
" Apa kau baik baik saja?" Tanya Selin setelah mereka sampai dirumah.
" Ya." jawab Dion sambil tersenyum.
" Tapi aku merasa jika dirimu tidak sedang baik-baik saja, berubah diam semenjak kita selesai melakukan pertemuan."
" Huft..." Dion menghela nafas panjang..
" Ada apa?"
" Aku, aku hanya merasa...., entahlah aku begitu terkejut saat mengetahui kenyataan bahwa Anjas yang membantu perusahaan kita. Aku juga tidak menyangka bahwa hubungan persahabatan kami akan berakhir dengan seperti ini. Dulu kita sangat dekat melebihi ikatan saudara. Tapi sekarang..."
" Stttt, berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri ada di sini aku juga merasa bersalah. Seandainya sajak orang tuaku dulu mau menerima hubungan kita mungkin hal ini tidak akan terjadi dan hubunganmu dengan Anjas pasti akan tetap terjalin baik. Sekarang lebih baik kita hidup seperti biasa Karena bagaimanapun sekarang aku hanya begitupun sebaliknya." Ucap Selin.
" Tapi sejujurnya aku sangat ingin bertemu dengan Anjas untuk menyampaikan rasa terima kasihku dan jumlah permintaan aku. Bagaimana pun juga aku juga meminta maaf kepadanya secara langsung."
" Aku juga. Tapi dia tidak lagi tinggal di sini aku rasa Anjas memilih meninggalkan Indonesia karena benar-benar ingin melupakan negara ini terutama mungkin melupakan tentang kita." Ucap Selin.
" Ya kau benar. Mungkin rasa sakit yang telah kita torehkan di hati Anjas begitu dalam sehingga dia memutuskan untuk tidak lagi datang ke sini. Tapi Aku berharap suatu saat nanti aku akan dapat bertemu dengannya untuk meminta maaf."
" Ya, aku juga akan berdoa untuk hal itu."
Mereka kemudian menutup hari itu dengan tidur. Walau mereka terlihat tidak lagi memikirkan perihal tadi, namun mereka masih memikirkannya.
...----------------...
Beberapa polisi datang ke rumah Tara untuk meminta keterangan, polisi Itu tampak datang bersama dengan Yudi. Tara kemudian menceritakan bagaimana awal mula sebelum akhirnya ia menjadi korban pelecehan dari Doni. Tara juga meminta polisi untuk mengecek CCTV yang ada di salah satu cafe milik Doni. Sesekali Tara melihat ke arah judi Namun sepertinya Yudi nggak untuk melihat ke arah Tara.
" Baik terimakasih atas keterangan yang ada berikan dan saya harap anda bersedia datang ke pengadilan." Ucap polisi setelah mereka selesai memberikan banyak pertanyaan kepada Tara.
__ADS_1
Tara hanya tersenyum menanggapi ucapan polisi lalu berjabat tangan, Tara juga melihat ke arah Yudi. Namun sepertinya pria itu itu benar-benar enggan untuk melihat wajah Tara terbukti dengan dirinya langsung ikut keluar saat polisi berpamitan.
" Mama sangat bangga kepadamu karena kau menceritakan semuanya secara detail, walaupun Mama tahu ini berat bagimu tapi kau mampu menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Mama sangat bersyukur saat itu kau bertemu dengan Bagas dan juga Ayuna, Karena Mama tidak akan bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ternyata saat kau melarikan diri kau tidak bertemu dengan mereka."
" Tara juga sangat bersyukur karena saat Tara keluar dari mall mobil Kak Bagas sudah menghampiri Tara. Saat itu Tara juga bingung bagaimana caranya Tara melarikan diri karena Tara tidak memiliki apapun."
" Sekarang Mama minta, untuk sementara kamu jangan keluar rumah karena mama masih trauma mengenai kejadian yang menimpa kamu."
" Ma.."
" Ya sayang?"
" Bisakah Mama mengatakan kepada Kak Yudi untuk membatalkan perjodohan ini. Tara merasa, Tara sudah tidak pantas lagi bersanding dengan Kak Yudi. Tara sudah kotor mah Tara sudah dijamah oleh Pria lain."
" Sebelumnya memintanya seandainya saja ini tidak terjadi padamu apakah kau mau menerima perjodohan ini?"
" Maafkan mama nak, Mama tidak bisa menjagamu sehingga kamu mengalami hal mengerikan seperti ini." Ucap Mama yang menangis sambil memeluk Tara.
" Tidak ma, ini semua salah Tara, seandainya saja malam itu Tara tidak datang ke cafe mungkin hal ini tidak akan terjadi." Ucap Tara.
Mereka tidak tahu jika dibalik pintu Yudi mendengar percakapan antara ibu dan anak.
" Kau tidak masuk?" Tanya Papa Tara saat dirinya baru saja selesai mengantar mobil polisi keluar dari halaman rumahnya.
" Ah, Yudi masih ada jadwal di rumah sakit, mungkin lain kali saja Yudi datang lagi ke sini." Ucap Yudi.
" Baiklah."
" Yudi pamit ya om." Ucap Yudi.
__ADS_1
" Iya, dan Yudi mengenai perjodohan kalian..."
" Om, Yudi rasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya. Sebaiknya kita tunggu kondisi Tara benar-benar stabil, lalu kita bisa membicarakannya lagi." Ucap Yudi. Papa Tara tersenyum dan menganggukkan kepala lalu menatap kepergian Yudi.
Hmm, jumlah aku sangat berharap bahwa Tara mau menerima perjodohan ini, tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Aku harus membuang jauh-jauh harapan. Batin Papa Tara.
" Pa, kok masuk sendirian ke mana Yudi Kenapa Papa tidak mengajaknya masuk?" Tanya Mama saat mengetahui papa masuk ke dalam rumah sendirian.
" Yudi sudah pergi ma dia mengatakan sedang ada jadwal di rumah sakit."
Mama hanya mengganggu menganggukkan kepala sedangkan Tara terlihat begitu kecewa.
" Ma, Tara ingin istirahat dulu."
" Tentu. Kau mau Mama antar?"
" Tidak perlu."
" Baiklah."
Mama memandang kepergian Tara. Hatinya begitu sakit dengan takdir buruk yang menimpa putrinya. Sang Papa memegang bahu Mama seakan mengerti perasaan yang dirasakan oleh istrinya itu.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1