LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Bagian dari keluarga


__ADS_3

Anjas dengan hati-hati, membantu selin masuk ke dalam mobil, dan memasangkan sabuk pengaman.


" Kau baik baik saja?. Apa kau masih merasa pusing?" Tanya anjas.


" Tidak, aku sudah merasa jauh lebih baik."


" Kau ingin mampir ke taman atau kafe sebentar ? untuk mencari udara segar?."


" Hmm, ide bagus." Ucap selin


" Kau mau kemana?, kafe? taman?"


" Bolehkah jika kita pergi ke cafe, sepertinya Aku ingin makan spaghetti." Ucap selin.


" Oke, meluncur ke cafe sekarang."


Dalam perjalanan menuju kafe..


" Selin.." Panggil anjas.


" Ya?"


Selin menoleh kearah Anjas.


" Apa kau berpikir, hal yang ku pikirkan juga?"


" Apa itu?"


" Tentang ucapan ayuna dan temannya itu."


" Soal apa?"


Selin pura-pura tidak tahu, walau sebenarnya dia sudah tahu kemana arah pembicaraan anjas.


" Yang tadi soal...."


" Huek..."


Selin berpura-pura mual agar anjas tidak lagi membahas hal tadi, karena jika anjas terus saja mendesaknya, selin bisa saja keceplosan dan mengatakan usia kandungan yang sebenarnya.


" Kau baik baik saja?" Tanya anjas.


" Ya, sepertinya aku sedang mabuk perjalanan. Sebaiknya kita pulang saja."


" Tapi, bukankah kau bilang tadi ingin spaghetti?"


" Aku bisa memesannya dari rumah nanti."


" Kau yakin?"


" Ya. bisakah kita langsung pulang saja?" Pinta selin


" Tentu."


Anjas segera memutar balik kendaraannya, dan menuju rumah.


Sesampainya di rumah, Anjas dengan hati-hati menurunkan selin.


" Lo, kalian kalau sudah pulang. bukankah kalian akan menghadiri pesta pertunangan teman kalian?"


Anjas dan selin saling berpandangan, mereka berbohong kepada Rini, dengan mengatakan bahwa mereka akan menghadiri pesta undangan pertunangan dari teman selin. Karena, jika Anjas berkata jujur. Rini tidak akan mengijinkannya datang dalam pesta pertunangan ayuna.


" Ya, selin tiba-tiba saja merasa tidak enak badan. Jadi kami memutuskan untuk pulang."


" Ya sudah kalau begitu cepat antar istri mu istirahat, aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkan makanan dan minuman hangat."


" Terima kasih mah." ucap selin.


" Ya. Kau harus baik-baik menjaga cucuku, Aku tidak ingin cucuku kenapa-napa." Ucap Rini

__ADS_1


Selin hanya tersenyum masam.


...


Setelah pesta selesai.


" Nak, untuk sementara waktu tinggalah di sini bersama kami." Ucap mama bagas.


" Iya, bagaimanapun juga kau adalah bagian dari keluarga sekarang." Imbuh papa bagas.


" Ya. Aku tidak akan membiarkan mu dan Gibran kembali tinggal di rumah kontrakan itu." Ucap bagas.


" Tapi, bukankah di sana masih ada barang-barangku dan Gibran?" Ucap ayuna.


" Barang barang mu, dan milik gibran sudah dipindahkan ke apartemenku " Ucap bagas santai.


" Ha?, kapan?" Tanya ayuna syok.


" Baru tadi sore, aku mendapat telepon dari beberapa orang ku, yang mengatakan bahwa mereka sudah selesai memindahkan barang mu, dan milik gibran ke dalam apartemenku."


Ayuna menepuk dahi nya, dan menatap bagas dengan tatapan mematikan.


Mama dan papa Bagas yang melihat perubahan ekspresi wajah ayuna menjadi tertawa.


" Haha, sudah sudah. Bagas memang seperti itu, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan hal-hal mengejutkan yang akan dilakukan Bagas." Ucap mama bagas.


" Ya, sejak dulu Bagas adalah anak yang nakal. Dia selalu memindahkan barang milik orang lain tanpa seizinnya, terutama jika dia sudah mau punya rencana lain. Ya, seperti ingin kau tinggal di apartemen bagas misalnya, Jadi Bagas akan langsung memindahkan seluruh barangmu tanpa memberitahumu lebih dulu.," Ucap papa bagas.


Ayuna memejamkan mata, mencoba meredam amarah yang sudah hampir meledak. Seandainya saja tidak ada mama dan papa Bagas, mungkin ayuna sudah mencabik-cabik bagas.


Bagas tau Apa yang dirasakan ayuna, dia justru semakin menggoda ayuna dengan menjulurkan lidahnya.


" Terima kasih ya, karena kau sudah berbaik hati memindahkan barang-barangku dan Gibran." Ucap ayuna dengan senyuman yang dipaksakan.


" Sama sama. Aku lelah, dan aku ingin tidur bersama Gibran. Selamat malam untuk kalian semua, dan terima kasih untuk pestanya mama papa."


Cup


Ayuna menatap bagas dengan tatapan membunuh, bagas justru kembali menjulurkan lidahnya ke arah ayuna.


" Haha, sudah sudah. Bagas memang seperti itu orangnya. Dan mama senang, jika bagas mendapatkan wanita sepertimu. Wanita berhati mulia." Ucap mama Bagas.


" Ah mama terlalu berlebihan memujiku"


" Tidak, kau memang pantas mendapatkan gelar itu. Kau adalah wanita yang kuat, kau membesarkan Gibran seorang diri. Kau bahkan tidak membenci Anjas, kau bahkan berbaik hati mempertemukan putramu dengan ayahnya. Itu sudah termasuk tindakan yang sangat mulia. Hatimu bersih, tidak ada sedikitpun rasa ingin balas dendam. Walau sebenarnya hatimu terluka. Kau adalah wanita kuat "


Ayuna memeluk Mama Bagas.


" Tidak ma. Aku tidak sekuat dan semulia yang Mama bayangkan, terkadang aku masih lemah dan tidak dapat menyelesaikan permasalahan ku sendiri."


" Itu dulu, sebelum kau menjadi bagian dari keluarga kami. Sekarang Kau adalah bagian dari keluarga ini, masalahmu adalah masalah kami juga. Jadi jangan sungkan untuk menceritakan masalahmu."


" Terima kasih mama, karena mama dan keluarga sudah mau menerima aku dan Gibran."


" Sama sama sayang, kau dan Gibran adalah keluarga kami sekarang, jadi jangan pernah sungkan untuk meminta atau membutuhkan sesuatu."


....


Sementara itu, keesokan harinya, dikantor anjas.


Anjas terlihat merenung, percakapan nya kemaren bersama ayuna dan sisil terus saja ada dalam ingatan nya.


" Haruskan aku mencari tahu kebenarannya?" Lirih anjas.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Ceklek..


" Dion.."


" Kau memanggilku?, ada apa?"


" Aku ingin kau mencari tahu sesuatu."


" Apa itu?"


Dion duduk, dan menatap anjas. Seperti ada sesuatu yang menganggu anjas.


" Aku ingin kau memata matai selin?"


Dion terkejut, namun ia berusaha menetralkan rasa terkejutnya.


"Kenapa aku harus memata-matai Celine apakah Celine menjadi ******* sekarang?


" Tidak, hanya saja.."


Anjas lalu menceritakan apa yang terjadi di saat dirinya bertemu dengan ayuna dan juga sisil.


Dion menjadi tegang, dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi suatu hari nanti. Karena itu dia sudah menyiapkan rencana.


" Aku mohon, hanya kau yang bisa membantu ku. Jika aku yang mencari tahunya sendiri, aku takut selin tahu dan dia terluka. Bukankah, kau sendiri yang bilang jika ibu hamil tidak boleh merasa sedih dan harus selalu merasa bahagia."


Dion menata anjas, dan menepuk pundak nya.


" Kau jangan risau, Aku akan segera mencari tahu kebenarannya."


Setelah mengatakan itu, dion kemudian berjalan keluar dari ruangan Anjas.


Dion mengambil ponselnya. Dan menghubungi seseorang.


" Halo, ingin meminta bantuanmu sekali lagi."


" ----"


" Aku ingin kau mengatakan kepada anjas bahwa bayi yang dikandung selin adalah kembar, karena itu perut selin lebih besar dari usia sebenarnya. Katakan itu saat mereka datang untuk pemeriksaan rutin."


" ---"


" Itu urusanku lakukan saja tugasmu, dan pastikan bahwa selin akan melahirkan di klinik mu. Itu akan membuat rencana ku berjalan dengan baik."


"---"


" Bagus."


Dion mematikan telepon dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku. Lalu berjalan menuju ruangan nya sendiri.


" Apa yang harus aku lakukan, di satu sisi ada sahabatku. Dan, di sisi lain ada cintaku. Aku tidak bisa mengorbankan salah satu dari keduanya. Anjas sudah sangat membantuku dan keluargaku, hingga aku bisa menduduki jabatan tinggi dalam perusahaannya. Dan selin, dia kini tengah mengandung anak ku. Aku tidak mungkin meninggalkannya sekarang. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Mohon koreksi nya ya semua, jika ada kata kata yang amburadul, segera beritahu author ☺️☺️


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...

__ADS_1


...hadiah...


__ADS_2