
" Ayuna, ayo kita makan dulu, sebaring menunggu gibran selesai di periksa." Ucap Bagas.
Ayuna hanya terdiam.
" Sayang..." Panggil bagas.
Ayuna masih tetap terdiam. Bagas akhirnya menghampiri dan memeluk ayuna.
" Aku tahu perasaan mu, aku tahu akan ketakutan yang kau rasakan. Tapi kita harus tetap tenang."
" Hiks hiks hiks..." Ayuna kembali menangis.
" Aku takut, bagaimana jika ternyata penyakit itu datang lagi."
" Sttt, jangan berpikiran negativ. Kita harus optimis, dan yakin bahwa penyakit itu tidak akan pernah kembali."
Ayuna menatap Bagas, Bagas tersenyum.
" Jangan sedih lagi. Ingat, kau adalah kekuatan gibran. Jadi jangan pernah bersedih atau menangis dihadapan gibran lagi."
Ayuna terdiam, yang dikatakan bagas benar, ayuna harus kuat, agar gibran bisa lebih keras melawan sakit yang di deritanya.
Ayuna menatap Bagas dan tersenyum.
" Kau benar, aku tidak boleh lemah, aku harus tetap kuat dan tegar."
" Bagus, itu baru ayuna yang aku kenal."
" Terima kasih, kau selalu menjadi kekuatanku." Ucap ayuna
" Dan aku akan selalu menjadi kekuatan untukmu."
Cup
Bagas mencium sekilas kening ayuna, sebelum akhirnya kedua nya berdiri dan berjalan menuju kantin rumah sakit.
.......
" Jadi, apa hasil pemeriksaan medis gibran sudah keluar?" Tanya selin berbasa basi, saat mereka sedang bersantai di dalam kamar.
" Aku rasa belum, bagas belum menghubungi ku. Itu artinya gibran masih di periksa."
Anjas terlihat memejamkan mata, dan menyandarkan kepalanya pada dinding ranjang.
Selin mendekati wajah anjas, dia menatap wajah laki laki yang sudah menjadi suami nya selama 6 tahun itu. Ada getaran tak biasa dalam hati nya.
Anjas, sepertinya aku mulai mencintai mu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku harap, kau tidak akan pernah lagi menaruh curiga pada kehamilan ku. Batin selin.
Saat selin menyentuh pipi anjas, anjas membuka mata. Dipegang nya, dan diciumnya tangan selin.
" Ada apa?, kau baru menyadari bahwa suami mu ini tampan?"
Selin tersipu,
" Tidak. Aku hanya tidak menyangka, bahwa hari ini akan tiba. Hari dan aku akan benar-benar mencintaiku. Hari dimana, kau memperlakukanku sebagai seorang istri yang sesungguhnya."
Anjas memegang kedua pipi selin.
" Maafkan aku, cinta ku pada ayuna telah membuat mata ku tidak melihat mu, sekarang aku berjanji akan selalu mencintaimu, dan hanya dirimu."
Cup
Anjas sedikit mencium dan ******* bibir selin, sebelum akhirnya anjas memeluk selin.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan, semakin anjas mencintai dan memberi ku perhatian, aku semakin merasa bersalah padanya. Tapi aku juga tidak ingin kehilangannya. Batin Selin.
" Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua anak kita, jika dia perempuan pasti akan sangat mirip denganmu." Ucap anjas yang masih dalam posisi memeluk selin.
Drrttt drrrtt drrrttt
Ponsel selin berdering. Anjas mengkerutkan dahi nya, saat melihat nomor yang menelpon Selin. Dia merasa familiar dengan nomor itu, di ponsel selin diberi nama 'asisten dokter obgyn'.
" Ponsel mu berdering. Asisten dokter obgyn. Apa seorang asisten juga menelpon seorang pasien?" tanya anjas yang melepas pelukannya, lalu meraih ponsel selin.
Selin terkejut, bagaimana bisa dia lupa mematikan semua panggilan jika selin sedang bersama anjas.
" Mungkin asisten itu menelepon untuk memperingatkan jadwal pemeriksaan." Ucap selin sedikit gugup.
" Bukankah tadi kita sudah melakukan pemeriksaan, dan aku melihat asisten dokter itu juga ada di sana."
Selin kalang kabut, dia tidak tahu lagi harus mencari alasan apa. Saat anjas akan mengangkat panggilan nya, selin segera merampas ponsel dari tangan Anjas.
" Biar aku yang mengangkat panggilan nya."
" Oke."
Walaupun Anjas merasa heran dengan sikap Selin, namun dia tetap memberikan ponselnya kepada selin.
" Halo, ya ada apa? Ohya maaf mungkin saya dan suami lupa membawa nya. Baiklah terima kasih."
Tut
Selin buru buru mematikan ponselnya.
" Ada apa?" Tanya anjas yang sedikit curiga dengan ekspresi wajah selin yang berubah panik saat mengangkat panggilan.
" Emm, tidak ada, itu hanya mengatakan jika kita lupa membawa vitamin yang diberikan oleh dokter tadi."
Selin gugup.
" Emm sayang, aku haus, bisakah minta tolong ambilkan segelas air, atau susu mungkin." Ucap selin, berusaha mengalihkan perhatian Anjas.
" Kita suruh pelayan saja." Ucap anjas.
" Tapi, bayinya ingin jus buatan papa." Ucap selin.
Anjas tersenyum kecil, lalu dia mengelus perut buncit Selin.
" Baiklah baik"
Anjas bangun dari posisi tidurnya dan segera keluar dari kamar untuk mengambilkan air.
Setelah memastikan anjas benar benar keluar dari kamar. Selin segera menelpon kembali Dion.
" Anjas kamu mau kemana?" Tanya rini
" Selin ingin dibuatkan jus olehku."
" Tidak usah buat, ini ambillah. Mama sengaja membuatnya tadi untuk diberikan kepada istrimu."
" Tapi selin bilang, bayi nya ingin minum jus buatan papa nya."
" Sudah ambil, dan katakan bahwa Kau yang membuatnya."
Anjas tampak berpikir. Seperti nya ide sama Mama benar juga. Lagipula, Selin ada di dalam kamar. Dia tidak akan tahu siapa yang membuat jus itu.
Anjas lalu menerima gelas yang berisi air dari tangan mama nya, lalu segera membawanya kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Saat anjas akan membuka pintu, sama-sama dia mendengar suara selin yang sedang menelpon seseorang.
" Selin sedang bicara dengan siapa?, kenapa bicara nya sangat mesra."
" Sudah ku katakan sayang, jangan menelpon saat aku sedang ada dirumah." Suara selin.
" Tapi aku merindukan mu." Suara dion dari sambungan telepon.
" Iya, aku juga merindukan mu"
Anjas mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, Dia sedikit menjauh dari pintu. dan mencoba mencari nomor telepon yang tadi dia lihat di ponsel selin, pada ponsel nya.
" Kenapa aku sangat familiar dengan nomor tadi, sepertinya nomor itu yang berkali-kali aku lihat. Tapi siapa?" Lirih anjas.
Saat Anjas akan membuka ikon kontak dalam ponsel nya, tangannya tidak sengaja menekan riwayat panggilan keluar. Disana banyak sekali panggilan keluar dan masuk dari nomor yang sama, yang dia lihat di ponsel selin. Hanya saja dalam ponsel Anjas, nomor itu bukan bernama asisten dokter obgyn. Dalam ponsel Anjas, nomor itu adalah milik dion.
" Dion? tidak mungkin. Apa aku salah lihat?"
Anjas memejamkan mata, mencoba mengingat kembali nomor yang dia lihat pada ponsel selin.
" Aku harus mencari tahu sendiri. Aku harus memastikan bahwa nomor yang kulihat tidak sama." Ucap anjas.
Setelah memastikan Selin tidak lagi dalam keadaan menelpon, Anjas segera masuk ke dalam dan memberikan jus itu kepada selin.
" Hmm, sangat enak. Terima kasih sayang." Ucap selin.
" Sama sama. Ada lagi yang ingin kau makan atau minum?" Tanya Anjas.
" Tidak ada aku sudah merasa kenyang Dan aku sekarang mengantuk."
Ini kesempatan bagus, aku bisa menyamakan nomor yang ada di ponsel selin dengan nomor yang ada di ponselku. Jadi aku bisa terbebas dari pikiran negatif ku pada Selin. Batin anjas.
" Kemari, biar aku menemanimu tidur." Ucap anjas yang sudah dalam posisi berbaring dan menepuk-nepuk dadanya, kode agar selin tidur didekatnya.
Anjas mengelus-ngelus lembut rambut selin. Beberapa saat kemudian, setelah memastikan bahwa selin benar benar tidur, cara mengambil ponsel selin yang menyala dan belum terkunci. Itu artinya Anjas bisa dapat langsung mengakses ponsel selin tanpa harus memasukkan kode.
Anjas langsung menekan tombol panggilan keluar, namun panggilan itu sudah tidak ada. Sepertinya selin sudah menghapus riwayat panggilan keluar.
Lalu anjas mencoba memasukkan nomor dion, dan menekan tombol dial. Betapa terkejutnya anjas saat melihat nomor dion tersimpan dengan nama 'asisten dokter obgyn'.
Anjas segera mematikan panggilan nya sebelum tersambung.
Ting
Notifikasi dari ponsel selin. Pesan dari asisten dokter obgyn.
(Ada apa sayang, apa kau merindukan aku? apa Anjas sudah pergi? kau ingin aku jemput kapan?)
Anjas menatap selin yang tertidur setelah dia membaca pesan dari asisten dokter obgyn.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Sekali lagi, mohon koreksinya ya kak. Jika ada kata-kata yang semrawut atau amburadul segera beritahu author, agar bisa di perbaiki ☺️
...Jangan lupa...
...like...
__ADS_1
...komen...