
Sebulan berlalu, Tara masih tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Bagas. Karena segala macam usaha yang telah dilakukan selalu digagalkan oleh Mesya. Dimana ada Bagas, di situ selalu ada Mesya.
" Ya Tuhan, Mesya. Kenapa dia selalu saja ada disaat aku sudah memiliki kesempatan untuk mendekati Kak Bagas. Dan Kenapa dia selalu tahu jika aku merencanakan sesuatu serta kemudian membatalkannya. Huft, aku sudah menunggu selama 1 bulan. Tidak. Kali ini aku tidak akan membiarkan Mesya menggagalkan rencana ku"
Saat Tara handak mengantarkan kopi ke dalam ruangan Bagas, dia tidak sengaja mendengar bahwa Bagas harus ada di kantor malam ini.
" Sepertinya ini kesempatan yang bagus untuk aku mendekati Kak Bagas secara langsung. Tapi aku tidak bisa mencampurkan obat itu di sini karena pastilah banyak yang curiga."
Tara terlihat memikirkan sesuatu.
" Ya, aku tahu."
Tara lalu masuk dan meletakkan gelas kopi di meja Bagas seperti yang biasa dia lakukan, setelah itu Tara segera kembali ke ruang ganti yang biasa digunakan oleh para pegawai kantin kantor. Tara menutup dan mengunci pintu rapat-rapat lalu mematikan AC. Udara panas, tentu saja membuat Tara merasakan panas, dan wajahnya langsung pucat seketika. Setelah itu Tara membuka kunci pintu, menghidupkan lagi AC dan berbaring di lantai.
..
Ting
Tong
Ceklek..
" Mesya, hai tumben sekali kamu mampir mari masuk." Ucap Ayuna yang sangat senang saat melihat Mesya datang.
" Apa Kak Bagas udah berangkat ke kantor?"
" Ya, Dia baru saja berangkat sekitar mungkin 1 jam yang lalu." Ucap Ayuna.
" Baguslah. Karena aku akan membicarakan sesuatu dengan kakak ini terkait dengan Tara."
" Hmm, apalagi yang direncanakan sekarang?"
" Kemari sayang, bermain bersama ku, tante mu yang sangat cantik." Ucap Mesya yang mengambil Lia dari gendongan Ayuna.
Setelah Lia berada dalam gendongan Mesya, Ayuna segera mengambil Lio yang berada dalam box bayi di ruang tamu.
Lalu Ayuna mengajak Mesya ke ruang bermain agar kembar yang baru belajar tengkurap bisa kembali berlatih.
" Jadi katakan, apa rencana Tara?"
" Aku tidak yakin, tapi aku rasa Tara akan melakukan hal yang lebih nekat." Ucap Mesya
" Nekat dalam artian apa?"
" Ya seperti menjebak Kak Bagas dengan obat perangsang."
" Ckckck, Serangga itu benar-benar keterlaluan Jika dia menggunakan itu. Darimana kau tahu?"
" Ya, karena dia baru saja membeli obat itu."
" Darimana kau tahu?"
" Ah kakak ipar, Jika ingin memata-matai seseorang itu jangan setengah-setengah. Kita harus benar-benar memperhatikan setiap gerak-geriknya walaupun sekecil biji jagung sekalipun. Agar tidak ada yang kita lewatkan."
" Oke oke. Jadi langkah apa yang harus kita ambil?"
" Hmm, sepertinya aku harus menempatkan seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Tara secara detail agar aku tahu kapan Tara akan memasukkan obat itu pada minuman Kak Bagas." Ucap Mesya.
" Ya ya, sepertinya aku juga harus waspada karena akhir-akhir ini Tara sering ke mari bersama dengan Bagas."
" Apa?, Tara pulang dengan Kak Bagas?"
" Ya, hampir setiap sore dia selalu ikut pulang kesini dengan alasan mobilnya berada di rumah temannya yang juga tinggal di kawasan ini."
" Serius?"
" Ya, dan anehnya setiap aku tanya kenapa membiarkan mobilnya berada di rumah teman nya itu, dia selalu mengatakan bahwa mobilnya dipakai bergantian dengan temannya itu."
" Apa Kak Bagas sudah tahu tentang Tara?" Tanya Mesya.
" Belum, pernah sesekali aku mengatakan kepada Bagas mungkin saja Tara menyukainya, dan tentu saja bagus tidak mempercayainya dan mengatakan mungkin aku terlalu lelah sehingga aku selalu berpikiran yang tidak-tidak."
" Haha, Kak Bagas itu sebenarnya bodoh ya, apa dia tidak bisa membedakan mana yang melakukan segala sesuatunya dengan tulus atau dengan niat terselubung."
" Ya, aku rasa kau lebih mengenal Kakak mu itu bukankah sebelumnya kalian sangat dekat?"
" Iya sih, jadi dulu Kak bagus memang tidak pernah menaruh curiga kepada siapapun. Bahkan dia menyikapi musuhnya yang jelas-jelas menusuknya dari belakang dengan tenang."
" Benarkah?"
" Ya, hati Kak Bagas selalu dipenuhi dengan prasangka baik, dia tidak pernah berprasangka buruk kepada siapapun terutama anggota keluarga kami dan sanak saudara yang lain."
" Hmm, bukankah dia orang yang baik. Dia bahkan tidak ingin berprasangka buruk kepada siapapun." Ucap Ayuna
" Iya, karena itu kita harus menjauhkan Kak Bagas dari serangga menggelikan seperti Tara. Dan ya, apa yang Tara lakukan selama dia datang berkunjung ke sini?" Tanya Mesya.
" Hmm, yang kulihat saat aku juga berada di dekatnya hanya biasa saja sih, dia membantu ku menemani dan mengajak bermain si kembar. Tapi pernah sesekali dia berpura-pura terjatuh. Mungkin ingin mendapatkan simpati dari Bagas."
" Lalu apa dia berhasil?"
" Haha, sayangnya tidak. Setiap kali dia berusaha mencari perhatian Bagas dia justru mendapat sial seperti kembar yang tidak sengaja mengompol atau memuntahkan makanannya atau saat dia terjatuh karena berpura-pura terpeleset dengan harapan Bagas menangkapnya."
" Aku jadi heran, kenapa dia harus menyukai Kak Bagas yang jelas-jelas sudah memiliki keluarga. Apakah dia tidak laku?" Ucap Mesya
__ADS_1
" Entahlah."
" Hmm, ya sudah lah. Kalau begitu aku harus kembali ke kantor." Ucap Mesya.
" Baiklah, hati hati dijalan."
" Oke."
Ayuna lalu meletakkan kedua bayinya di kereta dorong sehingga ayunan dapat mendorong mereka bersama-sama untuk mengantarkan kepergian Mesya.
Dan baru saja Mesya hendak masuk kedalam mobilnya mobil Bagas datang.
" Lo Mesya, kamu ada disini?"
" Iya, hari ini aku masuk setelah jam makan siang. Ini Aku baru saja mau berangkat." Ucap Mesya.
Tak lama kemudian, Tara turun dari mobil Bagas.
" Lo, Tara ikut pulang bersama Kak Bagas?" Tanya Mesya.
" Iya, kata beberapa pegawai Tara pingsan jadi saat sadar aku mengajaknya pulang untuk beristirahat." Ucap Bagas.
" Kenapa tidak mengantarkannya pulang ke rumah bibi saja?" Ucap Mesya.
" Entahlah, dia menolak katanya dia hanya butuh istirahat dan takut Bibi dan Paman khawatir jika mengetahui bahwa Tara sedang sakit."
Hmm, drama yang sangat menarik. Selanjutnya apa? Apa kau akan bertelanjang di depan Bagas?.Batin Ayuna
Setelah cukup lama berbicara dengan Bagas Mesya akhirnya pamit undur diri karena dia harus segera kembali ke kantor untuk bekerja.
Bagas lalu mengambil Lia, sedangkan Ayuna menyuruh Tara untuk segera masuk dan istirahat dikamar tamu.
" Beristirahat lah, aku akan membuatkan mu sup. Agar dirimu merasa lebih baik." Kata Ayuna sebelum akhirnya dia menutup pintu.
Tara hanya mengangguk, dan berbaring. Setelah memastikan bahwa Ayuna tidak lagi ada disana. Dan benar benar menjauh dari pintu, Tara dengan sangat hati-hati mengunci pintu. Setelah itu dia memastikan bahwa obat perangsang masih ada di dalam tas nya.
" Malam ini aku harus bisa memberikan ini kepada Kak Bagas. Malam ini Kak Bagas harus menjadi milikku." Ucap Tara.
Ayuna berjalan menuju ruangan bermain dan memastikan bahwa Bagas sedang sibuk dengan si kembar. Lalu dia gejala naik masuk ke dalam kamar dan mencari jas Bagas.
" Itu dia."
Ayuna mengambil ponsel Bagas dan mencari nomor kontak orang tua Tara. Ayuna mengirim pesan kepada orang tua Tara melalui ponsel Bagas. Ayuna mengirim pesan bahwa Tara sedang sakit dan sedang beristirahat di rumahnya. Tak lupa juga Ayuna mengetikkan alamat rumahnya. Setelah memastikan bahwa pesannya telah dibaca oleh orang tua Tara. Ayuna meletakkan kembali ponsel Bagas ke dalam saku jasnya. Dan pejalan kembali turun untuk membuatkan sup seperti yang telah dijanjikan kepada Tara.
" Sayang, apa kau ingin makan?" Tanya Ayuna, sesaat setelah dia selesai membuat sup daging sederhana.
" Tidak, Aku sudah makan tadi di kantor." Ucap Bagas tanpa menoleh kearah Ayuna karena dia tengah sibuk bercanda tawa bersama si kembar.
" Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan semua sup daging kepada Tara."
" Oh benarkah?," Tanya Ayuna sangat antusias Karena setelah dirinya pulang ke rumah ini Bagas belum pernah mengajaknya ataupun si kembar untuk keluar jalan-jalan.
" Ya, tapi kita harus ke kantor dulu untuk membahas soal pekerjaan sebentar setelah itu kita akan makan malam. Dan ya, partner kerjaku juga akan mengajak istri serta anak-anaknya. Aku dengar dia memiliki seorang anak yang berusia sekitar 7 tahun dan seorang bayi yang seumuran dengan kembar. Jadi kau tidak akan bosan menunggu saat aku sedang menyelesaikan pekerjaanku."
" Tentu saja, si kembar juga pasti akan senang mendapat teman baru." Ucap Ayuna.
" Ohya sayang, tadi kamu bilang Tara tidak ingin orang tuanya tau jika Tara sedang sakit karena takut orang tuanya merasa khawatir?"
" Ya."
" Tapi bukankah orang tua Tara akan sangat khawatir jika kita tidak memberitahunya soal kondisi Tara yang sebenarnya. Apalagi sekarang Tara bekerja di kantormu. Apa jadinya jika mereka tahu dari orang lain bahwa Tara sedang sakit dan sedang beristirahat di rumahmu."
" Iya, kau benar. Apapun yang terjadi aku harus tetap memberitahu orang tua Tara. Bagaimanapun juga mereka sangat menyayangi Tara. Kalau begitu, tolong gantikan aku untuk bermain dengan si kembar karena aku akan menelpon orang tua Tara."
Oek oek oek..
Bagas yang baru saja berdiri Lio dan Lia sudah menangis.
" Sepertinya anak-anak tidak ingin kau pergi dan sepertinya mereka sedang ingin bermain bersama Papi nya. Jadi, biarkan aku yang mengirimkan pesan kepada orang tua Tara."
" Hmm, baiklah. Ponsel ku ada di saku jas."
" Aku tahu." Ucap Ayuna. Bagas langsung menatap tajam Ayuna.
" Emmm.. Maksud ku, aku tahu jika ponselmu pasti berada di saku jas. Karena kalau tidak berada di sana, lalu di mana lagi ya kan?"
" Haha, iya kau benar juga. Kau seakan tahu saja apa yang ada di dalam hati dan pikiranku."
" Aku memang selalu tahu kan?" Ucap Ayuna sambil tersenyum.
Setelah mengatakan itu Ayuna kembali menutup pintu ruang bermain dan menuju dapur untuk membawakan sup yang baru saja dia buat ke kamar Tara.
Tok
Tok
Tok
Ceklek..
Ayuna masuk dan mendapati Tara tidur dengan menutup dirinya dengan selimut.
" Ck Ratu drama." Lirih Ayuna.
__ADS_1
Tara yang tahu jika Ayuna datang langsung pura-pura memejamkan mata.
Setelah meletakkan gelas berisi air diatas meja, Ayuna dengan hati-hati membangunkan Tara.
" Tara, bangun.."
Dengan perlahan Ayuna mengguncang-guncangkan tubuh Tara.
" Ergh..."
Tara menggeliat dan membuka matanya.
" Kak Ayuna.."
" Hei, bangunlah aku sudah membuatkan sup hangat untuk mu. Makanlah, itu akan membuatmu merasa jauh lebih baik."
" Terimakasih Kak, maaf jika aku merepotkan Kakak." Ucap Tara, yang langsung duduk dan mengambil mangkok berisi sup. Sepertinya sup itu telah menggugah selera Tara.
" Tidak masalah. Lanjutkan makan ya, kalau bisa habiskan sop itu aku akan ada di ruang bermain jika kau butuh sesuatu."
" Hmm, baiklah." Ucap Tara.
Saat Ayuna akan membuka pintu ruangan bermain, suara bel pintu berbunyi.
Ting
Tong
" Itu pasti orang tua Tara." Ucap Ayuna yang langsung berjalan dan membukakan pintu. Sedangkan Tara sangat terkejut mendapati mobil orang tuanya ada di halaman rumah Bagas.
" Kenapa mobil Mama dan Papa ada di sini?, apa jangan-jangan Kak Bagas memberitahu mereka bahwa aku sedang sakit?, ah tidak mungkin, bukankah tadi aku sudah memohon agar Kak Bagas tidak memberitahu mereka. Lalu untuk apa mereka kemari?" Gumam Tara.
" Paman, Bibi." Sapa Ayuna.
" Hai sayang, apa kabarmu?" Tanya bibi.
" Aku baik. Ayo kita masuk dulu." Ucap Ayuna.
" Dimana Bagas dan si kembar?" Tanya Paman.
" Mereka ada di ruang bermain, tunggu sebentar aku akan memanggilkan nya. Dan Jika kalian ingin melihat kondisi Tara, dia sedang beristirahat di kamar tamu yang ada di sebelah kiri." Ucap Ayuna
" Iya, Maaf ya nak, jika Tara sudah merepotkanmu." Ucap Bibi.
" Tidak masalah bibi. Ya sudah aku akan ke dalam sebentar untuk memanggil Bagas dan membawa anak-anak kemari."
" Ya."
Sepeninggalan Ayuna, bibi dan paman langsung masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri.
Ceklek..
" Sayang, kamu kenapa kenapa kamu tidak memberitahu kami Jika kamu sedang sakit?" Ucap Bibi yang merasa sangat cemas dan langsung memeluk Tara.
" Mama, aku sudah tidak apa-apa aku hanya sedikit pusing mungkin karena aku hanya makan sedikit. Tapi, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang karena Kak Ayuna merawatku dengan baik. Lihat, dia membuatkan khusus spesial yang membuatku merasa lebih sehat lagi."
" Syukurlah kalau begitu."
Paman Bibi langsung menuntun Tara dan mereka duduk di ruang tamu untuk menunggu Ayuna serta Bagas.
" Lo, Tara kenapa sudah ada di sini bukannya istirahat?" Tanya Ayuna saat dia kembali ke ruang tamu bersama dengan si kembar juga Bagas.
" Iya, aku sudah merasa jauh lebih baik setelah menghabiskan sup daging buatan kakak, jadi aku pikir aku akan duduk disini bersama dengan mama dan papa."
" Seperti itu."
" Maaf ya Paman, bibi. Mungkin Tara jatuh sakit karena saya menempatkan Tara sebagai staf kantin di kantor. Sebenarnya saya tidak berniat menempatkan Tara di posisi itu, tapi berhubung Tara tidak mempunyai keahlian di bidang kantor jadi saya memutuskan untuk menempatkan Tara sementara waktu di staf kantin. Sebelum akhirnya saya akan mengajarkan Tara untuk bekerja di bagian pemasaran." Terang Bagas.
Wajah Tara langsung berubah pucat saat Bagas menjelaskan tentang penyebab dirinya sakit. Karena orang tua Tara hanya tahu jika Tara fokus kuliah dan menjadi model.
" Tunggu, kamu tadi bilang apa Tara bekerja di perusahaan mu?" Kata Bibi.
" Iya." Jawab Bagas.
Orang tua Tara saling berpandangan lalu dia memandang Tara.
" Tara..."
Panik kan, panik kan. Mangkanya jangan asal-asalan kalau mau masuk ke dalam rumah tangga orang. Batin Ayuna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
__ADS_1
...vote...
...hadiah...