
Satu pekan sudah ayuna dan keluarga menginap dirumah bu Sinta.
Bu sinta dan suami bener bener mengerti apa yang dibutuhkan pasangan pengantin baru. Selama sepekan ini, dia memerintahkan ayuna untuk mengajak bagas jalan jalan ke berbagai wisata yang ada di sana . Jadi mereka benar benar menikmati honeymoon kedua.
" Bu, maaf jika saya sudah merepotkan ibu dengan menjaga gibran." Ucap ayuna saat dia akan berpamitan.
" Kamu ini, seperti sama siapa saja. Jangan sungkan, anggap saja aku ini adalah ibu kamu." Ucap bu sinta sambil tersenyum.
" Sekali lagi terima kasih bu."
" Sama sama. Jika ada waktu, datang lah lagi.." Bu Sinta memeluk ayuna.
" Akan ayuna usaha kan bu.."
" Nenek, gibran pamit ya, sampaikan salam gibran kepada ayah lukman dan kakak gilang." Gibran memeluk bu sinta.
" Ya, nenek pasti akan menyampaikan salam gibran untuk ayah lukman dan kak Gilang."
Cup
Bu sinta mencium pipi gibran, sebelum akhirnya memeluk untuk terakhir kalinya.
Satu pekan, terasa satu hari bagi bu sinta, bagaimana pun juga, bu sinta begitu menyayangi gibran. Seperti dia menyayangi cucunya sendiri, Gilang.
" Kami pamit ya bu, pak." Ucap bagas sambil menyalami keduanya.
" Ya, hati hati. Jaga ayuna seperti kau menjaga nyawa mu sendiri." Pesan bu sinta.
" Tentu bu, saya akan menjaga gibran dan ayuna dengan segenap jiwa dan raga saya." Ucap bagas.
Lalu bu sinta menghampiri ayuna, dan memeluknya.
" Jaga dirimu baik-baik ya, dan semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan kepada keluarga kecil mu."
Mendengar doa bu sinta, membuat ayuna menangis dan memeluk erat bu sinta.
" Terima kasih untuk doa nya bu."
" Tentu sayang, tentu."
Setelah adegan berpamitan yang sangat dramatis, akhirnya bagas, ayuna serta gibran segera masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu mereka.
" Hei, Apa kau baik-baik saja?" Tanya bagas, saat melihat ayuna masih bersedih.
" Ya, aku baik. Hanya terasa berat untuk berpisah. Bu sinta dan keluarga sudah banyak membantuku dan Gibran saat kami tinggal di sini. Oh ya Tuhan, aku lupa memberikan nomor ponsel kepada bu Sinta."
" Jangan khawatir, aku sudah memberikan nomor ponselku kepada suami bu sinta, aku juga memberikan alamat rumah mama dan papa. Jadi saat mereka ke Jakarta mereka bisa mengunjungimu dan juga Gibran."
Ayuna tersenyum dan memeluk bagas.
" Kau memang yang terbaik."
" Aku tahu." Ucap bagas dengan bangga, sambil mencium kening ayuna.
" Gibran juga int dipeluk."
Gibran lalu segera memeluk mami dan papi nya.
Sekarang, aku harus memikirkan cara bagaimana memberitahu ayuna tentang kondisi Gibran yang sebenarnya. Tuhan, berikanlah aku jalan agar aku bisa memberitahu ayunan tanpa harus menyakiti perasaannya. Batin Bagas.
Bagas menyeka airmata yang sedikit keluar dari mata nya,
" Bagas kau menangis?" Tanya ayuna.
" Ah tidak, aku hanya merasa ada sesuatu yang masuk di mataku." Ucap Bagas.
__ADS_1
" Papi bohong mami, gibran sering melihat papi menangis saat Papi memandangi wajah mami." Celoteh gibran.
Ayuna langsung memandang wajah Bagas dengan tatapan mematikan.
Bagas tersenyum sambil menutup mulut Gibran.
" Bagas, apa benar yang dikatakan oleh gibran?"
" Tidak."
" Papi bohong mami." Ucap gibran dengan suara khas mulut yang tertutup rapat oleh tangan.
" Stttt..."
Bagas persyaratan kepada gibran dan agar dia.
" Bagas..." Omel ayuna sambil melotot.
" Iya mami sayang."
" Katakan!!"
" Apa?"
" Tadi apa?"
" Yang dikatakan gibran."
" Memang gibran mengatakan apa?" Ucap Bagas pura-pura lupa.
" Ih, tau ah. Males !!"
" Dih ngambek."
Bagas hendak menyentuh pipi ayuna, namun ayuna segera menepisnya.
Ayuna menoleh sekilas ke arah Gibran, sebenarnya dia ingin tertawa dengan celotehan Gibran yang mengatakan Bagas akan tidur di luar. Tapi, ide itu bagus juga.
" Yah, jangan tidur diluar dong, nanti kalau Papi kedinginan gimana?"
" Enak dong, nanti papi beku, jadi Gibran bisa membuat es kepal jumbo rasa Papi. Hehe."
" Ooh gitu, Jadi papi mau diserut nih buat dijadiin es kepal?" Tanya bagas.
" Iya, kalau papi jadi beku."
" Iya kalau Papi beku, Bagaimana kalau ternyata papi diculik orang, hayoo..."
" Ya, gibran akan cari papi baru." Ucap gibran santai.
" Pffftt..." Ayuna menahan tawanya.
" Papi baru?, yah yah. Jangan dong. Terus papi yang ini mau dikemanain?" Ucap Bagas sambil memasang wajah cemberut.
" Lo, katanya tadi papi diculik orang."
" Ya, kalau Papi diculik orang Gibran cari dong. Kayak adegan di film-film yang biasa gibran tonton. Kalau ada yang menculik orang terkasih, sang superhero akan datang menolongnya."
" Itu kan di film. Disini Gibran kan tidak jadi pemain film, Gibran juga bukan superhero. Jadi, kalau Papi diculik orang ya Gibran akan cari Papi baru. Bodo amat mau urusan sama penculik. Hiii, takut. Serem tau papi." Ucap gibran.
" Tahu dari mana kalau penculik itu serem?"
" Dari film lah."
" Nah itu tau, di filmkan setiap ada yang diculik pasti ada yang menolong."
__ADS_1
" Iya. Itu kan dalam cerita film. Kalau dalam cerita gibran enggak usah ditolong. Biar aja gibran kasih ke penculikan nya, lagian papi kan udah gede mana mungkin ada yang mau menculik Papi."
" Pplffftt....,,"
Ayuna menutup mulut nya, dan berhenti tertawa saat bagas menatap nya. Ayuna kembali memasang wajah jutek.
" Mami, mami rela ni kalau papi diculik orang?" Tanya Bagas.
" Ya rela lah. Bener kata Gibran, siapa juga yang mau Menculik papi, orang papi udah gede. hahaha..."
" Hiks hiks hiks, ternyata gak ada yang sayang sama papi." Ucap Bagas dengan wajah sedih, Lalu bagas sedikit maju kedepan, menyisakan sedikit ruang belakang kursi.
Ayuna dan gibran berbisik. Bagas mencoba mendengarkan. Namun, saat gibran dan ayuna tau jika bagas berusaha mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka kemudian diam.
" Hwa hwa hwa.." Teriak bagas.
" Hahah, papi kayak bocah." Ucap gibran.
" Bocah teriak bocah." Omel bagas.
Bagas menundukkan kepala, tangannya menopang wajah. Bagas menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
" Pssttt..."
Ayuna memberi isyarat kepada Gibran agar merayu Bagas. Gibran justru meminta ayuna yang melakukannya.
Gibran menunjuk ayuna, ayuna menggeleng. Begitu juga sebaliknya. Mereka saling menunjuk sebelum akhirnya Gibran yang mencoba merayu Bagas.
" Papi.." Panggil gibran. Bagas tidak bergeming.
" Yah papi ngambek, Ya udah deh Gibran setelah ini kita cari Papi baru ya." Ucap ayuna.
" Terus papi yang ini gimana?, kan papi bagas belum di culik orang?" Celoteh gibran.
" Oh iya, ya udah nanti kita sale aja papi di bandara, gimana?"
Bagas langsung memandang gibran dan ayuna secara bergantian.
" Jahat." Ketus bagas
" Uh, tayang..."
Gibran dan ayuna, bersama mencubit pipi Bagas.
" Aww.. Sakit."
" Papi jangan ngambek. Papi itu, adalah papi terbaik di dunia. Dan tidak ada yang bisa menggantikan papi di hati gibran. I love you papi."
Bagas merasa tersentuh dengan kata-kata Gibran. Bagas segera memeluk Gibran.
"I love you to son. Dan papi beruntung bisa memiliki anak sepertimu. Dan juga memiliki istri seperti mami."
Bagas tersenyum kearah ayuna, lalu ayuna ikut bergabung dalam pelukan mereka.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...---------------...
Yuhu, hari senin... Sisain vote buat karyaku ya kak ☺️☺️❤️❤️
...Jangan lupa...
__ADS_1
...like...
...komen...