LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Catatan Gibran


__ADS_3

Tes...


Air Mata Ayuna menetes.


" Maafkan mami nak, Mami hanya berpura-pura baik-baik saja di depan papi. Tapi Mami justru benar-benar melupakan dirimu."


Dipeluknya foto Gibran.


" Kau tau nak, keinginan mu memiliki sepasang adik bayi kembar terpenuhi. Di dalam perut mami ada dua adik kembar mu." Ucap Ayuna.


Lalu Ayuna teringat akan catatan milik Gibran yang diberikan oleh Mama Bayu yang selalu dia bawa di dalam tasnya.


Diambil nya catatan itu, dan mulai membuka nya.


Catatan Pertama.


...Hari ini aku bahagia sekaligus sedih. Aku bahagia karena akhirnya aku memiliki seorang ayah. Dia adalah ayah Lukman. Tapi, aku juga sedih karena sebelum itu aku melihat ibu menangis karen diperolok warga....


...Ibu, seandainya aku bisa, aku akan mencabut mulut orang yang telah dengan kejam memaki dan mengata-ngatai dirimu....


...ibu...


...aku berharap suatu saat kita berdua akan menemukan kebahagiaan dan tidak akan ada lagi orang yang merendahkan atau memperolok dirimu....


Ayuna memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian dulu. Di seka nya air mata yang menetes.


Dibuka beberapa lembar setelah nya.


...Hari ini adalah hari paling menyedihkan bagiku dan juga Mami. Dimana, hari ini genap satu bulan aku menjalani perawatan kanker. Aku tidak lagi melihat senyuman mami sejak aku masuk rumah sakit ini. aku lebih sering melihat Mami menangis saat aku dan papi tak tidur....


...Mami...


...maafkan Gibran jika karena penyakit Gibran ini Mami selalu saja menangis....


...Mami...


...percayalah Gibran ingin Mami selalu tersenyum....


Lembar berikut nya..


...Mami...


...Gibran sangat bahagia karena zebra memiliki seorang teman baru bernama Bayu....


...Dan ternyata Bayu menderita kelainan jantung sejak kecil. Dan dia membutuhkan donor jantung untuk bisa hidup dengan normal seperti anak pada umumnya....


...Mami Gibran ingin sekali menolong Bayu....


...seandainya Gibran memiliki dua jantung, maka Gibran akan memberikannya satu untuk Bayu....


Ayuna meloncati beberapa lembar catatan milik Gibran.


Dan berhenti pada tanggal dimana saat itu adalah beberapa hari sebelum Ayuna menemukan bercak darah di sprei Gibran.


...Mami Gibran merasa pusing. Akhir akhir ini hidung Gibran juga sering mengeluarkan darah. Tapi Gibran tidak ingin memberi tahu Mami, karena mami pasti akan sedih. Dan Gibran tidak ingin melihat Mami bersedih karena Gibran lagi....


...Maafkan gibran mami, Gibran tidak bermaksud untuk membohongi mami. tapi Gibran hanya ingin melihat Mami tersenyum selalu....


Ayuna membuka beberapa lembar setelah nya..


...Hari ini adalah hari pernikahan Mami dan Papi. Aku sangat bahagia mendapat imam yg telah menemukan seseorang yang mampu membuatnya selalu tersenyum....

__ADS_1


...Terima kasih papi karena sudah hadir di dalam hidupmu....


...Tidak ada kata yang bisa ku katakan lagi selain kata terima kasih.....


...Mami,...


... kau adalah segalanya untuk Gibran...


...Tidak ada ibu di dunia ini yang sebaik dirimu....


...Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku mami....


...Mami kau adalah segalanya bagi ku...


...kau selalu ada untuk membahagiakanku....


...memberiku kasih sayang dan perhatian yang melimpah....


...aku sangat menyayangimu mami...


...semoga aku selalu bisa melihatmu tersenyum....


Lembar demi lembar, Ayuna membacanya dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir.


...Mami....


...jika suatu saat Gibran harus pergi karena sakit yang diderita Gibran tidak sembuh. Gibran ingin Mami selalu mengingat bahwa Gibran sangat mencintai Mami dan Gibran menginginkan Mami untuk terus tersenyum. Walaupun Gibran tidak lagi ada di samping mami....


...Mami...


...Gibran indah sekali memberikan jantung Gibran kepada Bayu. Apakah Mami akan mengizinkan Gibran melakukannya?...


Ayuna menutup catatan milik Gibran. Dia sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan membaca catatan itu.


Bagas yang baru saja selesai mengemas beberapa barang miliknya, langsung meletakkan barang itu di atas meja begitu mendengar suara Ayuna yang sedang menangis.


Ceklek.


" Ayuna..."


Bagas segera berjalan dan menghampiri Ayuna.


" Ayuna apa yang terjadi, kenapa kau menangis?"


Bagas mengangkat dagu ayunan yang tertutup sehingga kini mata mereka saling berhadapan.


" Ini alasannya kenapa aku nggak akan membawamu kemari. Aku tidak ingin lagi melihat air mata keluar dari matamu." Ucap Bagas sambil mengusap airmata Ayuna.


" Hiks..."


Ayuna langsung memeluk Bagas.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku, aku hanya sedih karena mengingat tentang Gibran setelah membaca catatan ini."


Ayuna menunjukkan catatan milik Gibran, Bagas mengambilnya dan membaca beberapa lembar.


" Kau tahu apa pesan dibalik catatan Gibran?" Tanya Bagas.


Ayuna menggeleng.


" Gibran ingin kau selalu tersenyum walaupun dia sudah tidak lagi ada di sampingmu. Gibran ingin kau selalu bahagia walau kalian sudah tidak lagi bersama."

__ADS_1


Ayuna menatap Bagas, dan membenarkan kata-kata Bagas. Lalu pandangannya beralih ke foto Gibran yang ada di sampingnya.


" Dengar, jika kau terus saja bersedih apakah kau yakin jika Gibran akan bahagia? tidak. Gibran justru akan semakin merasa sedih melihatmu terus terpuruk."


" Aku...aku..."


" Sayang dengar, aku memang tidak tahu pasti rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup kita. Tapi aku sakit jika melihatmu terus seperti ini. Aku begitu terluka, aku merasa gagal sebagai seorang suami karena aku tidak dapat membuatmu bahagia. Aku merasa gagal karena aku tidak bisa menutup lukamu atau sekedar menghibur dukamu."


" Bagas..."


" Tidak, dengarkan aku. Mungkin ini terdengar egois. Tapi Aku tidak pernah meminta apapun darimu, aku hanya minta kau memikirkan dirimu sendiri juga bayi dalam kandungan mu."


" Beri aku waktu Bagas. Beri aku waktu untuk menerima kenyataan bahwa Gibran tidak ada disini lagi."


" Aku selalu memberimu waktu Ayuna, tapi dirimu yang seakan tidak mau keluar dari keterpurukan ini."


Ayuna terdiam, yang dikatakan Bagas ada benarnya. Dia terlalu hanyut dalam kesedihan.


" Aku..."


" Tidak apa. Kau tidak perlu mengatakan apapun sekarang, aku masih memberimu waktu untuk menerima kenyataan. Dan sampai akhirnya kau sendiri yang akan keluar dari lubang kesedihan ini."


Ayuna memeluk Bagas.


" Maafkan aku karena aku masih belum bisa keluar dari kesedihan ini."


Bagas memeluk erat Ayuna. Dia merasa luka yang ada di dalam hati Ayuna terlalu besar, sehingga Bagas tidak mampu untuk menutupi luka itu.


Setelah cukup lama mereka saling berpelukan, Bagas melepas pelukannya dan memandang Ayuna.


" Kau mau kita tinggal di sini selama beberapa hari?" Tanya Bagas.


" Boleh kah? tapi bukankah kau mengatakan jika apartemen ini sudah laku terjual?"


" Aku yakin pemiliknya tidak akan marah sikap kita tinggal beberapa malas saja."


Ayuna tersenyum dan mengangguk.


" Kalau begitu ayo sebaiknya kita makan sesuatu lalu tidur dikamar ini. Kau ingin makan apa?"


" Apa saja."


" Baiklah tunggu di sini aku akan membeli makanan untuk kita."


Ayuna mengangguk dan menatap kepergian Bagas.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...

__ADS_1


...hadiah...


__ADS_2