LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Anjas Tau


__ADS_3

" Kita langsung pulang saja." Ucap anjas, saat mereka sudah keluar ruangan dokter.


" Ayo kita jalan jalan sebentar." Ucap selin manja


" Selin aku mohon aku ada urusan pekerjaan yang sangat mendesak."


" Baiklah, tapi kau harus janji akan merubah sikapmu pada ku. Dan mulai membuka hati mu, untuk ku."


Anjas terdiam, Kata kata nya dulu, kini menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.


" Ayo katakan kau akan mulai mencintaiku dan melupakan ayuna." Ucap selin lagi.


Anjas masih terdiam jelas saja ini sangat berat baginya, bagaimana dia bisa mencintai Celine sementara hati dan pikirannya masih terus saja tertuju pada Ayuna dan Gibran.


" Anjas kau mendengar ku bukan?"


" Ah iya, apa?"


" kau tidak mendengar ucapanku,?"


" Iya aku akan mencobanya."


" Tidak jangan mencoba kau harus bisa melupakan ayuna. Dan mencintaiku, aku ini istrimu dan aku sekarang sedang hamil anak."


" Ya. Aku akan melakukannya tapi sekarang ayo kita pulang aku ada urusan mendesak yang sangat penting."


" Baiklah, sekarang cium aku." Pinta selin.


" Apa?"


" Cium aku. Sebagai awal hubungan kita yang baru."


Wlaupun terasa malas Anjas akhirnya mencium kening selin. Selin tersenyum penuh kemenangan.


" Sekarang bisa lah kita pulang?"


" Baiklah, ayo."


Selin menggandeng tangan Anjas dan mereka segera keluar dari rumah sakit. Saat selin akan masuk ke dalam mobil aja dia melihat dion dan dion tersenyum padanya. Selin mengkode agar dion menelponnya nanti.


" Bye sayang, pulang ya karena kita nanti akan merayakan kehamilanku." Ucap selin.


Anjas hanya tersenyum malas. Lalu segera melajukan kendaraannya kembali menuju rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, arah menuju lorong di mana tadi dia melihat Gibran. namun sayangnya Setelah lama Anjas mencari-cari dia tidak lagi menemukan keberadaan Gibran.


Akhirnya dia kembali dan bertanya kepada resepsionis.


" Permisi saya ingin bertanya apakah ada pasien bernama Gibran umurnya sekitar 6 tahun." Tanya anjas.


" Ohya ada. Pasien baru saja tiba pagi tadi."


" jika saya boleh tahu di mana ruang rawat pasien itu?"


" lantai 3 ruang VIP mawar 4"


" Baik terima kasih."


Setelah mengetahui ruang rawat Gibran Anjas segera berjalan menuju ruangan yang diberitahukan perawat.


Saat Anjas sudah sampai di ruang VIP mawar 4, Anja sudah mengangkat tangan bersiap untuk mengetuk pintu. namun, dia ragu untuk mengetuk pintu.


Dan disaat anjas menarik kembali niatnya untuk mengetuk pintu..

__ADS_1


Ceklek...


Pintu terbuka, ayuna keluar dari ruangan.


" Anjas..."


Ayuna sedikit terkejut melihat Anjas ada di hadapannya.


" Ayuna.." Sapa Anjas.


" Sedang apa kau disini?" Tanya Ayuna.


" Aku tadi mengantar selin ke dokter obgyn, dan tidak sengaja melihat gibran. Jadi setelah aku selesai mengantar Selin pulang. Aku bergegas datang ke sini, untuk memastikan apakah benar gibran yang ku lihat tadi."


" Jadi istri mu hamil?"


Anjas terdiam, lalu dia mengangguk lemas.


" Selamat ya, akhirnya kau jadi ayah juga." Ucap ayuna.


" lupakan tentang diriku, sekarang katakan apa benar Gibran dirawat di sini?" Tanya anjas.


" Ya."


" Kenapa?, apa Gibran sakit?"


" Ya.."


" Dia sakit apa?"


Belum selesai ayuna menjawab, Bagas ikut keluar dari dalam ruangan.


" Kau untuk apa kau ada di sini?" Ketus bagas.


" Wah wah wah sekarang kamu menyebut Celine dengan kata istriku ya. baguslah kalau sudah mengakuinya. Jadi kau tidak perlu lagi mengganggu ayuna. Biarkan ayuna menjadi milikku." Ucap Bagas.


" Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Bagas. Jadi katakan apa benar Gibran dirawat di sini dia sakit apa?"


Bagas menatap ayuna, seperti meminta izin apakah boleh Bagas memberitahu anjas tentang apa yang terjadi pada Gibran.


" Tidak apa, nggak berhak tahu lagipula Gibran juga anaknya. Dan Gibran karena penyakit turunan dari keluarganya."


" Penyakit keturunan Apa maksudmu?" Tanya Anjas


" Ini masih diagnosis dokter, kita tidak bisa mengambil kesimpulan sebelum Gibran selesai melakukan serangkaian tes."


" Tes?, tes apa?. Gibran sebenarnya sakit apa?" Tanya anjas semakin penasaran.


" Dokter argumen bahwa Gibran menderita kanker Rhabdomyosarkoma. karena itu Gibran harus menjalani serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apa benar Gibran menderita penyakit itu atau tidak"


Anjas syok. Dia langsung duduk di kursi tunggu, dengan tatapan kosong.


Bagas ikut duduk di samping Anjas.


" Ayuna bilang, ayahmu meninggal


karena penyakit ini Apa benar?"


Anjas mengangguk. Bagas terlihat mengusap kasar wajahnya.


" Saat dulu ayah mu menderita penyakit itu, apa yang kau lakukan? di mana kau membawanya berobat?" Tanya Bagas.


" Penyakit itu tidak ada obatnya dan belum ada obatnya sampai ayahku meninggal." Ucap anjas

__ADS_1


" Tidak mungkin. Segala macam penyakit pasti ada obatnya."


" Tapi itu itulah yang terjadi, berusaha keras mencari obat untuk ayahku. Tapi takdir berkata lain, penyakit itu membuat ayahku meninggal."


Mendengar itu, ayuna syok. Dia dia terjatuh dengan posisi duduk di lantai, dan menangis.


" Tidak, gibran ku tidak boleh mati, gibran ku harus sembuh." Ucap ayuna mulai histeris.


Bagas langsung menghampiri ayuna, dan berkata...


" Ayuna dengar, kita masih belum tahu penyebab pasti dari sakit yang diderita gibran. kita berdoa saja semoga Gibran tidak benar-benar menderita penyakit itu. Kalaupun memang Gibran menderita penyakit itu aku berjanji akan mencari obatnya walau ke seluruh dunia."


" Tapi, anjas bilang penyakit itu tidak ada obatnya." Ucap ayuna


" Pasti ada aku janji akan menemukannya dan membuat Gibran sembuh."


...


Dua hari berlalu, dan Gibran masih dirawat di rumah sakit yang sama. Ayuna dan Bagas terpaksa membatalkan rencana pernikahan mereka, mengingat kondisi gibran semakin hari yang semakin memburuk.


Mama dan papa Bagas sesekali datang untuk menjenguk Gibran.


Hingga di suatu siang, Seorang perawat datang ke ruangan Gibran dan mengatakan..


" Permisi tuan, anda ditunggu dokter di ruangannya segera.."


" Baik, saya akan kesana.." Ucap bagas.


Ayuna yang baru saja dari kamar mandi, langsung bertanya kepada Bagas ada keperluan apa perawat tadi kemari.


" Dokter meminta aku untuk datang ke ruangannya, sepertinya hasil lab Gibran sudah keluar. Jadi aku akan ke sana sekarang."


" Aku ikut." Pinta ayuna.


" Kau di sini saja menjaga Gibran. Biar aku yang menemui dokter."


" Tidak aku ingin ikut."


" Lalu siapa yang menjaga Gibran Bagaimana jika Gibran terbangun dan mencarimu?"


" Ada mesya dan juga di adik kembar mu yang menjaganya."


Ayuna melihat ke arah mesya dan adik kembar Bagas yang kebetulan ada di sana, menjenguk Gibran.


" Ya pergi lah kak kami akan menjaga Gibran."


Akhirnya bagas mengajak ayuna untuk bersama-sama menemui dokter.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...

__ADS_1


...Hadiah...


__ADS_2