LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Perasaan Anjas


__ADS_3

Bella duduk di kursi yang berhadapan dengan Anjas.


Bella?. Apakah Bella yang akan dijodohkan denganku?. Batin Anjas.


Anjas. Benarkah dia orangnya?. Sungguh?, Mimpi apa aku semalam jika memang benar Anjas yang akan dijodohkan dengan ku?. Batin Bella.


" Ehem.." Ucap Rini saat melihat Anjas dan Bella saling berpandangan. Mereka yang menyadari itu langsung menunduk, menyembunyikan rasa malunya.


Yuni dan Rini saling berpandangan, melihat tingkah laku dari keduanya.


" Apa kalian sudah saling mengenal?" Tanya Rini.


" Ma, dia adalah Bella yang Anjas maksud. Yang tadi Anjas tanyakan pada mama." Bisik Anjas kepada Rini.


" Ah ternyata Bella yang ini." Ucap Mama.


" Sttt, bisakah Mama mengecilkan suara Mama?". Ucap Anjas.


" Memangnya, jika Mama berbicara lantang kenapa?, Apa kau takut jika Bella tahu bahwa kau jatuh cinta kepada nya?"


Anjas memukul dahinya sendiri, dan melihat kearah Bella yang tersipu malu.


" Hei, Kenapa wajah mu memerah begitu?" Tanya Yuni kepada Bella.


Bella hanya menatap mama nya sambil tersenyum.


" Apa kau juga menyukai Anjas?"


Bukannya menjawab Bella justru semakin tersipu. Anjas yang sadar jika ternyata Bella juga menyukainya, langsung berdiri.


" Anjas kau mau kemana?" Tanya Rini.


Bukannya menjawab, Anjas justru meninggalkan kursi nya, dan berjalan memutar menuju kursi Bella.


" Jadi.., kau juga menyukai ku?" Tanya Anjas. Bella mengangguk.


" Sejak kapan?"


" Ak..ku tidak tahu."


Anjas berlutut didepan Bella, di pegang nya tangan Bella. Membuat semua nya tercengang.


" Heh bocah tua, kamu mau ngapain pakek berlutut begitu?. Kalau BAB jangan disini."


Anjas memejamkan mata dan menghela nafas.


" Mama, bisakah tidak menggangu momen romantis Anjas. Anjas sedang mencoba melamar Bella."


" Oh astaga, kau ingin melamar putri ku, sungguh?, Sekarang? Saat ini juga." Tanya Yuni.


" Ya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang baik. Sebelum orang lain melamar Bella, lebih baik aku yang melamar nya lebih dulu." Ucap Anjas dengan matang.


" Memangnya aku sudah mengijinkan mu untuk melamar Bella?" Tanya Rini.


" Iya, kami kan hanya ingin mempertemukan kalian, bukan merencanakannya acara lamaran kalian." Imbuh Yuni.


Anjas menghela nafas, lalu melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang tangan Bella.


" Kami hanya bercanda. Sudah lanjutkan sana." Ujar Rini dan Yuni secara bersamaan.


Anjas yang tadinya tidak bersemangat, langsung kembali bersemangat. Dia meraih tangan Bella.

__ADS_1


" Bella, dimomen bersejarah bagi kita semua.."


" Heh, ini bukan kampus. Ngomong yang benar. Sejarah sejarah. Memangnya kita lagi kuliah." Ketus Rini


" Iya. Bilangnya momen romantis. Romantis apa nya, malah ngomong soal sejarah. Ntar matematika terus kimia." Imbuh Yuni.


Tanpa bicara lagi, Anjas mengajak Bella untuk pergi.


" Hei hei anakku mau dibawa kemana?" Tanya Yuni.


" Amerika." Ketus Anjas.


" Wah wah, lihatlah putra mu itu. Semangat nya sangat menggebu-gebu. Dia seperti seseorang yang baru jatuh cinta saja." Ucap Yuni sambil menatap kepergian Anjas dan Bella.


" Anjas memang baru jatuh cinta lagi setelah sekian lama. Setelah aku menyingkirkan wanita yang paling dicintainya." Lirih Rini.


" Ah, jangan menyesalinya lagi. Semua sudah berlalu, lihatlah. Harusnya kau bahagia karena Anjas kini menemukan lagi cinta nya."


" Iya kau benar. Dan kali ini, aku tidak akan melarangnya untuk hal apapun lagi. Akan ku biarkan Anjas memilih jalan hidup nya sendiri."


Kedua sahabatnya itu pun tersenyum dan menyematkan doa saat mereka melihat Anjas dan Bella.


Anjas membawa Bella menuju balkon villa.


" Wah, Aku tidak tahu jika pemandangan negara Singapura begitu indah saat malam hari." Ucap Bella yang terpanah akan keindahan negara tersebut.


" Ya Tuhan Bella, kamu berada di negara ini sudah berapa tahun kenapa baru sekarang menyadari jika kota ini sangat indah pada malam hari."


" Hehe, karena malam hari aku selalu tidur melepas penat bekerja."


" Aku bisa membantumu tidak lelah di siang hari, dan bisa membuatmu menikmati keindahan negara ini sepanjang malam." Ucap Anjas.


" Be my wife."


" Ha?" Untuk sesaat Bela ke diam sambil memandang wajah Anjas.


" Jangan bercanda deh, gak lucu."


" Aku tidak sedang bercanda dan aku sedih dengan kata-kataku."


"Bella.."


Anjas memanggil Bella sembari memegang kedua tangannya, lalu Anjas kembali berlutut dihadapan Bella.


Bella sedikit terkejut karena Anjas mengulangi posisinya lagi seperti sebelumnya.


" Bella aku mungkin bukan pria romantis, aku juga mesin tidak pandai merangkai kata-kata untuk memikat hatimu. Tapi dengarkan apa yang aku katakan kepadamu."


Dengan jantung berdebar kencang, Bella menunggu apa yang akan Anjas katakan.


" Bella, mungkin ini terdengar lucu. Tapi, aku sepertinya jatuh cinta padamu di malam Aku menemukan dirimu tergeletak di pinggir jalan. Dan aku tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkanmu, kau benar-benar membuat hari-hariku berantakan. Dan apa kau tahu betapa senangnya diriku saat melihatmu melamar pekerjaan sebagai sekretaris di kantor ku. Bella, maukah kau menikah denganku?"


" Ak...aku..."


Anjas menunggu jawaban Bella dengan hati berdebar-debar.


Jangan menolak ku, jangan menolak ku. Batin Anjas.


" Ciie ciie.., ada yang lagi melamar kekasih nih.." Ledek Danu.


Bella yang terkejut refleks menarik tangannya yang sedari tadi dipegang oleh Anjas.

__ADS_1


Ya Tuhan, tadi Mama dan geng yang menganggu, sekarang curut yang menggangguku. Batin Anjas.


Anjas berdiri dan langsung berubah menjadi monster di mata Danu.


" O'o... Aa... Bella sepertinya aku harus pergi, hati-hati dengan makhluk yang ada di hadapanmu bye bye sampai ketemu di kantor besok dah...." Ucap Danu sambil lari terbirit-birit.


" Hei, awas aja kalau besok akan mati di tanganku."


" Bla bla bla..." Ucap Danu yang masih saja menggoda Anjas dari kejauhan.


Bella tertawa melihat tingkah laku dari ayah dan juga Danu, dengan perlahan Bella jalan mundur menjauhi Anjas.


Anjas terkejut karena saat ia berbalik Bela berjalan mundur menjauhinya.


" Bella kau mau ke mana?" Tanya Bella.


Bukannya menjawab Bella justru semakin berlari menjauhi Anjas.


" Hai Bella kau belum menjawab pertanyaanku." Teriak Anjas.


" Aku akan menjawabnya nanti di malam ulang tahunku." Teriak Bella yang terus berlari menjauh.


" Kapankah ulang tahun?"


" Kenapa kau tidak mencari taunya sendiri oke bye..." Ucap Bella sambil melambaikan tangan kearah Anjas.


Sementara itu, dua insan yang baru saja lari dari kerumunan para tamu undangan. Memilih untuk menikmati malam perayaan natal di atas balkon rumah Bagas.


" Bagas, walau aku terluka karena ini adalah Natal pertama ku tanpa Gibran, tapi aku bahagia karena aku memilikimu."


" Ah sayang, aku yang bahagiakan aku memilikimu." Ucap Bagas.


" I love You." Bisik Ayuna.


" I love you more."


Lalu dua insan itu saling mendekatkan bibir mereka, dan melakukan yang biasa dilakukan oleh kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara. Bersama dengan meriahnya kembang api yang dilepaskan, mereka semakin hikmat menikmati ciuman yang terasa jauh lebih nikmat dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya.


" Ups bocil dilarang kesini." Ucap Mesya pada Nasya, saat mereka akan melihat kembang api dari atas balkon rumah mereka.


" Ha?, memangnya ada apa di atas sana? sehingga kita tidak boleh ke sana."


" Sudah ayo, lebih baik kita melihat kembang api dari balkon rumah yang lain."


" Tapi, balkon utama yang menampilkan seluruh kembang api."


" Sudah ayo."


" Tapi..."


" Ayo.."


Dengan terpaksa Nasya mengikuti Mesya, walau sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di balkon utama.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2