
Bagas yang baru saja selesai meeting dikagetkan dengan salah satu pegawainya yang mengatakan jika Tara sedang menunggu di ruangan nya.
" Tara?, ada keperluan apa dia datang kemari?" Lirih Bagas.
Kemudian Bagas segera berjalan kembali menuju ruangannya.
Sementara itu, Tara mulai berkeliling di ruangan Bagas.
" Ruangan apa ini?, apa ini adalah ruangan pribadi Kak Bagas?" Ucap Tara, saat dia mencoba melihat apa yang ada dibalik kaca berwarna hitam.
Tara lalu tertarik melihat deretan foto yang ada di di meja Bagas. Semuanya adalah foto Ayuna dan Gibran.
" Kak Bagas, seandainya Kak Bagas tahu bahwa aku mencintai kak Bagas. Mungkin yang ada bersama kak Bagas dalam foto ini adalah diriku." Ucap Tara dengan mata berkaca-kaca.
" Tapi tidak apa apa, aku masih punya kesempatan kedua. Aku akan membuat Kak Bagas tau bahwa aku mencintai Kak Bagas, dan aku ingin kak Bagas membalas nya. Walaupun kita tidak bisa bersama, tapi setidaknya kita bisa menjalani hubungan dekat yang lebih dalam sekedar hubungan sepupu." Imbuh Tara.
Tap
Tap
Tap
Tara mendengar suara langkah kaki, jadi dia langsung duduk, dan memastikan bahwa dia sudah memasang wajah paling sedih.
Ceklek..
" Tara?"
Tara menoleh dan tersenyum.
" Hai Kak Bagas."
Bagas lalu berjalan dan duduk di kursi kebesarannya.
" Tumben kamu datang ke kantor kak Bagas. Apa ada sesuatu yang penting."
" Emm, sebenarnya aku datang kemari untuk meminta bantuan kepada kak Bagas."
" Bantuan apa?"
" Jadi, beberapa hari yang lalu, aku sudah diberhentikan menjadi model majalah. Karena aku menoleh sesi foto dengan tema bathroom. Dan tidak usah dijelaskan, Kak Bagas pasti sudah tahu bagaimana jika seseorang berada di kamar mandi."
" Tara, aku tidak suka berbelit belit. Katakan saja, bantuan apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Bagas intens.
" Carikan aku pekerjaan." Ucap Tara.
" Pekerjaan seperti apa yang kau inginkan?"
" Aku ingin bekerja di kantor Kak Bagas."
" Hmm, tapi kantor ku tidak memerlukan seorang model. Apa lagi mantan model majalah pria." Ucap Bagas sambil menyeruput minuman yang ada di mejanya.
" Aku mohon Kak Bagas. Terima aku untuk bekerja di kantor mu, bagian apa saja aku mau, asal aku bisa selalu dekat dengan kak Bagas. Ah, maksud ku agar aku tetap bisa menghasilkan uang."
Bagas sedikit menyipitkan matanya. Tara berusaha untuk tetap tenang. Dia membalas tatapan Bagas dengan senyuman manis, dan mata berbinar-binar.
" Aku mohon, boleh ya?"
" Akan aku pikirkan nanti, sebaiknya kau pulang lah. Aku akan menghubungi mu nanti setelah aku tahu posisi apa yang sedang kosong atau yang sedang dibutuhkan di sini."
" Terima kasih Kak Bagas. Aku akan menunggu kabar dari kak Bagas. Dan aku harap itu akan menjadi kabar gembira."
Setelah berjabat tangan dengan Bagas, Tara kemudian keluar dari ruang jangan tersenyum.
Sementara Bagas, langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ayuna.
" Hai sayang.." Ucap Bagas sesaat setelah Ayuna mengangkat panggilan video darinya.
" Hai, ada apa tumben kamu menelepon saat masih ada di kantor?" Tanya Ayuna.
" Aku merindukanmu.," Ucap Bagas.
" Ciie ciie..., baru berpisah beberapa jam aja udah rindu, gimana kalau berpisah selama seminggu." Ledek Sisil.
" Maksud ku, Aku merindukan Lia dan Lio." Ucap Bagas saat dia mendengar suara Sisil.
" Kangen Lia dan Lio, atau kangen Maminya Lia dan lio nih?" Sisil kembali menggoda Bagas.
" Ya kangen dua dua nya sih." Ucap Bagas.
" Ya udah sih cepat pulang." Kata Sisil lagi, sedangkan Ayuna hanya tersenyum.
__ADS_1
" Tentu, aku akan pulang sebentar lagi. Setelah menyelesaikan meeting terakhir."
" Ya sudah, semangat meetingnya ya dan jangan lupa bawakan pesanan ku." Ucap Ayuna.
" Tentu, bye sayang."
" Bye."
Tut
Bagas menghela nafas panjang setelah dia mematikan panggilan nya.
" Mengejutkan sekali, ternyata ada Sisil di dekat Ayuna. Huft, aku pikir sudah pulang, karena ada Sisil aku jadi tidak bisa menggoda istriku."
Tok
Tok
Tok
Ceklek.
" Pak, anda sudah ditunggu di ruang meeting."
" Oh oke."
Bagas memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Dan segera berjalan meninggalkan ruangan, karena Bagas masih harus menyelesaikan satu meeting penting lagi.
Setelah selesai meeting. Bagas segera meninggalkan kantor, jalan menuju sebuah restoran untuk membeli pesanan dari istrinya.
" Apa aku membelikan juga untuk Sisil ya?" Ucap Bagas.
Setelah cukup lama berpikir akhirnya Bagas memutuskan membelikan juga makanan untuk Sisil.
Mobil Bagas memasuki halaman rumah, namun dia tidak melihat mobil Andi.
" Apa Sisil sudah pulang?" Gumam Bagas.
Bagas lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kantong yang berisi makanan.
Ceklek..
" Sayang, aku pulang.." Teriak Bagas.
" Sayangku, yuhu.."
Bagas berteriak lagi, sedangkan di atas kamar Ayuna yang baru saja menimbulkan dia menjadi kesal karena Bagas berteriak-teriak.
" Sayang..." Teriak Bagas lagi, sambil menaikkan tangga.
" Sa..."
Bagas tidak lagi berteriak saat dia melihat Ayuna keluar dari kamar dengan meletakkan jari di mulut.
" Sttt, Bagas kenapa kamu berteriak sih?, apa kamu lupa jika kita memiliki dua bayi?" Ketus Ayuna.
" Maafkan aku sayang, aku hanya sangat bersemangat saat masuk ke dalam rumah." Ucap Bagas yang langsung memeluk Ayuna.
" Aku merindukanmu." Bisik Bagas.
Ayuna yang tadinya kesal karena Bagas berteriak-teriak, kini rasa kesalnya telah hilang karena pelukan dan kata kata manis Bagas.
" Kau ini, seperti kita sudah berpisah selama beberapa hari saja." Ucap Ayuna.
" Jangankan untuk berpisah selama beberapa hari. Berpisah dengan mu dan juga anak anak selama beberapa jam saja, sudah membuat ku tidak sanggup." Ucap Bagas yang masih dalam posisi memeluk Ayuna.
" Iya iya, aku tahu. Jadi, apakah membawakan pesananku?" Tanya Ayuna.
" Tentu, aku juga membawakan makanan untuk Sisil, tapi di mana dia aku tidak melihatnya bahkan mobilnya sudah ada di halaman rumah kita." Ucap Bagas saat dia melepas pelukannya.
" Sisil sudah pulang, Andi yang menjemputnya katanya orang tua Andi datang berkunjung hari ini. Jadi mereka pergi untuk menyiapkan sambutan bagi orang tua Andi."
" Ah jadi begitu. Lalu, siapa yang akan menghabiskan makanan untuk Sisil."
Ting
Tong
" Ada tamu?" Ucap Bagas.
" Biar aku melihatnya. Kau pergi ganti baju. " Ucap Ayuna.
__ADS_1
Cup
Bagas mencium Ayuna sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Ceklek
Ayuna membuka pintu.
" Tara?"
" Hai kak, aku kebetulan lewat sini jadi aku memutuskan untuk mampir. Apa aku boleh masuk?"
" Tentu silahkan masuk."
" Wow, rumah ini terlihat lebih besar dari dalam. Apa Kak Bagas yang membeli nya?" Ucap Tara.
" Tentu saja, Bagas memberikan ini sebagai hadiah untukku." Ucap Ayuna.
Tara menatap sekeliling. Dari luat bangunannya terlihat sederhana tapi saat memasuki rumah, nuansa modern menambah kesan mewah dari rumah itu.
Wow, bukankah akan sangat keren jika Ka'bah juga memberikan satu yang seperti ini untukku. Batin Tara.
Hmm, serangga apakah sudah punya rencana sesuatu terhadap Bagas?, mari kita lihat apa rencana yang telah kau siapkan. Batin Ayuna.
" Sayang siapa yang datang?" Tanya Bagas yang berjalan menuruni tangga sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
Oh astaga, Kak Bagas terlihat begitu keren saat dia memakai baju santai. Batin Tara.
Ayuna terus saja melihat gerak-gerik Tara, juga memperhatikan perubahan wajah Tara saat dia melihat Bagas.
Jadi benar dugaanku, jika kau menyukai Bagas. Hmm, tapi maaf ya serangga. Aku tidak akan membiarkanmu masuk kedalam rumah tangga ku melalui cela manapun. Batin Ayuna.
" Tara, kau disini?"
Tara yang sedari tadi mengangumi pesona Bagas, menjadi terkejut saat Bagas menyapa nya.
" Ah iya, kebetulan aku mempunyai teman di daerah sini. Jadi aku pikir untuk mampir ke rumah kak Bagas."
" Darimana kamu tau jika rumah kami disini?" Tanya Ayuna.
" Iya, bukankah hanya Mama dan Papa yang tahu rumah ini. Aku juga tidak ingin pernah membicarakan tentang rumah ini kepada keluarga yang lain." Ucap Bagas.
" Kecuali, kalau Tara memang sengaja mengikuti mu." Ucap Ayuna sambil menatap Bagas.
" Hmm, bisa jadi." Ucap Bagas sambil berjalan dan duduk di kursi ruang tamu, diikuti Ayuna dan Tara.
" Ah tidak, aku memang sering berada di kawasan ini. Karena rumah temanku 3 blok dari sini."
" Jadi?" Ucap Ayuna.
" Yaa...Aku sering melihat mobil Kak Bagas keluar masuk kawasan ini. Jadi, aku mengikuti nya. Dan ternyata rumah kak Bagas disini."
" Nah bener kan kata aku, kalau Tara mengikuti mu sayang." Ucap Ayuna.
Ah dasar nenek lampir, kau mengacaukan rencana ku saja. Batin Tara sambil menatap Ayuna.
Kenapa?, apa kau merasa gugup karena ternyata kamu ketahuan mengikuti Bagas. Batin Ayuna. Saat melihat perubahan ekspresi wajah Tara.
" Hehe, maafkan aku Kak Bagas. Tidak apa apa kan?. Sekalian aku ingin bertemu dengan keponakan ku." Ucap Tara dengan wajah berbinar-binar.
" Mereka sedang tidur." Ketus Ayuna.
" Aku bisa menunggu nya sampai bangun." Ucap Tara.
Ya Tuhan ini bocah, udah pandai menjilat. Pandai berkata-kata juga rupanya. Aku harus berhati-hati, jangan sampai aku kecolongan oleh si serangga ini. Batin Ayuna.
" Ya sudah, sebaring menunggu kembar terbangun bagaimana kalau kita makan makanan yang baru saja aku beli. Jadi makanan yang tadinya kan ku berikan kepada sisir bisa dimakan oleh Tara." Usul Bagas.
" Wah kebetulan sekali Kak Bagas aku juga belum sempat makan siang karena tadi langsung ke sini." Ucap Tara.
" Ya bagus lah, jadi kita tidak perlu membuang-buang makanan karena sudah ada tempat yang mau menampungnya." Ucap Ayuna.
Dasar, nenek lampir ini mengira aku adalah tempat buangan untuk makanan. Tapi aku harus sabar, demi terwujudnya sebuah impian. Dimana aku dan Kak Bagas akan saling berbagi kehangatan. Batin Tara yang mulai kesal dengan sikap Ayuna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1