
" Aku pulang dulu ya, jangan lupa tentang apa yang aku katakan tadi." Ucap Sisil sambil memeluk Ayuna.
" Tentu, terima kasih karena sudah mengingatkan ku dan terima kasih karena sudah berkenan untuk datang ke sini." Ucap Ayuna.
" Aku akan datang lagi kesini lain kali." Ucap Sisil.
Setelah puas ber cipika cipiki, Andi akhirnya membawa Sisil pulang. Bagas dan Ayuna melambaikan tangan ke arah mobil yang perlahan berjalan meninggalkan halaman Mansion.
" Kita masuk yuk." Ucap Bagas
Ayuna mengangguk, lalu batas merangkul pinggang Ayuna kemudian jalan bersama masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, bagaimana Ayuna memastikan bahwa si kembar sudah tidur dengan nyenyak.
" Syukurlah mereka masih dapat tidur dengan nyenyak setelah pesta yang melelahkan kemarin." Ucap Bagas.
" Iya, mereka adalah anak-anak yang kuat." Ucap Ayuna.
" Ya, mereka sama kuatnya dengan dirimu." Ucap Bagas sambil menatap Ayuna.
" Maksud mu?"
" Ya, Aku tidak pernah menemukan seorang wanita sekuat dirimu. Dari dulu hingga kini kau mampu menahan luka seorang diri. Bahkan mungkin sekarang kau masih mengemban luka yang tidak dapat ku gapai." Ucap Bagas.
" Ayuna, maafkan aku jika selama pernikahan kita kau masih belum merasa bahagia." Imbuh Bagas.
" Hei, Kenapa kau berbicara seperti itu. Kenapa bicara seolah-olah aku ini tidak bahagia dengan pernikahan kita."
Bagas memegang pipi Ayuna, kemudian mengajaknya untuk duduk santai di atas ranjang.
" Ayuna, Aku mencintaimu. Aku sangat ingin membuatmu bahagia."
" Aku bahagia, sungguh." Ucap Ayuna sambil tersenyum menatap Bagas.
Aku tahu kau berbohong Ayuna, Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau masih terluka karena kehilangan Gibran. Apa karena kau tidak ingin aku tahu bahwa kau masih bersedih?, atau kau memang ingin menyimpan luka ini seorang diri. Batin Bagas.
" Baiklah kalau begitu, Ayo sebaiknya kita istirahat. Kau pasti sangat melelahkan." Ucap Bagas.
Ayuna tersenyum dan mengikuti batas yang mulai berbaring di atas ranjang. Ayuna tidur dengan berbantal lengan Bagas. Bagas mengusap lembut rambut Ayuna.
" Sayang.." Panggil Ayuna.
" Ya?"
" Soal bulan madu kedua kita.." Ucap Ayuna.
" Apa kau sudah ingin membahasnya lagi?" Ucap Bagas dengan penuh semangat. Sangking semangatnya dia sampai bangun dari posisi tidurnya, hal itu tentu saja membuat Ayuna terkejut.
" Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Ayuna saat melihat wajah Bagas yang berbinar-binar.
" Aku saya tidak sabar ingin membahas tentang bulan madu kita, Jadi kau ingin ke mana Paris, Inggris, Bali?. Atau kota mana saja yang kau inginkan. Aku akan segera mencarikan tempat terbaik dan mulai menyiapkan agenda."
" A.. itu tidak perlu, hanya ingin mengatakan tidak bisakah kita berbulan madu di rumah saja." Ucap Ayuna.
" Ah sayang, ayolah.. Kembar kan sudah besar, aku rasa tidak apa-apa jika kita hanya meninggalkannya selama beberapa hari atau mungkin sepekan."
" Tapi.."
" Sayang, bukannya aku memaksa kamu, tapi honeymoon juga waktu untukmu bersantai diri, beristirahat dari pekerjaan mau yang bergelar sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Apa kau tidak ingin memanjakan dirimu beberapa hari saja?. Beristirahat dari pekerjaan sebagai istri dan juga ibu rumah tangga?"
" Ya, tentu Aku sangat ingin hal itu." Ucap Ayuna.
" Bagus, kalau begitu katakan kau ingin kita berbulan madu ke negara mana."
" Bagas, kita tidak bisa pergi kemanapun sampai..."
" Si kembar besar?" Tanya Bagas.
" Bukan. Kita tidak bisa pergi sampai..."
Ayuna tidak meneruskan kata-katanya, dia berdiri dan berjalan kearah lemari. Lalu membukanya dan mengambil sebuah kotak yang didalamnya berisi hasil tes kehamilan.
Yah, aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu Bagas. Sisil benar, Bagas harus tahu. Batin Ayuna.
Ayuna memejamkan mata dan menghela nafas panjang, sedangkan Bagas merasa heran dengan yang dilakukan Ayuna.
Saat Ayuna akan berbalik, ponsel Bagas berdering.
Drttt drrrttt drrrttt drrrttt
" Ya Yudi, ada apa?"
" ----"
" Apa?"
" -----"
" Baiklah Aku akan segera kesana untuk membantu mencari Tara."
"----"
" Tidak, pakai mobilku saja. Akan sangat suka jika kita mengendarai mobil secara terpisah."
" ----"
" Katakan saja, di mana aku harus menjemputmu."
"----"
" Oke, aku akan meluncur sekarang."
__ADS_1
..
" Tara?, ada apa lagi dengan serangga itu?" Lirih Ayuna.
Melihat Bagas yang tergesa-gesa mengambil kunci mobil, membuat Ayuna meletakkan kembali kotak yang berisi tespek itu ke dalam lemari.
" Sayang kamu mau kemana terburu-buru?" Tanya Ayuna.
" Aku akan membantu Yudi untuk mencari Tara, menurutnya Tara tidak pulang dari semalam. Dan belum pulang hingga saat ini. Terakhir Tara mengatakan akan ke rumah Mia. Namun, saat Yudi mendatangi rumah Mia ternyata Tara tidak ada di sana. Karena tidak ingin membuat orangtua Tara panik, jadi Yudi menghubungiku untuk meminta bantuan mencari Tara."
" Hmm, baiklah. Jangan lupa untuk selalu berhati-hati, aku takut ini hanyalah akal-akalan Tara untuk menjebakmu."
" Jangan khawatir, Aku tidak akan tergoda olehnya, karena selamanya hanya satu wanita yang dapat membuatku tergoda yaitu dirimu"
Ucapan Bagas sukses membuat Ayuna menjadi tersipu.
Cup
" Aku akan segera kembali, untuk membicarakan rencana bulan madu kita." Bisik Bagas setelah dia mencicipi rasa bibir Ayuna.
Ayuna tersenyum dan mengangguk.
Setelah kepergian Bagas, Ayuna memilih untuk beristirahat.
" Semoga kehamilanku kali ini, tidak membuatku harus berhenti memberi ASI kepada kembar. Nak, harus jadi anak yang pintar. Jangan membuat mami kerepotan, karena Mami masih harus memberi ASI kepada kedua kakakmu." Ucap Ayuna sambil mengelus lembut perutnya.
Sementara itu, Bagas yang sudah bertemu dengan Yudi, mulai mengira-ngira di mana Tara berada. Yudi mencoba melacak ponsel Tara, Namun gagal karena ternyata baterai Tara lowbat.
" Kita lacak GPS yang ada di mobil Tara. Aku yakin paman dan bibi akan memasangnya untuk berjaga-jaga jika Tara pergi terlalu jauh dan tidak kembali seperti saat ini." Ucap Bagas.
" Masalah nya adalah, aku tidak dapat melacak mobilnya. Kita harus mengetahui nomor plat mobil Tara kan?"
" Iya kau benar, dan aku sendiri juga tidak tahu plat nomor kendaraan yang di gunakan oleh Tara."
"Hmm,."
Hening, untuk beberapa saat mereka berdua hening dan kembali memikirkan cara bagaimana untuk menemukan Tara dengan cepat.
" CCTV." Ucap Yudi.
" Untuk apa?" Tanya Bagas.
" Untuk melihat dan mengetahui plat nomor mobil Tara, karena malam itu Tara mengatakan pernah sakit. Disana pasti ada CCTV kan."
" Kau benar, kalau begitu cepat kau hubungi orang yang bertugas mengurus CCTV di rumah sakitmu."
" Oke."
Yudi kemudian terlihat sibuk berbicara dengan seseorang, sedangkan batas mulai berpikir di mana kira-kira Tara berada.
Sementara itu, Tara tampak menangis karena ternyata Doni tidak melepaskannya setelah Doni menggauli Tara. Doni ternyata mengingkari janjinya, Doni berulangkali menggauli Tara. Hingga cara merasakan sakit yang luar biasa di bagian intimnya. Setelah itu bukannya melepaskan Tara Doni justru mengunci Tara di ruangan itu.
" Kau akan menjadi milikku Tara." Bisik Doni sebelum akhirnya mengunci Tara didalam kamar. Saat itu Tara sudah lemas karena permainan Doni.
" Aku, aku harus segera keluar dari kamar ini." Ucap Tara.
Dengan langkah tertatih-tatih Tara kembali masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Dia sangat jijik melihat tubuhnya yang terdapat banyak sekali tanda merah yang ditinggalkan oleh Doni.
" Hiks hiks hiks, kenapa jadi begini, mahkota yang seharusnya aku berikan kepada Kak Bagas, kini telah direnggut oleh lelaki kejam seperti Doni. Dan sekarang aku terjebak disini. aku bahkan tidak menyadari kapan Doni selesai dengan ku dan kembali meninggalkan ku." Ucap Tara yang menangis dibawah guyuran air shower.
Setelah selesai mandi, Tara mengenakannya handuk kimono nya. Dia sangat kesal karena Doni telah inggar janji, dan masih tetap menyembunyikan barang-barang miliknya.
" Argh, Doni brengsek..."
Brug !!
Tara tempat sampah yang ada di dalam kamar. Dan betapa terkejutnya Tara saat melihat apa yang ada di dalam tempat sampah itu.
" Barang barang ku, Jadi selama ini dia nih lagi menikahnya di sini."
Dengan cepat Tara memakai kembali pakaiannya dan mencoba menghidupkan ponsel. Namun sialnya ponsel Tara lowbat. Dan dia lupa membawa charger.
Tara memeriksa isi dompet dan juga kunci mobilnya, ternyata semua ada disana Doni tidak mengambil barang-barang Tara, Doni hanya merampas mahkota milik Tara yang menikmatinya sepanjang malam.
Tara berpikir keras bagaimana dia akan keluar dari kamar ini. Lalu Tara mencoba keberuntungannya membuka pintu kamar dengan jepitan besi yang selalu ada di dalam tasnya.
Ceklek.
Pintu berhasil dibuka, sepi. Ya, tentu saja capek karena Bar itu hanya buka pada malam hari. Tara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menutup kembali pintu dengan hati hati. lalu segera mencari jalan keluar.
Tara masuk ke dalam bar. Bar itu benar benar sepi.
" Kemana Perginya Doni." Ucap Tara.
Tara mencoba melihat ke luar jendela. dia tidak menemukan mobilnya di depan bar.
" Astaga, dimana Doni menyimpan mobilku?."
Tara lalu berjalan ke belakang bar, tampilkan menekan-nekan kunci mobilnya. Berharap dia kan mendengar suara dari mobilnya.
Tit Tit Tit.
" Itu dia."
Ternyata mobil Tara berada di belakang Bar. Tara segera mencari cara untuk membuka gembok pintu belakang dari yang menuju garasi. Tidak ada pilihan lain, Tara akhirnya menggunakan alat pemadam kebakaran untuk merusak gembok. Dengan cepat Tara kepada di sana dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
" Akhirnya, aku bisa keluar dari sini."
Tara segera melajukan mobilnya meninggalkan bar. Sesampainya di rumah.
" Kau sudah pulang sayang. Bagaimana pestamu bersama dengan teman-teman?" Tanya Mama.
__ADS_1
" Pesta?" Tanya Tara sambil mengerutkan dahinya.
" Ya, bukankah setelah ngantar jadi ke rumah sakit kau mengatakan jika akan berpesta di rumah sahabat yang bernama Mia kan?"
" Ah iya, benar. Haha, pesta semalaman membuat merupakan kejadian sebelumnya." Ucap Tara.
" Ohya dimana papa?" Tanya Tara.
" Papa sudah berangkat ke kantor tadi pagi, Mama sengaja ada di rumah untuk menunggumu pulang."
" Terima kasih ma, kalau begitu Tarakan naik ke atas dulu untuk berganti pakaian." Ucap Tara setelah dia mencium kedua pipi dari mamanya.
" Iya, setelah itu lekaslah turun dan sarapan." Ucap Mama.
Tara hanya tersenyum dan mengangguk kemudian segera naik ke atas dan menuju kamarnya.
Didalam kamar, Tara kembali mandi dan menggosok gosok tubuhnya, berharap jejak yang ditinggalkan Doni akan hilang.
Sementara itu, Yudi frustasi karena ternyata dari rekaman CCTV tidak penampakan jelas plat nomor dari kendaraan Tara.
" Tidak ada pilihan lain, kita harus datang ke rumah ntar ada meminta plat nomor Tara." Ucap Bagas
" TAPI?"..
" Tidak ada tapi, jika memang Tara diculik ataupun setelah terjadi sesuatu maka kita akan segera mengetahuinya dan dapat segera bertindak." Ucap Bagas.
" Huft, baiklah." Ucap Yudi.
Mereka akhirnya sepakat untuk mendatangi rumah Tara.
Sesampainya disana ...
" Bagas, Aku sangat takut. Bagaimana jika mereka sangat marah kepadaku, katakan malam itu mereka memintaku untuk menjaga Tara, tapi ternyata aku tidak menjaganya."
" Sudahlah, bukan sepenuhnya salahmu, jika aku juga menjadi dokter sepertimu tentu aku akan menolong pasienku dulu daripada menjaga kekasihku. Ups maksudku calon kekasih." Ucap Bagas.
" Kau menggoda ku?"
" Tidak, sudahlah sebaiknya Ayo cepat kita masuk. Tunggu, bukankah itu mobil Tara?" Ucap pada saat dirinya hendak turun dan melihat mobil berwarna putih terparkir di depan rumah Tara
" Benar, Itu adalah mobil milik Tara. Apa itu artinya Tara sudah pulang?"
" Hanya ada satu cara untuk membuktikannya." Ucap Bagas
" Apaa itu?"
" Dengan masuk kedalam."
" Tapi..."
" Sudah ayo."
Karena desakan Bagas akhirnya Yudi turun. Dan mereka mulai menekan bel pintu rumah Tara.
Ceklek...
" Permisi bik, apakah Nyonya ada di rumah?" Tanya Bagas kepada pelayan yang membukakan pintu.
" Ada tuan, nyonya dan nona muda sedang berada di ruang makan untuk makan siang. Tuan silakan masuk dan akan aku beritahu nyonya bahwa anda datang." Ucap pelayan.
" Ah tidak perlu, aku akan ke sana saja. Kebetulan Aku juga belum makan siang, jadi boleh kan jika sesekali aku makan siang di rumah ini." Ucap Bagas.
Pelayan itu membungkuk kemudian menutup pintu dan segera kembali ke pekerjaannya.
Tap
Tap
Tap
Bagas dan lucky berjalan beriringan menuju ruang makan, sesampainya di sana mata mereka berdua terkejut saat melihat arah sedang duduk menikmati makan siangnya.
" Siang Bibi, maaf aku datang tiba-tiba. Kebetulan udah nyuci lewat sini karena perut Kamil apa Jadi kami memutuskan untuk makan siang di sini apakah boleh?" Tanya Bagas, yang membuat Yudi melongo. Bagaimana bisa dia begitu santai dan begitu cepat menemukan kata-kata disaat genting seperti ini.
" Tentu saja boleh. Kebetulan paman tidak akan makan siang di sini, dan makanannya terlalu banyak. Jadi kalian mulai lah makan." Ucap Bibi, yang mengkode agar pelayan itu melayani Bagas dan juga Yudi.
Mereka kemudian makan, sesekali Yudi menatap Tara seakan meminta penjelasan apa yang sudah terjadi semalam.
" Kalian makanlah dulu, bibi akan segera kembali." Ucap Bibi diam berlalu setelah menyelesaikan makan siangnya.
Sepeninggal Bibi, Bagas dan Yudi segera memberondong pertanyaan kepada Tara.
" Kamu dari mana?
" Kenapa tidak pulang?"
" Kenapa ponsel mu mati?"
" Apa yang jadi kepadamu semalam, Kenapa berbohong bahwa kamu nginep di rumah Mia." Ucap Yudi.
" Aku tidak berbohong Aku baru saja pulang dari sana." Ucap Tara.
" Tadi pagi aku dari sana dan ternyata kau tidak ada di sana Tara." Ucap Yudi.
" Tentu saja aku tidak ada di sana karena aku sudah pulang dari rumahnya saat pagi hari. Tidak bukan pagi hari tapi petang hari. Lalu aku memilih menghabiskan sepanjang hari di taman." Ucap Tara.
" Kau yakin? bagaimana dengan ponsel mu" Tanya Bagas.
" Ponsel ku mati, dan aku lupa membawa charger."
" Kau tidak sedang berbohong kan?" Tanya Yudi.
__ADS_1
Tara tersenyum dan mengangguk. Hal itu tentu saja membuat lega hati Yudi dan Bagas.
Maafkan aku kak Yudi, kak Bagas. Aku tidak masuk memberi tahu kalian tentang kejadian yang sebenarnya, Biarlah aku yang akan menyelesaikannya sendiri. Aku akan meninggalkan dunia permodelan, kejadian itu sudah membukakan pintu hatiku. Aku akan merupakan obsesi terhadap Kak Bagas dan tidak akan lagi kembali menjadi model majalah pria dewasa. Batin Tara