LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Curiga


__ADS_3

" Hai, Apa kau ingin bergabung dalam pesta?" Tanya bagas pada gibran.


" Apa boleh?" Tanya gibran dengan mata berbinar.


" Tentu saja boleh. Tapi kau harus berjanji, Saat Kau lelah kau harus mengatakannya pada Papi, agar Papi mengantarkanmu kembali ke kamar, dan kau harus istirahat."


" Janji."


Gibran mengangkat jari kelingkingnya, Bagas kemudian menautkan jari kelingkingnya juga.


" Ayo kita berpesta."


Bagas langsung menggendong tubuh gibran. Lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju ruangan utama, Di mana pesta itu di adakan. Sedangkan ayuna berjalan di belakang mereka.


" Hei bukankah itu tante Sisil." Ucap gibran, sambil menunjuk ke arah wanita yang baru saja bergabung ke dalam pesta.


" Ya kau benar. Ayo kita temui." Ucap Bagas.


" Bagas lihatlah, bukankah itu Anjas?, dan wanita yang di sampingnya itu apakah dia istri Anjas?"


Ayuna menunjuk ke arah laki-laki mirip Anjas, yang tengah menggandeng seorang wanita hamil.


" Ya, mungkin saja dia adalah istri Anjas."


" Wow, sepertinya istri Anjas adalah wanita yang baik. Buktinya dia mau datang ke acara pertunangan ku, yang jelas-jelas adalah mantan istri dari Anjas."


" Ya kau benar. Ayo kita temui mereka, sebaiknya kita temui sisil lebih dulu."


" Ya kau benar."


Mereka lalu menuruni anak tangga dan langsung menghampiri Sisil.


" Hai, selamat ya untuk kalian berdua. Aku tidak menyangka kalian akan resmi bertunangan hari ini. Aku pikir kalian akan langsung menikah." Ucap sisil setelah dia bersalaman dengan Bagas dan memeluk ayuna.


" Ya, aku sih maunya begitu langsung nikah saja tidak usah acara tunangan segala. Tapi, ayuna tidak ingin buru-buru menikah, ya sudah akhirnya kita bertunangan dulu. Daripada nanti ayuna diambil orang." Ucap bagas.


" Haha kamu bisa aja." kekeh sisil.


" Selamat bro." Ucap andi.


Bagas lalu menurunkan Gibran dan menerima pelukan dari Andi.


" Terima kasih."


" Jadi kapan pernikahan kalian?" Tanya andi.


" Satu bulan lagi." Ucap Bagas.


" Kali ini benar-benar akan terjadi pernikahan atau bagaimana?" Ledek andi.


" Akan kupastikan kali ini, aku dan ayuna akan benar benar menikah." Ucap bagas.


" Wah sudah tidak tahan rupanya." Ledek andi lagi.


" Ya, kau tau lah. sebelum juniorku menjadi pangeran tidur lebih baik aku segera membangunkannya. Betul tidak. hahaha."


" Hahah, ya ya kau benar. dan aku akan memberimu trik dan tips."


" Wah cocok itu. kau bisa mencicilnya sekarang." Ucap Bagas.


" Enak saja, jika aku memberitahumu sekarang nanti kau akan mencicipi nya." Ucap andi sambil melirik ke arah ayuna.


" Haha, mencicipi sedikit kan tidak apa-apa bro."


Ayuna dan sisil yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Dan berjalan menuju meja hidangan.


Ayuna berjalan sambil menggandeng tangan Gibran.


" Sil, perutnya sudah terlihat besar berapa usianya sekarang?"

__ADS_1


" 6 bulan." Ucap sisil sambil mengambil hidangan yang tertata di meja.


" Wah, itu artinya 3 bulan lagi akan melahirkan."


" ya dan aku akan melahirkan secara caesar."


" Kenapa?" Tanya ayuna, sambil memberikan kue yang diminta Gibran.


" Kau tau kan, Aku tidak tahan sakit. Dan , aku tidak bisa membayangkan Bagaimana rasa sakit ketika aku akan melahirkan."


" Aduh, kamu ini bagaimana sih. Rasa sakit itu akan terbayar setelah kau mendengar suara tangisan anakmu yang pertama."


" Ya, itu kan dirimu. kalau aku..., ah sudah lah yang jelas aku tidak ingin melahirkan normal. Membayangkan sakitnya saja aku tidak mampu."


" Haha, sisil Sisil."


Sementara itu, Anjas yang melihat sisi langsung mengajak Selin untuk menghampirinya.


" Itu ayuna, ayo kita kesana." Ajak anjas pada selin.


" Oke tapi kau harus menuntunku perlahan-lahan."


" Yes, tuan putri." Goda anjas. Selin tersenyum.


" Ayuna." Panggil anjas.


" Ayah..."


Gibran langsung berlari dan memeluk Anjas.


" Anak ayah.."


Setelah memeluk Anjas, Gibran beralih menatap selin.


" Ayah dia siapa?"


" Emm, kenalkan dia adalah istri ayah, kau bisa memanggilnya Mama selin." Ucap anjas.


" Hai sayang, siapa namamu?" Tanya selin


" Gibran."


" Hai anjas, terima kasih sudah datang." Ucap ayuna.


" Aku datang karena Bagas mengundangku, jika dia tidak mengundangku, Bagaimana aku bisa berani untuk datang ke acara mu."


" Haha, kau ini bisa saja. Dan siapa dia?, apa dia istrimu?" Tanya ayuna sambil melihat selin.


" Emm ya, kenalkan dia adalah selin, istri ku."


" hai."


Selin mengulurkan tangannya, ayuna menjabat tangan selin.


" Hai, kau sedang hamil ya, selamat ya atas kehamilan mu. Ohya, berapa bulan kandungan mu?"


" Enam, eh maksudku tiga bulan." Ucap selin, hampir keceplosan mengatakan usia kandungan yang sebenarnya.


" Serius 3 bulan?" Tanya ayuna.


" Ya." Ucap selin dengan sedikit gugup.


" Wow."


" Kenapa?" tanya anjas.


" Tidak. Aku hanya terkejut, perutnya sudah sangat besar, namun usianya masih 3 bulan."


" Ya, awalnya aku juga sama, tapi setelah aku menanyakan pada dokter dokter bilang itu hal yang biasa. Dan terjadi pada beberapa wanita hamil yang perutnya lebih besar dari usia kehamilannya." Terang anjas.

__ADS_1


" Ya, perut istrimu sama besarnya dengan perut temanku Sisil. Dia juga sedang hamil 6 bulan." Ucap ayuna yang menunjuk ke arah Sisil yang ada di sebelahnya.


Anjas memperhatikan bentuk perut Sisil, dan benar saja perut Sisil sama besarnya dengan perut selin.


Anjas terlihat berfikir, dia mengalihkan pandangan dari Sisil ke Selin. Dan dari Selin ke sisil. Hal itu membuat selin panik, dia takut Anjas akan curiga.


" Iya, kau benar. perut mereka berdua sama besarnya." Ucap anjas.


" Mungkin dokternya salah menghitung usia kandungan dari istrimu." Ucap sisil.


" Ah tidak mungkin, aku sendiri yang menemaninya setiap bulan melakukan pemeriksaan kehamilan." Ucap anjas.


" Ya siapa tau, beberapa dokter memang terkadang salah dalam memperkirakan usia kehamilan seseorang. Dan terkadang dokter salah memasukan HPHT dalam data ibu hamil." Ucap sisil lagi.


" Apa hal itu mungkin saja bisa terjadi?" Tanya ayuna.


" Ya, aku mengalaminya sendiri. Waktu itu aku periksa di dokter yang berbeda, dan dokter mengatakan kandunganku sudah 7 bulan. Padahal waktu itu kandunganku masih 4 bulan. Setelah ditelusuri ternyata dokter itu salah menginput data ku."


" Begitu ya.." Ucap anjas.


Selin semakin gemetar, dia gugup dan berkeringat. Selin segera mencari cara agar dia bisa terbebas dari situasi ini, lalu muncul satu ide di kepala nya.


" Argh sayang kepala ku tiba-tiba aja pusing." Ucap selin sambil memegang kepala nya.


" Selin, kau baik-baik saja?"


" Ya, aku hanya merasa sedikit pusing."


" kalau begitu kau istirahat saja di kamar tamu." Ucap ayuna.


" Ya, aku juga terkadang sering merasa pusing. Dokter bilang itu hal wajar jika kehamilan sudah memasuki trimester ketiga." Ucap sisil.


Duar !!!


Perkataan Sisil, membuat selin makin gugup. Dia tidak menyangka, berpura-pura pusing justru membuka sesuatu yang lebih mengarah kepada usia kehamilannya yang sebenarnya.


" Bagaimana Apa kau mau beristirahat dulu di kamar tamu?" Tanya ayuna.


Selin menatap anjas, dan menggeleng.


" Aku ingin pulang saja."


" Baiklah." Ucap anjas.


Anjas menatap ayuna dan Gibran secara bergantian, jujur dia tidak ingin berpisah secepat ini. Karena mereka baru saja sampai dan selin sudah merengek minta pulang.


" Ayuna, maaf ya aku harus pergi. Sepertinya selin sedang tidak enak badan. Sampai kan salamku kepada Bagas." Ucap anjas


" Baiklah."


Setelah Anjas dan selin menjabat tangan ayuna dan Sisil, serta mencium Gibran. Mereka akhirnya pulang.


Semoga saja setelah ini Anjas tidak curiga dan tidak mencoba mencari tahu kebenarannya. Karena jika sampai Anjas mencari tahu, maka semuanya akan berakhir sekarang. Dan aku tidak mau ini berakhir, sebelum dion benar-benar bisa membuktikan pada keluargaku bahwa dia pantas menjadi suamiku. Batin selin.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...jangan lupa...


...like...


...Komen...


...vote...

__ADS_1


...hadiah...


__ADS_2