
" Sayang, Gibran pasti akan pulang tapi tidak hari ini. Ppi janji akan segera membawa Gibran pulang. tapi untuk sekarang di brand harus bersabar dan mengikuti Apa kata dokter. Agar Gibran cepat pulih dan kita bisa kembali pulang."
Gibran menata Bagas, Bagas tersenyum dan mengusap lembut kepala gibran.
" Sekarang Gibran mau kan jalan-jalan di taman rumah sakit agar Gibran tidak merasa jenuh."
" Baiklah."
Bagas segera mengambil kursi roda yang ada di dekat ranjang tempat tidur Gibran, lalu dengan hati-hati Bagas memindahkan tubuh Gibran dari tempat tidur ke kursi roda.
" Kau siap pergi boy?" Ucap bagas.
" Siap."
" Kalau begitu harap berpegangan dan pasang sabuk pengaman karena cat kursi roda akan segera berangkat." Ucap bagas, mencoba mencairkan suasana tegang di antara mereka.
" Yaa.. Aku siap. Ayo meluncur." Ucap gibran semangat.
Bagas langsung mendorong kursi roda Gibran ala-ala pembalap kelas MotoGP.
" Haha, hati hati." Kekeh ayuna, saat melihat tubuh Bagas yang berlenggak-lenggok mirip cacing kepanasan saat mendorong kursi roda Gibran.
Sesampainya di taman.
" Wah papi di sini sangat indah." Ucap gibran.
" Ya kan sudah papi bilang jika taman di rumah sakit ini sangat indah gibran pasti menyukainya. Apa Gibran menyukainya?"
" Ya Gibran sangat suka di sini sangat sejuk dan menenangkan."
Lalu Gibran mencoba bangun dari kursi rodanya.
" Hati hati sayang.." Ucap ayuna.
" Biarkan saja. Biar kan dia merasa bebas. Bukankah selama ini gibran hanya mengenal jarum dan obat."
" Ya kau benar."
Gibran berjalan mengelilingi taman, dan dia tidak sengaja bertemu dengan seorang anak yang sepertinya juga pasien di rumah sakit itu.
" Hai boleh aku duduk disini?" Ucap gibran.
" Tentu saja." Anak laki laki itu tersenyum dan bergeser, jadi Gibran bisa duduk di sebelahnya.
" Namaku Bayu siapa namamu?"
__ADS_1
Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya, gibran menyambut uluran tangan itu.
" Aku Gibran. Apa kau juga dirawat di sini?" Ucap Gibran yang memberanikan diri untuk bertanya.
" Ya. Apa kau pasien baru?, karena aku baru melihatmu."
" Ya aku baru datang sekitar 1 bulan yang lalu. Kalau kau Apa kau sudah lama ada disini?"
" Ya Aku di sini sudah 2 bulan yang lalu. Kau sakit apa hingga bisa berada di rumah sakit ini?" Tanya anak laki-laki yang bernama Bayu.
" Aku tidak tahu mami dan papi ku tidak memberitahuku, kalau kau sakit apa?"
" Aku sakit jantung."
Bayu membuka sedikit bajunya hingga memperlihatkan tanda garis merah yang ada di dadanya.
" Apa itu sakit?" Tanya gibran.
" Tidak selama aku tetap berjalan dan tidak berlari."
Sementara itu, ayuna menangis. Bagas mendekati ayuna dan memegang bahunya dengan kedua tangan.
" Hei, apa yang buatmu sedih hingga kau menangis?"
" Aku hanya tidak menyangka Gibran akan menderita penyakit mengerikan ini. Kenapa bukan aku saja?" Ucap ayuna.
" Hei lihat aku, Gibran akan baik-baik saja Gibran akan sembuh Kau harus yakin itu."
Ayuna terdiam.
" Dengar jika dulu mendiang ayah mertua mau meninggal karena para dokter belum menemukan obat untuk penyakit itu, bisa dimaklumi karena di era itu teknologi belum secanggih era sekarang. Kau harus yakin jika Gibran bisa melawan penyakit mematikan ini. Lihatlah Gibran bahkan lebih bersemangat, setelah dia menemukan teman di rumah sakit ini."
Ayuna sekali lagi menatap kearah Gibran, yang terlihat bercanda tawa bersama teman yang baru saja dia temui.
" Ya kau benar. Gibran sudah terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya."
" Jadi tidak ada alasan bagimu untuk menghawatirkan penyakit yang diderita Gibran, kau harus lebih bersemangat dari Gibran. Dan Kau harus yakin bahwa Gibran akan sembuh."
Bagas mengusap air mata yang mengalir dipipi ayuna, ayuna tersenyum dan berkata,
" Terima kasih Bagas, kau selalu menjadi kekuatanku saat aku merasa lemah atau tidak percaya diri."
" Dan selamanya aku akan menjadi kekuatanmu." Ucap Bagas.
Ayuna lalu memeluk Bagas.
__ADS_1
" Berjanjilah kau selalu ada disampingku apapun yang terjadi?, bisa membayangkan apa jadinya diriku jika tanpa ada dirimu disisiku."
Bagas membelai rambut ayuna dengan lembut.
" Tidak akan ada yang bisa membuatku untuk jauh darimu. karena sampai kapanpun aku akan tetap berdiri disampingmu, melindungimu dan akan menjadi kekuatanmu."
Ayuna memeluk Bagas, seolah-olah dia mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin kehilangan sosok seperti Bagas.
" Mungkinkah ini saatnya aku melepasmu?. Tapi kenapa aku merasa sakit saat melihatmu dipeluk oleh lelaki lain?. Aku juga ingin memelukmu ayuna." Ucap anjas saat melihat Ayuna dan Bagas sedang berpelukan.
Anjas lalu berjalan menghampiri Ayuna dan Bagas.
" Tadi aku mencari kalian Tapi kalian tidak ada di ruangan." Ucap Anjas dengan pura-pura tidak tahu jika Bagas dan Ayuna sedang berpelukan.
Ayuna melepas pelukannya.
" Emm, ya. Gibran merasa bosan di dalam ruangan jadi Bagas mengajaknya ke taman, Gibran menemukan teman di sana."
" Ohya., bolehkah aku menghampiri Gibran?" tanya Anjas.
"Tentu kau adalah ayahnya." Ucap bagas.
" Hei, kau tidak akan melarangku untuk mendekati Gibran lagi?, kau tidak takut jika Gibran akan ku bawa pergi lagi?" Canda anjas.
" Tidak aku percaya kau adalah laki-laki yang baik. Dan kau tidak akan membawa putramu yang sedang sakit ini pergi jauh-jauh dari ibunya."
Anjas terdiam. Lalu tersenyum ke arah Bagas. Dan menepuk bahunya.
" Kau memang laki-laki yang pantas memiliki ayuna." Ucap anjas
" Jadi kau sekarang mengalah. Atau kau sudah mengetahui jika diriku lebih hebat darimu?." Ucap bagas.
" Jangan sombong dulu. Jika kau menyakiti ayuna aku tidak segan-segan merampasnya darimu." Ucap anjas kemudian segera berlalu meninggalkan Ayuna dan Bagas menuju gibran.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa ...
...like...
...komen...
__ADS_1
...vote...
...hadiah...