LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Oh Tidak!!


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju bandara, Ayuna hanya terdiam. Bagas memeluk nya dengan erat. Sementara Anjas melihat pemandangan itu dari kaca Spion.


Seandainya aku yang ada diposisi Bagas. Aku juga pasti akan memelukmu erat-erat. Maafkan aku karena dulu tidak bisa mempertahankan dirimu. Batin Anjas.


Setibanya mereka di bandara, Ayuna masih diam membisu.


Mama mengajak Ayuna untuk lebih dulu masuk ke dalam pesawat.


" Seperti nya Ayuna kembali terpuruk dengan kepergian Gibran." Ucap Anjas.


" Ya kau benar."


" Saranku sebaiknya kau tidak membawa Ayuna pulang ke tempat dimana disana terdapat banyak kenangan bersama Gibran. Aku takut hal itu akan membuat Ayuna semakin terpuruk dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Gibran telah tiada."


" Kau benar. Aku akan mencoba nyam Terima kasih untuk saran nya, dan terima kasih juga untuk apa yang telah kau lakukan selama kami disini."


Anjas dan Bagas kemudian saling berpelukan, sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah.


Anjas melambai kan tangan ke arah pesawat yang mulai lepas landas.


" Sebaiknya aku langsung pulang." Lirih Anjas.


Dalam perjalanan pulang, Anjas melihat seorang wanita tergeletak dijalan.


Crrrttt....


Anjas menginjak rem mendadak. Lalu segera turun dari mobil, dan menghampiri wanita yang tengah tergeletak di bahu jalan.


" Nona.. hei nona.. bangun. Kenapa kau tidur disini?" Tanya Anjas.


Namun wanita itu tetap tidak bergeming.


Anjas menoleh ke kanan-kiri. Sepi, hanya ada mobil yang melintas.


" Astaga apa yang harus aku lakukan, wanita ini sepertinya pingsan. Apa aku bawa saja ya?,"


Lama Anjas berpikir sambil memandangi wanita yang tergeletak pingsan itu.


" Ah nanti jika aku membawa nya, aku diteriaki perampok. Bodoh lah, lagipula aku tidak mengenalnya. Lebih baik aku tinggalkan dia saja."


Anjas lalu masuk mobil, dan menyalakan mesin.


" **** !!"


Anjas keluar dari mobil, menghampiri wanita itu, dan langsung mengangkat nya dan memasukkan ke dalam mobil.


Anjas memandang wanita tadi, sebelum akhirnya dia menyalakan mesin dan membawa nya pulang kerumah.


" Anjas siapa dia?" Tanya Rini saat melihat Anjas pulang dengan membawa seorang wanita.


" Anjas tidak tahu, Anjas menemukanya tergeletak di bahu jalan." Ucap Anjas sambil meletakkan wanita tadi di atas kursi.


" Lalu kenapa kau membawa nya kemari?"


" Anjas tidak tega jika harus meninggalkannya sendiri. Seperti nya wanita ini sedang depresi."


" Ya sudah pergilah istirahat. Biar mama yang mengurus wanita ini?"


" Hmmm."


Anjas memandang sekilas wanita yang baru saja dibawa nya pulang itu. Lalu masuk ke dalam kamar.


" Bagas, kita mau kemana?, ini bukan jalan menuju apartemen mu kan?" Tanya Ayuna, saat mereka sudah tiba di Jakarta dan sedang dalam perjalanan menuju rumah yang baru saja Bagas beli


" Memang?"


" Kita akan kemana?" Tanya Ayuna.


" Rumah baru."


" Kenapa?"


" Tidak ada, aku hanya ingin kau merasakan suasana baru. Anggap saja ini adalah hadiah pernikahan yang tidak sempat aku berikan kepada mu."


Bagas memeluk Ayuna.


Lalu mereka tiba di sebuah perumahan elit yang ada di pusat kota.


Bagas dan Ayuna turun dari mobil.


" Dimana mama dan papa?" Tanya Ayuna.


" Mereka sudah pulang ke rumah. Mereka akan datang besok. Ayo masuk."


" Apa harus seperti ini? rumah baru, suasana baru?" Tanya Ayuna.

__ADS_1


" Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk mu. Bagaimana pun juga kau butuh waktu untuk menenangkan diri."


" Bagas."


" Sudah tidak apa apa. Ayo masuk."


...


Pagi hari nya.


Anjas baru saja selesai berolahraga, dia masuk ke kamar, dan bersiap mandi.


Sementara itu, wanita yang semalam di bawa Anjas mulai terbangun.


" Ergh.., Ya Tuhan tubuh ku rasa nya sangat sakit. Dan kenapa disini sangat gerah?"


Dengan setengah sadar wanita itu melangkah mencari kamar mandi. Dia masih tidak sadar jika dia bukan berada di apartemennya melainkan di villa milik Anjas.


Ceklek..


Dengan santai wanita itu membuka pintu kamar Anjas.


" Hmm, sejak kapan pintu kamar mandinya pindah jadi di sebelah kanan." Ucap wanita itu, sambil terus berjalan masuk ke kamar mandi.


Wanita itu membuka pakaian nya, dan hanya menyisakan pakaian dalam. Sementara itu, anjas yang sedang berendam di bak mandi, tidak menyadari jika wanita itu ada di dalam kamar mandinya.


Serrr .....


Wanita itu meninggalkan pakaian yang tersisa dan langsung berdiri di bawah guyuran shower.


" Hmm, sangat sejuk."


Anjas yang mendengar suara gemericik air, langsung berdiri.


" Aku seperti mendengar suara wanita." Lirih Anjas.


Lalu Anjas segera memakai handuk kimono, dan mencari asal suara.


" Hmmm hmmm.." Wanita tadi terlihat menikmati dinginnya air shower.


Tap


Tap


Tap


" Ya Tuhan siapa dia?, apakah dia pencuri?"


Anjas melihat ke sekeliling, mencoba mencari sesuatu untuk dijadikan senjata saat dia akan menangkap basah seseorang yang dianggapnya pencuri itu.


" Pakai ini saja."


Anjas mengambil sebuah botol shampoo.


" Satu... dua.. tiga..."


Seeerrrtttt....


Anjas membuka tirai mandi.


" Argh....!!!"


Wanita tadi reflek dan menyiram wajah Anjas dengan selang air.


Fbbbrrrrrtttt..


Anjas menutup mata, dan menyemburkan air yang masuk ke dalam mulutnya.


" Oh Tidak..!! Siapa kamu?, psikopat ya..?"


" Arghhh..."


Wanita tadi terus berteriak sambil berusaha mencarikan untuk menutupi tubuhnya.


" Pergi dari apartemen ku, arghh...."


Wanita tadi kembali menyirami Anjas dengan selang air.


" Woy woy woy hentikan. Aku bukan psikopat." Teriak Anjas.


" Lalu?, ah, aku tahu kau pasti pencuri kan?. Mengaku saja."


Karena tidak dapat menemukan kain apa pun jadi wanita itu menggulung dirinya pada tirai.


" Pergi dari sini atau tidak?" Ucap wanita tadi.

__ADS_1


" Hei ini adalah villa ku. harusnya aku yang mengatakan itu, lagipula ini adalah kamar mandiku kenapa kau bisa masuk kemari?"


Wanita tadi baru menyadari sesuatu. Dia menggaruk-garuk kepalanya mencoba mengingat apa yang terjadi.


" Ya Tuhan. jadi ini bukan apartemen ku?. pantas saja jarak dari tempat aku tidur dengan kamar mandi sangat jauh, hehe."


" Tidak usah cengengesan begitu, cepat keluar dari kamar mandiku."


Wanita tadi menekuk bibirnya dan melihat kearah tubuhnya yang hanya dibalut selembar tirai kamar mandi. Lalu menatap Anjas dengan memasang mimik wajah sedih.


" Ya Tuhan. Baiklah kau ku beri waktu 10 menit untuk menyelesaikan mandi mu."


Setelah mengatakan itu Anjas memilih keluar dari kamar mandi.


" Sial, wanita itu membuatku aku mandi dua kali."


Anjas lalu masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya.


Ceklek..


Terlihat wanita itu mengintip dari balik pintu kamar mandi.


" Ada apa kenapa tidak keluar?" Ketus Anjas.


" Hehe, maafkan aku tuan. Tapi aku tidak punya pakaian lagi, pakaianku sudah basah karena tadi aku menyiram air." Ucapnya.


" Ck."


Anjas lalu kembali ke ruang ganti, memilah-milah baju dan akhirnya dia menemukan sebuah kaos. Lalu melemparkannya kepada wanita tadi.


" Hanya ini?"


" Ya, aku rasa itu cukup untukmu."


" Tapi..."


" Apa lagi?"


" Aku butuh pakaian dalam. Kalau tidak squishy ku akan berlompatan ke mana-mana." Bisik nya.


" Ck. Menyusahkan saja. Tunggu di sini sebentar."


Anjas langsung keluar kamar dan mencari mama nya.


" Mama, mama.."


" Ada apa?"


" Mama aku pinjam pakai dalam mama." Bisik Anjas.


Tuk


Rini memukul kepala Anjas menggunakan spatula.


" Awww..."


" Kamu sudah gila ya. Mama tahu kamu sedih karena kehilangan Gibran, tapi bukan berarti kamu akan memakai pakaian dalam wanita."


" Mama. Bukan untuk Anjas. Tapi untuk wanita semalam."


" Memangnya pakaiannya kemana? bukan kasmala wanita itu memakai pakaiannya?"


" Pakaiannya sudah basah, sudah cepat berikan saja."


" Apa??, pakaiannya basah?" Rini bersedekap sambil menatap tajam Anjas.


" Oh Tidak!!"


Rini udah siap memukul Anjas dengan spatula nya.


" Anjas, sini kamu." Teriak Rini saat mengetahui aja sudah lari terbirit-birit.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2