LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Hari Bahagia


__ADS_3

Dengan posisi yang masih saling mencium, Bagas dengan sigap mengangkat tubuh Ayuna. Dan membawanya berjalan.


" Kita Mau kemana?" Tanya Ayuna yang menyadari jika dirinya berciuman sambil berjalan.


" Kita lanjutkan dikamar saja.,"


" Uhh, dasar nakal." Ucap Ayuna sambil menjewer kedua pipi Bagas.


Bagas hanya tersenyum dan kembali mencium bibir Ayuna.


" Bagas." Ucap Ayuna sambil menjewer telinga Bagas.


" Hei kalian mau kemana?" Tanya Mama saat Bagas dan Ayuna berjalan melewati dirinya yang tengah masuk untuk mengambil sesuatu.


" Bagas mau mengunjungi anak-anak dulu. Mama tolong jangan mengganggu kami, oke." Ucap Bagas.


" Ya Tuhan."


Brak


Karena Bagas sedang menggendong Ayuna, jadi lah dia menutup pintu dengan kakinya. Dan mereka pun melewati sisa malam natal dengan permainan panas di atas ranjang.


Satu Minggu setelah nya, Anjas segera mencari data tentang Bella. Mencari tahu kapan ulang tahun Bella.


" 16 Januari.., itu artinya dua minggu lagi. Ya TUHAN, jadi aku harus menunggu jawaban atas pertanyaanku selama 2 minggu?. Yang benar saja." Lirih Anjas.


Ceklek..


Danu yang tiba-tiba masuk, membuat Anjas kalang kabut menyembunyikan berkas milik Bella.


" Kau sedang apa?, Kenapa tingkah lakumu sangat aneh seakan kau sedang ketahuan mencuri sesuatu?" Tanya Danu sambil mengerutkan alisnya.


" Tidak, aku hanya merasa sedikit gerah."


" Kau yakin?"


" Sudah sudah, apa yang membuatmu datang kemari?"


" Tentu saja tanda tanganmu, untuk apa lagi aku datang." Ucap Danu sambil memberikan berkas yang harus ditandatangani oleh Anjas.


" Hmm, oh ya apabila sudah datang?"


" Apa kau tidak tahu, bukankah Bella sudah mengajukan surat izin cuti selama beberapa hari karena dia harus pulang ke Indonesia."


" Apa?, kapan Bella mengirimkan surat itu?"


Danu lalu mengambil sebuah amplop yang ada di sisi kiri meja Anjas, dan menunjukkannya kepada Anjas. Anjas segera mengambilnya dan membacanya.


" Apa, ini sudah disetujui dan ditandatangani oleh ku?, kapan aku menandatangani berkas ini?. Aku tidak merasa mendatangani berkas ini." Ucap Anjas.


" Ya TUHAN, sejak kapan kau menjadi pelupa. Kau sendiri yang menandatangani berkas pengajuan Bella, saat dirinya datang kepadamu."


" Ya Tuhan. Jadi, kapan dia akan berangkat ke Indonesia?"


" Sejauh yang aku tahu dia akan ikut penerbangan malam ini."


" ****."


Anjas melihat kearah arlojinya dan sekarang pukul 15.00 waktu Singapura.

__ADS_1


Anjas segera mengambil jasnya, memasukkan ponselnya dan bergegas pergi.


" Hei, kau mau kemana?" Tanya Danu.


"Aku akan pergi menemani Bella ke Indonesia selama beberapa hari, dan kau yang bertanggung jawab selama aku tidak ada." Ucap Anjas.


" Hah, enaknya jadi bos. Gantikan aku, Aku mau pergi, Aku mau cuti." Ucap Danu menirukan gaya Anjas.


Sementara Anjas langsung melajukan kendaraannya menuju rumah Bella. Sesampainya disana ternyata Bella dan keluarganya sudah berjalan menuju bandara.


" ****."


Anjas langsung melajukan mobilnya menuju bandara, tak lupa juga dia menelpon orang suruhannya untuk menyiapkan paspor ke Indonesia. Dan Anjas juga mengabari mamanya jika dia akan terbang menemani Bella ke Indonesia.


....


" Selamat ya, bayi kalian laki-laki dan perempuan." Ucap dokter obgyn.


Ayuna menata Bagas dengan penuh kebahagiaan. Bagas hanya membalas senyuman Ayuna.


" Keinginan Gibran menjadi kenyataan." Ucap Bagas.


" Iya."


Ayuna terus tersenyum sambil memandang ke layar komputer yang menunjukkan dua bayinya yang terlihat sehat.


Setelah menebus obat Bagas mengajak Ayuna untuk jalan-jalan ke taman.


" Bagas, aku sangat bahagia mengetahui jika anak kita sepasang laki-laki dan perempuan. Sama persis seperti apa yang kita inginkan dan juga...." Ayuna terdiam saat dia akan melanjutkan kata-katanya.


" Juga apa?" Tanya Bagas yang sudah tidak sabar menanti kelanjutan dari perkataan Ayuna.


" Iya?"


" Mungkin kah ini adalah jawaban dari perkataan Gibran. Bayi kita kembar sepasang bukan?, dan bayi kita juga berada dalam kantung rahim yang berbeda."


" Ya kau benar mungkin salah satu dari dia adalah reinkarnasi dari Gibran. Gibran ingin terlahir kembali menjadi anak dari kita berdua."


Ayuna tersenyum dan memeluk Bagas.


" Oh Bagas ini adalah hari paling menggembirakan untukku."


" Emm emm emm, bukan hanya itu, Ayo aku punya kejutan kecil untuk mu." Ucap Bagas.


Mereka kemudian kembali ke dalam mobil, dan Bagas melajukan kendaraannya keluar dari Jakarta.


" Bagas kita mau kemana?" Tanya Ayuna saat dirinya melihat tanda selamat tinggal Jakarta.


" Sudah, duduk lah dengan santai, kau boleh tidur jika lelah, aku akan membangunkanmu nanti setelah kita sampai."


" Hmm, baiklah."


Perjalanan yang panjang membuat Ayuna lelah dan memutuskan untuk tidur. Bagas tersenyum saat melihat Ayuna tidur.


" Semoga kau akan suka dengan kejutan yang akan aku berikan." Lirih Bagas sambil mengelus lembut pipi Ayuna.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam mereka tiba di sebuah yayasan.


" Sayang..."

__ADS_1


Bagas membangunkan Ayuna begitu dia selesai memakirkan mobilnya.


" Sayang, bangun kita sudah sampai." Ucap Bagas.


" Ergh..., kita sudah sampai?"


Ayuna melihat keluar kaca mobil, dan dia sedikit terkejut karena melihat banyak orang yang menunggu di luar mobil.


" Ini apa dan di mana?"


" Kita turun, dan kau akan mengetahuinya.,"


Bagas membantu membukakan sabuk mobil dari tubuh Ayuna. Dan segera turun dari mobil yang membukakan pintu untuk Ayuna.


Ayuna turun, dan dia masih heran melihat banyak orang setelah anak-anak yang sudah menunggunya di luar mobil.


Mereka kemudian menjemput Bagas dan Ayuna dengan senyuman serta membuka jalan agar Ayuna dan Bagas bisa melewati kerumunan orang hingga mencapai sebuah gedung yang bertuliskan ' PANTI ASUHAN CAHAYA GIBRAN '


Ayuna membacanya lalu menatap Bagas.


" Bagas ini..."


" Ini adalah panti asuhan yang aku bangun 1 bulan setelah kepergian Gibran, dan maaf, karena aku baru bisa membawamu kesini."


" Kenapa kau membangun sebuah panti asuhan dan menamainya dengan nama Gibran?"


" Karena Aku ingin nama Gibran selalu di sebut dan dikenang oleh semua orang, karena itu aku memberi nama panti asuhan ini, Panti asuhan Gibran. Jadi semua orang akan menyebut nama Gibran, dan mendoakan dirinya." Ucap Bagas sambil memegang bahu Ayuna.


Mata Ayuna berkaca kaca. Tidak bukan hanya berkaca kaca, tapi air mata Ayuna sudah membasahi pipinya.


" Hei, kenapa kau menangis?, apa kau tidak suka dengan kejutan kecil ini?" Tanya Bagas.


" Aku, aku tidak bersedih. Tapi aku menangis bahagia, ini adalah kejutan besar. Bagaimana bisa kau mengatakan jika ini adalah kejutan kecil."


" Tidak, ini hanya kejutan kecil bandingkan dengan rasa cintaku padamu dan juga sih."


Ayuna memeluk Bagas. Dan semua orang bertepuk tangan.


" Aku mencintaimu Bagas, terima kasih sudah membuat hari ini menjadi lebih bahagia."


" Dan aku akan selalu membuat hari-hariku bahagia."


Bagas mempererat pelukannya.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...


...hadiah ...

__ADS_1


__ADS_2