LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Firasat


__ADS_3

" Gibran, jangan tinggalkan mami sayang.."


Ayuna teriak histeris disamping tubuh gibran yang sudah membeku.


Ayuna dan bagas ada dirumah sakit, dengan memandang tubuh gibran yang sudah tidak bergerak.


" Gibran bangun sayang."


Ayuna mengguncang-guncangkan tubuh gibran, namun tubuh nya sudah kaku.


" Dokter, suster. Cepat lakukan sesuatu untuk putra ku." Teriak ayuna mulai histeris.


" Maaf nyonya, tapi putra anda sudah meninggal dunia." Ucap seorang dokter.


" Tidak, putra ku masih hidup." Histeris ayuna.


Bagas mengusap airmata nya, lalu perlahan mendekati ayuna dan memeluk nya.


" Ayuna tenang lah, kuatkan hatimu." Ucap bagas.


" Aaaaaaa, gibran bagas, gibran." Teriak ayuna.


Bagas berusaha menenangkan ayuna,


" kami akan membawa jenazah nya untuk dikebumikan." Ucap salah seorang perawat.


" Tidak. Jangan bawa gibran ku."


" Ayuna tenang."


Ayuna meronta ronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Bagas.


" Bagas lepas kan aku, aku harus bersama gibran, kita tidak pernah berpisah. Hiks hiks..."


" Ayuna, tenanglah. Kuatkan hatimu. Gibran sudah tiada." Ucap Bagas.


" Tidak. Gibran tidak boleh mati. Dia putra ku bagas, dia putra ku..."


Sekuat tenaga ayuna melepaskan diri, dan berlari mengejar jenazah gibran. Namun terlambat jenazah nya sudah masuk ke dalam mobil ambulans, dan pergi meninggalkan rumah sakit.


" Gibran...."


Ayuna terjatuh, dan dia terus berteriak memanggil manggil nama gibran.


Ayuna menangis,


" Mami.."


" Gibran?"


Ayuna mendongak, dida mendengar suara gibran yang memanggil manggil nama nya,


" Mami..."


" Gibran..."


" Mami..."


" Gibran..."


Puk


Puk


Puk


" Mami bangun."


Gibran menepuk nepuk pipi ayuna, ayuna terbangun. Melihat gibran ada di depan nya, dia segera bangun dan memeluk Gibran.


Setelah memeluk gibran, ayuna memegang pipi nya, melihat kedua tangan dan kaki gibran.


" Oh sayang, syukurlah kau baik baik saja."


Ayuna kembali memeluk gibran.


" Gibran memang baik baik saja mami."


" Syukurlah itu hanya mimpi." Lirih ayuna.


" Apa mami tidak pakai baju tidur?" Tanya Gibran.


Tung !!!

__ADS_1


Otak ayuna langsung sadar, dia tidak mengenakan pakaian tidur nya. Dia memakai lingerie. Untuk lingerie yang dipakai ayuna tidak tembus pandang.


"Emm, ini pakaian tidur sayang."


" Kenapa sangat tipis."


" Karena...., karena semalam AC nya mati, jadi mami memakai pakaian tipis." Ucap ayuna sambil mengusap tengkuknya.


" Aku membuatkan mami sebuah roti isi dalam segelas jus." Ucap gibran.


Ayuna menoleh ke arah meja, dan langsung mengambil nampak berisi roti dan langsung memakan nya.


" Hmm, sangat enak." Puji ayuna.


" Tapi tidak seenak buatan mami."


Ayuna mengelus pipi gibran.


" Di mana Papi?"


" Papi sedang memasak."


Ayuna hampir menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya,


Glek !!


" Papi memasak?." Tanya ayuna, gibran mengangguk.


" Memang nya bisa?" Ledek ayuna, gibran 2 bahunya tanda tak tahu.


" Haha, ya sudah, mami akan mandi, kemudian kita melihat papi."


" Oke."


Di dalam kamar mandi, ayuna memejamkan mata di bawah guyuran air shower.


" Mimpi itu seperti nyata, semoga hanya mimpi. Aku..., aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ternyata itu adalah kenyataan. Hiks hiks.."


Ayuna menangis dalam guyuran air shower, pikirkan ayuna kembali mengingat saat pernikahan, dimana saat itu gibran mengaku lelah, tapi wajah gibran terlihat pucat dan semalam ayuna menemukan sedikit darah dari hidung gibran.


" Mungkinkah?, ah semoga ini hanya firasat ku saja. Semoga gibran tidak akan sakit lagi."


Tok


Tok


Tok


Ayuna tersadar dari lamunannya, segera mematikan kran air.


" Ya, mami akan segera keluar." Teriak ayuna.


Setelah beberapa saat kemudian, ay7na keluar.


" Ayo kita lihat, papi sedang masak apa?"


" Ayo."


Gibran menggandeng tangan ayuna dan mereka sama-sama pergi ke taman yang ada di hotel tersebut.


Rupanya Bagas memasak di sebuah taman bersantai. Yang memang biasa digunakan para penghuni hotel, untuk menikmati waktu bersama keluarga. Disana juga sudah ada mesya dan si kembar nisya dan nasya.


" Hai kakak ipar.." Sapa kembar, dan juga mesya.


" Hai.." Ayuna menyapa balik.


" Hmmm, bau nya sangat enak, papi masak apa?" Tanya ayuna.


" Kata nya sih, barbeque ala Korea korea gitu." Ucap mesya sambil membalikkan daging yang ada di panggangan.


" Ohya?. Dan apa itu?" Ucap ayuna sambil berjalan menghampiri bagas.


" Sate daging,sosis paprika dan sayuran lainnya." Jawap Bagas sambil tersenyum ke arah ayuna.


" Uh, sepertinya enak. Mami jadi tidak sabar untuk mencobanya."


" Gibran juga." Ucap gibran dengan memegang garpu, tanda sudah siap menerima makanan.


Pagi itu, mereka menikmati makanan yang di buat bagas dan adik adiknya.


Awalnya ayuna menikmati canda tawa bersama mereka, lalu tiba-tiba mimpinya melintas di pikiran ayuna, tak kala dia melihat Gibran.


Ayuna mengelus elus rambut gibran.

__ADS_1


" Mami?" Gibran menatap ayuna dengan heran. Ayuna tersenyum.


" Gibran suka masakan papi?" Tanya ayuna.


" Suka. Tapi lebih suka masakan mami."


" Tapi, masakan papi juga enak lo." Ucap ayuna sambil memasukkan potongan daging ke dalam mulut nya.


" Hari ini Gibran ingin pergi ke mana?" Tanya bagas.


" Emmm..."


Gibran tampak berpikir,


" Gibran tidak tahu, kemana saja asal bersama mami dan papi, gibran pasti akan senang."


" Uh, anak manis..."


Ayuna menciul pipi gibran.


Setelah makan, mereka memilih untuk bersiap.


Dikamar..


" Hei, apa yang kau pikirkan?" Tanya bagas sambil memeluk ayuna dari belakang.


" Tidak ada." Jawap ayuna.


Bagas membalikan tubuh ayuna hingga mereka saling berhadapan.


" Kau bilang tidak apa-apa, tapi matamu mengatakan ada apa-apa. Jadi, katakan padaku apa yang kau rasakan."


Ayuna menatap Bagas.


" Tidak ada apa apa, sungguh. aku hanya bermimpi, bisa dikatakan mimpi buruk."


" Apa mimpi itu yang mengganggumu?"


" Mungkin."


" Katakan, apa isi dari mimpi mu?"


" Bukan sesuatu yang bagus untuk di ceritakan."


" Katakan saja."


Ayuna menghela nafas, lalu menceritakan mimpinya.


" Sayang, mimpi hanya bunga tidur. Mungkin karena kau terlalu memikirkan gibran."


" Tapi bagas, kau ingat saat kita menemani gibran istirahat saat pernikahan."


" Iya."


" Aku melihat wajah gibran pucat. Dan semalam, hidung gibran berdarah."


" Sayang, itu hanya firasat mu saja. dokter sudah mengatakan jika Gibran sudah sembuh, dan terbebas dari penyakit itu."


" Ya, semoga ini hanya firasatku saja."


" Tenanglah, Gibran sudah sehat dan akan baik-baik saja."


" Tapi bagaimana jika penyakit itu datang?, bukankah dokter tidak bisa menyatakan 100% bahwa penyakit itu sudah hilang dari tubuh Gibran."


Bagas memeluk ayuna.


" Kita berdoa saja semoga penyakit itu tidak akan pernah kembali lagi."


Ayuna membalas pelukan bagas. Ada airmata yang menetes dari mata nya.


Ya Tuhan, Jangan biarkan sakit itu kembali pada putraku. Aku rela menukar nyawaku asal jangan nyawa putraku. Batin ayuna.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2