
" Apa ini?" Tanya Bagas sambil mengerutkan dahinya, karena Ayuna memberikan sebuah majalah pria kepada nya.
" Buka saja, maka kau akan tahu."
" Aku tahu, jika ini adalah majalah pria. Tapi, yang aku tidak tahu apa hubungannya dengan Tara?, bukankah tadi kita sudah membahas tentang Tara. Lalu Kenapa kau memberiku sebuah majalah pria."
" Sudah buka saja."
Bagas mengalah, lalu mulai membuka lembar pertama dari majalah pria tersebut, dan betapa terkejutnya dia saat melihat yang ada di lembar pertama majalah pria itu adalah Tara.
Bagas menatap Ayuna, Ayuna mengkode agar Bagas meneruskan untuk melihat semua isi dari majalah itu.
Lembar demi lembar, mata Bagas tidak henti-hentinya menatap Tara yang ada di dalam majalah pria itu.
" Tidak mungkin." Ucapnya.
" Kau mau mengelak Seperti apa lagi tapi buktinya sudah ada di tanganmu kan?"
" Tapi kenapa?, bukankah selama ini fasilitas yang diterima oleh para sudah cukup mewah. Paman dan Bibi bahkan tidak pernah membatasi aktivitas Tara, dan juga seluruh kemauan Tara juga dituruti."
" Untuk itu Aku tidak tahu, Kenapa kau tidak menanyakan sendiri kepada Tara jika ada kesempatan."
" Hmm, ide mu bagus juga. Tapi aku rasa Tara bukanlah orang yang mudah untuk menceritakan sesuatu, terutama tentang kehidupan pribadinya."
" Jika kau tidak mencobanya, maka kau tidak akan tahu."
" Iya kau benar."
Ting
Tong
" Siapa yang bertamu malam-malam begini." Ucap Ayuna saat melihat kearah jam yang menunjukkan sudah pukul 11.
" Siapa pun itu, pastilah karena urusan yang penting." Ucap Bagas.
" Kau disini saja, biarkan aku yang melihatnya."
" Baiklah, aku akan memberi ASI kepada kembar karena ini sudah waktunya berharga untuk minum lagi."
" Baiklah, jangan lupa sisakan untukku sedikit." Goda Bagas.
Ayuna langsung memasang muka cemberut, Bagas tertawa lalu mencium sekilas bibir Ayuna sebelum akhirnya keluar dari kamar untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
Ting
Tong
" Sebentar.." Teriak Bagas.
Ceklek..
Bagas membuka pintu dan dia sedikit terkejut saat mendapati ternyata Yudi yang datang ke rumahnya.
" Yudi?"
" Bagas, maaf karena mengganggu'' malam-malam begini."
" Tidak apa apa, masuklah aku yakin ada sesuatu yang penting sehingga kau datang ke rumahku semalam ini."
" Apa Aku sungguh tidak mengganggumu?,"
" Tidak, masuklah jangan sungkan." Ucap Bagas yang langsung menyuruh Yudi untuk masuk.
" Baguslah, tadinya aku takut mengganggumu yang sedang melakukan pagelaran budaya."
" Pffft, pagelaran budaya ada-ada saja kamu ini. Kau mau minum apa?" Ucap Bagas.
" Ah tidak usah repot-repot langsung saja ke intinya."
" Oke, jadi katakan apa yang membuatmu datang kesini. Aku merasa seperti sesuatu yang sangat mendesak dan begitu penting."
" Ya, ini tentang Tara."
" Ya Tuhan, Kenapa lagi dengan dia. Aku dan Ayuna baru saja membicarakan tentang dia." Ucap Bagas.
" Benarkah?"
" Ya, bahkan kami sedang membicarakannya saat kamu menekan bel pintu rumahku."
" Ya, saat aku membawanya pulang dan meletakkannya di atas kasur. Tara sempat mengigau memanggil namamu."
" Kau janda."
" Bercanda besti."
" Ohya, kau bercanda ya." Ucap Bagas.
" Tidak, Aku serius. Bahkan cara mengatakan ingin sekali merasakan nikmat pagelaran budaya bersamamu walau cara tidak bisa memiliki ragamu seutuhnya. Tara sudah menghijau Kenapa bukan dirinya yang berada di posisi Ayuna."
Bagas menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
" Ternyata benar apa yang dikatakan oleh istriku."
" Tentang apa?" Tanya Yudi.
" Tentang Tara yang menyukaiku."
" Tapi bukankah itu hal yang mustahil, kalian kan adalah saudara sepupu."
" Ya, kami memang saudara sepupu di mata orang lain tidak tahu kebenarannya."
" Apa maksudmu?" Tanya Yudi.
" Tara bukalah anak kandung dari paman dan bibi, mereka mengadopsinya saat Tara berusia 1 tahun."
" Oh Tuhan.." Kini giliran Yudi yang menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
" Dan apa kau tahu, Tara berada dalam pengaruh obat perangsang dengan dosis tinggi." Ucap Yudi setelah beberapa saat.
" Ohya? bagaimana kau tahu?" Ucap Bagas yang pura-pura terkejut, padahal Bagas sudah tahu perihal obat perangsang yang seharusnya diberikan padanya tapi malah diminum sendiri oleh Tara.
" Apa kau lupa jika aku seorang dokter?" Ucap Yudi.
__ADS_1
" Ah ya, aku lupa. Jadi apa tujuan mu ke sini hanya karena ingin memastikan bahwa tidak ada hubungan antara aku dan juga Tara?"
" Bukan begitu, kau tahu kan dari dulu aku tidak pernah memaksakan seseorang untuk mencintaiku. Aku memang mencintai dan berharap Tara menjadi istriku. Tapi Jika ternyata dia tidak mencintaiku maka aku akan melepasmu, Aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak akan hidup bahagia bersamaku."
" Dengar, aku diantara tidak ada hubungan spesial. Aku bahkan baru mengetahui jika Tara menyukaiku dari Ayuna. Ternyata selama ini Ayuna bekerjasama dengan adikku, Mesya. Untuk mencari tahu apa-apa saja yang dilakukan oleh Tara, dan menggagalkan semua rencananya. Termasuk niatnya yang akan memasukkan obat perangsang ke dalam minuman ku." Ucap Bagas.
" Jadi kalau sudah tahu perihal obat itu?, tapi kenapa tadi foto terlihat terkejut saat aku mengatakan jika cara meminum obat perangsang dengan dosis tinggi?"
" Ya, aku sedikit terkejut karena tidak menyangka jika minuman yang seharusnya diminum oleh ku ternyata diminum oleh Tara sendiri."
" Huft, aku bingung Bagas. Aku harus bagaimana?, kini aku tahu bahwa dalam hati Tara bukanlah diriku tapi dirimu."
" Ayolah bung, kau tahu diriku. Aku tidak akan pernah memainkan hati seorang wanita jika aku telah benar-benar mencintainya. Dan apa kau pikir aku juga mencintai Tara?, aku akui aku memang menyayanginya bahkan juga mencintainya. Tapi rasa cinta dan sayangku hanya sebatas sebagai kakak beradik. Sama seperti aku mencintai dan menyayangi Mesya dan juga kedua di kembarku." Ucap Bagas.
" Lalu apa yang yang bisa kulakukan?"
Tap
Tap
Tap
Belum selesai Bagas memberikan pendapatnya, Ayuna datang dengan membawa 3 gelas berisi minuman hangat.
" Ah maaf aku jadi merepotkan mau malam-malam begini." Ucap Yudi saat Ayuna meletakkan gelas di hadapannya.
" Tidak masalah, bukankah kau tamu di rumahku?, jadi aku wajib menjamu tamu. Sangat tidak sopan jika tuan rumah tidak menawarkan minuman." Kekeh Ayuna lalu duduk disebelah Bagas.
" Minumlah dulu, agar pikiranmu menjadi lebih tenang." Ucap Bagas.
" Baiklah."
Yudi lalu menyeruput minuman yang ada di hadapannya.
Bagas mendekat ke arah Ayuna dan berbisik,
" Haruskah aku memberitahu Yudi tentang apa yang baru saja kau perlihatkan kepadaku?" Ucap Bagas.
" Apa Yudi datang kemari karena menceritakan Tara?" Tanya Ayuna.
Bagas mengangguk, Ayuna menepuk dahinya.
" Hmm, sepertinya Yudi memang harus tahu kebenarannya. Dia berhak tahu sebelum melangkah bersama Tara. Agar Yudi tidak merasa dibohongi Tara karena telah menyembunyikan sesuatu yang mungkin cukup besar." Ucap Ayuna.
" Ya kau benar."
" Kalau begitu, aku akan mengambil majalah itu dan segera kembali ke sini." Ucap Ayuna yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan kembali naik ke atas.
" Lo, mau kemana dia?" Tanya Yudi.
" Tunggu saja, ku akan tahu beberapa saat lagi."
" Hmm."
Beberapa saat kemudian Ayuna kembali turun dengan membawa majalah. Dan meletakkan perlahan majalah itu di depan Yudi.
" Apa ini?, apa kau mau mengetahui pikiranku Dia memberikan majalah pria ini?. Pikiran ku masih suci gaes. Jangan membuatku iri kepada kalian." Ucap Yudi.
Dengan ragu ragu, Yudi mengambil majalah itu dan mulai membuka nya.
Bagas dan Ayuna saling berpandangan saat melihat perubahan wajah Yudi setelah dia membuka dan melihat isi dari majalah tersebut.
" Ya..., Aku tahu kamu mungkin terkejut, mungkin sama terkejutnya seperti saat aku pertama kali melihat isi dari majalah itu." Ucap Bagas.
" Darimana kalian mendapat majalah ini?" Ucap Yudi sambil terus membuka lembar demi lembar majalah itu.
" Bukan aku, tapi Ayuna yang mendapatkan nya." Ucap Bagas.
Yudi menatap Ayuna.
" Kenapa kau menatapku begitu?, kau ingin aku mencongkelnya, apa kau sudah bosan melihat dunia?" Ucap Ayuna.
Sontak saja hal itu membuat Yudi menutupi kedua matanya dengan majalah yang berada di tangannya.
" Sejak kapan kau menjadi sangat sadis?" Tanya Yudi
" Sejak tadi. Tepatnya beberapa detik yang lalu."
" Hmm, aku menatapmu bukan dengan maksud apa-apa, tapi aku hanya terkejut dan tidak habis pikir bagaimana bisa kau mendapatkan majalah ini."
" Bukan aku sih, Mesya yang mendapatkan nya setelah dia mengirim seseorang untuk mengawasi dan mengikuti Tara."
" Ya Tuhan, aku pikir Tara adalah gadis yang baik."
" Jangan terlalu cepat menyimpulkan, bukankah kita tidak tahu alasan Tara Kenapa dia melakukan itu?" Ucap Ayuna
" Tapi bukankah kamu sudah tahu berbagai pose yang dilakukan di dalam majalah itu, Bahkan ada beberapa pose yang sangat jelas memperlihatkan bagian intim dari dirinya, dan aku yakin saat proses pengambilan gambar Tara hanya memakai selendang tipis. Dia sama saja seperti gadis yang menjelma menjadi kupu-kupu malam, saat malam hari dan menjadi kepompong saat siang hari."
" Jangan terlalu cepat menyimpulkan sebelum kita mendengar alasan langsung dari Tara."
" Yang dikatakan Ayuna benar, kita jangan menyimpulkan dari pihak kita sendiri. Kita juga harus mendengarkan dari sisi Tara. Apa yang membuat dirinya melakukan pekerjaan hal itu."
" Iya kau benar." Ucap Yudi
" Jadi apa sekarang semuanya sudah jelas?, kau tidak lagi menuduhku bermain terong dengan calon istrimu kan?"
" Serong." Ucap Ayuna.
" Iya serong. Ah maaf sepertinya aku kurang minum karena itu aku terus aja salah ngomong" Ucap Bagas yang langsung menyeruput minuman dan menghabiskan setengah dari gelas itu.
Ayuna hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Bagas. Sedangkan Yudi hanya menatap Bagas, karena pikirannya sudah tertuju pada Tara.
" Yudi, apa kau baik-baik saja?" Tanya Ayuna.
" Ah maaf. Seperti nya pikiranku sedang sangat kacau. Pertama aku mendengar bahwa Tara mengigau tentang dirimu. Lalu aku mengetahui 2 kenyataan bahwa ternyata Tara menyukaimu dan juga Tara sebagai model majalah pria dewasa. Ini benda-benda di luar pemikiranku."
" Sudah lah, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kau bicara ini dengan Tara nanti."
" Yang katakan Bagas benar. Kita tidak boleh langsung mengambil kesimpulan sebelum kita mendengar dari sisi Tara."
" Iya, terima kasih atas nasehat dan masukan. Aku akan berbicara dengan Tara begitu aku memiliki kesempatan. Dan ya, sepertinya hari sudah semakin malam kalau begitu aku pamit dulu."
" Baiklah, hati-hati di jalan ya jangan lupa tenangkan pikiranmu. Kami tidak ingin karena masalah ini kau jadi tidak fokus menyetir." Ucap Bagas.
__ADS_1
" Tentu, sekali lagi terima kasih."
" Jangan terima kasih kepadaku karena aku tidak melakukan apapun untuk mu, aku hanya memberitahu kebenaran yang aku tahu."
Yudi menepuk bahu Bagas sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil.
Tin
Tin
Yudi menekan klakson mobil nya sebelum akhirnya mobilnya benar benar meninggalkan halaman rumah Bagas.
Bagas melambaikan tangan ke arah mobil Yudi, sebelum akhirnya memilih untuk masuk ke dalam.
Dengan sigap Bagas membantu Ayuna yang hendak membawa gelas itu ke dapur.
" Biar aku saja." Ucap Bagas.
" Tidak, biarkan aku saja." Cegah Ayuna.
" Sayang, aku tahu kau pasti Lelah, jadi biarkan aku yang melakukannya. Sekarang lebih baik boneka atas dan bergegas tidur. Aku akan membawakan segelas susu hangat untukmu."
" Tidak perlu, aku sudah cukup minum susu tadi."
" Baiklah, kalau begitu segera naiklah ke atas dan beristirahat."
" Kau yakin akan melakukan ini?"
" Ya, lagipula ini hanya beberapa gelas saja."
" Hmm, baiklah kalau begitu aku akan lebih dulu istirahat."
Bagas mengangguk dan tersenyum. Lalu melihat Ayuna yang mulai menaiki anak tangga, setelah memastikan bahwa Ayuna benar-benar masuk ke dalam kamar. Bagas kemudian membawa gelas itu ke dapur dan mulai mencuci nya.
Setelah nya dia masuk ke dalam kamar dan mendapati bahwa Ayuna sudah tertidur.
Cup
Bagas mencium kening Ayuna, sebelum akhirnya memilih tidur di sebelah Ayuna.
...----------------...
Keesokan harinya, Tara terbangun. Dia sedikit terkejut karena mendapati dirinya berada di rumah, tepatnya berada di dalam kamar.
" Bagaimana aku bisa ada di sini?" Tara melihat pakaiannya.
" Masih lengkap?, sepertinya tidak terjadi apa-apa padaku. Tapi kenapa aku merasa seperti pernah berdekatan dengan seseorang." Lirih Tara.
Dengan langkah gontai, Tara keluar kamar dia mencoba mencari orang tuanya.
" Sayang, apakah sudah bangun?" Ucap Mama.
" Mama?"
" Duduklah."
Mama lalu segera menghampiri Tara dan menggandengnya lalu mendudukkan Tara dikursi.
" Minumlah dulu."
Tara menurut kemudian menghabiskan segelas air yang diberikan oleh sang Mama.
" Ma?"
" Ya?"
" Apa yang terjadi padaku semalam?" Tanya Tara.
" Kau tidak ingat?" Tanya Mama, Tara menggeleng lemah. Walaupun sebenarnya dia masih ingat beberapa hal yang terjadi sebelumnya.
" Bagas tidak sengaja menemukan mobilmu di pinggir jalan, dan saat Bagas mendatangimu ternyata kau sudah pingsan. Lalu Yudi menelponmu dan Bagas segera menyuruhmu untuk menjemputmu."
" Jadi, semalam Kak Yudi yang membawaku pulang?"
" Ya, dan orang suruhan Bagas yang membawa mobilmu kembali. Yudi juga yang merawat mu semalam. Dia bilang kau sedang sakit kepala, jadi kau sedikit berteriak." Ucap Mama bahwa Tara pusing karena terlalu banyak minum alkohol.
Hmm, itu artinya semalam aku telah mengoda Kak Yudi, dan sepertinya aku benar-benar meninggalkan semua pakaian ku dihadapan kak Yudi. Aku harus melakukan sesuatu. Batin Tara.
Tara lalu segera beranjak meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.
" Sayang kau mau kemana?" Tanya Mama.
" Aku akan keluar sebentar Ma."
" Tidak tidak. Kau barusaja sadar dari pingsan. Mama tidak akan membiarkan mu kemana mana." Ucap Mama.
" Tapi..."
" Tidak."
Tara akhirnya mengalah, dia memilih untuk kembali duduk di meja makan.
" Memangnya kau kau pergi kemana?" Tanya Mama.
" Menemui kak Yudi."
" Tidak perlu, sebentar lagi Yudi akan datang kemari."
" Benarkah?"
" Ya."
Baiklah kalau begitu, hari ini aku akan mengungkapkan kebenaran kepada Kak Yudi. Tentang perasaan ku, dan juga profesi ku sebagai model majalah pria dewasa. Aku harus setelah memberitahunya, agar Kak Yudi dengan sukarela membatalkan rencana perjodohan ini. Jadi aku dengan bebas akan mendekati Kak Bagas lagi. Karena aku tidak akan berhenti sebelum aku bisa tidur dengannya. Batin Tara.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Tara bandel ya...??
__ADS_1