LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Yudi - Tara


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Tara menoleh karena dia mendengar suara langkah kaki.


" Kak Yudi?" Lirih Tara.


" Selamat pagi bibi, maaf jika aku terlambat untuk sarapan, dan dimana paman?" Tanya Yudi yang langsung memberikan sebuah bingkisan kepada Mama Tara.


" Ada, duduklah dulu Bibi akan memanggil Paman."


" Tentu." Ucap Yudi dengan senyum.


Setelah Bibi pergi, Tara yang merasa Yudi menatapnya memilih untuk menundukkan wajah.


" Hei, apa kabarmu dan bagaimana keadaanmu apa kau sudah merasa lebih baik?"


Tara mendongak dan menatap Yudi.


" Iy..ya..," Ucap Tara gugup, entah kenapa baru ini Tara merasa gugup di hadapan laki-laki. Padahal saat dia berpose hampir telanjang saat pemotretan dia tidak merasa gugup sama sekali, justru Tara menikmati perannya sebagai model majalah dewasa.


Tara juga tidak gugup saat bagian dari tubuhnya disentuh oleh beberapa kru model yang bertugas bersama dengan Tara.


Tuhan, kenapa aku sangat gugup, apa itu karena aku dulu yang merayu Kak Yudi. Tapi saat itu aku merayunya karena berada di di bawah pengaruh obat. Tapi Kenapa perasaan ini justru terbawa sampai aku benar-benar sadar. Ucap Tara


" Tara, ada yang ingin aku katakan padamu."


" Aku juga." Jawap Tara spontan.


Yudi sedikit terkejut dengan reflek yang ditunjukkan oleh Tara.


" Ah, maaf." Ucap Tara yang kemudian kembali menundukkan wajahnya.


Hening


Mereka berdua merasa canggung.


" Silahkan kau dulu." Ucap Yudi.


" Ah tidak tidak, sebaiknya Kak Yudi dulu."


" Baiklah."


Yudi menghela nafas, namun belum sempat dia berbicara orang tua Tara sudah datang dan bergabung di meja makan.


Mereka kemudian menikmati makanan sambil bercanda tawa, membahas sesuatu yang jauh dari tema perjodohan antara Tara dan juga Yudi.


" Aku sudah selesai, jadi aku mohon izin untuk kembali ke kamar karena aku harus mandi."


" Jadi, saat kau sudah duduk di meja makan kau belum mandi?" Tanya Papa.


" Hehe, belum." Ucap Tara.


" Ckck, memalukan sekali. Ya sudah cepat mandi sana. Apa kau tidak malu datang ke meja sarapan, dan sarapan bersama dengan calon tunanganmu sedangkan kamu sendiri tidak mandi bahkan tidak berhias."


" Papa.." Ucap Mama yang seakan mengingatkan Papa.


" Ah maksud Papa, apa Tara tidak malu jika kita sedang kedatangan tamu yang memang sengaja di undang untuk ikut sarapan bersama." Ucap Papa.


" Iya maaf, habisnya saat Tara akan kembali ke kamar, Mama mencegahnya dan justru menyuruh Tara untuk tetap duduk."


Papa langsung menatap tajam Mama yang terlihat menggaruk-garuk kepalanya.


" Ya sudah sana cepat kamu pergi mandi." Ucap Mama.


Tara melangkah meninggalkan dapur.


Kenapa Mama dan Papa terlihat sangat aneh?, bukankah selama ini mereka yang sangat antusias mengatakan jika Kak Yudi adalah calon tunanganku. Tapi kenapa sekarang papa justru meralat kata-katanya?, apakah mereka sudah tidak berniat untuk menjodohkanku lagi?. Jika itu memang benar, aku pasti akan sangat bahagia. Karena aku dengan bebas akan mendekati Kak Bagas. Batin Tara.


" Yudi, Paman harus pergi karena pagi ini Paman ada meeting yang sangat penting. Jadi apakah tidak keberatan menunggu Tara selesai mandi, dan juga mengantarkannya ke kantor saat dia sudah siap nanti?" Tanya Papa Tara.


" Tentu, Yudi akan dengan senang hati mengantarkan Tara."


" Baguslah, karena mulai hari ini kami akan mengajarkan cara untuk menjadi direktur perusahaan." Ucap Papa lagi.


" Tentu, paman dan bibi jangan khawatir Yudi akan segera mengantar para begitu Tara selesai bersiap."


" Oke. Kalau begitu kami pamit dulu ya."


" Iya silahkan." Ucap Yudi.


Yudi lalu memilih duduk di ruang tamu sambil menunggu Tara, setelah mengantarkan orang tua Tara keluar rumah. Yudi memilih memainkan gawainya untuk mengusir rasa bosan.


Beberapa saat kemudian, hidung Yudi mencium parfum wanita. Dan saat dia mendongak Yudi melihat Tara sudah berdiri di hadapannya.


" Tara, kau mengagetkan ku." Ucap Yudi.


" Maaf." Ucap Tara, kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Yudi.


" Kenapa jauh sekali, duduk lah disini. Bukankah tadi kau bilang ingin mengerjakan sesuatu dengan ku kan." Ucap Yudi.


" Sebaiknya kita bicara di balkon rumah saja, bagaimana?" Tawar Tara.


" Boleh juga, sepertinya akan lebih santai jika kita berbicara di sana sambil menikmati pemandangan."


Tara tersenyum kemudian beranjak dari duduknya dan langsung menaiki tangga untuk menuju balkon rumah Tara yang berlantai 3.


Setelah mereka tiba di balkon, Yudi memilih langsung duduk di kursi yang sudah ada di sana sedangkan Tara memilih terus berjalan hingga dirinya berdiri tepat di pagar balkon.


" Tara, silahkan. Kau dulu."


" Ah tidak, aku rasa sebaiknya Kak Yudi lebih dulu." Ucap Tara sambil berbalik badan dan menatap Yudi.

__ADS_1


" Apa kau tidak pernah mendengar istilah ladies first?"


" Hmm, baiklah. Aku ingin berbicara mengenai...."


" Perjodohan?" Ucap Yudi yang langsung memotong pembicaraan dari Tara.


Yudi berjalan mendekati Tara.


" Jika memang itu yang akan kau bicarakan, maka dengarkan apa yang akan aku katakan dengan seksama. Aku dari awal sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak akan menuntutmu untuk menerima perjodohan ini, dan hal itu berlaku sampai sekarang. Yang artinya kau bebas memutuskan apakah perjodohan ini akan dilanjutkan atau tidak. Aku tidak pernah memaksakan kehendak kepada seseorang. Aku memang menyukaimu, bahkan mungkin aku sudah mulai menyayangimu tapi jika ternyata dirimu tidak suka padaku lalu untuk apa perjodohan ini diteruskan."


Tara terdiam dan menatap Yudi.


" Apa Kak Yudi akan menyerah?, bahkan Kak Yudi belum berusaha untuk mendekati ku kan?, Lalu kenapa Kak Yudi akan menyerah begitu saja?"


" Aku bahkan belum mencoba apapun Tara. Aku belum mencoba untuk mendekatimu."


" Lalu Kenapa tidak Kakak coba untuk mendekatiku?"


" Bagaimana aku akan mendekatimu jika kau sudah menutup pintu hati jauh sebelum aku melangkah maju."


Tara terdiam, dia menjadi dari hal itu. Sejak awal dia tidak pernah memandang Yudi. Bahkan kerap kali dia mencoba untuk menghindari Yudi karena obsesinya terhadap Bagas.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menutup hati aku hanya..."


" Mencoba mengejar obsesimu?"


Tara menatap Yudi, seakan ingin segera tahu apa yang akan dikatakan oleh Yudi.


" Aku benar kan?"


" Soal?" Tanya Tara.


" Kau menutup hati karena kau terobsesi mengejar orang lain kan."


" Maksud Kak Yudi?"


" Tara, apakah kau tidak ingat. Kemarin kau mengigau dan memanggil orang yang menjadi obsesi mu."


Tara memejamkan mata, sekilas dia memang ingat terus menyebut nama Bagas, Namun Tara tidak tahu jelas bahwa yang ada dihadapannya bukalah batas melainkan Yudi.


" Kak Yudi, apapun yang kakak dengar saat aku ku mabuk itu semua tidaklah benar." Sergah Tara.


" Kau yakin? Aku bahkan dapat mendengar dengan jelas kau sungguh sangat berharap dapat bersatu dengan Bagas. Kau bahkan mengungkapkan semua isi hatimu kemarin."


Tara kembali memejamkan mata, dia tidak menyangka bahwa efek dari obat itu membuatnya mengatakan seluruh isi hatinya.


" Tara, kenapa kau sangat terobsesi kepada kakak sepupumu sendiri. Apa yang istimewa darinya sehingga kau rela menyerahkan tubuhnya kepadanya. Dan, apa kau tidak bisa melihat arti sebuah keluarga yang sebenarnya?. Aku yakin jika memang kau mengerti arti sebuah keluarga kau tidak akan terobsesi kepada Bagas."


Tara menunduk. Yudi hendak memegang bahu Tara namun ia mengurungkan niatnya itu.


" Aku.. aku tidak tahu, saat pertama kali bertemu dengan Kak Bagas. Hatiku langsung merasakan getaran cinta dan obsesi ku untuk memilikinya begitu tinggi. Jadi Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, namun sayangnya kita tidak bisa menikah karena Kak Bagas hanya menanggapi sebagai adik sepupu. Aku sangat terluka saat mendengar kabar bahwa Kak Bagas sudah menikah. Lalu aku tau siapa wanita yang beruntung yang telah memiliki Kak Bagas. Dan aku juga melihat betapa besarnya cinta Kak Bagas pada keluarga nya. Tapi sepertinya aku terlalu terobsesi, sehingga aku sangat ingin memiliki dan dimiliki oleh Bagas, walau hanya sebagai partner ranjang."


" Tara, apa kau tahu perbuatan itu bisa memunculkan masalah yang besar di kemudian hari. Apa kau tahu, akan ada banyak pihak yang terluka jika kau benar-benar mewujudkan obsesi itu."


" Aku tidak memikirkan hal itu, yang aku pikirkan hanyalah kebahagiaanku sendiri."


" Aku tidak tahu, aku hanya merasa sepi di dalam sini." Ucap Tara sambil memegang dadanya.


" Kalau begitu izinkan aku untuk masuk dan mengisi ruang kosong di hatimu."


" Aku.."


" Aku hanya meminta sekali, jika kau tidak menginginkannya maka aku tidak akan pernah memintanya lagi." Ucap Yudi.


" Kak Yudi. Kenapa harus aku kenapa bukan wanita lain yang tak perlu didekati?"


" Ini adalah permintaan dari orang tua kita. Aku sebagai anak hanya menuruti apa keinginan mereka."


" Kenapa Kak Yudi tidak membantah saja?, aku lihatin Kak Yudi sudah memiliki wanita lain."


" Dengar, Tidak ada yang lebih membuatku bahagia selalu melihat kedua orang tuaku bahagia. Aku akan melakukan apapun yang mereka pinta untuk membuat mereka bahagia."


" Itu artinya Kak Yudi mengorbankan kebahagiaan Kakak sendiri."


" Tara, jika kau dapat melihat orang lain bahagia karena mu. Maka itu akan menjadi kebahagiaan yang terindah yang pernah kita rasakan."


Tara menatap Yudi sekali lagi. Hembusan angin menerpa wajahnya, membuat rambut yang sengaja dia urai menutupi wajah Tara.


" Tara.."


" Ya?"


" Apa kau masih menjadi model majalah pria?"


Tara terkejut karena tidak menyangka bahwa Yudi akan mengetahui tentang profesinya sebagai model majalah pria dewasa.


" Darimana kak Yudi tau?"


" Itu tidak penting, yang penting adalah alasan kenapa kau menjadi model pria dewasa. Apa kau tidak tahu jika profesi itu menuntutmu untuk berpakaian sangat minim."


Tara melangkah melewati Yudi, dan berdiri di sisi balkon yang lain.


" Aku tidak tahu, aku hanya bahagia saat orang-orang membutuhkan diriku. Menjadi model pria dewasa adalah tempat yang tepat dimana Aku selalu dibutuhkan oleh mereka, mereka selalu menantikan ku. Terutama mereka sangat antusias saat tahu kemolekan tubuh ku."


" Jadi kau bahagia saat lekuk tubuhmu dilihat oleh orang lain bukanya oleh suamimu sendiri?"


" Kak Yudi.."


" Tara, apa kau tega menghancurkan hati kedua orang tuamu saat mereka tahu kau menjadi model pria dewasa?"


" Kak Yudi, Kenapa Kakak mencari tahu aku sampai sedetail itu?" Tanya Tara.


" Aku tidak mencari tahu, ada seseorang yang memberitahuku. Bahkan menunjukkan majalah di mana kau sebagai modelnya."


" Sekarang Kak Yudi sudah tahu. Jadi terserah kepada kak Yudi apakah kak Yudi pertama melanjutkan perjodohan ini atau tidak."

__ADS_1


" Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, Kenapa kau sudah menyuruhku untuk mengambil keputusan dalam perjodohan."


" Pertanyaan yang mana?"


" Apakah kau mau membukakan pintu hati mu untukku agar aku bisa mendekati dan mengenal dirimu lebih dalam lagi."


Tara terdiam.


"Aku..."


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Yudi berdering.


" Ya hallo?"


" ----"


" Baiklah, aku akan segera kesana." Ucap Yudi.


" Maaf Tara, aku harus segera pergi karena ada pasien yang membutuhkan bantuan." Ucap Yudi sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.


" Baiklah.."


" Aku akan menagih jawabanmu lain kali." Ucap Yudi.


" Dan ya.., tolong pikirkan lagi apa yang baru saja kita bahas."


Tara tersenyum dan mengangguk. Yudi membalas senyuman Tara dan segera pergi dari rumah tangga untuk menuju rumah sakit.


Tara memandang kepergian Mobil Yudi.


Tin


Yudi mengklakson, Tara melambaikan tangan kearah mobil Yudi.


" Astaga, bagaimana aku bisa lupa bukankah orang tua Tara menyuruhku untuk mengatakan para ke kantor?"


Yudi menepuk dahinya sendiri saat dirinya sudah berjalan cukup jauh dari rumah Tara. Yudi langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengantarkan Tara ke kantor orang tuanya.


" Non, ada seseorang yang mencari non Tara." Ucap Pelayan.


" Siapa bik?" Tanya Tara yang sedang asyik menonton TV.


" Katanya dia adalah suruhan dari tuan Yudi, dia datang untuk menjemput non Tara dan mengantarkannya ke kantor tuan dan nyonya besar."


" Hmm."


Dengan langkah gontai akhirnya Tara bangun dari posisi duduknya dan berjalan menemui orang suruhan Yudi.


Setelah cukup lama berbicara akhirnya Tara kembali ke kamar untuk bersiap sebelum akhirnya dia ikut bersama dengan orang suruhan Yudi menuju kantor Mama dan Papa nya.


Sepanjang perjalanan Tara kembali mengingat pembicaraan nya dengan Yudi.


Tara memejamkan mata, dan memilih bersandar pada kursi mobil. Dalam pikirannya terus bergema ucapan dan permintaan Yudi.


Haruskah aku mengakhiri semuanya?. Karierku, obsesiku. Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum aku bisa bersatu dengan Kak Bagas. Dan soal karier ku, aku yakin orang tua ku tidak akan mengetahui.


Tara terus berperang dengan pemikirannya sendiri. Hingga, supir mengejutkan Tara.


" Maaf nona, kita sudah sampai."


" Ah iya."


Dengan segara Tara turun dari mobil dan tidak lupa dia mengucapkan terima kasih karena sudah diantar ke kantor orang tuanya.


" Huft."


Tara menghela nafas, Karena untuk pertama kalinya ucapan seseorang mampu membuat pikirannya porak poranda.


Tok


Tok


Tok


ceklek..


" Siang Ma, Pa."


" Sayang, akhirnya kau sampai juga kami sempat khawatir karena Yudi mengatakan dia tidak bisa mengantarmu ke sini karena ada operasi mendadak."


Tara tersenyum dan kemudian duduk di hadapan Orang Tua nya.


" Ma, Pa. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


" Tentu, apapun."


" Kenapa kalian bersikap menjodohkanku dengan Kak Yudi?, Kenapa bukan Ilham, Alex atau Bimo?. Bukankah anak dari sahabat mama dan papa banyak. Tapi Kenapa pilihan kalian jatuh kepada Kak Yudi?"


Mama dan Papa saling menatap sebelum akhirnya tersenyum.


" Itu karena kita tahu Yudi lah yang paling pantas untuk mendampingimu. Kami yakin Yudi akan membuatmu bahagia, kami percaya Yudi akan memberikan kebahagiaan yang mungkin tidak kau dapatkan dari kami." Ucap Mama sambil memegang tangan Tara.


" Betul nak, selama ini kami selalu mengira bahwa kamu bahagia. Tapi kami tidak tahu dan tidak yakin apakah kamu benar-benar bahagia. Karena itu kami sangat berharap kau mau menerima perjodohan ini, tapi kami juga tidak ingin memaksakan mu. Kau boleh menolak perjodohan ini jika kau tidak suka. Kau bebas menentukan jalan hidupku sendiri."


Tara tersenyum, dia merasa orang tuanya bersikap lebih hangat daripada sebelumnya.


Apa mungkin Mama dan Papa sudah mengetahui tentang obsesi dan karir ku?, Apa mungkin Kak Yudi sudah memberitahu mereka?, tapi kenapa mereka tidak marah. Harusnya mereka marah setelah mengetahui karir ku kan?, jika mereka tidak marah itu artinya mereka tidak tahu tentang hari dan juga obsesiku. Tapi Kenapa sikap mereka lebih hangat dari sebelumnya. Batin Tara.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2