LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Permainan


__ADS_3

" Sayang, kenapa semakin hari kau semakin menawan. Kehamilan mu sungguh menggodaku, semakin membuat ku bergairah. I love you." Bisik dion saat mereka selesai melakukan ritual peranjangan. Dan memeluk selin dengan erat dari belakang.


Selin hanya mengangguk, entah kenapa dia mulai tidak menikmati permainannya bersama dion. Jika sebelumnya dia sangat bersemangat untuk bertarung dengan dion. Kali ini, selin merasa sudah tidak memiliki gairah.


" Zzzzz zzzz zzzz..."


Selin memastikan bahwa dion sudah terbang ke alam mimpi, dengan perlahan Selin mengangkat tangan dion. Lalu selin segera mengambil pakaiannya yang berserakan, dan membawa nya ke kamar mandi.


Selin melihat pantulan dirinya di cermin, melihat tanda merah yang ditinggalkan dion pada kedua buah dada nya.


Tiba tiba, terlintas anjas dalam pikiran selin.


" Sebaiknya aku segera pulang."


Setelah membersihkan diri, selin segera berganti pakaian dan bergegas pulang menaiki taksi.


Sesampainya dirumah,


" Mobil anjas tidak ada, itu artinya dia belum pulang. Aku selamat." Ucap selin dengan nafas lega.


Setelah memberikan uang sesuai tarif kepada sopir taksi, selin segera keluar dari mobil dengan hati hati.


Perlahan dia masuki rumah.


" Sepi, mama juga pasti masih ada di butik." Ucap selin.


Ya, keseharian mama anjas dihabiskan mengurus butik, untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan pasca meninggalnya papa anjas.


Selin berjalan santai menuju kamar.


Ceklek...


Pintu terbuka, selin masuk dan meletakan tas nya di meja, saat selin akan membuka pakaiannya....


" Selin kau dari mana?" Tanya Anjas.


" An...anjas, kau disini?" Tanya selin terkejut, pasalnya selama ini, anjas tidak pernah pulang lebih dulu sebelum diri nya.


" Ya aku disini, kenapa kau terkejut? bukankah ini rumahku. Wajar kan aku ada disini?"


" Ah, em, itu. Maksud ku tumben kamu sudah ada dirumah."


" Ya, aku pulang cepat."


" Tapi, mobilmu tidak ada di garasi."


" Ya, mobilku sedang diservis. Jadi, daripada aku menunggunya berjam-jam lebih baik aku pulang. Lebih enak menunggu dirumah kan?"


" Ya.. kau benar." Ucap selin sedikit gugup.


" Ohya, kau dari mana? kau belum menjawab pertanyaanku?" Tanya anjas sambil berjalan mendekati selin.


"Aku, aku habis hangout bersama dengan teman-temanku. Biasa lah, untuk mengusir rasa bosan karena aku selalu sendirian di rumah ini. Kau sibuk di kantor, Setelah dari kantor ke langsung ke rumah sakit. Dan mama, Mama sibuk mengurus butiknya."


" Hangout ya..."


Anjas mendekat, dan mencium aroma tubuh selin.


" Kau sangat wangi dan segar, rambutmu juga sedikit basah, Apa kau mandi di kolam hari ini?" Tanya anjas.


Selin merasakan tubuh nya seperti kaku. Dia tidak dapat lagi bergerak.


" Ah, itu...., aku memang sedikit bermain mai dengan air."


" Begitu kah??"

__ADS_1


Anjas menyingkap rambut selin, melingkarkan tangannya pada pinggang selin, dan menanamkan dagunya di bagu selin.


" Benarkah ???" Ucap Anjas sambil melihat ke arah dada selin yang memang memakai pakaian terbuka, memperlihatkan jelas isi dari pakaian itu jika dilihat dari atas, kenyal dan padat.


" Anjas kenapa kau bertingkah aneh?" Tanya selin, berusaha menghilangkan rasa gugup nya


" Aku tidak bertingkah, aku hanya sedang merindukanmu, dan anak mu."


Deg !


Untuk pertama kalinya Anjas memegang perut selin, dan mengatakan 'anakmu'. Karena biasanya aja selalu berkata 'anakku' atau 'anak kita'.


Anjas melonggarkan baju selin hingga ke bahu. Selin menikmati sentuhan kecil anjas, dan saat pakaian nya hampir membuka bagian dada, selin tersadar jika di dada nya banyak tanda merah bekas dion.


" Anjas." Selin segera menghentikan tangan anjas. Dia memegangi pakaian nya yang sudah hampir terbuka setengah.


" Kenapa?"


Anjas justru membuka pengait bra yang dipakai selin.


Pengait bra berhasil dibuka, selin semakin gugup.


Anjas mencium punggung selin, selin semakin gemetar. Dia tidak tahu, kenapa tiba tiba anjas ingin bermain dengan nya.


" Anjas..." Pekik selin.


" Aku merindukan mu, aku ingin bermain dengan mu."


Anjas langsung menarik selin perlahan. Selin tetep memegangi dada nya.


" Kenapa tangan mu menutup bagian favorit ku?"


Anjas menepikan tangan selin, benda itu menyembul keluar.


" Selin, kenapa dada mu banyak sekali tanda merah?" Anjas pura pura terkejut, walau sebenarnya dia tau itu adalah bekas tanda ciuman.


" Tapi ini seperti bekas ciuman."


Anjas membalikkan tubuh selin, lalu dia mulai mengecup di sebelah tanda merah yang ada didada selin.


" Lihat, sama kan?"


Selin panik, melihat selin yang panik Anjas tersenyum tipis.


Lalu anjas menidurkan Selin dengan hati hati, membuka pakaiannya dan langsung bersatu dengan selin.


" Selin..."


" Ya?"


" Kenapa rasanya berbeda ya?"


" Berbeda gimana maksudnya?"


" Ya beda, seperti sudah pernah dipakai sebelumnya."


Deg !!


Selin kembali merasakan ketakutan, tangannya berkeringat.


" Selin?"


" Ya?"


" Kau tidak sedang bermain cinta dengan pria lain kan?"

__ADS_1


Wajah selin berubah pucat.


" Ten...tentu saja tidak."


" Hmm, baiklah."


Anjas mengakhiri permainan sebelum anjas mencapai puncak nya. Anjas langsung mengambil kembali pakaiannya, mwnutupi tubuh selin, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


" Anjas kau mau ke mana kok belum menyelesaikan permainan mu?" Teriak selin.


" Aku harus mengambil mobilku dulu." Ucap anjas tanpa berbalik melihat selin.


Tak beberapa lama kemudian, anjas mandi dengan berpakaian rapi.


" Kau akan pergi sekarang?" Tanya selin, yang menghampiri Anjas dengan tubuh hanya ditutupi oleh selimut.


" Ya."


" Tapi bagaimana dengan ku?" Ucap selin dengan nada sensual, seolah-olah selin merasa tersiksa dengan apa yang anjas lakukan karena anjas mengakhiri permainan, bahkan sebelum permainan itu benar-benar dimulai.


" Bukankah kau sudah mendapatkan kenikmatan?. Ah maksudku, kau sudah bersenang-senang dengan teman-temanmu jadi aku pikir kau lelah. Jadi beristirahatlah karena aku akan mengambil mobilku."


Setelah mengatakan itu aja segera keluar dari kamar meninggalkan selin yang merasa khawatir, dia merasa anjas sudah tau akan rahasia nya.


" Argh..." Selin berteriak frustasi.


" Kenapa Dion selalu meninggalkan jejak didadaku." Ucap selin dengan penuh amarah.


Tanpa selin sadari, Anjas masih ada di balik pintu dan dia mendengar apa yang baru saja dikatakan olehnya.


Anjas tersenyum tipis, lalu dia tahu akan kemana saat ini.


...----------------...


Sementara itu, bagas dan keluarga yang baru saja tiba di ibukota. Langsung mengajak ayuna dan Gibran untuk pulang dan beristirahat di apartemen bagas.


" Tunggu." Cegah ayuna saat mereka akan masuk ke dalam.


" Ada apa?" Tanya bagas.


" Apa kamera CCTV mu masih menyala?"


" Haha, kenapa?. Apa kau takut aktivitas kita kan terekam kamera?"


Wajah ayuna memerah, pasalnya selama berada di villa milik keluarga bu sinta yang ada di Surabaya, ayuna dan bagas ber honeymoon di sembarang ruangan. Di ruang tamu, dapur. Bahkan kolam renang dalam ruangan.


" Emmm, itu..." Ayuna tersipu.


" Haha, CCTV nya sudah aku cabut dan aku kembalikan. Tapi jika kau ingin mengabadikan momen kita aku bisa merekamnya aku punya handycam."


" Kau ini bicara apa sih."


Ayuna memukul bahu Bagas, sebelum kemudian mengajak Gibran untuk masuk ke dalam.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...hadiah...


...vote...


__ADS_2