LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Wanita Paling Bahagia


__ADS_3

" Bagas, bisa kau antar Bibi untuk keluar sebentar. Bibi sangat malas untuk naik taksi." Ucap Bibi sambil melirik kearah Yudi dan Tara secara bergantian. Seakan memberi kode kepada Bagas untuk memberikan waktu kepada mereka berdua.


" Tentu." Ucap Bagas yang mengerti maksud dari tatapan Bibinya.


" Tara, Mama harus keluar sebentar. Kau tidak apa-apa kan kita Mama tinggal?." Ucap Bibi kepada Tara.


" Tentu saja tidak apa-apa bi. Tara kan sudah ada yang menjaga, benarkan Yudi kau tidak keberatan untuk menjaga Tara selagi aku mengantar Bibi pergi kan?" Tanya Bagas sambil menatap Yudi.


" Tentu."


Bagas tersenyum lalu segera mengantar Bibi.


" Bibi, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Bagas saat mereka sudah dalam perjalanan yang tidak tahu arah dan tujuan.


" Huft, baby tidak tahu yang penting kita menjauh saja dari mereka. Kau tahu Bagas Bibi merasa sudah gagal menjadi orang tua."


" Kenapa bisa begitu?"


" Makin lama Bibi makin seperti tidak bisa lagi mengenali Tara. Bibi sangat berharap Tara akan mau menerima perjodohan ini dan mau menerima Yudi sebagai suaminya. Bibi yakin Yudi akan dapat membimbing cara menuju ke jalan yang benar, karena Bibi juga merasa selama ini para menempuh jalan yang salah."


" Kenapa Bibi bisa bilang seperti itu, apa Bibi mengetahui sesuatu tentang Tara?"


" Tidak, hanya perasaan Bibi saja. Apa kau tahu jika insting seorang wanita tidak pernah salah terutama seorang ibu."


Bagas terdiam, dia membenarkan apa yang Bibi katakan. Tapi Bagas tidak punya hak untuk memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Tara, karena berkat tidak ingin membuat lubang di antara keluarga Tara. Biarlah Tara sendiri yang akan mengatakannya kepada kedua orangtuanya. Bagas hanya akan tetap mengawasi Tara dan upaya mencegahnya untuk tidak bertindak melebihi batas. Namun tanpa Bagas tahu Tara sudah melakukan hal yang dia takutkan.


" Bagaimana kalau kita ke kantor Paman saja atau kita ke rumah?, kebetulan Ayuna dan anak-anak masih ada di Mansion mama dan papa." Usul Bagas setelah mereka berkendara cukup jauh dan tidak tahu arah dan tujuan.


" Hmm, baiklah kita ke rumah orang tuamu saja. Lagipula Bibi sedang malas untuk datang ke kantor."


" Oke."


Bagas segera berpindah jalur untuk segera menuju rumah mama dan papanya.


" Tara.."


" Ya.."


" Kau tidak berbohong dengan apa yang kau katakan tadi kan?" Tanya Yudi


" Soal apa?"


" Soal alasan karena kamu tidak pulang semalam. Dan apa kau tahu aku sangat khawatir begitu mengetahui kau tidak ada di rumah Mia."


Tara menatap Yudi, untuk pertama kalinya ada seseorang yang begitu mengkhawatirkan dirinya selain orang tuanya.


" Ak..aku tidak berbohong." Ucap Tara terbata.


" Syukurlah jika memang kau tidak berbohong."


Tara hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Yudi.


" Dan Tara apakah kamu sudah memikirkan tentang jawaban yang pas dari pertanyaanku yang dulu kepadamu?" Tanya Yudi lagi.


Tara mendongak dan kembali menatap Yudi, para benda-benda tidak habis pikir jika Yudi masih mengingat tentang jawaban yang belum dia berikan.


Apa yang harus aku lakukan?, aku sudah tidak suci lagi. Obsesi dan kegilaan membuatku kehilangan mahkotaku yang paling berharga. Dan sekarang ada seseorang yang benar-benar peduli terhadap ku. Tapi bagaimana jika Kak Yudi mengetahui bahwa diriku tidak lagi memiliki mahkota. Akankah dia masih tetap mau menerimaku?. Tidak aku terlalu kotor untuk pria sebaik Kak Yudi, tapi aku juga tidak ingin kehilangan orang yang benar-benar peduli kepadaku seperti Kak Yudi. Tuhan jawaban apa yang harus aku berikan kepada Kak Yudi untuk sekarang. Batin Tara


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Yudi berdering, seperti biasa panggilan Yudi untuk melakukan operasi.


" Kak Yudi.." Panggil Tara.


" Maaf Tara sepertinya aku harus pergi."


" Baiklah, apakah Yudi ingin aku antar?" Tanya Tara.


" Tidak perlu, sebaiknya kau tetap di rumah karena aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Tara aku bersungguh-sungguh aku sangat mengkhawatirkanmu, aku takut terjadi sesuatu kepadamu."


" Aku baik-baik saja Kak Yudi tidak perlu khawatir."


Yudi tersenyum lega. Yudi sendiri tidak dapat menyadari bahwa ada luka dibalik senyum Tara.

__ADS_1


Setelah memberitahu Bagas bahwa Yudi harus ke rumah sakit untuk melakukan operasi Yudi pun pamit kepada Tara dan meninggalkan rumah dengan menaiki taksi.


Bagas yang masih dalam perjalanan menuju Mansion orang tuanya, menjadi putar balik karena mengetahui bahwa kini Tara sendiri berada di rumah.


" Bibi, maaf sepertinya lain kali kita pergi ke mansion, karena Yudi baru saja menelponku dan mengatakan bahwa dia harus ke rumah sakit karena ada jadwal operasi."


" Hmm, baiklah kalau begitu. Bibi sangat berharap Yudi menelpon dan memberi kabar bahagia, Namun sepertinya... ya sudahlah sepertinya Bibi juga terlalu berharap banyak kepada Tara."


" Bibi, jangan seperti itu. Bibi bisa membicarakannya nanti setelah suasana hati Tara lebih baik." Ucap Bagas.


" Ya, kau benar."


Sementara itu, Doni yang mengetahui jika Tara telah kabur menjadi marah. Dia memporak-porandakan seluruh isi kamar dan mengutuk dirinya yang terlalu bodoh karena tidak membawa atau meletakkan barang milik Tara di tempat yang sulit dijangkau.


" Bodoh, seharusnya aku bawa saja barang milik arah sehingga dia tidak punya kesempatan untuk lari dari sini. Dan mobil Tara, Kenapa aku begitu bodoh sehingga tetap membiarkannya berada disini. Sekarang Aku telah kehilangan sesuatu yang sangat indah dan memukau. Tapi tenang saja tarah pasti akan kembali padaku, aku hanya tinggal membuat jadwal pemotretan untuk Tara." Ucap Doni sambil tersenyum smirk.


Doni lalu mengambil ponselnya untuk memberitahu kepada kru agar segera membuat jadwal pemotretan untuk Tara. Lalu menyuruh seseorang untuk membersihkan kamar yang telah berantakan dan kemudian Dodi memilih untuk pergi meninggalkan bar, menuju rumah para wanitanya, dan melampiaskan kekesalan karena kepergian dari Tara.


Ya, selain pemilik dari majalah pria dewasa di mana tak sebagai modelnya, Doni bisa dibilang sebagai seorang mucikari. Dia memiliki banyak wanita seksi yang siap melayani para hidung belang yang datang kepada Doni. Doni jika sesekali memakai mereka disaat rasa bosan dan juga rasa kesalnya kepada seseorang.


Tara yang terlihat melamun memikirkan nasib yang baru saja menimpanya, juga memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan kepada Yudi. Terkejut karena tiba-tiba dia mendapat jadwal pemotretan.


" Ini pasti hanya akal-akalan dari Doni. Aku.., Aku tidak akan kembali menjadi model majalah itu. Aku akan berhenti."


Tara segera menuju lemarinya dia mengambil sebuah kotak, di mana di sana ada sejumlah uang yang Tara kumpulkan dari penghasilannya menjadi seorang model. Lalu Tara juga memasukkan sebuah rekening beserta kartunya ke dalam kotak itu. Karena cara tahu jika dia berhenti sebelum kontrak habis maka Tara harus mengembalikan semua penghasilannya selama menjadi model dan juga membayar denda 10% dari gaji yang sudah diterima. Tara sudah bertekad akan mengembalikan semua itu dan berhenti dari dunia permodelan.


...----------------...


" Sayang apakah Tara sudah ditemukan?" Tanya Ayuna saat Bagas memasuki kamar.


" Sudah, Tara tidak hilang di ada di rumahnya."


" Apa?"


" Tadi saat aku dan Yudi memutuskan untuk ke rumah Tara, kami dikejutkan dengan kenyataan bahwa para sudah ada di sana sedang makan siang. Saat kami tanya jawab antara tatap saja sama bahwa dia bermalam di rumah Mia dan pergi pagi hari untuk berjalan jalan. Karena itu kenapa dia baru pulang saat siang hari."


" Jadi seperti itu."


" Apa kau tidak mencoba untuk mencari tahu?"


" Huft, entahlah biarkan Yudi yang mengurusnya. Lagipula sejak kejadian malam itu aku sedikit merasa tidak nyaman dengan Tara."


" Tapi Aku bangga padamu karena kamu tidak tergoda oleh Tara."


" Bukankah sudah kubilang jika aku hanya akan tergoda oleh dirimu." Bisik Bagas sambil memeluk Ayuna dari belakang.


" Gombal."


" Ohya, bagaimana anak-anak saat aku tinggal apakah mereka rewel?"


" Tidak, mereka justru tidur dengan nyenyak."


" Lalu Kenapa kau tidak tidur?"


" Aku tidak bisa tidur karena memikirkan Tara, aku juga khawatir dan takut terjadi sesuatu kepadanya. Karena Tara menghilang setelah kejadian malam itu kan."


" Ya, kau benar. Tapi sekarang tidak perlu khawatir karena Tara sudah berada di rumah."


Ayuna tersenyum lalu membantu Bagas membuka pakaiannya.


" Jangan, biar aku saja yang membuka." Ucap Bagas.


" Kenapa?" Tanya Ayuna sambil mengerutkan dahinya.


" Kau bisa saja membuatku hilang kendali jika kau yang melakukannya." Kekeh Bagas.


" Dasar mesum." Ucap Ayuna yang kemudian berjalan dan langsung berbaring di tempat tidur.


Bagas tersenyum lalu ke kamar mandi dan memilih mencuci mukanya lalu berganti pakaian santai. Setelah nya Bagas memandangi kedua putra-putrinya yang tengah tertidur lelap.


Di ciumannya kedua bayi kembarnya. Dan berjalan menuju tempat tidur dan tidur disamping Ayuna.


" Aku mencintaimu." Bisik Bagas.

__ADS_1


Ayuna yang hampir terlelap jadi tersenyum dan berbalik badan menatap Bagas.


" Aku pikir kau sudah tidur." Ucap Bagas yang kembali mencium kening A4


.yuna.


" Bagaimana aku bisa tidur jika aku mendengar kata-kata yang mampu membuat ku tersenyum."


" Kau akan selalu mendengar nya."


" Bagas, mengenai rencana bulan madu kita..."


" Sttt, kita tidak perlu membahasnya. Aku tidak lagi memaksamu, katakan jika kau sudah siap untuk berbulan madu." Ucap Bagas sambil mempererat pelukannya.


" Aku hanya ingin mengatakan, bukannya aku menolak untuk berbulan madu. Tapi karena memang kita belum bisa untuk berbulan madu. Kita harus menundanya sampai mungkin 2 tahun lagi." Ucap Ayuna.


" Jadi kau mau kita pernah madu setelah kembar berumur 3 tahun."


Ayuna menggeleng.


" Lalu?"


" Kita tidak bisa merencanakan bulan madu dalam waktu dekat karena memang kondisi yang tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh."


" kenapa apa kau sakit?,oh astaga maaf, aku tak perlu mengkhawatirkan Tara sehingga aku tidak memperdulikan dirimu. Apa yang sakit apakah itu parah kalau begitu ayo kita segera berangkat ke dokter. Kita harus segera memeriksakan dirimu." Ucap Bagas yang langsung beranjak dari tempat tidur dan mulai membuka lemari untuk berganti pakaiannya lagi.


Ayuna tersenyum dan langsung berjalan menghampiri Bagas dan memeluknya dari belakang.


" Sayang Kenapa kau terlihat begitu panik?, aku tidak sakit aku hanya sedang hamil." Ucap Ayuna.


Bagas terdiam, mencoba mengingat lagi apa yang baru saja Ayuna katakan. Bagas berbalik dan menatap Ayuna.


" Kau tadi bilang apa?"


" Aku tidak sedang sakit, aku hanya sedang hamil."


" Ap...pa?"


Ayuna tersenyum lalu menunduk, kemudian kembali berjalan dan menghampiri tempat tidur ke dua bayi kembar nya. Bagas yang melihat Ayuna dengan wajah sedih menjadi bertanya-tanya.


" Sayang, tadi kok bilang sedang hamil. Tapi Kenapa wajah menjadi sangat sedih?" Ucap Bagas yang menghampiri Ayuna.


" Kau lihat saja, si kembar baru saja berusia 1 tahun. Dan sudah akan memiliki seorang adik. Aku, Aku hanya takut jika kasih sayang mereka akan terbagi. Perhatian mereka pasti akan terbagi. Dan kita tidak akan fokus kepada si kembar lagi setelah bayi ini lahir."


" Hei.." Bagas memegang dagu Ayuna.


" Apa yang kau takutkan aku berjanji hal itu tidak akan terjadi, kehadiran kan bayi tidak akan membuat kasih sayang dan juga perhatian kita kepada si kembar berkurang. Justru kita akan melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka semua. Bagaimana pun juga mereka adalah anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita. Karena mereka juga jadi rumah tangga kita tidak lagi sepi, karena mereka rumah tangga kita menjadi semakin berwarna dan kebahagiaan kita semakin bertambah."


Mata Ayuna berkaca-kaca sambil menatap Bagas. Rasa ingin memeluk sudah tidak tertahankan lagi, Ayuna segera memeluk Bagas dan menangis didalam pelukannya.


" Sayang, sekali lagi kau telah memberikan ku kebahagian. Pertama kau memberiku 2 malaikat kecil sebagai pengganti Gibran ditengah tengah kita. Dan sekarang, kau memberiku satu malaikat lagi. Aku sungguh sangat merasa bahagia. Terimakasih."


Cup


Cup


Cup


Bagas tidak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Ayuna.


" Bagas, harusnya Aku yang berterima kasih kepadamu. Karena sampai saat ini bahkan sampai detik ini membuatku merasa bahagia dan menjadi wanita yang paling beruntung karena telah menjadi istrimu."


" Karena itu sudah menjadi tugas ku, untuk selalu membuat mu bahagia." Ucap Bagas yang memeluk Ayuna lagi


" Terimakasih karena telah menjadikan ku wanita paling bahagia." Lirih Ayuna.


" Tentu sayang, tentu."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2