
" Mami, Kenapa Papi sangat lama?" Tanya gibran.
" Mami tidak tau sayang."
" Papi bilang akan menjemput kita dalam 30 menit. Tapi ini sudah hampir 1 jam, dan Papi belum juga datang." Ucap gibran mulai kesal.
" Sabar sayang, mungkin Papi sedang terkena macet atau ada urusan mendadak."
" Jika itu memang terjadi, tidak bisakah Papi menghubungiku?"
" Mungkin Papi tidak sempat sayang. Kita tunggu sebentar lagi. Atau gibran ingin menghubungi Papi?"
" Baiklah."
Ayuna lalu menyerahkan ponselnya kepada Gibran, Gibran yang sudah tahu kontak Bagas. langsung menekan tombol dial.
Drttt drrtt drrttt...
Ponsel bagas berdering, namun karena ponselnya berada di saku jas yang tergeletak di ruang tamu apartemen Bagas, membuat Bagas tidak dapat mendengar deringan ponselnya.
Satu panggilan..
Dua panggilan..
Tiga, hingga empat panggilan..
Gibran gelisah, kemudian memberikan ponselnya kembali kepada ayuna.
Ayuna yang baru saja mengambil segelas air dan obat, menjadi heran dengan perubahan wajah Gibran.
" Sayang kenapa?" Tanya ayuna, yang meletakkan gelas serta obat di atas meja yang berada di dekat Gibran.
" Papi tidak mengangkat telepon dariku." Ucap gibran.
Ayuna mengambil ponselnya dari tangan Gibran, kemudian menyerahkan vitamin dan gelas berisi air kepada Gibran.
" Ini, minum lah dulu."
Setelah Gibran meminum vitaminnya, dia menyerahkan kembali gelas kepada ayuna.
" Terimakasih mami.."
Nina meletakkan kembali gelas di atas meja, lalu mendekati gibran.
" Sayang, tunggulah sebentar lagi papa pasti akan datang."
" Hmm, Ini pertama kalinya Papi ingkar janji. Papi bilang akan datang dalam 30 menit tapi nyatanya Papi tidak kunjung datang. Gibran sudah tidak bersemangat untuk jalan-jalan, Gibran akan kembali ke kamar saja."
Gibran melangkah meninggalkan ayuna, dan segera naik tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
" Hay sayang." Sapa mama bagas.
" Hai oma." Ucap gibran lesu.
Karena merasa penasaran, Mama Bagas bergerak menuruni tangga dan menemui ayuna.
" Apa yang terjadi pada Gibran?, mukanya begitu sedih. Dan di mana Bagas?, bukankah kalian akan jalan-jalan?"
" Ayuna tidak tahu dimana Bagas ma, Bagas mengatakan akan menjemput kami dalam 30 menit, tapi ini sudah 1 jam dan Bagas masih belum juga datang. Itulah yang membuat Gibran menjadi sedih."
" Kau sudah menelpon Bagas?"
" Aku menyuruh Gibran melakukannya, tapi sepertinya Bagas tidak mengangkat panggilan dari Gibran."
" Ya sudah, mungkin sebentar lagi Bagas akan tiba."
" Hmm, semoga saja."
..
__ADS_1
Sementara itu di apartemen Bagas..
" Nina apa yang kau lakukan?"
" Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan saat kita pertama bertemu. seandainya saja saat itu tidak ada orang yang masuk mungkin kita sudah melakukannya."
" Apa maksudmu?"
Nina semakin agresif. Dia membuka semua pakaian yang tersisa dari tubuhnya.
" Nina hentikan."
Bukannya berhenti, Nina justru seperti orang kesetanan. Dia semakin agresif kepada bagas.
Brak !!!
Bagas memukul meja sebelah tempat tidur nya dengan keras. Hingga, lampu tidur yang ada di atas meja menjadi pecah. Karena bagas tidak mungkin menampar nina.
Nina menghentikan kegilaan nya yang hampir saja melahap bagian intim bagas.
Nina menatap bagas dengan takut. Bagas segera bangun dan mengenakan pakaiannya dengan benar. Setelah itu, bagas berbalik badan dan menatap nina.
" Apa yang kau lakukan nina, kenapa kau bertingkah seperti ini?"
Bagas menutupi tubuh nina yang polos dengan selimut nya.
Nina terdiam, dia menunduk. Tidak berani menatap bagas.
Bagas duduk di tepi ranjang, tangan bagas mengangkat dagu Nina.
" Apa yang terjadi padamu?, kau adalah wanita yang baik dan ramah. Kau dulu sangat polos dan lugu. Kau tidak akan pernah bertindak bebas seperti ini. Karena itu aku menyukai mu. Tapi hari ini, aku tidak lagi melihat nina yang baik dan polos. Aku melihat nina yang liar dan nakal. Apa yang sebenarnya terjadi pada mu?" Tanya bagas dengan lembut.
Nina menatap Bagas..
" Aku...., aku tidak ingin kehilanganmu.."
" Bukan itu alasannya !!!" Teriak bagas.
" katakan apa yang terjadi padamu?, apakah kau menyembunyikan sesuatu?. Nina yang kukenal, bukanlah Nina yang mengejar pria. Tapi, Nina yang kukenal adalah nina yang dikejar-kejar pria."
" Hiks hiks hiks hiks hiks..."
Nina menangis, Bagas semakin binggung.
" Nina, Kenapa kau menangis?, katakan sebenarnya ada apa?"
Bukan nya menjawab, nina justru semakin menangis kencang.
" Nina..." Panggil bagas.
" Maafkan aku Bagas, aku terpaksa melakukan ini, karena....., karena...."
" Apa?, katakanlah nina Jangan membuatku merasa pusing."
" Aku hamil." Lirih nina.
" Apa?, apa katamu?"
Bagas meminta Nina mengulangi perkataannya lagi, Bagas takut dia salah dengar. Sebab Nina mengatakan dirinya hamil.
" Aku hamil dan kekasihku tidak mau mengakui ini sebagai anaknya, dia juga pergi meninggalkanku dan berkencan dengan sahabatku selly. kekasihku mengatakan jika anak yang kukandung ini bukanlah anaknya, dia berdalih bahwa aku pernah tidur dengan semua pria. Padahal aku hanya tidur dengannya saja, Aku bersumpah Bagas."
" Jadi?...." Bagas menggantung ucapannya.
" Aku tidak bisa pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini, jadi Aku datang padamu. Berharap kau menerimaku." Lirih nina.
" Dan kau melakukan ini, mencoba bersetubuh denganku agar nanti kau bisa bilang bahwa anak itu adalah anak?" hardik bagas.
Nina terdiam.
__ADS_1
" JAWAB AKU NINA!!!"
Nina mengangguk.
" Argh..."
Bagas melampiaskan kemarahannya kepada kaca yang berada di tembok dekat tempat tidurnya.
Pyaar....
Kaca itu pecah, akibat pukulan dari Bagas, dan tangan Bagas berdarah.
Nina masih diam sambil menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Bagas. Dia tahu dirinya salah.
" Jadi kau ingin menjebakku?"
Nina terdiam.
" Jawap aku nina." Bentak bagas.
" Maafkan aku bagas, keluargaku hanya mengetahui teman laki-laki yang ku bawa adalah dirimu. Jika keluargaku tahu bahwa aku hamil denganmu, mereka mungkin tidak akan marah. Tapi, bayangkan jika mereka tahu bahwa aku hamil dengan orang lain yang tidak kukenal dan tidak jelas asal-usulnya. Mereka pasti akan sangat murka. Dan aku akan sangat malu."
" Kenapa kau tidak memikirkan itu saat kau akan bersetubuh dengan kekasihmu?. kenapa baru sekarang kau memikirkan tentang murkanya keluargamu dan malunya dirimu?. Apa yang kau pikirkan saat kau akan bersetubuh dengan lelaki itu?"
Nina masih terdiam sambil terus menangis.
" Nina dengar, Kau harus menerima akibat dari perbuatan mu itu, hadapilah resikonya sendiri. Jangan pernah nah membawa orang lain dalam masalahmu."
" Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu Bagas."
" Cinta seperti apa yang kau tujukan padaku?, seandainya kau tidak hamil, akan kah kau berada di sini sekarang? TIDAK!!!. Kau mungkin akan tetap di negara itu dan bersenang-senang Dengan kekasihmu."
" Lalu aku harus bagaimana bagas?"
" Kenapa kau bertanya padaku?, Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri. Dengar, lekas pakai pakaianmu, dan segera keluar dari sini."
Bagas meninggalkan Nina, lalu dia menoleh,
" Ohya satu lagi. Jangan pernah lagi datang padaku, dan mengusik kehidupanku dan keluargaku."
Brak !!!
Bagas menutup pintu kamar nya dengan sangat keras.
Nina menutupi tubuhnya, sambil menangis, meratapi nasip yang sedang terjadi pada nya.
Nina lalu melihat foto bagas bersama dengan ayuna dan gibran, yang terjatuh karena pukulan bagas tadi.
Nina mengambil foto itu, dan mengusapnya.
" Seandainya dulu aku menerima mu, mungkin yang ada di foto ini adalah diriku."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Mohon koreksi nya ya kak, jika ada kata kata yang amburadul, segera kasih tau author βΊοΈπππππ
...Jangan lupa...
... like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...