
Setelah mengurus dokumen dari rumah sakit tempat gibran dirawat. Bagas dan ayuna segera bersiap meninggalkan rumah sakit menuju luar negeri.
" Bagas, antarkan aku ke rumah Sisil aku akan mengambil pakaianku dan milik Gibran."
" Tapi siapa yang akan menjaga Gibran?" Tanya bagas.
" Aku yang akan menjaganya." Ucap Anjas yang baru saja tiba di ruangan Gibran.
Ayuna dan Bagas saling berpandangan, bagaimanapun juga mereka tidak percaya pada Anjas.
" Ya, kalau kau takut aku akan membawa Gibran pergi lagi. Biar aku yang mengantar ayuna ke rumah Sisil."
" Enak saja, ya sudah kau menjaga Gibran biar aku yang mengantar ayuna." Ucap bagas.
Anjas tersenyum, lalu segera masuk dan berjalan menuju ranjang gibran.
" Apa tidak apa-apa, jika kita meninggalkannya bersama Gibran?" Tanya ayuna.
" Akan sangat apa-apa jika aku membiarkanmu pergi bersamanya." Ucap bagas.
" Dasar."
" Ya sudah Ayo jadi atau tidak Kita pergi ke rumah Sisil?"
" Jadi dong."
Bagas dan ayuna lalu segera meninggalkan rumah sakit menuju rumah Sisil.
Karena terlalu panik dengan kondisi Gibran, membuat ayuna belum sempat memberikan hasil bahwa g pernah menderita kanker.
" Ayuna, bagaimanakah dan Gibran apa dibilang sehat-sehat saja?. maaf aku tidak bisa datang ke rumah sakit Andi melarangku." Ucap sisil saat bagas dan ayuna tiba di rumahnya.
" Tidak apa-apa. Aku mengerti, aku datang untuk mengambil barangku dan milik Gibran. Kami akan berangkat ke luar negeri malam ini." Ucap ayuna.
" Ke luar negeri? tunggu Kenapa harus ke luar negeri memangnya sakit apa yang diderita Gibran?"
"Gibran menderita kanker yang sama, yang sebelumnya pernah diderita oleh mendiang ayah mertuaku."
" Astaga..."
" Tapi masih memasuki stadium awal, jadi aku dan Bagas akan membawanya berobat ke luar negeri. Dan semoga saja kanker itu bisa hilang dari tubuh Gibran selamanya."
Sisil memeluk ayuna,
" Kuatkan hatimu menjalani cobaan ini. aku akan selalu berdoa untuk kesehatan Gibran." Ucap sisil.
" Terima kasih Sisil kok adalah yang terbaik dari yang terbaik."
Setelah drama berpelukan, ayeuna segera menuju kamarnya yang sebelumnya ia tempati untuk mengambil barang miliknya. Juga menuju ruang dimana gibran pernah tidur, dan membersihkan barang milik Gibran.
Saat ayuna pergi dari rumah Sisil.
" Ayuna..." Panggil sisil.
" Ya?"
__ADS_1
" Tetaplah tersenyum. Aku tahu kau kuat, dan Gibran adalah anak yang kuat."
Ayuna tersenyum dan kembali menghampiri sisir lalu memeluk nya.
Malam harinya, Ayuna, Anjas, Bagas serta gibran langsung terbang menuju negara xxx, menggunakan jet pribadi milik Bagas.
Sepanjangan perjalanan, Anjas terus aja menatap ke arah Bagas dan Ayuna.
Ayuna, mungkinkah sudah tidak ada lagi kesempatan untuk ku bisa memilikimu? mungkinkah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan agar aku bisa memenangkan hatimu lagi. Batin anjas.
Perjalanan yang panjang menurut Ayuna, kini dia sudah tiba di negara xxx. Dan dengan ijin dari manajemen rumah sakit, jet pribadi milik Bagas mendarat di atas atap rumah sakit itu.
" Rumah sakit ini sangat besar hingga mempunyai landasan untuk jet pribadi." Ucap ayuna.
" Ayo kita segera turun dan segera menemui dokter yang dulu menangani ayahku." Ucap Anjas.
" Ya. Anjas benar kita tidak boleh membuang buang waktu." Ucap bagas.
Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit, setelah menyerahkan dokumen itu kepada dokter, dokter rumah sakit itu pun tahu Gibran harus dibawa ke ruangan mana.
Tok
tok
tok
Ruangan tempat Gibran dirawat diketuk seseorang, lalu masuklah seorang dokter.
" Anjas.." Sapa dokter itu.
" Apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu sejak kematian ayahmu. Bagaimana kabarmu dan ibumu?" Tanya dokter tadi sembari memeluk Anjas.
Ya. dokter yang dulunya merawat mendiang ayah Anjas, adalah teman ayah anjas, ayah Anjas menjadi pasiennya.
" Apa yang membuatmu datang lagi ke negara ini khususnya ke rumah sakit ini lagi?"
" Emm, ya. Aku membawa seorang anak yang menderita kanker seperti ayahku."
" Ohya.."
" Ya, dan dia adalah putraku, cucu dari mendiang ayah ku. Dulu dokter mengatakan bahwa penyakit ini tidak akan menurun kepada aku atau keturunan ku. Tapi nyatanya sekarang putraku memiliki penyakit yang sama yang pernah diderita oleh ayahku."
" Astaga, Maafkan Aku. Jika ternyata dulu prediksiku salah. sekarang di mana putramu apakah aku bisa menemuinya?"
" Tentu."
Amja lalu mengajak dokter itu mendekat ke Gibran, dimana saat itu mata Gibran mulai terlihat bengkak akibat dari kanker itu.
" Kita harus segera mengambil tindakan sebelum sel kankernya menyebar."
" Lakukan apa saja yang terbaik untuknya, operasi kemoterapi radioterapi atau apa saja." Ucap bagas.
" Ya, kita akan melakukan kemoterapi sebelum operasi. Karena kemoterapi bertujuan untuk menyusutkan ukuran tumor sebelum operasi dan mengurangi risiko kanker tumbuh kembali setelah operasi."
" Lakukan segera mungkin, lakukan yang terbaik agar anakku bisa sehat seperti sedia kala." Ucap ayuna.
__ADS_1
" Ya, kali ini kami akan berusaha untuk menyembuhkan, dan mengalahkan kanker jenis ini." Ucap dokter.
.... Skip ....
Selama 1 bulan Gibran mulai menjalani perawatan untuk menghilangkan sel-sel kanker dalam tubuhnya. Gibran sudah melakukan operasi 1 kali.
Dalam waktu itu juga, Gibran melawan penyakit itu. Dengan didampingi mami dan papi serta ayah kandung Gibran. Membuat Gibran semakin bersemangat untuk bisa terbebas dari kanker itu.
" Hai sayang..." Sapa ayuna saat gibran terbangun.
" Mami Gibran bosan di sini Gibran ingin pulang."
" ya kita akan segera pulang setelah Gibran sembuh."
" Tapi Gibran sudah tidak mau lagi menjalani terapi mami, terapi itu sangat menyakitkan untuk Gibran."
Ayuna menangis, memang di sela-sela terapi yang sedang dijalani oleh Gibran, setiap minggunya Gibran selalu disuntik dan diambil sampel darahnya. Untuk diteliti apakah pengobatannya berhasil atau tidak.
" Gibran Sayang, Gibran adalah anakku Ardi brand adalah anak mami yang paling kuat jadi Gibran pasti bisa melalui ini semua. Kita akan melaluinya bersama-sama." Ucap ayuna.
Tak lama kemudian Bagas masuk dan menghampiri mereka berdua.
" Ada apa sayang?" Tanya bagas.
" Tapi Gibran ingin pulang Gibran bosan ada disini."
Bagas menatap ke arah ayuna, dia tahu rasa jenuh yang dirasakan Gibran. karena itu sebelumnya Bagas sudah meminta izin kepada dokter apakah Bagas boleh membawa Gibran jalan-jalan keluar ruangan dan menuju taman.
" Gibran bosan di sini ya?" Tanya bagas.
Gibran menggangguk.
" Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman yang ada di rumah sakit ini, tapi baru saja dari sana. Tamannya sangat indah dan nyaman, papi juga sudah meminta izin dari dokter untuk membawa Gibran keluar. Dan apa Gibran tahu apa yang dikatakan dokter?"
" Apa?"
Gibran memandang wajah Bagas dengan tatapan tidak bersemangat.
" Dokter memperbolehkan Gibran untuk pergi ke taman ye.."
Gibran murung.
" Gibran ingin pulang bukan ingin ke taman."
Bagas kembali menatap ayuna, mata ayunan mulai berair dan siap menurunkan air matanya lagi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
"
__ADS_1