LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Apa yang terjadi?


__ADS_3

" Bagas kenapa kita harus ke rumah sakit?, siapa yang ada disana?" Tanya ayuna saat mereka sudah memasuki mobil.


Bagas memasang sabuk pengaman pada ayuna, lalu berkata.


" Nina, seperti nya dia mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadi ditangan nya. Dia ditemukan tergeletak pingsan di toilet salah satu restoran cepat saji."


" Astaga, jadi?"


" Sekarang dia ada di rumah sakit Mitra Keluarga."


" Kita akan kesana?"


" Ya. Polisi mengira aku penyebab dari nina yang melakukan percobaan bunuh diri."


Ayuna menutup mulut dengan kedua tangan.


Bagas memegang pipi ayuna.


" Tidak akan terjadi apa apa. Aku tidak bersalah bukan?"


Ayuna hanya menatap Bagas, hingga kemudian mobil memasuki area rumah sakit.


Ayuna dan bagas langsung menuju ruangan dimana nina di rawat setelah bertanya kepada resepsionis.


Tok


Tok


Tok


Ayuna mengetuk pintu,


Ceklek.


Bagas membuka pintu dengan hati-hati.


" Saudara bagas. Silahkan ikut saya untuk dimintai keterangan. Karena menurut saudari nina, anda tidak mengakui bayi yang ada dalam kandungan nya"


Deg !!!


Bagas dan ayuna saling menatap, kemudian bagas menatap tajam ke arah nina. Nina menunduk.


" Ayo ikut kami." Ucap salah seorang polisi.


" Tunggu, anda tidak bisa membawa nya tanpa bukti yang jelas." Ucap ayuna.


" Tenang lah sayang, polisi hanya akan meminta keterangan ku. Mereka tidak akan menangkap ku karena aku tidak bersalah. Aku hanya akan pergi sebentar, dan aku akan segera kembali" Ucap bagas.


Cup,


Bagas mencium pipi ayuna, lalu menatap tajam ke arah nina.


Bagas dibawa polisi untuk dimintai keterangan. Sedangkan ayuna, mendatangi nina.


" Boleh aku duduk di sini?" Tanya ayuna. Nina mengangguk.


" Siapa nama mu?" Basa basi ayuna.


" Ni..na." Ucap nina terbata


" Nina, nama yang bagus. Tapi tidak sebagus orang nya."


" Apa maksud mu?"


" Apa kau sadar akan tindakanmu?, menyeret orang yang tidak bersalah kedalam masalahmu. Kau menghukum orang yang tidak bersalah akibat perbuatan mu sendiri. Kau membuat seseorang menanggung akibat dari kesalahanmu."


Nina terdiam. Dia sadar, tidak seharusnya dia menyeret bagas dalam hal ini, tapi dia terlalu takut untuk jujur.


" Tidak usah mencampuri urusan ku." Ketus nina.


" Dengar ya. laki laki yang kau seret dalam masalahmu, adalah calon suami ku. Dan aku tidak akan membiarkan ke egoisanmu merusak rencana pernikahan kami yang tinggal beberapa minggu lagi."


Ceklek.


Nina dan ayuna menoleh.


" Sayang."


Orang tua Nina datang, setelah polisi menghubungi mereka.


" Sayang kenapa kau melakukan ini, kenapa tidak bilang saja pada kami, kami pasti akan membuat bagas mengakui perbuatannya."

__ADS_1


Ayuna yang mendengar itu menjadi geram. Dia memilih untuk keluar dari ruangan itu.


" Mama aku...,"


" Sttt.. sudah sayang, biarkan kami yang bicara dengan bagas."


Tepat saat ayuna akan keluar, bagas masuk.


" Bagas.."


" Hai sayang. Sudah kubilang kan merekaa tidak akan menangkap ku."


Ayuna tersenyum lega, lalu tanpa diduga, papa Nina langsung menarik kerah baju bagas, dan melayangkan tinju.


Bug !!!


" Argh."


Bagas yang tidak siap menerima pukulan yang mendadak menjadi sempoyongan, dan jatuh ke lantai.


" Bagas." Teriak nina.


Nina mencoba bangun, tapi di cegah oleh sang mama. Akhirnya nina hanya bisa melihat dengan perasaan bersalah.


Ayuna langsung membantu bagas berdiri.


" Kau tidak apa apa?" Tanya ayuna sambil mengusap ujung bibir bagas yang berdarah.


" Aku tidak apa apa."


Bagas tersenyum sambil memegang tangan ayuna.


"Dasar kau laki laki kurang ajar. Setelah kau meniduri dan membuat anakku hamil, kau malah berkencan dengan wanita lain." Hardik papa nina.


" Maaf om, tapi om sudah salah paham. Aku tidak pernah meniduri nina."


" Sudah salah, masih mau ngeles ya.."


Papa Nina sudah bersiap memukul bagas lagi, lalu dua orang polisi tadi masuk.


" Oh oh, tenang pak, jangan main pukul." Ucap seorang polisi.


" Benar pak. Saudara bagas tidak bersalah." Ucap polisi lain nya.


" Apa buktinya jika Bagas tidak bersalah?" Tanya papa nina.


" Saudara Bagas sudah menunjukkan rekaman CCTV yang ada di apartemennya, rekaman itu jelas memperlihatkan adegan demi adegan dan sebuah pengakuan dari putri anda."


Mendengar itu, nina menjadi gemetar.


CCTV? di apartemen bagas? tidak mungkin. Sejak kapan didalam kamar juga dipasang CCTV?. batin nina.


" Mari pak, jika anda ingin melihat nya sendiri."


Papa Nina kemudian memilih mengikuti polisi dan melihat rekaman CCTV yang diberikan oleh Bagas.


" Bagas sejak kapan di apartemen mu CCTV?" Tanya ayuna.


" Ya, sebenarnya aku hanya memasangnya untuk beberapa waktu saja. karena aku ingin merekam momen saat kau dan gibran pertama kali masuk dan tinggal di apartemenku."


" Harus di kamar juga?" Tanya ayuna


" Tidak. Tapi karena saat itu CCTV nya kelebihan satu, jadi aku meletakkannya sementara di dalam kamar. Aku tidak tahu jika CCTV itu menyala. Tapi lihat CCTV dalam kamar itu justru menyelamatkanku dari masalah ini."


" Ya kau benar, dan aku senang akhirnya kau tidak terjerat hukum."


" Hei, tidak ada yang akan bisa menghukumku."


" Sombong sekali."


" Haha, aku benar."


Brak !!


Papa nina membuka pintu dengan kasar, membuat semua yang ada disana terkejut. Terutama nina.


Papa nina segera berjalan menuju tempat tidur nina, dan...


Plak !!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi nina.

__ADS_1


" Argh.." Nina meringis kesakitan


" Papa, Kenapa papa memukul Nina?" tanya mama nina.


" Tanyakan pada putrimu yang murahan itu."


Setelah mengatakan itu papa nina berbalik dan berjalan menghampiri Bagas.


" Maafkan aku Bagas, aku sudah salah telah menuduhmu, bahkan aku memukulmu."


" Tidak apa-apa Om. Dan, Aku harap kau bisa memaafkan Nina, bagaimanapun juga nenek adalah Putri Om. Dan Dia tidak memiliki siapa-siapa selain keluarganya sekarang yang harus melindungi nya."


Papa bagas melihat sekilas kearah nina. Lalu berjalan keluar kamar tanpa bicara sepatah kata lagi.


Ayuna melihat nina menangis dalam pelukan mama nya.


" Ayo sebaiknya kita pulang, Gibran pasti sudah menunggu kita." Ajak bagas.


" Tapi nina...?"


" Biarkan nina mengurus masalah nya sendiri, bukankah kau sendiri yang bilang jika seharusnya aku tidak perlu ikut campur dengan jalan yang sudah Nina pilih."


Ayuna tersenyum dan mengangguk.


" Ayo kita pulang, lagi pula kita harus mempersiapkan diri untuk pernikahan kita." Ucap bagas.


" Biarkan aku mengobati luka di bibirmu."


" Tentu saja, tapi jangan obati disini." Ucap bagas.


" Dimana?"


" Di dalam mobil saja."


" Oke."


Walaupun terdengar aneh namun ayuna mengiyakan permintaan Bagas, didalam mobil.


" Bagas, Tidak ada kotak P3K di sini." Ucap ayuna, mencari cari kotak P3K.


" Memang tidak ada." Ucap bagas santai.


" Astaga Bagas, Lalu bagaimana aku akan mengobati lukamu jika tidak ada kotak P3K di sini."


" Ini hanya luka kecil."


" Ya, Luka sekecil apapun tetap harus diobati kan?"


Ayuna hanya menemukan tisu, jadilah dia hanya mengelap luka bagas dengan tisu. Bagas memegang tangan ayuna.


" Luka ini hanya bisa sembuh dengan ini." Bagas menunjuk bibir ayuna.


" Jangan ngaco deh, mana ada bibir bisa menyembuhkan luka." Ucap ayuna.


" Aku serius. Coba saja."


" Kau yakin?"


Bagas mengangguk. Nina tampak ragu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa dalam basement tidak ada orang yang melintas.


Dan...


Apa yang terjadi ya?? 😌😌


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Bersambung ke part selanjutnya, yang akan up besok ☺️


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...hadiah...

__ADS_1


...vote...


__ADS_2