
Tok
Tok
Tok
Perawat yang tadi memberitahu Bagas dan ayuna mengetuk pintu dokter..
Ceklek..
" Dok, saya mengantarkan orang tua dari saudara Gibran." Ucap perawat, kemudian pergi setelah bagas dan ayuna masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
" Mari silakan duduk dulu." Ucap dokter.
Bagas dan ayuna lalu duduk, dan menghadap dokter, kemudian dokter itu memberikan sebuah amplop yang berisi hasil tes lab dari Gibran.
Bagas membuka nya, dan terkejut saat mengetahui hasil dari tes lab Gibran. Bagas memang bisa sedikit membaca hasil tes lap kedokteran.
" Bagas Apa hasilnya, apakah Gibran baik-baik saja?. Katakan jangan diam saja." Ucap ayuna.
Bagas terdiam. Dia kemudian meletakkan kertas yang dia baca di atas meja. Ayuna langsung mengambil kertas itu dan melihatnya mencoba membaca Apa hasil dari tes Gibran.
" Apa hasil dari tes Gibran?, Kenapa semuanya menunduk Tidak adakah yang bisa menjelaskan padaku?" Ucap ayuna.
" Begini bu, dari hasil pemeriksaan yang sudah dijalani putra ibu. diketahui jelas bahwa putra ibu positif mengidap kanker Rhabdomyosarkoma."
Ayuna syok, tubuhnya goyah dia hampir saja pingsan dan terjatuh jika baga tidak memegangnya dengan cepat.
" Ayuna, kau baik-baik saja." Tanya Bagas.
" ini ini tidak mungkin ini pasti tidak benar hasil lab-nya pasti salah. Dokter, hasil lab Gibran pasti salah saya mohon melakukan tes ulang lagi. tidak mungkin Gibran ku menderita penyakit itu tidak mungkin."
" Ayuna tenanglah."
" Bagaimana aku bisa tenang Bagas jika hasil lab menunjukkan bahwa Gibran menderita penyakit itu. Aku..,aku yakin hasilnya pasti salah atau tertukar dengan pasien lain."
" Tidak Bu ini benar hasil dari Gibran, karena di hari itu hanya Gibran yang melakukan tes lab. Jadi hasilnya tidak mungkin salah."
Ayuna menangis..
__ADS_1
" Bagas bagaimana ini aku tidak ingin kehilangan Gibran?" Ucap ayuna yang menangis didalam pelukan Bagas.
" Ayuna tenanglah pasti akan ada obat untuk penyakit yang diderita Gibran aku janji akan menemukannya."
" Ya, karena kankernya baru memasuki stadium awal maka kita bisa segera melakukan tindakan sebelum kanker itu menyebar dan merusak jaringan otot yang lain dalam tubuh Gibran."
" Lakukan, segera lakukan yang terbaik untuk mengobati anak ke dokter. Aku aku mohon sembuhkanlah anakku." Pinta ayuna.
" Kami akan melakukan yang terbaik untuk putra ibu, Kalau boleh saya sarankan sebaiknya ibu dan bapak membawa Gibran berobat ke luar negeri. Di sana peralatannya sudah canggih dan saya yakin akan ada obat untuk penyakit yang diderita para ibu dan bapak."
" Baik saya akan segera membawa putra saya ke luar negeri untuk berobat."
" Ya, saya akan membuatkan dokumen pengantar agar nantinya Gibran bisa segera langsung ditangani.,"
" Baik terima kasih dok." Ucap Bagas.
Setelah keluar dari ruangan dokter Ayuna segera berlari menuju ruang Gibran. Saat ayeuna akan masuk ke dalam Bagas mencegahnya..
" Ayuna tunggu.."
Ayuna menoleh.
" Jangan masuk dalam keadaan seperti ini." Kata bagas.
" Lihatlah dirimu sedang kacau. Bagaimana bisa kau akan menemui gibran dalam keadaan seperti ini. Jika Gibran tahu kau sedih , Gibran pasti akan jauh lebih sedih."
Ayuna terdiam, perkataan Bagas ada benarnya. Dia juga tidak ingin Gibran tahu penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh Gibran. Dan ayuna tidak boleh terlihat sedih di hadapan Gibran. Dia harus kuat.
" Ayo kita jalan-jalan sebentar sambil menjernihkan pikiran."
Ayuna menatap pintu masuk ruangan Gibran, sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki Bagas.
Dan saat ayuna serta bagas akan masuk ke dalam lift rumah sakit dan menuju balkon. Mereka bertemu dengan Anjas.
" Ayuna, Bagas. Bagaimana hasil lab Gibran, apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya anjas.
Ayunaa memilih diam dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Anjas bingung lalu dia balik menatap Bagas.
" Bagas, katakan."
__ADS_1
" Gibran menderita kanker Rhabdomyosarkoma stadium awal."
" Apa?. Tidak mungkin."
Anjas syok. Bagas menepuk bahu anjas.
" Aku akan membawanya Gibran berobat ke luar negeri malam ini."
" Bagaimana kalau kita bawa Gibran berobat ke dokter lebih yang ayahku dulu."
" Bukankah kau bilang dokter itu tidak dapat menyembuhkan?"
" Itu kan dulu beberapa tahun yang lalu, sekarang mereka telah menemukan obat untuk menyembuhkan kanker itu. Lagipula kanker Gibran masih stadium awal, aku rasa dokter itu pasti punya obat yang dapat menyembuhkan gibran."
Bagas menatap ayuna.
" Bagaimana apakah mau membawa Gibran kepada dokter yang menangani mendiang ayah Anjas?, atau kau ingin pergi ke dokter lain?"
Ayuna hanya terdiam.
" Sebaiknya ke dokter mendiang ayahku dulu. bukankah dokter itu sudah menangani kasus yang sama. Dokter itu pasti sudah berpengalaman dibidang penyakit ini." Ucap anjas.
" 6terserah Gibran mau dibawa berobat ke mana, yang penting dia bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala." Ucap ayuna.
" Baiklah kalau begitu aku akan ikut penerbangan Kalian malam ini. kita akan bersama-sama mencari obat untuk gibran dan menyembuhkannya" Ucap anjas.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...jangan lupa ...
...like ...
...komen ...
__ADS_1
...vote...
... hadiah...