
" Apa?, benarkah aku tidur di pinggir jalan?" Tanya Bela.
" Ya, Anjas menemukan mu tergeletak di pinggir jalan."
" Hmmm..."
Bela terlihat seperti mengingat-ingat kejadian sebelumnya sambil mengunyah makanan nya.
Lama Rin dan Anjas menunggu penjelasan dari Bella, hingga mereka lupa akan makan mereka.
" Eh, kalian kenapa menatapku bukannya makan-makanan kalian?" Tanya Bela.
" Kami menunggu penjelasanmu." Ucap Anjas.
" Oh astaga benarkah begitu?, hahaha maafkan aku seperti ini aku sangat lapar bisakah kita membicarakan ini setelah kita makan?" Tanya Bela.
" Hmm."
Anjas dan Rini memang sedikit kesal kemudian mereka melanjutkan makan.
Hening.
Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu, sesekali Anjas mencuri-curi pandang ke arah Bela.
" Ehem.." Dan Rini selalu berdehem setiap kali dia mendapati Anjas mencuri pandang ke arah Bela.
Sedangkan Bela menatap mereka dengan tatapan tidak mengerti.
Setelah mereka selesai sarapan. Rini kemudian mengajak mereka untuk duduk di ruang santai.
" Baiklah, karena sekarang kita sudah sarapan. Jadi katakan apa yang membuatmu bisa tidur di jalanan. Apa kau gelandangan?" Tanya Rini.
" Mama " Hardik Anjas.
" Sttt.."
Rini mengisyaratkan agar Anjas diam.
" Jadi kau gelandangan?"
" Tentu saja bukan. Aku punya keluarga di Paris. Dan seperti nya aku terdampar disini."
" Kau terdampar?, atau terbuang?"
" Mama!!"
" Anjas!!!!." Rini melempar tatapan membunuh nya.
Glek .
Akhirnya Anjas kembali diam.
" Hmm, hari itu aku sedang mencari pekerjaan, hingga larut malam. Mungkin aku terlalu lelah karena menunggu taksi yang tidak kunjung lewat. Lalu pagi hari nya, aku merasa sudah berada di apartemen. Ternyata aku ada disini, hehe."
" Astaga. Ya sudah. Ambil kembali pakaian mu. Biar supir akan mengantarkan mu pulang." Ucap Rini.
" Eh jangan dong. Kan Anjas yang menemukan Dia, jadi biarkan Anjas yang mengantarkan Bela pulang."
" Tidak. Yang ada kamu malah membawanya ke hotel untuk wik wik."
" Astaga mama, kasar banget pikiran nya." Ketus Anjas.
" Sudah, biarkan Bela pulang bersama supir. Kau harus mengantar mama ke makam Gibran."
" Hmm, baiklah."
....
" Selamat pagi sayang."
Cup
Bagas mencium kening Ayuna. Membawa kan nya bunga, makanan serta susu khusus ibu hamil.
Ayuna tersenyum. Memberi bunga pemberian Bagas dan mencium aroma nya.
" Hmm, wangi nya sangat menenangkan."
" Ini, ambil gelas ini dan habiskan isinya. Ah tidak tidak, makan dulu roti ini lalu habiskan susu nya."
Ayuna tersenyum, dan mengambil roti dari tangan Bagas.
" Ada lagi?" Tanya Ayuna.
" Kau ingin lagi?"
Ayuna mengangguk.
" Padahal dia sudah menghabiskan 4 potong roti isi. Hmm, sepertinya aku harus memesan lebih banyak roti isi."
Bagas lalu berjalan menuju dapur dan mengambil beberapa roti isi. Bagas memutuskan untuk membawa semua roti isi.
__ADS_1
" Ini, makanlah."
Bagas menyerahkan nampan berisi 6buah roti isi.
Glek .
Bagas menelan ludah nya, saat melihat Ayuna menghabiskan semua roti isi.
Padahal aku belum makan. Hiks hiks. Batin Bagas.
" Bagas, kenapa kau melihat ku begitu?" Tanya Ayuna heran karena dia menatap dirinya yang tengah asik menikmati roti isi.
" Karena kau tidak menyisakan satu untuk ku." Lirih Bagas.
" Hmm, apa?, Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Ayuna.
" Ah tidak. Aku hanya mengatakan setelah ini, kita akan makan diluar atau memesan makanan dan memakannya disini saja?"
" Emmmm, pesan makanan saja, kita makan disini. Lagipula aku belum berkeliling rumah ini."
" Baiklah, kau ingin pesan apa?"
" Aku ingin sate belut."
" Ha?" Bagas sedikit terkejut mendengar keinginan Ayuna.
" Aku ingin sate belut dan milk shake milo. Boleh?" Ucap Ayuna dengan mata berbinar-binar.
" Ya Tuhan. Ya ya boleh. Apapun boleh untuk istriku."
" Benarkah?" Tanya Ayuna memastikan.
" Tentu saja."
" Kalau begitu, jemput Gibran untuk ku."
Bagas terdiam seketika.
" Aku hanya bercanda."
Cup
Ayuna mencium bibir Bagas.
" Aku akan mandi, apa kau ingin ikut?" Bisik Ayuna.
Seperti mendapat angin segar. Bagas langsung bangun dari posisi duduknya dan berjalan dibelakang Ayuna.
" Tapi boong, hayuu.. pal pale pale pale."
Brak !!!
Ayuna menutup pintu dan menguncinya.
Bagas tersenyum melihat tingkah laku Ayuna.
" Semoga ini awal yang baik bagimu menjalani hidup tanpa kehadiran Gibran. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan raga ku. Dan aku tidak akan berhenti sebelum kau benar benar bisa menerima kenyataan bahwa Gibran tidak lagi ada di sini." Lirih Bagas sambil memegang pintu kamar mandi.
Tanpa Bagas tahu, Ayuna juga meletakkan tangan nya pada pintu kamar mandi, dan mendengar apa yang baru saja Bagas katakan.
" Aku juga sangat mencintai mu Bagas. Tapi untuk saat ini, aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Gibran ku telah tiada."
Ayuna meneteskan air mata. Dia tadi hanya berpura-pura baik baik saja agar Bagas tidak terlalu khawatir padanya.
Ayuna lalu memilih berendam di bak mandi air hangat. Tak lupa Ayuna juga menuangkan aroma terapi menenangkan.
Satu jam berlalu. Bagas mulai gelisah saat Ayuna tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
" Ayuna.."
Berulang kali Bagas mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban.
" Ayuna, kau di dalam?"
Tok
Tok
Tok
" Ayuna..." Teriak Bagas.
Bagas tidak tahu jika Ayuna sedang mengeringkan rambut nya dengan hairdryer. Bunyi dari hairdryer itu membuat Ayuna tidak mendengar suara teriakan dan ketukan pintu dari Bagas.
Bagas mulai panik.
__ADS_1
" Ya TUHAN. Apa yang terjadi didalam. Semoga Ayuna baik baik saja."
Bagas terlihat mondar-mandir seperti setrika uap.
" Apa aku dobrak saja pintu ini?" Lirih Bagas.
" Tapi aku takut membuat Ayuna terkejut dan membahayakan calon bayi kami."
" Tapi kalau tidak di dobrak..."
Bagas mulai bertingkah seperti orang gila yang berbicara sendiri. Dia bertanya dan dia sendiri yang menjawab nya.
Ceklek
Ceklek
Tok
Tok
Tok
" Ayuna buka pintu."
Brak
Brak
brak
" Ayuna.."
Bagas semakin panik, di terus saja melihat ke arah tangannya.
" Tidak ada pilihan lain sepertinya aku harus mendobrak pintu ini."
Bagas kemudian mundur dan bersiap untuk mendobrak pintu, di saat yang bersamaan Ayuna telah selesai mengeringkan rambutnya. Dia mulai berjalan mendekati pintu.
Ayuna memutar kunci pintu, dan disaat Ayuna membuka pintu Bagas sudah siap untuk mendobrak pintu kamar mandi.
Brug !!
" Argh..."
Bagas meringis kesakitan karena dirinya langsung terjatuh di lantai.
" Bagas.. Kenapa kau jadi tidur dilantai."
Ayuna membantu Bagas bangun.
" Stttt argh. Sakit sekali."
" Lagian kamu ngapain tidur di lantai?"
" Aku tidak tidur di lantai, aku sudah menunggumu selama 1 jam. Aku juga sudah mengetuk pintu kamar mandi dan berteriak memanggil namamu berulang kali. Tapi kau tidak menjawabnya, aku khawatir. karena itu aku berniat mendobrak pintu ini."
Ayuna tersenyum dan memandang wajah Bagas. Tangannya memeluk pinggang Bagas.
" Sayang, aku baik-baik saja. Kau jangan terlalu khawatir."
" Aku.."
" Sttt.." Ayuna meletakkan jari telunjuknya di bibir Bagas.
" Jangan berbicara apapun lagi. Dengar aku tadi sedang mengeringkan rambutku jadi aku tidak mendengar suara ketukan ataupun teriakanmu memanggil namaku."
" Kau yakin tidak sedang???"
" Sayang, aku tahu memang berat kehilangan seorang putra. Tapi bukankah hidup harus terus berjalan, aku tidak boleh terus terpuruk nanti Gibran akan sedih bukan?"
Bagas tersenyum dan memeluk Ayuna.
" Syukurlah, aku bahagia mendengarnya."
Ayuna memejamkan mata.
Maafkan aku Bagas, karena sampai sekarang aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Gibran sudah tiada. Aku masih sangat terpukul dengan kejadian yang baru saja menimpa kita. Aku masih tidak percaya bahwa putraku tidak ada lagi disampingku dan menemani ku. Tapi aku berjanji akan bersikap seolah-olah aku benar-benar baik baik saja. Semoga kau tidak akan tahu jika hatiku masih sangat terluka atas kejadian ini. Batin Ayuna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...Komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah ...