
" Ma, dimana Ayuna?" Tanya Bagas yang baru saja kembali dari toilet.
" Dia bilang akan kembali ke kamar untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Mama sudah memaksa ikut, Ayuna bersikeras ingin pergi sendiri."
" Hmm, begitu."
Bagas lalu duduk dan kembali menikmati makan malamnya.
Mereka tidak tahu jika Ayuna baru saja meninggalkan hotel dan menaiki taksi.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Ponsel Bagas berdering.
" Halo?"
"----"
" Baiklah."
" Siapa?" Tanya Papa Bagas saat putranya itu selesai menelepon.
" Orang suruhanku, mereka mengatakan jika pesawat kita akan siap dalam 1 jam."
" Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar, dan melihat apakah Ayuna sudah siap untuk pulang."
Mereka bertiga berjalan menuju kamar, mama dan papa Bagas masuk ke dalam kamarnya sendiri, sedangkan Gibran mulai panik saat dirinya tidak menemukan Ayuna didalam kamar ataupun kamar mandi.
" Bagas, Ayuna, apa kalian sudah siap?" Teriak mama.
Ceklek...
Bagas membuka pintu.
" Ma, Ayuna tidak ada di dalam kamar."
" Apa?"
" Bagas akan mencari diluar, mungkin Ayuna ada di luar hotel."
" Mama dan Papa akan bertanya kepada petugas hotel."
Mereka kemudian berpencar untuk mencari Ayuna.
Sudah 1 jam mereka mencari tapi mereka tidak menemukan keberadaan Ayuna.
" Bagas.,." Panggil Anjas.
" Anjas kau disini?"
" Emm ya, karena kalian akan pergi malam ini jadi aku datang untuk mengucapkan salam perpisahan."
" Ya. Tapi tidak tepat waktunya jika kau ingin mengucapkan salam perpisahan sekarang."
" Kenapa?"
" Karena Ayuna hilang."
" Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Anjas.
" Aku tidak tahu, saat itu kami sedang makan malam. Dan aku pergi ke toilet, dan saat aku kembali Ayuna tidak ada di sana. Saat aku bertanya kepada mama dan papa, mereka mengatakan jika Ayuna kembali ke kamar untuk melihat apakah barang bawaan kami sudah masuk semua ke dalam tas atau tidak." Ucap Bagas.
" Biar ku tebak, saat kau kembali kekamar kau tidak menemukan Ayuna di sana?"
" Ya. karena itu aku mama dan papa berpencar untuk mencari Ayuna. Dan kami sudah mencarinya selama 1 jam. Tapi kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Ayuna."
" Kau sudah menghubungi petugas hotel?"
" Sudah, mereka juga sedang berusaha mencari Ayuna."
" Lapor polisi?" Tanya Anjas.
" Polisi tidak akan mencari jika belum hilang selama 24 jam."
" Hah, kau benar."
Hening...
Lalu mereka bersama sama mengatakan,
" CCTV."
__ADS_1
Bagas dan Anjas saling menunjuk, sebelum akhirnya mereka bersama-sama lari menuju resepsionis untuk meminta izin melihat CCTV hotel.
Setelah bernegosiasi panjang dengan manajer hotel, akhirnya mereka diizinkan melihat CCTV.
" Itu Ayuna, sedang apa dia bersama anak itu?" Ucap Bagas.
" Seperti nya Ayuna tidak sengaja bertemu dengannya, setelah itu orang tua dari anak itu datang."
" Ya kau benar, dan lihat Ayuna memasuki lift." Ucap Bagas.
Lalu petugas CCTV itu memindahkan layar ke CCTV pintu utama hotel.
" Tunggu.., mundur." Ucap Bagas.
" Ada apa?" Tanya anjas.
" Itu Ayuna."
" Ha?"
Anjas melihat CCTV yang memperlihatkan saat Ayuna keluar hotel.
" Kau yakin itu Ayuna?"
" Ya."
" Tapi, dia kan ke mana malam-malam begini?" Tanya Anjas.
" Mari kita pikirkan ini, Ayuna keluar hotel setelah dia bertemu seorang anak kecil yang tersesat di koridor menuju kamar."
" Mungkin kan dia pergi ke...."
" Makam Gibran." Ucap keduanya secara bersamaan.
" Tapi tidak mungkin, makam saat malam hari pasti lah sangat gelap." Ucap Anjas.
" Tidak untuk malam ini tuan." Ucap petugas yang menjaga CCTV."
" Apa maksud mu?" Tanya Bagas.
" Makam memang gelap gulita saat malam hari, tapi malam ini adalah malam paskah. Umat Kristen akan datang ke makam."
" Untuk apa?" Tanya Anjas.
" Kalau dugaan kita benar, maka Ayuna ada di sana." Ucap Bagas.
" Kalau begitu ayo kita ke sana, kita tidak perlu lagi membuang waktu."
" Ayo."
Drrrttt drrrttt drrrttt.
" Halo?" Ucap Bagas.
" ----"
" Tunda penerbangan sampai aku menelepon mu lagi, oke. Ada masalah darurat disini."
"----"
" Baiklah."
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku. Bagas segera menyusul Anjas.
" Tunggu, kenapa kau tidak mencoba menghubungi Ayuna melalui ponsel nya?" Tanya Anjas.
" Ponsel Ayuna ada di dalam tas, dan tas nya masih ada di dalam kamar."
" Ya Tuhan, kalau begitu ayo kita segera ke makam."
" Ayo."
" Mobilku disebelah sana." Ucap Anjas, saat mereka sudah ada di parkiran hotel.
Anjas segera duduk di kursi kemudi, sedangkan Bagas segera masuk dan duduk di kursi depan.
Jarak hotel dan makam yang tak terlalu jauh, serta Anjas yang sudah hafal jalanan, membuat mereka cepat sampai dimakam.
Dan benar saja, malam itu, makam tidak terlihat menakutkan, namun terlihat seperti lapangan yang sedang ada pameran atau pasar kaget.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bagas dan Anjas segera turun, dan mencari Ayuna.
__ADS_1
" Ayuna.." Lirih Bagas, saat dirinya melihat Ayuna tengah menyalahkan lilin di makam gibran.
Mereka segera menghampiri Ayuna.
" Ayuna." Panggil Bagas.
" Bagas, Anjas?. Kalian kenapa ada disini?" Tanya Ayuna.
" Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kau bisa ada disini?" Ucap Bagas.
" Aku disini untuk menemani gibran, kasihan dia sendirian." Ucap ayuna sambil terus menyalakan lilin di seluruh makam Gibran.
" Ayuna..."
Bagas mendekati Ayuna, dan ikut duduk menyalahkan lilin.
" Jangan bilang kau akan mengajak ku pulang." Hardik Ayuna.
" Lalu apa kau akan disini semalaman?"
" Aku akan disini selamanya, menemani putraku." Ucap Ayuna sambil terus menyalakan lilin, tanpa melihat Bagas.
" Ayuna dengar, kita sudah membicarakan hal ini bukan?, kenapa sekarang kau berpikir bahwa Gibran kesepian?, ingat juga tentang dirimu, tentang bayi dalam kandungan mu."
Anjas terkejut mendengar penuturan Bagas
Jadi Ayuna hamil?, semoga setelah ini dia bisa cepat melupakan kesedihan karena kehilangan Gibran. Semoga kelak bayi yang ada di dalam perut Ayuna membawa kebahagiaan untuk Ayuna. Batin Anjas.
" Jika aku bisa, aku akan menukar nyawa bayi kita dengan Gibran." Ucap Ayuna.
Bagas menunduk. Dia tahu, Ayuna begitu terpuruk dengan keadaan ini.
" Sayang, jika memang bisa, aku akan ke surga untuk menjemput Gibran, dan membawa nya kembali kepada mu. Aku bahkan rela mati, dan menyusul Gibran sekarang jika itu bisa membuatmu percaya bahwa Gibran tidak akan pernah kesepian."
Ayuna menatap Bagas.
" Dengar, walau alam kita sudah berbeda dengan Gibran, tapi aku yakin Gibran selalu ada di dekat kita. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau merasakan kehadiran Gibran ditengah tengah kita."
" Hiks..Hiks... hiks."
Ayuna mulai menangis. Bagas memeluk Ayuna.
" Ayuna, aku tahu kau sangat sulit menerima kenyataan bahwa Gibran sudah pergi. Tapi, kau tidak boleh bersikap seperti ini. Apalagi kau sedang hamil, ada seorang anak lain yang membutuhkan perhatian mu, anak yang menantikan kasih sayang mu." Ucap Anjas.
" Aku yakin Gibran pasti akan sedih jika kau masih bersikap seperti ini." Imbuh Anjas.
" Yang dikatakan Anjas benar. Kau harus bisa merelakan kepergian Gibran."
" Aku, tidak bisa."
" Merelakan pergi, bukan berarti harus berhenti memikirkan Gibran bukan?, kau masih bisa mengenangnya dalam hati dan ingatan mu bukan?" Ucap Bagas.
Ayuna mengangguk.
" Jadi?, maukah kau pulang bersama ku?" Tanya Bagas.
Ayuna mendekati makam Gibran.
" Nak, mami akan pulang ke Indonesia malam ini, Mami janji akan mengunjungi Gibran lagi. Semoga kau bahagia disana." Lirih Ayuna.
" Aku akan selalu datang mengunjungi makam Gibran." Ucap Anjas.
" Terima kasih."
" Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan nya dengan senang hati."
Bagas lalu mengajak Ayuna pergi. Anjas lalu mengantarkan mereka ke bandara. Tak lupa Bagas menelepon mama dan papa nya, mengatakan jika dia sudah menemukan keberadaan Ayuna, dan sedang dalam perjalanan menuju bandara.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...