mu, tapi aku takut terjadi sesuatu pada bayi kita." Ucap dion.
Dion dan selin melakukan nya dengan hati hati. Dan saat keduanya hampir mencapai puncak kenikmatan. Suara bell pintu kamar Dion berbunyi,
Ting
Tong
Ting
Tong
" Dion, ada yang datang?"
" Biarkan saja, sedikit lagi." Ucap dion, yang masih saja meneruskan aktivitasnya.
Ting
Tong
Ting
Tong
" Dion.." Teriak anjas.
" Astaga, bukankah itu Anjas." Ucap dion sesaat setelah dirinya mencapai puncak kenikmatan.
" Aku rasa iya." Ucap selin dengan nafas tersenggal-senggal.
" Kau bilang dia sudah berangkat ke bandara kan?" Ucap dion yang langsung mengambil handuk kimono nya, mengenakannya dan bersiap untuk keluar.
" Kau disini saja dan jangan berisik." Ucap dion.
Dion lalu segera keluar kamar, tak lupa juga dia membawa masuk pakaian dan tas milik Selin yang ada di kursi ruang tamu nya.
Ceklek..
" Anjas?" Sapa dion.
" Emm ya. maaf mengganggu malam-malam, Aku hanya ingin memberikan dokumen ini. dokumen ini tertinggal dalam tas yang akan kubawa."
" Syukurlah, aku pikir dokumen ini hilang aku mencarinya kemana-mana." Ucap dion pura-pura lega saat dia melihat dokumen yang dibawa Anjas.
" Kau baik baik saja?" Tanya Anjas saat melihat Dion berkeringat.
" Emm ya. Aku baik baik saja."
" Apakah kau habis berolahraga?" Tanya anjas.
" Oh ya, aku sedikit melakukan senam perut di kamar. Kau hanya mengantarkan dokumen ini atau mau masuk ke dalam?"
" Sebenarnya aku buru-buru pergi, aku harus mengunjungi Gibran saat ini. tapi kalau kamu maksa baiklah aku akan singgah sebentar."
Matilah aku, kapan aku memaksanya. Bukankah, aku hanya berkata apakah dia mau singgah atau tidak. semoga saja tidak curiga jika selin ada di sini. Batin dion.
__ADS_1
Anjas masuk, dion lalu berjalan menuju kultas dan mengambil sebuah minuman khusus laki laki.
" Ambillah.." Ucap dion.
" Ya, terima kasih."
Setelah meminum minuman yang diberikan oleh Dion. Mata Anjas tertuju pada sebuah botol jus yang ada di kursi dekat dirinya duduk.
" Jus? sejak kapan kau suka jus?" Tanya anjas.
Astaga aku lupa membuangnya, itu kan botol jus yang aku berikan untuk selin. Batin dion.
" Emm, ya. Tadi saat di lobi ada sales jus. dia menawarkan jus dengan rasa enak. dan dia mengatakan bahwa dia belum menjual satu pun. Jadi aku merasa iba dan membelinya satu botol. Lalu mencobanya."
" Dan rasanya..." Tanya anjas.
" tidak enak."
" Hahah,"
Anjas tertawa renyah, berjalan menuju dapur, dan saat Anjas berjalan melewati pintu kamar dion.
Brak !!!
" Suara apa itu?" Tanya Anjas.
Dion gugup, takut jika anjir tiba-tiba membuka pintu kamarnya, seperti yang biasa dia lakukan saat datang kemari.
" Suara? mana Aku tidak mendengar apapun?" Ucap dion.
" Dikamar mu, apa ada seseorang di sini?" Tanya anjas.
"Tentu saja ada seseorang, kau orangnya."
Sementara itu, di dalam kamar, selin yang sudah mengenakan pakaiannya langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Anjas tidak boleh melihatnya ada di sini.
Selin membuka lemari..
" Ah aku tidak akan muat di sini."
Selin menutupnya lagi lalu beralih ke kamar mandi, dan masuk ke dalam.
" Tidak tidak jangan di kamar, Bagaimana jika tiba-tiba Anjas masuk ke dalam kamar dan kamar mandi ini."
Selin keluar lagi. lalu dia melihat jendela balkon.
" Ya sebaiknya Aku ada di sana untuk sementara waktu."
Dengan hati hati Selin membuka jendela kamar Dion, dan melewati jendela itu. Saat selin akan menutup nya, jendela itu tertiup angin sehingga menimbulkan suara berisik.
Selin diam di dekat vas bunga yang besar.
Ceklek...
Seperti dugaan Dion, Anjas membuka pintu kamar dion dan langsung masuk ke dalam.
Dion mengikuti Anjas dari belakang, dan berdoa semoga saja selin sudah menemukan tempat bersembunyi yang aman.
Dan saat Dion sudah masuk ke dalam kamar, bernafas lega karena kamu sudah rapi seperti sedia kala dan tidak ada barang milik Selin.
" Tidak ada siapa-siapa." Ucap Anjas saat dirinya mencari ke seluruh ruangan di kamar Dion.
" Memang tidak ada siapa-siapa, Kau pikir ada siapa di dalam kamarku?" Tanya dion.
" Ya, siapa tahu kamu menyembunyikan wanita di dalam kamar. Bukankah selama ini aku tidak pernah melihatmu memiliki teman ataupun pacar."
" Hah, kau selalu saja membahas itu." Ucap dion kesal. Anjas berbalik badan menatap dion.
__ADS_1
" Haha, aku hanya bercanda. Tapi, Aku sungguh berharap akan menemukan wanita di dalam kamar mu. Itu bawah Kau memang benar-benar laki-laki sejati, dan bukan seorang gay."
Wusss....
Semburan angin masuk melalui jendela kamar Dion yang terbuka..
Brak !!!
Lagi-lagi jendela itu itu tertutup oleh hembusan angin.
" Ah, ternyata suara itu berasal dari jendela ini. Apa kau memang selalu membiarkan jendela itu terbuka?"
" Emm, ya. Aku suka udara di malam hari." Ucap dion.
Saat anjas akan berbalik menuju jendela, Dion melihat bayangan Celine yang sedang bersembunyi dibalik vas bunga.
" Anjas Jangan ke sana." Cegah dion.
" Kenapa? Aku hanya ingin tahu bagaimana pemandangan kota di malam hari dari apartemenmu."
Dion tampak berpikir keras, sedangkan Anjas terus berjalan mendekati jendela.
" Anjas bukankah kau mengatakan kau akan pergi mengunjungi Gibran, Kenapa kau tidak segera berangkat kau tidak takut ketinggalan pesawat."
" Ah iya Bagaimana aku bisa lupa. Sebenarnya aku datang ingin menanyakan sesuatu. Tapi, sekarang Gibran jauh lebih penting. Aku akan pergi sekarang. Dan jangan lupa, beri aku kabar menggembirakan setelah presentasi besok." Ucap anjas yang menepuk bahu Dion lalu kemudian pergi.
Setelah memastikan anjas benda-benda keluar dari kamarnya dan berjalan menuju lift. Dion segera berlari menuju tempat dimana selin bersembunyi.
" Sayang kemarilah sudah aman." Panggil dion.
Selin lalu kembali masuk ke dalam kamar, dion langsung memeluk nya.
" Kau tidak apa-apa?, apa ada yang terluka?"
" Tidak aku baik-baik saja. di mana anjas sama dia sudah pergi?"
" ya dia sudah pergi."
" syukurlah." Ucap selin.
" Malam ini tidur lah disini. lagi pula ini sudah larut malam, Aku tidak ingin kau mengemudi sendirian. Aku takut terjadi apa-apa padamu dan juga calon anak kita."
" Hmm, baiklah."
Dion lalu menuntun selin sampai di atas tempat tidur. Selin merebahkan tubuhnya, sementara Dion memilih untuk membersihkan diri. Lalu kembali ke atas tempat tidur, dan tidur sambil memeluk selin.
" I love you selin." Bisik dion.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
...hadiah...
__ADS_1